Oleh: MAULA | Desember 17, 2008

Sedekah Sekuler

 charity2_narrowweb

SETELAH setengah abad menjadi konsultan ekonomi dan mengumpulkan cukup uang, Profesor Tavneck merasa sudah saatnya menyumbangkan kekayaannya. Tapi siapakah yang pantas menerima sumbangannya?

Tavneck membentuk yayasan keluarga. Dewan penyantunnya enam orang: dia, isterinya (yang juga profesor), kedua anaknya, dan dua cucunya. Ia berniat memberi sebagian dana kepada gereja progresif di tempat tinggalnya di Boston, AS.

Isterinya, yang aktif di gereja itu, setuju. Cucu lelakinya tak setuju. Yayasan itu, kata si cucu, harus bercakupan internasional. Ia harus menyumbang lembaga di negeri-negeri kurang mampu, bukan gereja lokal yang cukup kaya.

Argumen sang cucu diterima. “Saya harus menghormati pendapatnya sebagai anggota dewan penyantun,” katanya kepada saya dan seorang teman yang menemuinya di Jakarta. Lalu Tavneck mencari lembaga yang cocok untuk menerima hibahnya. Disepakati bahwa lembaga itu harus bergiat di bidang kebebasan sipil.

“Jangan bayangkan yayasan keluarga kami ini kaya dan bakal menyumbang dalam jumlah besar,” katanya. “Dana kami sangat kecil, tapi kami harap bisa memberi sekadar manfaat.”

Tavneck tidak mau mewariskan hartanya pada dua anak dan empat cucunya. Selama ini mereka sudah diberinya dengan layak, terutama telah disekolahkan dengan baik. Si cucu lelaki, kini berumur 20, bahkan pernah ‘protes’ karena ia merasa sang kakek sudah memberinya terlalu banyak.

Jadi, sebaiknya harta yang masih terus bertambah itu – karena Kakek Tavneck masih terus bekerja – diberikan saja kepada pihak-pihak lain yang lebih membutuhkan.

Anak lelakinya seorang insinyur teknik yang berpenghasilan cukup. Anak perempuannya kawin dengan dokter yang juga berpendapatan memadai. Mereka bukan hanya ikhlas tidak mendapat waris, tapi mendukung penuh cita-cita sang ayah untuk menyedekahkan seluruh hartanya.

Prof Tavneck, yang setelah bertemu kami akan pergi ke negara supermini kliennya di dekat Mikronesia, bertutur bahwa sepanjang karirnya ia sering menetap di negara-negara kecil yang biaya hidupnya murah. Dan ia jarang membeli barang-barang berharga di
tempat-tempat itu, sehingga sebagian besar honornya ia tabung.

Jadi, sampai berusia 83 sekarang, tabungannya lumayan, sementara seluruh kewajibannya sebagai suami dan ayah, bahkan sebagai kakek, telah ia tunaikan dengan baik. Maka, ia pikir, tindakan berikutnya yang paling logis adalah: menyumbangkan tabungan itu.

Ia berjanji akan kembali menemui kami setelah melaporkan hasil pembicaraan kepada dewan penyantun Tavneck Family Foundation. “Mudah-mudahan pada pertemuan kita berikutnya saya sudah bisa mencairkan dana yayasan,” katanya.

Saya lebih terharu mendengar cerita tentang riwayat penyumbangan itu ketimbang gembira karena Tavneck akan menyumbang sebuah lembaga di Indonesia. Apa gerangan yang menggerakkan dia dan anak-cucunya untuk berbuat demikian?

Satu hal yang pasti: motif Tavneck sepenuhnya sekuler. Sebab, meski resminya beragama Yahudi, ia tak berminat pada agama beserta isu-isunya. Isterinya, yang juga Yahudi dan sama-sama berasal dari keluarga sosialis, aktif di sebuah gereja Kristen, juga dengan motif sekuler, yaitu memperjuangkan kebebasan sipil.

‘Sedekah sekuler’ ala keluarga Tavneck itu memang makin banyak dilakukan di negara-negara maju, bersisian dengan ‘sedekah religius’ yang juga terus berkembang, terutama di Amerika, ‘negeri filantropi’ terbesar, tempat orang-orang kaya menyumbang dalam jumlah yang kian spektakuler.

Maka makin banyak kegiatan-kegiatan sosial di berbagai bidang (pendidikan, museum seni, lembaga riset ilmiah, selain yang tradisional seperti penyantunan kaum miskin) yang didanai oleh ‘wakaf sekuler’ semacam itu.

Jumlah wakaf nonreligius itu kini mungkin sudah melampaui wakaf agama, yang bidang-bidangnya lebih terbatas, dengan mengutamakan tempat ibadah, rumah yatim-piatu, rumah sakit atau sekolah agama.

Orang-orang seperti Tavneck insaf bahwa dunia dan kehidupan jauh lebih luas daripada agama. Maka sumbangan pun hendaknya diberikan ke bidang-bidang seluas kehidupan ini sendiri, yang jauh melampaui wilayah tradisional agama.

Bidang-bidang luas itu lebih menentukan kesejahteraan manusia sebagai komunitas, sebagai umat. Fakta sederhana ini rupanya tak kunjung disadari oleh para pemberi wakaf dan sedekah yang terus terbelenggu pada bidang-bidang sempit agama. [hamid basyaib]

 

Source:  www.inilah.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: