Oleh: MAULA | Desember 18, 2008

Altruisme dan Filantropis

philanthropy_narrowweb 

Altruisme diartikan sebagai kewajiban yang ditujukan pada kebaikan orang lain. Dari kata Latin alter, artinya orang lain. Hukum Agung dalam ajaran Yesus Kristus menekankan kasih terhadap sesama seperti kasih terhadap diri sendiri. Hukum Agung tersebut dapat disebut sebagai suatu etika altruistik. Suatu tindakan altruistik adalah tindakan kasih yang dalam bahasa Yunani disebut agape.

Agape adalah tindakan mengasihi atau memperlakukan sesama dengan baik semata-mata untuk tujuan kebaikan orang itu dan tanpa dirasuki oleh kepentingan orang yang mengasihi. Maka, tindakan altruistik pastilah selalu bersifat konstruktif, membangun, memperkembangkan dan menumbuhkan kehidupan sesama.

Suatu tindakan altruistik tidak berhenti pada perbuatan itu sendiri. Keberlanjutan tindakan itu sebagai produknya dan bukan sebagai kebergantungan merupakan salah satu indikasi dari moralitas altruistik. Moralitas altruistik tidak sekadar mengandung kemurahan hati atau belas kasihan. Ia diresapi dan dijiwai oleh kesukaan memajukan sesama tanpa pamrih. Karena itu, tindakannya menuntut kesungguhan dan tanggung jawab yang berkualitas tinggi.

Altruistik diajarkan semua agama. Dari sudut pandang teologi, altruistik merupakan suatu tindakan yang dijiwai oleh panggilan ilahi.

Kualitas iman atau agama justru harus diukur dari tindakan altruistik seseorang. Seorang yang mengaku beragama atau beriman mestilah jiwa dan rohnya diresapi kasih sayang terhadap sesama tanpa bersikap diskriminatif dan primordialistik.

Ciri utama moralitas altruistik adalah pengorbanan. Pemberian bantuan yang didasarkan pada kebutuhan sesama disebut sebagai tindakan filantropik. Karena itu, tindakan altruistik menjadi suatu yang diidealkan dalam ajaran-ajaran agama. Bahwa sesama manusia harus dikasihi.

 

Didukung Filsafat

Bukan hanya para penganjur agama seperti para nabi yang menganggap altruisme sebagai pilihan terbaik manusia dalam mengelola hidupnya dengan sesama. Bahkan para filsuf berpendirian bahwa altruistik adalah pilihan terbaik bagi kehidupan bersama umat manusia. Sir Charles Erlington umpamanya mengemukakan, bekerja sama telah terbukti lebih berhasil dari pada berkompetisi dalam proses evolusi.

Dalam bidang politik, bisnis, dan kehidupan sosial lainnya, acapkali dibutuhkan suatu bentuk pengorbanan untuk kemajuan bersama yang lebih baik. Kebiasaan pejabat tertentu mundur demi memberi kesempatan pada orang lain yang lebih muda atau lebih potensial, adalah bentuk kerja sama dan pengorbanan yang diperlukan untuk memberi manfaat yang berharga dan untuk tujuan lebih luhur bagi kemanusiaan.

Walaupun Darwin mengajarkan survival of the fittest sebagai hukum evolusi, ternyata bahwa hukum itu tidak semata-mata dijalani dengan berkompetisi dan cenderung mengorbankan pihak lain dan orang lain, tetapi juga, secara alamiah hukum itu mengandung makna pengorbanan. Memang tidak mudah memahami ada manusia bersedia mengorbankan kepentingannya sendiri untuk kebaikan orang lain. Nietzsche umpamanya menyebut kesediaan berkorban dan kerendahan hati sebagai suatu mental budak, mental orang-orang yang tak sanggup berjuang dan orang-orang yang mudah menyerah.

Dalam era globalisasi sekarang ini, memang muncul paradoks dalam relasi antarmanusia. Di satu pihak, persaingan atau kompetisi begitu kuat dipacu oleh pemimpin-pemimpin politik dan bisnis. Namun di pihak lain, muncul orang- orang yang merelakan dirinya, menempuh bahaya dan risiko untuk kepentingan orang lain.

Ketika terjadi bencana yang begitu besar, kita menyaksikan dengan penuh haru kesediaan banyak orang menyediakan diri menolong sesama tanpa pamrih. Kita sering menjadi malu sebagai bangsa, solidaritas dari mereka yang sering kita anggap sebagai manusia individualistik dan egoistik justru memperlihatkan praktik hidup altruistik atau sekurang-kurangnya filantropik.

Sebenarnya tindakan altruistik masih sangat banyak kita temukan pada para pengabdi kemanusiaan yang tulus dan ikhlas membantu sesamanya: para dokter, guru, pekerja sosial, agamawan dan lain-la- in golongan manusia yang menjalankan tugas dan profesinya tanpa pamrih.

Memang banyak juga, mungkin lebih banyak, yang sangat komersial dan egoistik, melihat sesamanya sebagai komoditas yang memberikan keuntungan.

Contohnya orang-orang yang berjuang untuk kepentingan sesama, menjadi bukti bagi kita bahwa sebenarnya tindakan altruistik masih menjadi suatu kerangka moral manusia yang bernilai tinggi. Filantropis memang berbeda dengan altruistik. Filantropis berarti kesediaan membantu sesama yang membutuhkan, baik dalam bentuk uang, barang maupun waktu. Namun, tindakan filantropis memang sangat tipis bedanya dengan tindakan altruistik.

Di seluruh dunia, lembaga-lembaga agama, perusahaan dan perkumpulan orang perorangan telah lama mengorganisir usaha-usaha kemanusiaan filantropis. Usaha-usaha filantropis ini telah memunculkan banyak organisasi kemanusiaan yang dikenal dengan LSM.

Lepas dari adanya “bisnis” dalam usaha-usaha kemanusiaan ini, jelaslah bahwa tindakan-tindakan filantropis baik yang dilakukan oleh organisasi maupun oleh perorangan dalam memberi dana, harta dan waktunya, dapat menjadi cikal bakal tindakan altruistik.

Walaupun gagasan filantropis sangat ideal, tidak sedikit disalahgunakan oleh orang tertentu. Banyak yang bersedia menjadi relawan karena bergaji besar, sehingga hakikatnya sebagai relawan bisa dipersoalkan. Ada relawan yang tiba-tiba menjadi jutawan baru dan tanpa malu-malu mengantongi gaji yang sangat besar dengan dalih menolong sesama.

 

Kewajiban

Baik altruisme maupun filantropis mengandung kewajiban moral dan kesadaran moral. Pejabat negara misalnya, mempunyai kewajiban moral untuk mengutamakan kepentingan rakyat atau masyarakat melampaui kepentingan diri atau golongannya. Memang kewajiban moral seorang pejabat tidak bisa dikategorikan sebagai tindakan filantropis apalagi altruistic, sebab kewajibannya terkait dengan imbalan yang ia terima.

Justru persoalannya adalah kewajiban moral para pejabat negara pun tidak dengan sendirinya dilaksanakan. Sebaliknya acap kali, atau bahkan seringkali, pejabat negara justru masih mengkomersialkan kewajiban moralnya.

Suburnya korupsi di Indonesia, berakar dalam pupusnya idealisme altruistik dan filantropik pada pejabat dan pegawai negeri tertentu. Karena itu, sudah sewajarnya apabila dalam proses fit and proper test seorang calon pejabat negara, dan dalam proses penerimaan pegawai negeri, kewajiban moral yang terkait dengan altruistik dan filantropis ini dipertimbangkan.

Sebagai kesadaran moral, tindakan altruistik dan filantropis seharusnya lahir dari panggilan luhur hati nurani untuk memperlakukan sesama sebagai makhluk yang memiliki harkat dan martabat yang tinggi.

Dalam hal itu, altruistik dan filantropis sesuai dengan tuntutan HAM. Menurut rumus Kaidah Emas (Golden Rule): “memperlakukan orang lain sebagaimana saya ingin diperlakukan oleh orang lain” yang ada dalam setiap agama, maka moralitas altruistik dan filantropis tidak lain dari kesadaran keagamaan dan kemanusiaan yang paling hakiki.

Karena hanya manusia yang bermoral maka seharusnya setiap manusia mempunyai kesadaran altruistik dan filantropis.

Supaya kesadaran moral altruistik dan filantropis operasional dalam kenyataan hidup masyarakat, sifat itu mestinya menjadi muatan pendidikan budi pekerti dan pendidikan agama yang diberikan kepada anak didik. Kepedulian terhadap sesama, solidaritas sosial dan kesediaan berbagi merupakan nilai-nilai yang perlu ditanamkan dan dibiasakan kepada anak didik sejak dari rumah, sekolah, dan di masyarakat. [RP Borrong, Ketua STT Jakarta]

 

Source: SUARA PEMBARUAN DAILY, Sabtu 24 Juni 2006. http://www.mirifica.net/artDetail.php?aid=3041

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: