Oleh: MAULA | Desember 25, 2008

Yesus, Kalimat Tuhan

thy-will-be-done-posters

SALAH satu persoalan penting dalam teologi Kristen adalah: “Siapakah Yesus Kristus itu?” Formulasi berbagai jawaban terhadap pertanyaan ini disebut sebagai Kristologi. Dalam wilayah teologi ini, umat Kristen telah memperdebatkan pentingnya sejarah Yesus yang bertentangan dengan gambar Yesus yang terdapat dalam tradisi-tradisi Gereja-gereja Kristen dan pandangan Injil mengenai Yesus. Saatnya bagi umat Islam untuk mulai memperhatikan masalah ini juga.

Para pengikut Muhammad sangat menghormati dan mengagungkan Isa (Yesus). Dalam teologi Islam, Yesus memiliki status khusus dalam Islam sebagai salah satu nabi ulu’ al-‘azm, lima nabi utama dengan sejumlah keistimewaan.

Namun. Sayang, sebagian orang yang mengaku sebagai pengikut Isa tidak menunjukkan sikap yang sama. Yang juga patut disayangkan, sebagian umat Islam memperlakukan Kristen –yang sama-sama berpangkal dari Abraham- tampil sebagai sesuatu yang asing bagi mereka. Padahal, umat Kristen dapat menemukan perspektif lain tentang Juru Selamatnya. Mungkin dengan berusaha memandang Yesus sebagaimana Islam melihatnya, umat Kristen bisa menemukan juru selamatnya hidup kembali, meninggikan Allah dalam kehidupan batiniahnya tanpa harus ‘menyalibnya’.

Menurut Sayyed Hosein Nasr, apa yang dibayangkan kesarjanaan Barat mengenai dunia Islam yang sesungguhnya tidaklah sepenuhnya sama dengan konsepsi orang-orang Muslim sendiri tentang tradisi mereka dan perkembangan historisnya. Dengan kata lain, umat Kristen, terutama di Indonesia, yang penduduk terbesarnya beragama Islam, perlu ‘mendengarkan’ narasi Islam tentang Yesus, sebagai langkah kongkrit menuju toleransi.

Dalam al-Qur’an, terdapat sebuah ayat yang menggambarkan penghormatan yang begitu tinggi kepada Perawan Suci Bunda Maria, sedangkan Yesus digambarkan sebagai sebuah Kalimat dari Allah: “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah memberikan kepadamu kabar gembira tentang sebuah Kalimat dari-Nya, namanya al-Masih putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan akhirat dan salah seorang yang didekatkan (kepada Allah).” (3:45)

Tentu saja penafsiran logos dalam teologi Kristen berbeda dengan penafsiran kalimah di kalangan umat Islam. Bagi kalangan Kristiani, menurut Gospel John, Kalimah Allah menjadi tubuh (incarnation). Di lain pihak, bagi umat Muslim Kalimah adalah makhluk, bahkan sementara ia merupakan prinsip kreatif, karena ia berada dalam ucapan Allah dari kata “Jadi!” maka jadilah ia. Islam menyebut Yesus sebagai kalimat Allah justru untuk menegaskan statusnya sebagai nabi. Karena statusnya tinggi sebagai nabi, Yesus menjadi manifestasi sempurna dari Allah, orang yang menyampaikan pesan Allah, orang yang dapat berbicara atas nama Allah, dan karenanya menjadi Kalimah Allah.

Menurut kristologi versi Islam, Yesus menjadi kalimat Allah bukan karena inkarnasi, di mana tubuhnya bersifat ketuhanan (divine). Tetapi karena ruhnya dibersihkan sedemikian rupa sehingga menjadi cermin yang dengannya Tuhan dikenal. Biara menjadi suci bukan karena kesucian dalam bangunannya, tetapi karena ia merupakan tempat menyembah Tuhan. (Ibnu al-‘Arabi, The Bezels of Wisdom (Fushus al-Hikam), terj. R.W.J. Austin (Lahore:Suhail,1988), hlm.177).

Selain digelari ‘Kalimat Allah’, Yesus juga disebut sebagai ‘Ruh Allah’. Allah swt berfirman: Sesungguhnya Al-Masih Isa putera Maryam itu adalah utusan Allah dan Kalimat-Nya dan Ruh-Nya.” (4:171).

Kata ‘Ruh Allah’ memberikan signifaksi pengertian universal, bahwa poros moral Kristen dan Islam itu sama. Ruh adalah simbol paling nyata tentang eksistensi Tuhan. Karena itu mungkin ada sejumlah alasan bagi kalangan Kristen untuk menganggapnya sebagai bersifat ketuhanan. Meski persoalan ini bila dibahas akan menjadi panjang lebar dan belum tentu berguna bagi yang meyakini dan yang menolaknya.

Salah satu persoalan penting dalam teologi Kristen adalah: “Siapakah Yesus Kristus itu?” Formulasi berbagai jawaban terhadap pertanyaan ini disebut sebagai Kristologi. Dalam wilayah teologi ini, umat Kristen telah memperdebatkan pentingnya sejarah Yesus yang bertentangan dengan gambar Yesus yang terdapat dalam tradisi-tradisi Gereja-gereja Kristen dan pandangan Injil mengenai Yesus.

Saatnya bagi umat Islam untuk mulai memperhatikan masalah ini juga. Melalui pengembangan Kristologi versi Islam, umat Kristen dapat mencapai suatu pemahaman yang yang lebih baik tentang Islam. Sebenarnya al-Qur’an sendiri telah membimbing kita dalam mengambil langkah pertama dalam arah ini, seperti disebutkan dalam ayat-ayat tersebut di atas dan lainnya.

Usaha bersama dalam lingkup Kristologi versi Islam memang jarang dilakukan. Para penulis Kristen lebih cenderung menekankan fungsi Yesus sebagai juru selamat, yang tampaknya tak punya tempat dalam Islam. Namun, umat Kristiani kiranya perlu mencatat bahwa umat Islam menerima Yesus sebagai juru selamat, bersama seluruh nabi lainnya. Karena fungsi kenabian adalah menyelamatkan umat manusia dari malapetaka dosa lewat penyampaian pesan petunjuk Tuhan. Perbedaan penting Islam dan Kristen di sini melampaui isu tentang apakah Yesus menyelamatkan seluruh umat manusia atau tidak. Dalam pada itu, umat Islam menolak bila penyelamatan itu ‘ditebus’ lewat penyaliban.

Di lain pihak, umat Islam cenderung menghasilkan karya-karya polemik sendiri-sendiri, dengan menunjukkan seberapa banyak teks-teks Biblikal yang bersesuaian dengan wawasan Islam mengenai Kristus sebagai nabi, ketimbang sebagai salah satu dari tiga sosok Tuhan (trinitas). Sehubungan dengan ini, Ahmad Deedat, misalnya menggarisbawahi hal-hal yang banyak menyedot perhatian dalam bukunya, Was Yesus Crucified? (Chicago:Kazi, 1992). Suatu hal yang mestinya tidak perlu dilakukan bila kita berusaha untuk mencari titik temu atau membangun penghormatan dalam konteks semangat pluralisme dan toleransi.

Wawasan lebih mendalam lagi tentang berbagai perbedaan Islam dengan agama lain, termasuk Kristen, dapat dijumpai dalam tulisan-tulisan Frithjof Schuon (setelah memeluk Islam bernama Syekh ‘Isa Nur ad-Din Ahmad). Ia, misalnya, menghadirkan Kristologi perspektif sufiisme dalam Islam and the Perennial Philosophy. (Lahore: Suhail,1985) Dalam The Muslim Jesus: Sayings and Stories in Islamic Literature (Harvard University Press, 2003), Tarif Khalidi mengumpulkan pelbagai referensi Islam tentang Yesus, mulai dari abad ke-8 sampai ke-18. Semua itu mencakupi karya-karya mistik, teks-teks historis para nabi dan orang-orang suci (wali), serta seleksi hadis dan ayat al-Qur’an. Dalam catatan Khalidi, tulisan-tulisan ini membentuk sebuah pola terbesar teks-teks yang berhubungan dengan Yesus dalam literatur non-Kristen.

Mungkin salah satu cara terbaik umat Kristen dapat menemukan landasan dalam berdialog dengan umat Islam adalah mengenal potret seorang Yesus yang terdapat dalam sumber-sumber Islam, yang terpenting adalah dari Al-Qur’an dan hadis, tanpa perlu mempermasalahkan apakah orientasi relijius seseorang.

Sebagian umat Kristiani mungkin akan menolak hal-hal yang berkenaan dengan Yesus dalam narasi Islam. Sebab, perdebatan utama dalam Kristologi kontemporer di kalangan umat Kristiani berpusat pada apakah penelitian sejarah Yesus relevan dengan agama? Atau, apakah pengetahuan tentang Yesus membutuhkan perhatian atas peran yang dimainkannya dalam konteks Gereja dan teologi?

Narasi Islam, berabad-abad sesudah masa hidup Kristus (dan dalam beberapa peristiwa, lebih seabad setelah masa hidup Muhammad saw) juga akan ditolak umat Kristiani liberal yang mencari potret Yesus berdasarkan tolok ukur historis yang belakangan justru diterima Barat. Kristen Neo-Ortodoks menyatakan bahwa Juru Selamat itu tidak ditemukan dalam sejarah, melainkan dalam Gereja. Makanya, tidak mengherankan jika mereka memperlihatkan ketidakpeduliannya atas apa yang dinarasikan Islam tentang Kristus.

Namun, umat Kristiani secara umum mengakui bahwa perspektif Islam justru melakukan semacam moderasi antara kalangan sejarahwan yang lebih menekankan naturalitas Kristus dan kalangan Gereja atas supernaturalitasnya. Kemanusiaan Yesus jelas dalam riwayat-riwayat Syi’ah. Tapi kemanusiaannya mengalami tranformasi. Dengan pemahaman ini, sosok Kristus dalam narasi Islam Syi’ah sekaligus berdimensi natural dan supernatural.

Ini mungkin dapat dijadikan sebagai salah satu the meeting point dalam upaya membangun sebuah dialog untuk tujuan toleransi. Karena itu, membangun dialog antar agama tidak mesti didasarkan pada tujuan menciptakan satu formulasi baru dari agama-agama yang memang memiliki sejumlah titik beda dan temu. Itu berarti, yang mungkin dan relevan dilakukan adalah dialog antar pemuka atau pemikir agama-agama, bukan mendialogkan agama-agama yang berbeda-beda itu demi melenyapkan kendala-kendala bagi terciptanya toleransi.

Karenanya, perayaan Natal semestinya tidak dipandang hanya sebagai hari raya kelahiran Yesus sebagai putra Tuhan Bapak sesuai teologi Kristen semata, sehingga minimal, tidak terkesan ekslusif. Melainkan juga perlu dipandang dan ditradisikan sebagai hari raya kelahiran Yesus, Sang Kalimat dan Ruh Allah, sebagaimana diyakini umat Islam, sehingga warna merah pada tanggal 25 Desember di kalender nasional kita menjadi benar-benar ‘nasional’.

Dengan demikian, tensi kecurigaan dan sinisme kedua penganut agama ibrahimik ini—terutama di Indonesia—dapat diminimalisasi hingga titik terendah. Umat Kristiani perlu memaklumi keyakinan kaum Muslim yang enggan ‘menyalib’ Yesus, dengan tetap menghormati, bahkan turut merayakan kelahirannya.

Tentu saja kesadaran holistik ini perlu dibarengi dengan peningkatan pengahayatan terhadap agama masing-masing. Namun, membangun dialog agama-agama tidak mesti diorientasikan untuk menciptakan sebuah formulasi ‘agama baru’ yang mengemas sejumlah titik beda dan temu sekaligus (sehingga bermasalah karena mengandungi kontradiksi dalam dirinya).

Menurut hemat penulis, kesadaran tentang perbedaan antara agama suci as such dengan persepsi subjektif dan relatif terhadap agama itu sendiri mungkin dapat dijadikan salah satu alternatif meredam kekerasan struktural atas nama agama, mazhab, dan paham keagamaan yang hingga kini masih menjadi fenomena ‘biasa’ di Tanah Air tercinta. Selamat atas kelahiran Yesus. [Muhsin Labib, Alumnus International Center of Islamic Studies, Republik Islam Iran. Meraih doktor filsafat dari Universitas Islam Syarif Hidayatullah, Jakarta]

Source: http://islamalternatif.net/id/article.php?story=20051225013842413&mode=print

Iklan

Responses

  1. apakah anda orang muslim? kok kyk memojokan islam yah?

  2. YESUS lebih dulu ada dari muhammad, bagaimana mungkin ada isi dri quran menyebutkan maryam dan isa (YESUS). sedangkan wahyu pertama kali diberikan kpd muhammad, muhammad ada setelah YESUS. koq bisa2nya ada isi quran menyebut maryam…itu karangan si mamad doang yach…atau…??? mamad tukang bunuh org tuch, niat sex nya juga tinggi, bisa dilihat dri jumlah istri2nya…mamad hanya ngarang2 wahyu(quran), utk memuaskan birahinya…masa bunuh org yg bkan muslim (kafir), dijanjikan msuk surga dan mendapatkan 72 bidadari…? pantas saja bnyak teroris yg melakukan bom bunuh diri, biar bs masuk surga dan dpt 72 bidadari…hmm.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: