Oleh: MAULA | Desember 27, 2008

Penyerahan Kedaulatan 27-12-1949

websoeveriteitsoverdracht271

Musim dingin di Amsterdam. Pagi-pagi 27 Desember 1949, pakai mantel tebal, saya naik trem dari Valarius Streat menuju Paleis op de Dam, menyaksikan upacara penyerahan kedaulatan dari Kerajaan Belanda kepada Republik Indonesia Serikat, sesuai hasil Ronde Tafel Conferentie (RTC) atau Konferensi Meja Bundar di Den Haag (23 Agustus-2 November 1949).

 

Sebagai Pemimpin Redaksi Harian Pedoman, saya satu-satunya wartawan Indonesia yang hadir. Peliput Konferensi Meja Bundar (KMB) lainnya, seperti BM Diah, Adinegoro, Wonohito, Soekriano, Soetarto, Pohan, Kwee Kek Beng, Mohammad Said, EU Pupella sudah kembali ke Tanah Air. Saya menunggu di Belanda karena akan menuju Amerika Serikat mengikuti pelajaran di Yale Drama Workshop sehingga diundang untuk menyaksikan peristiwa bersejarah itu.

 

Di depan Istana Dam, saya melihat sekumpulan orang Indonesia menanti kedatangan Wapres Mohammad Hatta. Saat itu Bung Hatta bermantel hitam dan blootshoofd (tanpa tutup kepala), memeriksa barisan kehormatan militer. Dengan langkah cepat dia masuk Istana, lalu mengambil tempat di Burgerzaal. Hadir Ratu Juliana, sebelah kiri duduk PM Belanda Willem Drees, sebelah kanan Wapres Hatta, Sultan Pontianak Alkadrie, Prof Dr Supomo. Lalu anggota Corps Diplomatique (CD), Menteri Van Maarseveen, Stikker, mantan PM Louis Beel, Dubes Van Royen, serta Kamerheren (pegawai tinggi Istana) dalam pakaian kebesaran warna-warni. Drees yang sosialis-demokrat yang dalam gerakan sosialis bertahun-tahun mendukung dan prokemerdekaan Indonesia sengaja mengundang tiga pengarang perempuan Henriette Roland Holst dan spesialis Hindia dari Fraksi Partai SDAP di Tweede Kamar Cramar dan Stokvis.

 

Upacara penyerahan

 

Hawa dalam ruangan terasa panas. Maklum, banyak orang tumplek di sana. Lantaran gerah, saya kurang konsentrasi menyimak pidato Ratu Juliana setelah ditandatanganinya teks bahasa Belanda dari dokumen penyerahan kedaulatan. Pidato Bung Hatta yang diucapkan dalam bahasa Indonesia juga tidak cermat saya ikuti. Teks pidato Bung Hatta yang ditulis tangan itu diserahkan kepada Drees keesokan malamnya dalam jamuan di Treveszaal yang diselenggarakan Pemerintah Belanda. Drees amat menghargakan pemberian Hatta itu sehingga copy pidato Hatta dimuat dalam bukunya, Zestig jaar levenservaring (60 Tahun Pengalaman Hidup).

 

Bagi Hatta, peristiwa 27 Desember 1949 itu amat besar maknanya. Beberapa tahun kemudian saya bertanya, apakah peristiwa paling penting dalam hidupnya, Bung Hatta menjawab, menandatangani teks Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan menandatangani akta penyerahan kedaulatan Belanda kepada Indonesia, 27 Desember 1949.

 

Saya catat, ada kejadian saat upacara berlangsung. Tiba-tiba terdengar bunyi gedebuk, orang jatuh. Seorang Kemerheer pingsan. Apakah lelaki pegawai Istana Ratu itu lemas karena terlalu lama berdiri, sakit, atau belum sarapan? Saya tidak tahu. Tetapi saya menganggapnya sebagai perlambang, jatuhnya kekuasaan sebuah imperium, tamatnya era kolonialisme Belanda.

 

Upacara di Paleis Dam disiarkan langsung melalui radio yang pada saat sama bisa didengarkan di Istana Rijswijk (Istana Negara) di Jakarta oleh hadirin yang menyaksikan upacara penyerahan kedaulatan dari Wakil Mahkota Agung Lovink kepada Sultan Hamengku Buwono IX. Presiden Soekarno sungkan menghadiri upacara di Jakarta itu dan tinggal di Yogya, menunggu triomfala intocht alias ketibaan berjaya di ibu kota RI.

 

Bertahun-tahun kemudian, Soebadio Sastrosatomo dari PSI (Partai Sosialis Indonesia) mengatakan, “dari perspektif mistik, yang terjadi di Jakarta adalah penyerahan kekuasaan atas Indonesia dari Belanda, bukan kepada Presiden Republik Indonesia (Soekarno), tetapi kepada Raja Jawa (HB IX).”

 

Juga di Jakarta, ada kejadian lain. Diplomat Belanda Van Beus dalam buku Morgen bij het aanbreken van de dag menulis, saat bendera Belanda Merah-Putih-Biru diturunkan, massa rakyat yang menyaksikan bersuit-suit disertai teriakan mencemooh, menimbulkan perasaan pilu pada orang-orang Belanda yang hadir. Sebaliknya, waktu bendera Indonesia Merah-Putih dikerek ke puncak tiang, rakyat bertepuk tangan diiringi sorak sorai. Ini simbol berakhirnya era kolonialisme.

 

Lagu kebangsaan

 

Saat keluar dari Paleis op de Dam saya dengar dari carillon sebuah gereja di dekatnya, pertama kali diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Saya pikir itu juga simbol tamatnya kolonialisme Belanda.

 

Pada 31 Desember 1949 malam, saya mengantar Bung Hatta, juga istri saya Siti Zuraida, yang hari itu akan pulang ke Tanah Air ke Bandara Schiphol. Setelah Bung Hatta bertolak, saya balik ke penginapan. Berjalan kaki sepanjang kali atau grachtan lewat tengah malam jelas berbeda dengan jalan kaki di Gunung Kendeng, 8 Juli 1949 malam, saat saya bersama Pak Harto menjemput Panglima Besar Sudirman dari daerah gerilya, agar kembali ke Yogya di mana Soekarno-Hatta telah tiba dari Bangka. Sudah tahun baru, pikir saya. Tanah Air saya sudah merdeka dan berdaulat, diakui dunia internasional. [H Rosihan Anwar Wartawan Senior ]

 

Source: Kompas, 27 Desember 2006.

 

Iklan

Responses

  1. penjelasan terlalu singkat

  2. kurang lengkap kacau nich …


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: