Oleh: MAULA | Desember 29, 2008

Perdamaian Palestina-Israel: Sebuah Kerja Keras

neve_shalom_view 

Di Israel, ada sebuah desa tempat orang Arab dan Yahudi hidup rukun. Kedua kelompok berusaha untuk menciptakan sebuah masyarakat yang dapat menjadi model bagi perdamaian di wilayah tersebut.

 

Apakah namanya? Oase Perdamaian. Walaupun namanya memberi kesan bahwa kota kecil tersebut merupakan sebuah utopia yang ajaib dan idealis, orang-orang yang tinggal di sana sangat ditantang setiap hari oleh kenyataan dari sebuah konflik yang penuh kesulitan, penderitaan, dan kekerasan. Seperti hal apa pun yang cukup berharga untuk diperjuangkan, perdamaian hanya akan terwujud oleh kerja keras.

Entah bagaimana, ada rasa takut bahwa desa tersebut akan mengancam 5,4 juta orang Yahudi di Israel dan 5,1 juta orang Arab Palestina di Israel-Palestina. Namun itu tak lebih omong kosong. Hanya ada sepasang suami istri campuran, yang sekarang tinggal di sana selama lebih dari 25 tahun, yang campuran. Lainnya adalah 54 keluarga bukan campuran dari orang-orang Yahudi, Muslim, dan Kristen; mereka sama-sama memiliki keyakinan yang kuat akan jati diri mereka, tetapi telah melakukan upaya sungguh-sungguh – selama lebih dari tiga dekade – untuk hidup berdampingan satu sama lain, dan karena itu telah mempengaruhi masyarakat.

Banyak yang dapat dipelajari dari Neve Shalom, nama Hebrew-nya, atau Wahat al-Salam begitu ia disebut dalam bahasa Arab, tentang hubungan antar agama.

Di sekolah dasar Yahudi-Arab, anak-anak belajar keyakinan lain dengan rasa ingin tahu yang alamiah. Murid-murid tersebut berbuka puasa bersama saat Ramadhan, berbagi sukkah pada Hari Sukkot, dan bertukar hadiah kecil saat Natal. Dan dialog pun dimulai, dan tak akan pernah berakhir, di Pusat Kemajemukan Spiritual, tempat diskusi-diskusi yang melampaui agama; dalam kesadaran bahwa konflik yang terjadi bukanlah antara Taurat – Al Quran – Injil.

Kesulitan-kesulitan muncul ketika isu-isu konflik diletakkan di atas meja.

Konflik Israel-Palestina merupakan sebuah perjuangan politik antara dua kelompok bangsa yang menyangkut tanah, sumber daya, keamanan, kemerdekaan, kesetaraan, kekuasaan, identitas, dan keadilan. Dialog produktif harus mengikutsertakan pengakuan tentang hal ini dan tidak membatasinya pada isu-isu antar dan dalam agama.

Pencarian sebuah penyelesaian bagi konflik Israel-Palestina membutuhkan sebuah sudut pandang terhadap gambaran yang besar. Tujuan akhir seharusnya adalah menciptakan stabilitas bagi Israel dan Palestina, sehingga mereka dapat hidup aman dan rukun, dalam semangat gotong-royong dan hormat-menghormati.

Itu berarti membangun landasan bersama, membagi kisah dan mengakui rasa sakit dan penderitaan orang lain. Bangsa Israel dan Palestina, orang Yahudi, Muslim, dan Kristen harus menunjukkan kesediaan untuk saling menerima. Pada akhirnya itu merupakan sarana untuk melihat musuh memiliki kesetaraan dalam hal kemanusiaan. Lebih mudah dibicarakan daripada dilaksanakan.

Menyelesaikan konflik Israel-Palestina merupakan kartu domino utama untuk melihat berbagai dialog penting antara dunia Arab dan Barat. Tanpa katalis seperti itu, dialog akan berjalan lamban. Dan dialog memberikan forum bagi pengertian dan pencarian penyelesaian; penyelesaian-penyelesaian yang tidak akan terwujud tanpa pembicaraan.

Barat harus belajar lebih banyak tentang Islam. Bukan karena itu merupakan keyakinan dari “musuh kita” tetapi karena, bercermin pada anak-anak di Neve Shalom/Wahat al-Salam, itu merupakan keyakinan dari tetangga-tetangga kita.

Seperti halnya yang sedang dilakukan Oase Perdamaian, kita harus beranjak melampaui anggapan bahwa bangsa Arab merupakan orang-orang yang sudah pada dasarnya mengerikan. Kita menggambarkan permusuhan semu untuk menciptakan musuh, tetapi kita harus menantang diri kita sendiri untuk memecahkan gambaran-gambaran umum tersebut, mempertanyakan asumsi-asumsi dasar, dan meningkatkan kesadaran. Lebih jauh daripada itu, Barat harus belajar tentang konflik-konflik ekonomi, politik, sosial, dan kebudayaan yang dihadapi wilayah tersebut.

Isu-isu antara Barat dan Timur tidak hanya berkisar agama, tetapi dinamika politik, perjuangan memperoleh sumber-sumber daya, kepentingan pribadi, kemerdekaan, dan relasi kekuasaan. Ketika kita mulai mengerti hal ini, kita akan memperkuat hubungan-hubungan itu.

Ada sekitar 500 keluarga lagi dalam daftar tunggu yang ingin pindah ke Oase Perdamaian. Musim gugur ini, 15 keluarga akan melaksanakan rencana mereka dan mulai membangun rumah dan masa depan yang baru. Mereka datang dengan niat baik yang besar dan mungkin sedikit pengertian tentang tantangan-tantangan besar yang akan mereka hadapi.

Tetapi mereka menawarkan secercah cahaya pada dunia.

Para penduduk desa kecil ini sedang memindahkan rintangan sendirian, memperlihatkan bahwa perdamaian berada dalam genggaman orang-orang yang mencarinya dan yang bersedia mengorbankan bias mereka, hingga semua dapat berbagi kemungkinan perdamaian.

Ketika mereka memberi contoh kepada siapa pun di wilayah tersebut, selanjutnya terserah kita semua dalam mengikuti langkah mereka.

###

* Deanna Armbruster adalah direktur eksekutif American Friends dari Neve Shalom/Wahat al-Salam dan penulis Tears in the Holy Land: Voices from Israel and Palestine. Artikel ini, bagian dari seri hubungan Muslim-Yahudi, ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews), awalnya muncul di Christian Science Monitor.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 22 Agustus 2008, www.commongroundnews.org

 

Iklan

Responses

  1. Jika gambaran Oase Perdamaian di atas benar-benar ada, kenapa tidak dibangun beberapa lagi di tempat lain agar pengaruhnya lebih mengakar ?

    Mungkin ini yang perlu dipelopori PBB dan organisasi perdamaian dunia lainnya. Bukan mengirim pasukan saja, tetapi lebih pada pengiriman konsep perdamaian yang lebih realistik seperti pengembangan Oase Perdamaian di atas.

    Masalah dendam permanen antara Israel – Palestina itu akan sangat sulit diselesaikan hanya dengan dasar omongan dan pertemuan-pertemuan para politikus. Juga tidak bisa dengan jalur agama, karena yang biadab adalah para perantaunya dan negara-negara produsen alat perang yang kembali membekali perang saudara tersebut. Kita juga tidak boleh memihak hanya pada satu sisi, Israel atau Palestina, karena itu akan mempertajam konflik yang sedang terjadi, selain bisa jadi bumerang bagi diri sendiri. Kita harus lebih bijak menanggapinya.

    Semoga akan segera muncul desa Oase Perdamaian lain di tempat-tempat tertentu di kawasan perang Israel – Palestina. Kita doakan.

    Semoga karya Tuhan yang jalan . . . ., amin.

  2. Masalah persengketaan tanah antara warga Muslim & Yahudi di Pelestin bermula pada saat Daulah Khilafah Usmaniyah di Turki mengalami kehancuran akibat propaganda kafir Barat.
    Hal tersebut kemudian dimanfaatkan oleh Teodhore Hertz dkk yang menghasut warga Yahudi agar menguasai tanah Palestin.
    Cara paling efektif untuk menyelesaikan permasalahan tersebut adalah mengembalikan hak pengelolaan tanah tersebut kepada pemilik terakhir yang sah, yaitu Daulah Khilafah.
    Tanah Palestin adalah tanah wakaf yang diserahkan secara ikhlas dari pemilik sebelumnya kepada Khalifah Umar ra. & kemudian dibebaskan kembali dari tangan penjajah oleh Khalifah Muhammad al Fatih.
    Bisa saja saudara Muslim kita di Pelestin lari & mengungsi ke negara lain agar selamat, namun hal itu tidak mereka lakukan, karena mereka telah bersumpah untuk merelakan jiwa mereka guna melindungi tanah wakaf milik Daulah Khilafah, hingga Daulah Khilafah bangkit kembali.
    Wahai Saudara Muslim di manapun juga, relakah kalian berlama-lama membiarkan penderitaan saudara muslim kita di Palestin terus berlarut-larut?
    Wahai Saudara Muslim di manapun juga, marilah kita tegakkan Khilafah sekarang juga!
    Agar Saudara kita, baik umat Muslim maupun Yahudi, dapat kembali berdamai seperti sedia kala!
    Agar berbagai masalah yang melanda kita saat ini dapat teratasi!
    Dan yang terpenting, agar hukum Allah dapat ditegakkan kembali di muka bumi ini!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: