Penganiayaan Terhadap Rakyat Palestina: Perspektif Orang Irlandia

 ireland-palestine

ABSTRAK

Menurut penulis, ada kesejajaran antara pendudukan Israel atas Palestina dengan pendudukan Inggris atas Irlandia. Juga ada kesejajaran dalam hal peran agama dalam kedua konflik tersebut. Dalam pandangan penulis, suatu keadilan dan perdamaian yang langgeng di Palestina hanya akan bisa dicapai manakala Israel terlebih dulu dituntut untuk bertanggung jawab atas kekejaman-kekejaman yang dilakukannya.

 

 

“Mengingkari hak-hak asasi manusia setiap orang sama halnya dengan meragukan kemanusiaan orang tersebut.”

– Nelson Mandela

 

 

DALAM setiap masyarakat tradisional, agama yang dominan dan kepercayaan-kepercayaan keagamaan yang dianut kuat oleh orang-orang dalam masyarakat tersebut punya arti yang sangat penting bagi kehidupan mereka. Bahkan, bagi beberapa orang, agama dan kepercayaan merupakan hal terpenting bagi kehidupan mereka. Setiap kali saya mengunjungi rumah orang-orang dan melakukan Sakramen Suci (Blessed Sacrament) buat orang sakit dan mereka yang menikah, saya bisa melihat betapa pentingnya makna agama buat mereka.

Saya juga melihat hal yang sama dalam kebiasaan-kebiasaan keagamaan yang dilakukan oleh orang-orang seperti mengunjungi Mata Air Suci (Holy Wells) dan berziarah ke tempat-tempat peziarahan seperti Lough Derg dan Croagh Patrik serta Lourdes. Bukan hanya orang-orang tua, namun anak-anak muda pun memiliki keyakinan yang sama kuat dan hormatnya terhadap yang sakral.

Mungkin, sebagian orang modern yang sekuler tak akan bisa memahami fenomena ini. Bahkan, mereka mungkin akan menganggap praktik-praktik tersebut sebagai menggelikan. Mereka menyebut orang-orang yang menjalankan tradisi-tradisi agama itu sebagai kuno, takhyul, dsb. Sikap ini memperlihatkan betapa tidak adanya rasa toleransi dan rasa hormat dalam diri mereka.

Iman keagamaan itu menjadi semakin lebih bernilai penting bagi kehidupan orang-orang yang tengah mengalami penghancuran ekonomi dan represi militer selama bertahun-tahun. Ketika situasi yang ada tampak tanpa harapan, orang-orang itu seringkali mengarahkan pikiran mereka pada Tuhan dan pada kehidupan setelah mati. Banyak pejuang yang melawan penindasan menemukan kekuatan dan ketentraman dirinya dalam keyakinan-keyakinan agama yang mereka anut dengan kuat. Adalah keliru dan arogan jika kita kemudian menyepelekan keyakinan-keyakinan keagamaan seseorang.

Di Barat – terutama di Eropa – banyak penulis dan kartunis yang sulit memahami dan menghormati keyakinan-keyakinan tradisional kaum Muslim. Banyak dari mereka yang sulit mengerti apa pentingnya dari praktik-praktik keagamaan kaum Muslim dan mengapa kaum Muslim sangat terikat dengan tempat-tempat Suci mereka. Dalam konteks perjuangan bangsa Palestina misalnya, Masjid Jerusalem punya arti yang sangat penting bagi orang-orang yang meyakininya.

Umat Gereja Katolik di Irlandia utara sendiri akrab dengan sikap permusuhan yang ditunjukkan oleh Inggris dan sekutu mereka dari sebagian kalangan Protestan. Inilah warisan sejarah kolonial yang harus kami panggul. Sebagian kaum Protestan di Irlandia utara yang menjadi pengikut Ian Paisley dan sektenya, Free Presbyterian, seringkali menjadikan kaum Katolik dan keyakinan-keyakinannya sebagai bahan olok-olok. Mereka mengolok-olok para pendeta dan praktik-praktik keagamaan dari umat Katolik – seperti misalnya Misa Suci.

Saya jadi teringat peristiwa beberapa tahun yang lalu ketika Ian Paisley mengejek upacara Misa, suatu upacara yang begitu dihormati oleh kalangan Katolik Irlandia. Ini mengingatkan kembali kenangan orang Irlandia masa-masa ketika perayaan Misa dilarang oleh pemerintah Inggris selama periode Penal Times. Dalam suatu perdebatan di Cambridge, Paisley juga mengolok-olok upacara Komuni, dan hal ini jelas membuat umat Katolik Irlandia sangat marah.

Selain berperilaku buruk, Paisley juga memperlihatkan kebebalan dan ketidakpekaannya yang besar terhadap orang-orang yang hidup satu negeri dan satu masyarakat dengannya. Padahal, sepanjang pengetahuan saya, tak pernah ada seorang Katolik pun yang pernah mengolok-olok atau menertawakan umat Protestan dan keyakinan-keyakinannya. Anda mungkin ingat ketika Paisley pergi ke parlemen Eropa dan berpidato panjang lebar mengenai almarhum Paus Johannes Paulus II, sementara Paus sendiri, di tengah-tengah luapan emosional Paisley, tetap menjaga martabatnya.  

Pidato itu merupakan hasutan untuk membenci dan bersifat provokatif. Paisley dan para pemujanya menganggap memperolok-olok agama Katolik itu merupakan sesuatu yang lucu. Padahal, tak ada yang lucu sama sekali. Tindakan tersebut malah menimbulkan kepahitan yang teramat dalam buat kaum Katolik. Tindakan itu juga memicu lahirnya rasisme sektarian. Sebagai buah dari pidato itu, orang-orang Katolik dijadikan target dan dibunuh dari orang-orang yang penuh kebencian dalam dirinya dan mengira bahwa dengan berbuat begitu, dia tengah berbuat kebaikan. Di tembok-tembok di Belfast dan di tempat lain, tertulis slogan-slogan yang berisi kata-kata kasar terhadap Paus. Terhadap terus berlanjutnya sikap fanatik dan rasisme itulah, Paisley harus turut bertanggung jawab.

Ketika tentara-tentara Inggris dan polisi dikerahkan untuk menyerbu rumah-rumah orang Katolik, mereka seringkali menjadikan lambang-lambang keagamaan atau gambar-gambar suci sebagai bahan olok-olok. Ketika mobil saya digeledah oleh UDR (milisi lokal Protestan yang punya ikatan hubungan dengan tentara Inggris), mereka seringkali menghina saya dan benda-benda keagamaan yang saya bawa dalam laci kecil di mobil saya. Dalam satu kejadian, mereka bahkan mendatangi gereja ketika saya tengah memimpin perayaan Misa.

Ketika Good Friday Agreement (1998) – yang tidak diakui oleh Paisley – diterapkan, muncul usaha-usaha untuk melenyapkan praktik-praktik diskriminasi yang lama dan untuk membangun suatu masyarakat yang baru di Irlandia. Kaum republikan Irlandia bekerja untuk menciptakan suatu masyarakat yang inklusif di Irlandia di mana umat Protestan dan umat Katolik serta seluruh umat agama yang lain dan mereka yang tak beragama bisa hidup bersama-sama secara damai dan harmonis. Inilah esensi dari paham Republikanisme – yaitu untuk menciptakan suatu masyarakat yang toleran. Masyarakat yang demikian akan merangkul pula kaum Unionis yang karena sejarah mereka, tak merasa dirinya sebagai bagian dari Irlandia, namun secara emosional lebih terikat dengan Inggris dan sang Ratu. 

Kami membutuhkan hukum yang menentang rasisme dan sektarianisme, dan kami juga harus menegakkannya. Karena itu, kami butuh suatu sistem kepolisian yang bagus dan suatu sistem pengadilan yang adil – dua hal yang belum pernah dimiliki oleh kami yang tinggal di enam daerah administrasi di Irlandia timur laut yang berada di bawah kekuasaan Inggris.

Seringkali konflik kami di Irlandia digambarkan secara salah sebagai konflik agama. Konflik kami digambarkan sebagai suatu konflik berusia lama antara kaum Katolik dan kaum Protestan yang telah belangsung sejak masa Reformasi. Ini merupakan penggambaran yang keliru karena mengabaikan peran pemerintah Inggris dalam menggerakkan dan memelihara keterbelahan yang ada demi tujuan-tujuan kolonial mereka yang egois.

Kaum nasionalis dan republikan Irlandia sendiri terus melangkah dan turut aktif dalam berbagai usaha progresif untuk menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat di Irlandia. Ada banyak ragam usaha kemasyarakatan yang dilakukan seperti proyek-proyek Kredit Bersama (Credit Union) dan swadaya (self-help) yang bertujuan untuk memajukan kesejahteraan sosial dan ekonomi dari seluruh masyarakat – terutama mereka yang telah dimarjinalkan selama bertahun-tahun.

Seperti kaum Katolik di Irlandia, kaum Muslim pun punya tradisi-tradisi dan adat kebiasaan-kebiasan mereka sendiri yang bagi orang-orang luar terasa sulit untuk dipahami, seperti misalnya tak berjabat tangan dengan wanita, melepaskan sepatu yang kotor, dsb. Dan seperti halnya kaum Katolik di Irlandia, kaum Muslim di Palestina – di negeri kelahiran mereka sendiri – harus mengalami penderitaan sebagai akibat pendudukan tentara-tentara Israel.

Bagi banyak orang Palestina, keyakinan keagamaan punya arti yang sangat penting. Keyakinan itulah yang membuat mereka bisa melewati penderitaan dan penindasan yang mereka alami. Simbol-simbol keyakinan bagi mereka punya arti yang sangat besar bagi mereka sebagaimana juga bagi orang-orang yang terlibat dalam perjuangan-perjuangan pembebasan di sepanjang sejarah di seluruh dunia. Dalam tahun-tahun terakhir, tumbuhnya teologi pembebasan menjadi petunjuk tentang betapa banyaknya orang yang mengambil suatu pendekatan baru atas keyakinan dan Kitab Suci mereka.

Bulan Januari, dilakukan pemilihan umum di Palestina, dan hal ini membuat ada banyak pihak yang mengarahkan perhatiannya terhadap situasi di Palestina dan ke arah mana situasi itu akan berkembang.

Ketika hasil pemilihan umum di Palestina diumumkan, saya sendiri kebetulan berada di New York pada bulan Januari tahun itu. Betapa terkejut dan kecewanya kaum elit politik dan beberapa reporter di Washington ketika Gerakan Perlawanan Islam, Hamas, meraih 76 dari 132 kursi. Hasil ini sesungguhnya bisa diprediksi. Ketika pelanggaran atas hak-hak asasi manusia dari rakyat Palestina yang dilakukan oleh pemerintah Israel dan para pendukung Zionisnya terus berlanjut, tentu saja rakyat Palestina yang telah lama menderita di Jalur Gaza dan Tepi Barat serta Jerusalem Timur lebih memilih kelompok yang akan menyuarakan suara-suara dan tuntutan-tuntan keadilan mereka. Mayoritas besar dari 3,2 juta bangsa Palestina di Tepi Barat, Gaza dan Jerusalem Timur ingin pendudukan Israel diakhiri. Mereka menginginkan suatu perbaikan kondisi politik yang baru, persis sebagaimana Sinn Fein dan IRA menginginkan suatu perbaikan kondisi politik yang baru di Irlandia. 

George Bush kemudian diwawancarai di televisi untuk memberikan komentarnya terhadap hasil pemilu tersebut. Biasanya, saya tak akan menonton TV sepanjang siang hari – terutama jika televisi menayangkan George Bush. Namun dalam kesempatan itu, saya ingin melihat bagaimana respon Bush terhadap keberhasilan Hamas dalam pemilu itu. Menurut saya, orang satu itu tampak lebih licik daripada biasanya. Dia mengatakan rakyat Palestina telah menentukan suaranya di kotak suara dan memilih Hamas – namun kami tak akan berurusan dengan Hamas. Ini mengingatkan saya pada masa ketika Thatcher dan pemerintah Inggris mengatakan bahwa mereka tak akan berbicara dengan Bobby Sands setelah dia memenangkan Pemilu Fermanagh-South Tyrone pada tahun 1981 di tengah-tengah mogok makan yang dilakukannya.

Bagi saya pribadi, seorang pengamat luar di Irlandia timur laut, kebangkitan Hamas dan keberhasilan mereka dalam pemilu terakhir sama-sama bisa diprediksinya dengan kebangkitan Sinn Fein di Irlandia dan kebangkitan ANC di Afrika Selatan. Represi yang terus-menerus terhadap rakyat Palestina dan pelanggaran hak-hak asasi dasar mereka setiap hari telah membuat rakyat Palestina mencari pemimpin-pemimpin politik yang akan mewakili mereka dan bersuara demi kepentingan mereka dan berjuang bersama dengan mereka untuk memperbaiki nasib mereka.

Ada banyak orang yang akan bertindak dan mengorganisir diri agar bisa membela diri dan keluarga mereka. Mereka berjuang dengan gigih untuk menghentikan penderitaan yang diciptakan lebih jauh oleh musuh terhadap rakyat dan keluarga mereka. Mereka akan mengorganisir diri secara politik agar posisi politik dan suara mereka bisa semakin terdengar gaungnya di forum dunia demi membela rakyat mereka. Inilah demokrasi. Berbeda sama sekali dengan demokrasi semacam yang disukai oleh pemerintah AS atau pemerintah Ingris yang bisa mereka kontrol.

Suka tidak suka, demokrasi macam itulah yang akan mereka temui dan akan mereka hadapi hingga mereka pun terpaksa harus mendengarkan suara dari rakyat yang meneriakkan keadilan dan meneriakkan diakhirinya agresi Israel. Mereka akan terpaksa memperhatikan tuntutan bagi dipulihkannya negara Palestina dan bagi dilakukannya pengawasan terhadap pelaksanaan semua ketentuan PBB. Di atas semua itu, mereka akan terpaksa harus memperhatikan seruan dari umat Muslim bahwa Masjid Al-Aqsha merupakan milik umat Muslim karena masjid itu merupakan tempat suci bagi mereka, tempat paling suci ketiga bagi mereka di dunia setelah Makkah dan Madinah.

Berdasarkan pengalaman saya menghadapi agresi dan kontrol militer Inggris di wilayah timur laut Irlandia dan menghadapi usaha-usaha untuk mengolok-olok iman orang-orang awam Katolik – usaha-usaha mengolok-olok simbol-simbol keagamaan seperti gambar Suci, cawan air suci dsb – saya bisa merasakan apa yang dirasakan oleh bangsa Palestina dan para pemimpin agama di kalangan Muslim. Saya memahami betul betapa dalamnya perasaan terluka yang dialami oleh masyarakat Muslim Palestina terhadap setiap usaha untuk menodai Masjid Al-Aqsha.

Saya juga bisa memahami betul rasa marah dan frustasi yang dirasakan oleh rakyat Palestina yang telah mengalami pelecehan dan intimidasi setiap hari sepanjang tahun. Saya sendiri tinggal di dekat perbatasan yang dibangun secara semena-mena di Irlandia. Di daerah saya, ada juga pemblokiran-pemblokiran jalan dan pos-pos pemeriksaan yang dibangun oleh militer Inggris. Kami juga mengalami perlakuan yang kejam dan berkepanjangan, baik secara fisik maupun mental. Dan sangat sering tujuan dari intimidasi dan pelecehan itu ialah untuk memprovokasi suatu reaksi yang akan memberi mereka justifikasi untuk melakukan represi lebih jauh.

Ada juga praktik-praktik penyiksaan tahanan-tahanan, diskriminasi kerja dan praktik apartheid di daerah saya, hingga membuat saya sering bertanya-tanya berapa banyak sebenarnya yang telah dipelajari oleh orang-orang Israel dari orang-orang Inggris dalam hal bagaimana cara menghukum dan menindas masyarakat yang mereka anggap sebagai musuh.

Sebagaimana halnya kami terisolasi dan tak punya akses ke media internasional, bangsa Palestina pun terisolasi dan hal ini membuat buruknya kondisi mereka dilaporkan secara keliru. Agenda media ditentukan sepenuhnya oleh orang-orang Israel, dengan dukungan gerakan Zionis AS dan Gedung putih. Analis politik, John Pilger, mengatakan:

Setidaknya selama tigapuluh lima tahun, bangsa Palestina diingkari haknya untuk kembali ke rumah mereka, dan hal ini melanggar sejumlah resolusi PBB dan hukum internasional. Saat menuntut penarikan mundur Israel dari Tepi Barat dan Jalur Gaza, pihak Dewan Keamanan PBB menggunakan kata-kata yang sama dengan kata-kata yang digunakan untuk menuntut penarikan mundur Irak dari Kuwait pada tahun 1990. Ketika Irak tak mematuhi tuntutan itu, Irak diserang oleh koalisi pimpinan Amerika Serikat dan Kuwait pun dibebaskan. Namun ketika Israel tak mematuhi tuntutan itu, Israel malah menerima dukungan ekonomi dan militer yang semakin meningkat dari Barat, terutama dari Amerika.

 

Dengan pengecualian-pengecualian yang sangat jarang, kejadian-kejadian di Palestina dilaporkan di Barat dalam konteks dua rival yang saling berperang, bukan dalam konteks suatu pendudukan ilegal yang berhadapan dengan perlawanan dari pihak yang diduduki. Rezim Israel-lah yang masih terus menjadi penentu agenda media internasional. Orang-orang Israel dikatakan “dibunuh oleh para teroris”, sementara bangsa Palestina dinyatakan “mati terbunuh setelah suatu bentrok dengan pihak keamanan”. Jarang sekali dalam media posisi keduanya dibedakan sebagai antara kekuatan militer yang memiliki senjata nuklir yang besar dan menggunakan tank-tank, jet-jet tempur dan helikopter bersenapan mesin di satu sisi dengan gerombolan pemuda yang menggunakan ketapel di sisi lain. (Munculnya pembom-pembom bunuh diri merupakan suatu fenomena yang relatif baru dan muncul terutama sebagai reaksi terhadap invasi Israel terhadap Libanon yang merenggut 17.500 korban meninggal dunia).

Tahun 1916, dimulailah Pemberontakan dan Proklamasi Republik Irlandia:

 

Warga Irlandia sekalian: Atas nama Tuhan dan generasi pendahulu kita yang telah membangun tradisi kebangsaan kita yang telah berusia panjang, Irlandia sampai ke tangan kita, dan memanggil kita, anak-anaknya, untuk berkumpul di bawah benderanya dan berjuang demi kemerdekaannya. Setelah mengorganisir diri dan mendidik rakyatnya lewat organisasi revolusioner rahasianya, Persaudaraan Republikan Irlandia, dan lewat organisasi-organisasi militer terbukanya, tentara Sukarelawan Irlandia dan tentara Warga Irlandia, setelah dengan penuh kesabaran menyempurnakan kemampuan generasi penerusnya, setelah dengan penuh keyakinan menunggu saat yang tepat untuk memunculkan dirinya, Irlandia sekarang sampai kepada momen yang tepat itu. Dan dengan dukungan dari anak-anaknya yang diasingkan di Amerika dan dari sekutu-sekutunya yang gagah berani di Eropa, namun sambil tetap mengandalkan diri pada kekuatannya sendiri, negeri Irlandia menyerang dengan penuh rasa keyakinan akan berhasil mencapai kemenangan…

 

Pemberontakan tahun 1916 itu kemudian ditindak oleh Pemerintah Inggris dan para pemimpinnya dihukum mati. Hak rakyat Irlandia untuk merdeka dan bebas terus disangkal oleh pemerintah Inggris. Ketika pemerintah Inggris akhirnya tak mampu mengatasi perlawanan penuh determinasi dari para republikan Irlandia (IRA), mereka lantas berupaya memecah negeri itu dengan cara memberikan kemerdekaan terbatas bagi 26 daerah administrasi dan tetap mengontrol 6 daerah administrasi di wilayah timur laut di seputar Belfast dan Derry. Ini sepenuhnya bertentangan dengan kemauan seluruh rakyat Irlandia dan sejak itu terciptalah konflik selama berpuluh-puluh tahun.

Sejak gencatan senjata IRA tahun 1994 dan Good Friday Agreement tahun 1998, memang banyak dari aparatus represif yang dibubarkan, namun pos-pos pengawasan militer masih terus berdiri di sepanjang perbatasan.

 

Penistaan dan Pemiskinan Rakyat Palestina

 

Pada tahun 1967, rakyat Palestina dirampas tanah airnya dan dipaksa untuk tinggal di kamp-kamp pengungsian. Pemerintah Israel menduduki seluruh wilayah Palestina dan mengambil alih Jerusalem. Rasa marah dan frustasi rakyat Palestina diwujudkan dalam bentuk intifadah. Intifadah ini mulai muncul pertama kali pada tahun 1987 dan muncul kembali pada tahun 2000 ketika rakyat Palestina menyerang tentara-tentara Israel dengan lemparan batu. Hal ini mereka lakukan karena mereka merasa jemu dan letih dinistakan dan diperlakukan seperti binatang. Tentara Israel bereaksi secara keras dengan membunuh setidaknya empat orang dan melukai banyak orang.

Setelah serangan Israel terhadap rakyat Palestina pada tahun 2000 itu, intimidasi dan represi yang dilakukan oleh Israel semakin meningkat. Dari Jerusalem pada Rabu, 26 September 2001, koresponden BBC Fiona Symon melaporkan bahwa:

 

Sejak pecahnya intifadah terakhir pada bulan Oktober 2000, standar hidup di kalangan masyarakat Palestina jatuh secara drastis. Tindakan Israel untuk mencekik ekonomi Palestina tampaknya dilakukan secara total dan hal ini dilakukan dengan membangun lebih dari 150 blokade militer di Tepi Barat dan lebih dari 40 blokade di Jalur Gaza.

 

Perlu juga ditambahkan bahwa Israel telah membangun zona penyangga yang baru yang didirikan minggu ini di sepanjang perbatasan antara wilayah Israel dan Palestina. Semua titik masuk dan keluar ke tepi Barat dan Jalur Gaza – termasuk jalan-jalan pegunungan dan jalan-jalan setapak – ditutup. Di titik-titik pemeriksaan (checkpoint) itu, setiap hari rakyat Palestina mengalami perlakuan penistaan dan kadangkala intimidasi.

B’Tselem, sebuah kelompok hak asasi manusia Israel yang memonitor aktivitas tentara di wilayah pendudukan menyatakan keprihatinannya terhadap sejumlah kasus di mana tentara-tentara Israel menembaki dan membunuh orang-orang Palestina “tanpa provokasi” di pos-pos pemblokiran jalan selama masa perlawanan. Pihak tentara Israel sendiri menyangkal hal ini, namun yang tak bisa dibantah oleh mereka ialah dampak dari adanya pos-pos pemblokiran jalan itu terhadap ekonomi. Ekonomi Palestina, menurut suatu laporan dari Dewan Ekonomi Palestina untuk Pembangunan Dan Pembangunan Kembali (PECDAR) yang dikeluarkan setahun setelah intifadah, berjalan di tempat.

Ini menimbulkan kerugian total di semua sektor ekonomi sebesar $4,25 milyar dollar selama periode antara September 2000 dan September 2001. Pariwisata, yang sebelumnya menyumbangkan 11% dari produk domestik bruto Palestina dan menjadi sumber penting untuk memperoleh mata uang asing, sekarang sepenuhnya mandeg sebagai akibat penutupan jalan-jalan. Pertanian, perdagangan dan industri semuanya mengalami kemerosotan yang tajam. PECDAR mengestimasikan bahwa sekitar 150.000 pohon buah dirobohkan dan lebih dari 4.000 rumah dihancurkan, selain sejumlah besar bangunan dan proyek-proyek umum, sehingga menyebabkan biaya kehilangan infrastruktur sekitar $165 juta dan kehilangan transportasi sebesar $5 juta sepanjang periode tersebut.

Penutupan bandara Internasional Gaza juga memiliki efek-efek yang menghancurkan terhadap pariwisata dan investasi. Pihak Pemerintahan Palestina telah mengeluarkan jutaan dollar untuk menarik investasi dan meningkatkan mutu pariwisata, namun dengan ditutupnya bandara, sejumlah besar investor pun memindahkan uang mereka ke tempat lain.

Pemblokiran itu berdampak sangat menghancurkan karena sebagian besar ekonomi Palestina bergantung pada Israel. PECDAR mencatat bahwa 85% dari perdagangan dilakukan lewat Israel, dan orang-orang Palestina membeli listrik, air, dan telekomunikasi mereka dari perusahaan-perusahaan Israel. Sebelum intifadah, jumlah pekerja Palestina sekitar 651.000 orang, 133.000 di antaranya bekerja di dalam negeri Israel. Sebagai dampak langsung dari penutupan jalan, tingkat pengangguran meningkat dari 12% menjadi 51% dari tenaga kerja Palestina. “Konsekuensi alami dari pengangguran ialah kemiskinan. Jadi, sebagai dampak dari penutupan jalan oleh Israel, ribuan orang Palestina kehilangan pekerjaan mereka dan sebagai konsekuensinya, kehilangan sumber pendapatan utama mereka,” kata PECDAR.

Analis dari Palestina, Khalili Shikaki, mengatakan kebijakan penutupan oleh Israel “telah menebarkan benih-benih kebencian untuk waktu yang lama di masa mendatang.” Blokade-blokade itu bukannya memberikan keamanan bagi Israel, malah meradikalkan orang-orang Palestina yang moderat yang usaha bisnisnya dilumpuhkan. Pandangan ini tercermin dalam jajak pendapat publik terakhir yang dilakukan oleh Jerusalem Media and Communication Centre.

Jajak pendapat itu mensurvei pendduduk Palestina minggu lalu dan hasilnya memperlihatkan bahwa sikap dukungan terhadap proses perdamaian semakin merosot. Dukungan bagi proses perdamaian merosot dari 38% bulan Juni lalu (2001) menjadi 29% bulan ini, dan persentase orang Palestina yang menilai proses perdamaian sebagai sudah mati meningkat menjadi 42% dari sebelumnya 27%.

Ghassan Khatib, direktur lembaga itu, mengatakan orang-orang Palestina telah kehilangan suasana hatinya untuk berkompromi karena mereka percaya bahwa satu keberhasilan pencapaian dari intifadah sejauh ini ialah mencegah Israel menerapkan cetak birunya untuk membangun pemukiman Yahudi yang bersifat permanen. “Orang-orang Palestina percaya bahwa Israel-lah yang memulai tindak kekerasan, dan bahwa mereka hanya beraksi dan melawan tindakan agresi Israel itu,” lanjut Mr. Khatib.

Selama periode setelah penutupan itu, lebih banyak lagi orang Palestina yang menjadi korban sebagai akibat langsung dari pendudukan Israel dan sebagai akibat intimidasi dan pelecehan yang semakin meningkat. Sejak September 2000 sampai Desember 2004, lebih dari 3.565 orang Palestina yang dibunuh oleh Israel, lebih dari 500 darinya yang masih anak-anak, dan lebih dari 80% darinya yang merupakan penduduk sipil. Dalam periode yang sama, hampir 1.000 orang  Israel terbunuh. Pada tahun 2004 saja, tentara-tentara Israel telah membunuh 176 anak-anak Palestina. Di Gaza, 1.400 orang Palestina terbunuh antara periode September 2000 dan Desember 2004. Dalam periode ini, di Gaza setidaknya 19.000 orang kehilangan rumahnya karena aksi penghancuran rumah yang dilakukan Israel. Semenjak Gencatan Senjata disepakati pada 8 Februari 2005, di Sharm el-Sheikh sampai dengan akhir tahun lalu, 100 orang Palestina (65 diantaranya penduduk sipil) dan 22 orang Israel (20 di antaranya penduduk sipil) telah terbunuh. 

Meski mendapat sanksi internasional, namun pemerintah Israel masih terus menjalankan sistem apartheidnya di mana orang-orang Palestina diperlakukan secara diskriminatif dalam hal pemberian layanan, perumahan, lapangan pekerjaan, pendidikan dsb. Tak heran jika Uskup Agung Desmond Tutu setelah kunjungannya ke Palestina mengatakan bahwa apartheid di Afrika Selatan jika dibandingkan dengan yang dipraktikkan oleh Israel jauh lebih ringan.

Sementara bagi kaum Muslim yang taat, serangan dan ancaman terhadap Masjid Al-Aqsha mereka – Batu Kubah di Jerusalem, menimbulkan suatu perasaan kepedihan dan terluka yang sangat dalam.

Di Tepi Barat, ada 13 area atau bantustan yang saling terpisah. Untuk bisa keluar dari satu bantustan ke bantustan lain, harus ada izin dari Israel. Bahkan, untuk bepergian dalam area bantustan sendiri, tak mudah. Ada 750 rintangan atau penghalang jalan di Tepi Barat. Jalan-jalan yang ada dilubangi oleh Israel untuk mencegah orang-orang Palestina berpindah dari satu area ke area yang lain. Israel juga memasang banyak penghalang dan perintang jalan dengan tujuan yang sama. Ada lebih dari 40 pos pemeriksaan, dan pos-pos itu secara umum tidak berada di jalan-jalan yang menghubungkan antara Palestina menuju ke Israel, namun berada dari satu area Palestina ke area yang lain.  

Pada pos-pos pemeriksaan itu, tentara-tentara Israel bisa bertindak secara sewenang-wenang. Di sana, peraturan tak berlaku. Tak peduli apakah seseorang itu telah memiliki izin yang diharuskan. Pemberian izin untuk pergi melewati pos-pos pemeriksaan bergantung sepenuhnya pada kemauan dari tentara yang bertugas di pos tersebut. (Saya jadi teringat hal yang sama di pos pemeriksaan pulau Boa di Fermanagh!). Orang-orang Palestina biasanya harus menunggu selama berjam-jam, kadangkala berhari-hari, di pos-pos pemeriksaan. Bahkan, kadangkala mereka harus kembali pulang meski mereka telah mengantongi izin pergi. Sementara orang-orang yang berasal dari luar negeri atau memiliki paspor Israel bisa lewat tanpa kesulitan.

Maka, keadilan bagi rakyat Palestina pertama-tama haruslah diartikan sebagai penerimaan atas Kesepakatan Internasional dan resolusi 242 PBB yang menyebutkan tuntutan penarikan mundur sepenuhnya Israel dari Jerusalem Timur, Jalur Gaza dan Tepi Barat. Keadilan bagi rakyat Palestina harus diartikan sebagai pengakuan terhadap hak rakyat Palestina untuk menentukan nasibnya sendiri sebagai bangsa dan dikembalikannya tanah air mereka kepada rakyat Palestina. Dan keadilan itu juga harus diartikan sebagai penghormatan terhadap kesucian rakyat Palestina, tradisi-tradisi dan keyakinan-keyakinan mereka. Membuat gambar-gambar kartun mengenai sosok Muhammad merupakan tindakan yang keliru, dan merupakan penghinaan dan pelanggaran berat terhadap hak-hak asasi orang-orang Muslim. Gambar-gambar itu juga berwatak rasis. Dalih kebebasan berbicara merupakan dalih yang omong kosong. Kebebasan Mengemukakan Pendapat sama sekali tak memberi siapapun hak untuk menghina keyakinan-keyakinan keagamaan orang lain.

Seperti beberapa penulis dari tradisi Pembebasan Kristen, saya pun ingin menekankan pentingnya suatu imajinasi profetik jika kita ingin mengubah situasi ke arah yang lebih baik sehingga rakyat yang tertindas bisa semakin berdaya. Imajinasi profetik itulah yang akan melahirkan suatu bahasa yang baru.

Sebagian besar nabi memahami kekuatan khas dari bahasa, dan memiliki kemampuan untuk berbicara dengan cara-cara yang bisa melahirkan ‘kesegaran makna baru dari kata’ (newness ‘fresh from the word’). Dengan kata lain, pemahaman profetik atas realitas didasarkan pada pandangan bahwa semua realitas sosial itu melahirkan makna yang segar dari suatu kata. Tujuan dari setiap usaha totalitarian ialah menghentikan bahasa yang melahirkan kebaharuan makna itu. Kita sekarang bisa melihat bahwa ketika ketika bahasa yang melahirkan kebaharuan makna itu berhenti, maka kemanusiaan kita pun lenyap.1

 

Jadi, yang menjadi perhatian kita sekarang ialah bagaimana memajukan suatu kesadaran alternatif – bukan sekadar melakukan tindakan sosial. Tradisi Kristen dalam puncaknya mengandung dua elemen kunci yang hadir secara bersamaan – yaitu mengkritik (criticising) dan menggerakkan (energising). Teologi pembebasan menghidupkan kembali dua elemen kunci ini sebagai sesuatu yang punya arti kritis dalam pergulatannya dengan masyarakat.

Tak ada nabi yang hanya menyibukkan diri dengan hal-hal langit. Semua Nabi selalu membawa teologi yang berpihak, selalu membawa teologi untuk masa tertentu, selalu membawa teologi untuk masyarakat yang kongkret, menemukan kebahagiaannya dalam hidup bersama dengan sebagian dari masyarakat yang kongkret itu, dan menyuarakan suara masyarakatnya meski dengan resiko berhadapan dengan masyarakat-masyarakat yang lain. Sementara raja-raja lebih menyukai agamawan-agamawan yang sistematis yang mampu merangkul semua masyarakat, mampu memahami kedua sisi dan memandang polemik sebagai sesuatu yang mempermalukan Tuhan dan hanya memecah-belah kebaikan umum.2

 

Musuh besar dari pembebasan dan hak-hak asasi manusia ialah imperialisme. Ya, musuh terbesar dari umat manusia sejak awal peradabannya ialah imperialisme dan anaknya, kolonialisme, karena keduanya memperbudak dan merampas kekuasaan rakyat. Seperti nabi-nabi di masa lalu, apa yang kita butuhkan ialah suara-suara profetik baru untuk melawan dan mengutuk imperialisme dan fundamentalisme – terutama sekali imperialisme berbasis Kristen dan Zionisme Kristen di AS dan sekutunya di Inggris. Kesadaran alternatif dicirikan oleh mengkritik dan menggerakkan. Kejadian dan kisah mengenai Pengusiran (Exodus) merupakan kejadian dan kisah mengenai kritik radikal terhadap dan penyingkapan secara radikal atas kekaisaran Mesir. Tragedinya ialah bahwa Pengusiran itu telah menyebabkan orang-orang pribumi Palestina terusir dari rumahnya, dan inilah yang dipakai sebagai justifikasi bagi kebijakan-kebijakan Zionis.

Di Palestina, hak-hak asasi rakyat Palestina dilanggar setiap harinya dan situasi ini menuntut adanya tindakan internasional.

Dalam hubungan dengan konflik di Palestina saat ini, di dalamnya sebuah lobi fundamentalis Kristen sayap kanan yang kuat di AS turut terlibat menentang dipulihkannya kembali tanah-tanah Palestina kepada rakyat Palestina. Dasar argumennya ialah bahwa menurut Injil, bangsa Yahudi merupakan orang-orang pilihan Tuhan dan Israel merupakan Tanah Yang Dijanjikan. Ideologi yang sesat ini harus dibantah.

Saya tak percaya ada yang disebut sebagai suatu perang agama, tak peduli betapa banyak retorika agama yang digunakan oleh satu pihak atau oleh pihak yang lain. Tentu saja, ada teriakan-teriakan agama dalam setiap perang dan tuhan disebut-sebut oleh semua pihak sebagai penolong mereka.. dan dalam setiap perang yang berlarut-larut, seperti halnya antara Israel dan Palestina, iman dari mereka yang terlibat dalam perang itu memang akan mengambil suatu makna yang baru dan penting. Namun, sesungguhnya perang itu adalah mengenai hak-hak asasi manusia – dan biasanya merupakan buah dari suatu perbenturan hak – hak untuk menentukan nasib sendiri, hak untuk kebebasan berpindah-pindah dsb…

Penulis buku The Prophetic Imagination mengatakan:

Dalam suatu kerajaan, tak ada tuhan buat siapapun. Yang ada hanyalah tuhan-tuhan lama yang tak peduli pada apapun dan hanya sesekali berusaha memperbaiki situasi. Tuhan-tuhan lama itu memiliki suatu panitia yang akan mempelajari semua persoalan lain. Sementara Musa dan nabi-nabi yang lain menggerakkan masyarakatnya bukan atas dasar pertimbangan strategi sosiologis ataupun atas dasar pertimbangan-pertimbangan mengenai dinamika sosial, namun lahir dari kebebasan Tuhan…

Bahasanya kerajaan adalah bahasanya realitas yang dicetak, bahasanya produksi, perencanaan dan pasar. Bahasa seperti itu tak akan pernah membolehkan ataupun melahirkan kebebasan karena tak ada kebaharuan makna di dalamnya. Doxologi merupakan tantangan utama bagi bahasanya realitas cetakan, dan doxologi inilah satu-satunya semesta diskursus di mana setiap energi mungkin berkembang.3

 

Secara berganti-ganti, setiap pemerintahan Israel selalu melakukan tindakan ilegal dan melanggar semua hukum internasional dan resolusi PBB. Karena cara pemerintahan-pemerintahan Israel dalam memperlakukan negara-negara tetangga Arabnya – terutama rakyat Palestina –  inilah, maka mereka harus dituntut untuk bertanggung jawab oleh masyarakat internasional. Mereka telah bertindak seperti layaknya geng anak nakal di sekolah. Padahal, kenakalan itu sungguh tak memberi manfaat apa-apa kepada mereka. Sebagian besar rakyat Israel dan orang-orang Yahudi yang bernurani tahu benar hal ini.

Agar usaha untuk menciptakan keadilan dan perdamaian yang lestari bisa terus berlanjut, maka adalah penting bagi rakyat Palestina untuk bersatu mencapai kemajuan lewat suatu jalan damai. Rakyat Palestina harus memiliki pemimpin-pemimpin yang bisa mereka percayai dan mereka dukung. Yang juga penting ialah anak-anak muda yang tak sabaran tak boleh lagi menari seirama dengan mesin propaganda Israel. Jalan untuk maju selalu lewat dialog. Hanya saja pertanyaannya ialah: Maukah Israel turut berpartisipasi dalam dialog politik yang sungguh-sungguh dengan Hamas?

Mengakhiri esai ini, saya ingin mengutip kata-kata dari seorang penulis besar Irlandia, Geroge Bernard Shaw, yang menulis pada tahun 1906 pada saat-saat sebelum Pemberontakan Paskah tahun 1916 (Easter Rising 1916):

Sebuah bangsa yang sehat ialah bangsa yang tak merasakan kebangsaannya sebagaimana seorang manusia yang sehat tak merasakan tulang-tulangnya. Namun, jika kamu memecah-belah rasa kebangsaan dari sebuah bangsa, maka satu-satunya kehendak bangsa itu ialah menyatukan kembali dirinya. Bangsa itu tak akan mendengar suara sang pembaharu, suara sang filosof dan suara sang pengkhotbah sebelum tuntutan Kebangsaannya terpenuhi. Tak ada kerja yang lain yang dilakukannya, tak peduli betapapun vitalnya kerja itu, selain dari kerja mempersatukan dan memerdekakan.4[Fr. Joe McVeigh]

 

Fr. Joe McVeigh adalah seorang pendeta Katolik dari Fermanagh yang merupakan satu dari enam wilayah administratif (county) di Irlandia yang masih diduduki oleh Inggris. Dia merupakan pengarang dari sejumlah buku, termasuk A Wounded Church: Religion, Politics and Justice in Ireland (1989). Ditasbihkan pada tahun 1971, Fr. McVeigh aktif menentang campur tangan Inggris di Irlandia dan dalam urusan-urusan dalam negeri Irlandia.

 

 

Catatan Kaki:

1.      John Pilger, “The New Rulers Of The World”, Verso, London, 2002, hal. 138-139.

2.      Walter Brueggemann, “The Prophetic Imagination”, Fortress Phila, 1978, hal. 9 dst.

3.      Walter Brueggemann, “The Prophetic Imagination”, Fortress Phila,1978.

4.      Walter Brueggemann, “The Prophetic Imagination”, Fortress Phila,1978, hal. 25-26

 


* ) Dialihbahasakan dengan izin penulis oleh Eko P Darmawan dari Volume 1 Issue 3 dalam  http://www.palint.org/article.php?articleid=13. Hak cipta pada Palestine Internationalist

 

 

Iklan

One comment

  1. Mari terus suarakan dan gelorakan kutukan dan kecaman terhadap israil dan amerika yang telah melakukan pembantaian terhadap sudara-saudara kita di Palestina

    salam dan doa dari : http://myrazano.com

    post terakhir : ” Menunggu Detik-Detik Kehancuran Islam ”

    ditunggu dukungan dan kunjungannya.

    terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s