Oleh: MAULA | Januari 12, 2009

Anak-anak Korban Perang

 child-war-victim

 

KEKERASAN, dan terlebih lagi perang yang melibatkan persenjataan canggih dan sifatnya massal, sesungguhnya adalah pilihan terakhir untuk menyelesaikan persoalan. Sebenarnya, kekerasan dan perang harus dihindari.

Namun, entah mengapa, di berbagai negara di dunia yang serba modern dan beradab, perang sering dianggap sebagai solusi pragmatis untuk keluar dari kebuntuan. Dengan dalih demi keamanan dunia dan keselamatan manusia, perang yang sebenarnya sarat kekerasan dan menyengsarakan manusia justru dianggap sebagai jalan pintas yang menjanjikan.

Bagi seorang pemimpin negara adidaya seperti George W Bush, perang tampaknya adalah sebuah pertaruhan harga diri yang bercampur-aduk dengan persoalan politik. Tetapi, apakah pernah terbayang di benak elite-elite dunia yang sedang bersengketa itu bahwa perang selalu menimbulkan luka yang menyengsarakan manusia, terutama bagi anak-anak?

Bagi para pemimpin dunia, mungkin perang dijadikan pertarungan ideologis dan nafsu purbawi yang terpendam. Tetapi, bagi warga sipil dan anak-anak yang tidak tahu apa-apa, perang ibarat mimpi buruk yang mengerikan. Bedanya, jika mimpi buruk akan hilang dengan sendiri saat anak-anak terjaga dari tidurnya, maka akibat perang sebenarnya tak akan pernah usai. Perang selalu meninggalkan luka traumatis, penderitaan psikologis yang jauh lebih menyengsarakan daripada luka fisik atau catat.

 

Korban

Di media massa, kita saksikan, saat perang berkecamuk, saat kota terbakar dan saat rudal diluncurkan, seketika itu juga korban akan berjatuhan tanpa kompromi. Penduduk sipil dan anak-anak tak berdosa, tak ubahnya seperti bilangan manusia, yang oleh si penyerang dianggap dan diposisikan sebagai lawan sah untuk dibunuh atau dimusnahkan. Dalam kasus serangan Amerika Serikat (AS) ke Irak, mereka juga dianggap sebagai ancaman.

Di Rumah sakit Al Mansour, Baghdad, misalnya, kini dilaporkan ratusan anak tergeletak tak berdaya karena menjadi korban perang itu. Kondisi mereka kritis. Seminggu, sekitar dua-tiga anak dilaporkan tewas, dan dari hari ke hari korban senantiasa bertambah.

Dalam dua dasa warsa terakhir, puluhan juta anak hidup menderita, bahkan tewas akibat perang yang berkecamuk di berbagai negara. Akibat perang yang tak kunjung usai, korban warga sipil dari tahun ke tahun kian meningkat, khususnya anak-anak. Menurut Laporan UNICEF (1996), pada Perang Dunia I, korban warga sipil semula hanya 14 persen, Perang Dunia II melonjak hingga 70 persen, dan tahun 1990 dalam beberapa perang di dunia, warga sipil yang menjadi korban 90 persen.

Dalam agresi AS ke Irak, memang belum ada catatan pasti berapa jumlah anak yang menjadi korban. Tetapi, dapat dipastikan jumlahnya cukup banyak, dari hari ke hari terus meningkat.

Sejarah mencatat, puluhan juta anak menjadi korban perang: sebagian telah terbunuh, cacat, terpaksa mengungsi, terpisah dari orangtuanya, kekurangan gizi, telantar, tidak lagi bisa sekolah, dan yang paling mengkhawatirkan sebetulnya kemungkinan anak mengalami stres pascatraumatis. Meski perang Irak-AS mungkin akan berakhir, tetapi siapa bisa menjamin, anak-anak segera dapat kembali hidup dan tumbuh-kembang wajar?

 

Risiko

Di berbagai negara yang terjerumus peperangan, ada dua risiko yang amat mencemaskan, namun selalu tak terhindarkan menimpa anak-anak. Ada beberapa sebab.

Pertama, sudah lazim terjadi di negara yang terlibat peperangan, anak-anak terpaksa ikut memanggul senjata. Ada yang menjadi prajurit atau tentara anak-anak yang sering harus mengalami hal-hal mengerikan. Anak-anak yang seharusnya duduk di bangku sekolah, saat terjerumus di daerah yang tengah berkonflik, jangan heran jika mereka lalu harus ikut mengangkat senjata, bertempur layaknya prajurit atau tentara dewasa. Senjata seperti AK-47 yang ringan-bisa dibongkar dan dipasang kembali oleh anak yang berusia 10 tahun-adalah salah satu senjata yang populer di kalangan tentara anak.

Pada beberapa kasus, keterlibatan anak-anak dalam perang lebih disukai dan diandalkan, selain karena dinilai lebih setia dan menuruti perintah, juga anak-anak dapat berubah menjadi senjata mematikan guna mengecoh lawan.

Dalam berbagai kasus perang, tidak sedikit anak yang dijadikan pasukan berani mati; mereka membawa bom di badannya lalu meledakkan tempat-tempat vital yang diduduki musuh. Pengalaman selama ini membuktikan, kecil kemungkinan anak melakukan desersi atau melarikan diri dari kelompoknya, dan mereka umumnya tidak menuntut bayaran.

Kedua, anak-anak yang selamat dari peperangan, tetapi lalu mengalami penderitaan baru tak kalah dahsyat, yakni anak-anak perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual (sexual abuse) tentara lawan. Perang di Rwanda, Bosnia-Herzegovina, dan Kroasia, di Bangladesh, Kamboja, Haiti, Siprus, Somalia, Uganda, dan lain-lain, membuktikan bagaimana nasib anak-anak perempuan yang ditawan musuh lalu diperlakukan tidak senonoh.

Dalam berbagai kasus peperangan, sering terjadi perkosaan terhadap anak perempuan bahkan dijadikan senjata untuk mendemoralisasi semangat musuh. Dalam peperangan yang diimbuhi sentimen antar-etnis seperti di beberapa negara bekas Uni Soviet, anak-anak perempuan diperkosa hingga hamil agar mereka terpukul harga dirinya karena mengandung anak dari musuh yang mereka benci. Bisa dibayangkan, bagaimana rumitnya konflik batin yang harus dihadapi anak perempuan jika mereka harus menerima kenyataan bahwa ayah dari anaknya adalah orang yang selama ini mereka benci.

 

Investasi kekerasan

Selama ini, PBB sudah melakukan berbagai upaya untuk membatasi kemungkinan anak menjadi korban peperangan. Selain berusaha memberi bantuan kemanusiaan dan membuat ketentuan bahwa anak di bawah 18 tahun tidak boleh direkrut sebagai tentara, PBB juga tak sekali-dua kali mengeluarkan kutukan keras tentang pelibatan anak dalam aksi perang.

Hasilnya? Alih-alih anak yang menjadi korban dan terlibat aktif aksi peperangan jumlahnya kian berkurang, yang terjadi dari hari ke hari justru hak dan masa depan anak kian dilupakan. Di berbagai media massa, belakangan ini kita bisa melihat foto anak-anak yang yang seharusnya bermain penuh keceriaan, tetapi karena perang mereka tampak ketakutan, pandangan matanya nanar dan kosong, masa depan seolah tidak lagi bersahabat.

Adakah di antara para pemimpin dunia yang sedang bertikai, peduli pada nasib anak-anak korban perang dan pertikaian ideologi yang tak perlu itu? Perang, siapa pun lawan dan apa pun yang dipertaruhkan, sebenarnya sebuah bentuk investasi kekerasan yang tidak mustahil akan meledak kembali di masa depan.

Anak-anak yang tumbuh di wilayah konflik, terlebih lagi terlibat langsung situasi peperangan yang mengerikan, niscaya di benak mereka akan tumbuh dendam-kesumat, bayangan ingatan yang serba kelam, dan yang mencemaskan di kelak kemudian hari, itu semua akan meledak kembali dengan skala letupan yang tidak pernah kita duga dahsyatnya. Jadi, saat anak-anak menjadi korban perang, siapakah yang peduli? [Bagong Suyanto, Peneliti Divisi Litbang Lembaga Perlindungan Anak Jatim, Dosen FISIP Universitas Airlangga, Surabaya]

 

Source: http://202.146.0.179/kompas-cetak/0304/15/opini/234777.htm

http://www.unisosdem.org/kliping_detail.php?aid=1645&coid=1&caid=53

 

Iklan

Responses

  1. Membaca resensi diatas, dada saya seakan meletup. Apa salah dan dosa anak-anak itu sehingga mereka merasakan kenyataan yang sedemikian pahit. Hari-hari yang seharusnya mereka lalui dengan tawa, dengan canda dan belajar justru direnggut oleh tangan-tangan biadab yang penuh darah. Semoga dimasa yang akan datang para pemimpin dunia memiliki rasa kemanusiaan yang lebih tinggi. semoga…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: