Oleh: MAULA | Januari 12, 2009

Kim Phuc dan Anak-anak Korban Perang

napalm_kim_phuc

INGATKAH Anda akan foto ini ? 8 Juni 1972, Kim Phuc –si anak perempuan telanjang dalam foto ini, lintang pukang menghindari kematian. Dan Nick Ut fotografer dari American Press(AP) merekamnya. Mahakarya ini, bukan hanya mendapatkan hadiah Pulitzer, tetapi menggerakkan hati dunia, dan melipatgandakan gelombang anti perang Vietnam.

 

Keajaiban 

Manakala Nick Ut memotret Kim, anak perempuan berusia 8 tahun tersebut, benar-benar telanjang. Lebih dari 65% tubuhnya terbakar, dan berupaya dengan sekuat tenaga untuk terus berlari menghindari kematian. “Adalah sebuah keajaiban bahwa saya masih hidup. Tetapi tahukah keajaiban yang lainnya, lihat saya datang dari balik asap yang bergulung-gulung. Jika saja kaki saya yang terbakar, maka saya akan tetap di sana. Tetapi toh tidak, saya meninggalkan daerah kematian di belakang saya,” kenang Kim.

Kini, Kim Phuc telah berusia 44 tahun, menetap dengan suami dan dua anaknya di Canada. Ia membangun sebuah yayasan khusus untuk anak-anak korban perang. Dalam pengeboman terhadapnya desanya, Trang Bang; dua keponakan meninggal dunia. “Yang paling tua berusia 3 tahun, meninggal dua jam setelah kami dibawa Nick Ut ke rumah sakit. Yang lain, yang lebih muda, seorang bayi berusia 9 bulan meninggal 2 bulan setelahnya”.

 

Kengerian

“Kami tengah bersembahyang di pura, ketika tentara berteriak bahwa anak-anak harus segera ke luar,” jelas Kim. Kim bersama anak-anak lainnya mulai berlari serabutan. Pesawat berputaran di atas kepala mereka, dan mulai menjatuhkan bom. “Saya merasa kulit saya terbakar, juga seluruh pakaian saya. Untunglah kaki saya tidak terbakar, sehingga saya masih berlari”.

Menurut Kim, sebelum berlangsung Perang Vietnam, ia bersama orang tua dan saudara-saudaranya hidup tenang. “Kami tinggal di sebuah rumah yang cantik dengan kebun dan pohon-pohon buah. Saya merasa sangat tentram. Saya tak pernah merasa takut sedikitpun, sampai kemudian para tentara mulai kerap menggedor pintu rumah kami”

 “Ini foto yang mengerikan,” akunya. “Di sini kita bisa melihat betapa banyak kehancuran yang bisa dilakukan  oleh peperangan. Setelah itu saya belajar hidup bersama kesakitan. Dan sampai hari ini, itu masih terasa kalau saya harus bersepeda. Saya harap foto karya Nick Ut, akan mengingatkan generasi berikutnya betapa peperangan begitu mengerikan”

 

Kemenangan hati 

Beberapa waktu setelah foto tersebut dibuat, Nick Ut membawa Kim ke rumah sakit. Dan sampai saat ini keduanya masih erat berhubungan. Ut kini tinggal di California, dan masih tetap bekerja di Kantor Berita AP. 

“Hampir setiap minggu kami saling menelepon, dan jika ia ke Toronto kami selalu bertemu. Ut seperti seorang paman buat saya, ia pun memberlakukan saya layaknya anaknya. Dengan foto ini, Nick Ut mendapatkan banyak penghargaan, salah satunya hadiah Pulitzer. Tetapi sebelumnya ia telah memenangkan hati saya”

Beberapa tahun berselang, Kim pun sempat bertemu dengan pilot yang menjatuhkan dan mengluluh lantakkan kampungnya. “Lama sekali saya memendam dendam dan amarah,” tekannya. “Saya tak akan pernah melupakan peristiwa ini. Tetapi manakala saya akhirnya bisa memaafkan, saya merasa bahagia. Dan saya rasa, kepercayaan dan kesediaan untuk memaafkan, adalah senjata yang paling kuat. Jadi ketika saya akhirnya bertemu dengan sang pilot, kami saling berangkulan. Dan saya katakan, bahwa saya tidak lagi marah padanya”

 

Bagi anak-anak korban perang 

Kendati begitu Kim mengakui, bahwa setiap kali ia melihat foto karya Ut, ia tetap merasakan kepedihan yang sangat. Karenanyalah, ia kemudian membangun Kim Phuc Foundation untuk membantu anak-anak korban perang. “Selain itu, jika saya menelepon ibu saya, saya katakan padanya bahwa si gadis kecil itu tidak lagi berlari,tetapi terbang. Anak-anak adalah masa depan, dan jika kita mau menyelamatkan dunia maka kita harus memulainya dari mereka.  Sekarang foto ini tidak lagi berarti negatif buat saya. Jika saya melihat seorang anak perempuan menangis dan berlari, saya tidak lagi berpikir itu karena ketakutan akan rasa sakit. Tetapi adalah tangisan yang mendamaikan”. [Lea Pamungkas, dari berbagai sumber]

 

Source: http://www.ranesi.nl/tema/budaya/kim_phuc070608

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: