Teror dan Dimensi Psikologis Anak-anak

 vallen_children

Pada waktu-waktu sebelumnya, publik cenderung mengidentikkan terorisme semata-mata sebagai ranah orang-orang dewasa. Pelaku aksi teror adalah orang dewasa. Aparat penegak hukum juga orang dewasa. Demikian pula dengan para korban, yang kebanyakan adalah individu-individu dari rentang usia tersebut.

Dalam catatan UNICEF, pada dekade lalu saja padahal terdapat dua jutaan anak-anak yang kehilangan nyawa sebagai korban perang dan konflik-konflik parah lainnya. Pada kurun yang sama, lima belas jutaan anak termasuk dalam gelombang pengungsi yang terpaksa melarikan diri dari kancah pertikaian.

Dari besaran angka tersebut, tidak sedikit pula yang menjalani perih kehidupan karena dieksploatasi sebagai budak, pekerja seks, dan “pekerjaan-pekerjaan” sejenis yang sama sekali tidak layak bagi anak-anak.

Tidak semata anak-anak yang—sengaja maupun tidak—menjadi target teroris, anak-anak dari para pelaku aksi teror juga bisa mengalami guncangan fisik dan psikis. Baik sebagai akibat dari aksi gross generalization aparat keamanan yang secara kognitif kadung terdistorsi meyakini “like father, like son”, maupun tercederai oleh aktivitas rahasia orangtua mereka yang termasuk dalam organisasi teror.

Kemungkinan kedua ini bukan mustahil, karena kebanyakan pelaku teror menjalani kehidupan mereka secara serbarahasia, termasuk dari anggota keluarga terdekat (anak dan isteri) mereka sendiri.

Tidak hanya di wilayah target teror, semburan ketakutan dan kematian yang diembus komplotan teroris juga dapat dialami oleh anak-anak yang berada jauh dari killing ground. Myers-Bowman, Walker, dan Myers-Walls (2000) menyatakan, bahkan anak-anak yang terekspos secara minimal dengan peristiwa teror pun mengalami kebingungan dan dihantui oleh berbagai pertanyaan tentang hal yang mereka baca dari media massa.

Kekuatan media massa dalam menginformasikan peristiwa teror tidak sebatas memberikan gambaran kejadian, tetapi juga mendiseminasi ketegangan ke seluruh dunia. Dan, anak-anak termasuk audiensnya.

Ringkasnya, “teror”, “teroris”, “terorisme”, dan istilah-istilah sejenisnya telah menjadi perbendaharaan kata baru bagi anak-anak.

 

Antargenerasi

J Post, salah seorang peneliti yang banyak melakukan kajian tentang psikologi terorisme, pada tahun 1986 menyusun tipologi pelaku teror berdasarkan keunikan yang ada dalam pola interaksi antara anak, orangtuanya, dan negaranya. Dinamika ketiga pihak tersebut dipandang sebagai anteseden bagi si anak untuk beralih paras menjadi teroris separatis atau teroris anarkis.

Apabila harmoni menjadi ciri interaksi ketiga pihak tersebut, maka anak akan berkembang laiknya individu (warga) biasa. Kontras, hubungan disharmoni antara anak dan orangtua pada satu sisi, dan harmoni antara orangtua dan negara pada sisi lain, akan membentuk predisposisi bagi si anak untuk nantinya menjadi teroris anarkis. Aksi pengrusakan (anarki) yang dilakukan oleh anak (yang telah tumbuh dewasa) pada hakekatnya adalah manifestasi kebencian si anak terhadap orangtuanya.

Ia, tanpa sadar, menjadikan fasilitas publik dan simbol-simbol kemapanan sebagai target amarah Displacement of hatred dilancarkan karena adanya keterbatasan-keterbatasan yang dihadapi anak saat harus mengekpresikan perasaan negatifnya secara langsung ke arah orangtuanya.

Tipe kedua adalah teroris separatis. Ini terbentuk ketika hubungan antara anak dan orangtuanya berlangsung harmonis, sementara si orangtua memiliki sentimen negatif pada negaranya.

Perilaku antinegara yang didemonstrasikan si anak (yang telah menjadi sosok dewasa), dengan demikian, merupakan “pewarisan” rasa sakit hati orangtuanya yang belum sempat terlunaskan. Anak, dengan kata lain, telah menjadikan diri sebagai “perpanjangan tangan” orangtua dalam menuntaskan misi masa silam.

Saya tidak menghubungkan secara sempit tipologi J Post dengan warta tentang perburuan teroris minggu-minggu belakangan ini. Hanya saja, aparat penegak hukum Indonesia sepatutnya dapat menarik pelajaran dari penjelasan Post—khususnya tentang teroris separatis, bahwa misi mengamankan masyarakat dan negara yang mereka lakukan tidak semestinya terkontaminasi oleh ulah-ulah kontraproduktif personel yang justru dapat menyemai benih bagi pemunculan “ancaman-ancaman” susulan.

 

Peristiwa Teror

Apalagi, studi di berbagai kawasan konflik menghasilkan temuan seragam bahwa kelompok-kelompok bertikai semakin sering melibatkan anak-anak sebagai pasukan perang yang membawa senjata maupun melaksanakan misi bom bunuh diri laiknya orang dewasa. Ideologi, betapapun menyimpangnya, tidak lagi begitu signifikan.

Kemungkinan terjadinya pewarisan kebencian secara turun-temurun, bertemu dengan kalkulasi para ahli strategi bahwa anak-anak mempunyai element of surprise yang dahsyat bagi musuh, sudah menjadi titik simpul yang menegaskan bahwa teror dan anak-anak sama sekali bukan perkara main-main.

Atas dasar itu, tanpa itikad mendramatisasi keadaan, kegundahan banyak kalangan menyusul kedatangan anak-anak para tersangka teroris ke DPR beberapa waktu lalu, memang masuk akal. Tidak hanya dialog tersebut berkutat pada masalah trauma anak (konteks psikologi klinis), tetapi juga dampaknya terhadap keamanan Indonesia (konteks psikologi politis).

Kembali ke realita betapa anak-anak kian “akrab” dengan “teror”, memberikan pengertian kepada anak-anak akan kompleksitas fenomena global ini tidak semudah mengucapkan kata tersebut. Para periset dari Universitas Purdue mewawancarai orangtua dan anak-anak mereka beberapa bulan setelah peristiwa 11 September 2001.

Hampir dua puluh lima persen orangtua menyatakan pernah berbicara tentang teror dan perang dengan anak-anak mereka. Tetapi, uniknya, lebih dari empat puluh persen anak-anak mengaku tidak pernah melakukan perbincangan tentang topik tersebut dengan orangtua mereka.

Selisih persentase di atas menunjukkan, walaupun sejumlah orangtua merasa bahwa mereka telah mengajak anak-anak mereka bercakap-cakap tentang perang dan teror, namun anak-anak mereka ternyata tidak mengingat maupun memahami topik tersebut. Sekali lagi, respon berupa kelupaan maupun ketidakpahaman menegaskan betapa kompleksnya masalah teror bagi anak-anak.

Jika aksi teror saja sudah memunculkan efek ngeri bagi kalangan dewasa, maka dapat dibayangkan berapa kali lipat derajat ketakutan yang bisa dialami oleh anak-anak. Pada anak-anak dampaknya bahkan bisa lebih dahsyat lagi, karena tekanan afektif yang mereka rasakan tidak disertai dengan kematangan kognitif yang sebenarnya dibutuhkan untuk membantu mereka dalam mengatasi sensasi-sensasi traumatis (Norris dkk., 2001).

Nah, seberapa jauh anak-anak kita di rumah terlindung dari pengaruh-pengaruh teror, baik langsung maupun tak langsung? [Reza Indragiri Amriel, Penulis adalah Staf Pengajar Kajian Ilmu Kepolisian, Universitas Indonesia]

 

Source: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0707/23/opi01.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s