Oleh: MAULA | Januari 23, 2009

Logika Perang

nashvimywood

Majalah Rolling Stone bertanya pada kamu, apa yang hendak kamu taruh di dalam kapsul waktu untuk masadepan? Jawaban sangat menarik akan kamu peroleh. Katamu: lagu Bob Dylan “Masters of War”.1

Baru-baru ini saja aku mendengarkan “Masters of War”. Yaitu di suatu pagi sembari duduk di belakang kemudi mobilku. Kiranya bagus memang jika lagu ini hendak dikemas di dalam kapsul waktu untuk hari depan itu. Tapi aku juga ingin memasukkan lagu Dylan yang lain, yang bicara tentang begitu banyak soal. Lagu-lagunya tentang George Jackson, Hurricane Carter, dan Emmett Till adalah lagu-lagu yang kuat dan selalu muncul di ingatanku. Lagu-lagu ini bicara tentang zaman dan peradaban kita dengan cara yang sangat menyentak.2
Aku melihat penampilan Dylan malam itu di Boston, dan ia memainkan dua lagu antiperang, yaitu lagu “Blowin’ in the Wind”, dengan lirik yang menyentak “Yes, ‘n’ how many deaths will it take till he knows / That too many people have died?” (Ya, dan betapa banyak maut akan merenggut sampai ia jadi tahu / Bahwa terlalu-lalu banyak orang mati?), dan lagu “John Brown”. “John Brown” berkisah tentang seorang prajurit yang pulang kembali dari medan perang dengan tubuh cacat, dan bertemu Ibunya di stasion kereta api:

“Don’t you remember, Ma, when I went off to war
You thought it was the best thing I could do?
I was on the battleground, you were home … acting proud.
You wasn’t there standing in my shoes.

Oh, and I thought when I was there, God, what am I doing here?
I’m a-tryin’ to kill somebody or die tryin’.
But the thing that scared me most was when my enemy came close.
And I saw that his face looked just like mine.”3

[Ingatkah engkau, Ma, saat aku berangkat perang
Mama pikir itulah yang terbaik yang bisa kulakukan?
Aku di medan perang, Mama di rumah … merasa bangga.
Mama tidak ada di tempat aku berada.

Oh, dan di sana aku terpikir, ya Allah, apa yang kulakukan ini?
Aku lagi coba-coba membunuh orang atau coba-coba mati.
Tapi yang paling menakutkan ketika musuhku mendekat.
Dan aku melihat wajahnya percis seperti wajahku].

Kupikir kita perlu juga memasukkan dalam kapsul waktu itu kisah-kisah lain, yang lebih positif dan sekaligus lebih meringankan pikiran. Barangkali lagu-lagu dari Pete Seeger, Bruce Springsteen dan Ani DiFranco. Lagu-lagu yang merayakan apa yang orang lakukan ketika mereka melawan penindasan.

Lagu Bob Dylan lainnya yang agaknya sangat cocok khusus untuk waktu sekarang yaitu “With God on Our Side”. Baru-baru ini George Bush berkata “God is not neutral in this conflict”. Tuhan tidak netral dalam konflik ini. Pemerintah Bush sepertinya mengira bahwa Tuhan ada di pihaknya. Persis sama seperti Osama bin Laden merasa Tuhan berdiri di sisinya.4

Baiklah. Jika Tuhan tidak netral, Bush tentunya harus lengser … tapi aku belum pernah menyelidiki benar-tidaknya kenetralan Tuhan itu.

Memohon-mohon pada Tuhan begitu sebenarnya sudah dilakukan oleh semua presiden Amerika Serikat. Jika mengingat apa yang suka dibilang tentang adanya pemisahan antara gereja dengan negara, rasaku “kok” ironis mohon-mohon pada Tuhan begitu. Bahwa setiap presiden sepertinya terobsesi benar untuk menyeru Tuhan agar merestui kita. Ronald Reagan pernah menulis:

“Barangkali tidak ada adat-istiadat yang menyingkapkan karakter kita sebagai suatu bangsa yang begitu jelas, seperti kita merayakan Hari Syukuran (“Thanksgiving Day”). Berakar dalam di dalam warisan Yahudi-Kristen, kebiasaan sesaji syukuran itu menegaskan tentang keimanan kita pada Tuhan yang tidak tergoyahkan, sebagai fondasi dari bangsa kita serta kepercayaan kita yang teguh kepadaNya, karena daripada Dia-lah segala rahmat mengalir.”5

Tapi Bush lain lagi. Ia menyeru-nyeru Tuhan lebih dari barangsiapa pun. Maka jika kamu merangkai ini dengan omongannya tentang “kampanye suci” melawan barangsiapa yang melakukan serangan pada 11 September, rangkaianmu itu akan berujung dengan menempatkan Amerika Serikat dalam posisi sebagai negara pejuang suci dengan bersama Tuhan di sisinya.6

Menarik bahwasanya Tuhan dibawa-bawa ke dalam peta politik, ketika rezim sedang melakukan tindak kekerasan yang akbar. Barangkali oleh karena ketika kamu sedang melakukan kekerasan akbar itu, maka kamu mati-matian sangat membutuhkan bantuan. Kamu tidak akan menerima bantuan moral apa pun dari setiap orang yang mau berpikir. Tapi lantaran pada saat itu Tuhan sedang tidak berpikir, maka kamu mengira akan bisa menyeret-nyeret Tuhan agar membantu kamu. Keruan saja Tuhan tidak sedang berada dekat denganmu dan untuk menghalangimu.

Cara seperti itu cara yang tidak baik. Menyalah-gunakan fakta banyaknya orang di negeri ini yang percaya pada Tuhan, yang pergi ke gereja karena percaya bahwa Tuhan merupakan kekuatan moral. Padahal kamu menggunakan Tuhan untuk menyokong sepak-terjang yang paling tidak bermoral, yaitu perang.


Dalam sebuah suratnya untuk New York Sun tahun 1915 Eugene Debs menulis: “Jika … Amerika Serikat siap berbicara jujur, bahwa ia menentang kebiadaban dan pembantaian perang dengan menyerukan pernyataan perdamaian, dan memberi contoh perlucutan senjata pada semua bangsa-bangsa di dunia, maka kesiapannya itu harus tidak saja sejalan dengan bualan cita-citanya, tapi jaminan yang seribu kali lebih besar untuk menghormati tetangga-tetangganya serta keamanan dan kedamaiannya sendiri, daripada membebani diri dengan segala perangkat kematian dan kehancuran di atas bumi.”7

Debs bicara tentang “kesiapan” oleh karena perang di Eropa telah pecah dan, meskipun Amerika Serikat belum terlibat dalam perang, rakyat telah mulai bicara tentang kesiapan untuk perang. Tentara Amerika telah diperkuat, dan Debs melihat perang sedang mendekat. Ia berpendapat bahwa hal paling baik yang bisa kita lakukan, ialah menyatakan keyakinan kita tentang perdamaian dan menghentikan kesiapan untuk perang. Sebab jika kesiapan kamu untuk berperang, maka momentum akan kamu ciptakan untuk turun ke medan perang. Yang begini ini sudah kita saksikan berulang-kali.


Debs juga mempertanyakan ide, bahwa mengeluarkan uang lebih besar untuk persenjataan, atau “pertahanan”, merupakan satu jalan menjaga perdamaian. Kata-kata ini berkumandang di dalam ulangan debat tentang perlindungan pertahanan misil nasional.

Benar, pemerintah Bush memerlukan pertahanan misil. Bukan saja pemerintah, tapi juga Partai Demokrat yang teorinya saja partai oposisi, tapi terutama dalam soal-soal politik luar negeri sesungguhnya selalu sejalan dengan politik pemerintah. Kaum Demokrat sejalan dengan ide tentang perlindungan misil, walaupun di masa lalu mereka mengecam program “Star Wars”, dan menegaskan apa yang berulang-ulang telah dikemukakan para ilmuwan: bahwa program itu tak akan jalan sama sekali.Percobaan-percobaan yang telah dirancang untuk membuktikan bangunan pertahanan misil hanya membuktikan bahwa bangunan ini memang tidak bisa jalan.

Kemudian kamu juga punya alasan lain terhadap pertahanan misil yang sangat mendesak: Dengan merobek Perjanjian Misil Anti-Balistik dengan Rusia tahun 1972, kamu membuka kemungkinan untuk adanya perlombaan persenjataan yang lebih besar-besaran. Kamu menantang bangsa-bangsa lain untuk mengembangkan persenjataan, yang bisa melangkaui perlindungan pertahanan misil nasional.

Sejarah teknologi persenjataan menunjukkan, bahwa setiap kali kamu mencapai kemajuan dalam teknologi pertahanan, seketika itu kamu pun mencapai kemajuan lainnya dalam teknologi ofensif untuk mengatasinya. Perancis menarik Garis Maginot, yang diperhitungkan untuk melindungi dirinya dari invasi Jerman. Namun kenyataannya, pada saat ketika Garis Maginot diciptakan, ketika itu Perancis sudah terlambat.

Pada hakekatnya pertahanan misil merupakan sebuah program untuk menciptakan keuntungan bagi perusahaan-perusahaan yang akan mendapat bermilyar-milyar dolar dari kontrak pembangunan jaringan itu. Ini pencurian luar biasa terhadap rakyat Amerika. Ingat saja kutipan dari kata-kata Eisenhower berikut ini:
“Setiap senjata yang dibikin, setiap kapal perang yang diluncurkan, setiap roket yang ditembakkan, akhir-wal-akhir berarti pencurian dari orang-orang yang lapar dan tak bisa dikasih pangan, orang-orang yang kedinginan dan tak bisa dikasih sandang. Dunia yang mengangkat senjata tidak hanya menghabiskan uang saja. Tapi ia juga menguras keringat kaum buruhnya, akal-budi para ilmuwannya, harapan anak-anaknya.”8

Rosa Luxemburg, tokoh revolusioner Polandia, pada tahun 1911 menulis bahwa “militerisme dalam dua bentuknya — sebagai perang dan sebagai damai yang bersenjata — ibarat seorang anak yang lahir dari perkawinan sah, buah yang masuk-akal belaka dari kapitalisme.”9 Apakah ada hubungan antara perang dan cara bagaimana ekonomi dikelola dalam kapitalisme?

Tentu saja ada hubungan antara kapitalisme dan perang. Tapi ini tidak berarti bahwa hubungan itu bersifat eksklusif. Kita sudah mengenal perang sebelum kapitalisme. Kita juga sudah melihat medan perang itu dimasuki oleh pemerintah-pemerintah dari masa prakapitalisme. Kita telah menyaksikan pula perang ditempuh di Uni Soviet, yang bukan benar-benar negara sosialis dan bukan pula negara kapitalis tradisional sejati, malahan terkadang dilukiskan sebagai “kapitalisme negara.”

Sementara kamu tidak harus mempunyai masyarakat kapitalis untuk mengalami perang, tapi teranglah bahwa kapitalisme hidup dari perang dan perang hidup dari kapitalisme. Sesegera kamu mempunyai masyarakat yang dikemudikan oleh si Untung, maka kamu akan berada dalam satu situasi bangsa-bangsa yang berlomba-lomba mengeksploitasi anak-anak negeri lain dan bahan-bahan lain. Kemudian bangsa-bangsa yang bersaing untuk memperebutkan si Untung itu akan terjun ke medan perang untuk saling memerangi satu-sama-lain. Lihatlah saja berapa banyak sudah peperangan ditempuh untuk mencari tanah jajahan, bahan mentah, dan tenaga kerja murah! Itulah yang bernama imperialisme.

Jadi, oleh karena di atas dasar si Untung, kapitalisme memang menyulut api perang di antara bangsa-bangsa. Maka perang untuk merebut sumber perekonomian, kemungkinan amat besar memang tidak bisa dihindari.

Kemudian  kamu pun mempunyai fakta lain tentang kapitalisme. Di bawah kapitalisme perusahaan-perusahaan yang memproduksi senjata menghasilkan keuntungan yang sangat besar dari persenjataan peperangan ini. Karena itu sungguh bahagialah menikmati dua hal sekaligus yaitu baik hal kesiapan berperang maupun hal terjun di kancah peperangan itu. Kamu bersiap untuk perang, maka kamu juga mempunyai perjanjian dengan semua pemerintah tentang ini, dan dari semuanya itulah kamu membikin uang, lalu kamu pun ikut berperang dan akan habislah semua produk itu, sehingga kamu pun harus mengganti semuanya itu lagi.

Jadi begitulah. Hubungan antara kapitalisme dan perang memang erat adanya. Maka itu aku lalu menduga-duga. Seandainya kita bisa membangun satu dunia tanpa kapitalisme, tanpa si Untung menjadi prinsip dominan, namun barangkali tidak bisa kita melenyapkan semua konflik atau kekerasan atau peperangan. Tapi jalan panjang ke arah sana akan kita tempuh.[Howard Zinn]

Catatan Akhir:
1.      Mark Binelli et al., “Howard Zinn,” Rolling Stone, 30 Desember 1996-6 Januari 2000, 66. Bob Dylan, “Masters of War”, dalam Lyrics, 1962-1985 (New York: Knopf, 1985), 56.
2.      Dylan, “George Jackson”, Lyrics, 302; Dyland dan Jacques Levy, “Hurricane”, Lyrics, 375-77; Dyland, “The Death of Emmett Till,” Lyrics, 20.
3.      Dylan, “Blowin’ in the Wind,” Lyrics, 53; Dylan, “John Brown,” Lyrics, 46-47.
4.      Dylan, “With God on Our Side”, Lyrics, 93.
5.      Ronald Reagan, “Thanksgiving Day, 1986,” Christian Science Monitor, 14 November 1986, 6.
6.      Kenneth R. Bazinet, “A Fight Vs. Evil, Bush and Cabinet Tell U.S.,” Daily News (New York), 17 September 2001, 8.
7.      Eugene Debs, “EVD to New York Sun,”(29 November 1915), dalam Letters of Eugene V. Debs, Vol. 2: 1913-1919, ed. J. Roberts Constantine (Urbana: University of Illinois Press, 1990), 205.
8.      Dwight D. Eisenhower, “The Chance for Peace,” pidato untuk Himpunan Editor Suratkabar Amerika, Washington D.C., 16 April 1953.
9.      Rosa Luxemburg, “Peace Utopias,” dalam Rosa Luxemburg Speaks, ed. Mary-Alice Waters (New York:  Pathfinder, 1970), 251.

Kockengen, 23 maret 2003

Artikel ini diterjemahkan oleh Hersri Setiawan dari “The Logic of War”, dalam “Terrorism and War”, Howard Zinn, ed.: Anthony Arnove (Seven Stories Press, New York 2002; hal. 92-98). Dalam artikelnya ini Howard Zinn seolah sedang berbantah dengan Amerika sebagai rezim.


Source: http://www.forums.apakabar.ws/viewtopic.php?f=1&t=5896&start=0

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: