Oleh: MAULA | Juli 3, 2009

Sufisme; Catatan Singkat tentang Mistisisme dalam Islam

Tarian RumiMistisisme dipercaya sebagai unsur vital dalam berbagai keyakinan beragama, terutama dalam agama-agama TImur awal, dalam literature Weda, dalam Buddhisme di India dan Cina, dalam Yudaisme (Yahudi), di Yunani, dalam Kristenitas, dan juga dalam Islam, yang mewujud sendiri sejak awal dan membuatnya terasa di Negara-negara Islam, khususnya Mesir, Persia, Turki dan India.

Mistisisme ini muncul sebagai pemberontakan jiwa, dalam diri orang-orang yang benar-benar berpikiran ruhaniah, yang menentang formalitas agama dan juga kejumudan agama, yang selanjutnya terpengaruh oleh perasaan bahwa manusia bisa menjalin sebuah hubungan langsung dengan Tuhan, yang tidak boleh dianggap sebagai Dzat Penguasa Penuh Kuasa yang berjarak atas takdir-takdir manusia, tetapi sebagai Sahabat dan Kekasih Jiwa. Kaum mistikus memiliki hasrat mengenal Tuhan, sehingga mereka bisa mencintai-Nya, dan telah percaya bahwa jiwa dapat menerima: wahyu Tuhan, melalui sebuah pengalaman religius langsung – bukan melalui indera-indera atau kecerdasan – dan, dengan cara ini, memasuki keintiman dengan-Nya.

Mereka percaya bahwa manusia dapat memiliki pengalaman ini, pastilah ada dalam dirinya satu bagian dari Sifat Ilahiah, bahwa jiwa diciptakan untuk mencerminkan Kemegahan Tuhan, dan segala sesuatu ambil bagian dalam kehidupan Tuhan. Tetapi kaum mistikus mengajarkan bahwa tak satu jiwa pun memiliki pengalaman langsung dengan Tuhan, kecuali dengan penjernihan dari dalam diri; pembersihan jiwa dari kecintaan pada diri sendiri dan dari hawa nafsu adalah bagian mendasar bagi mereka yang hendak mencapai Kebajikan dan Penglihatan Tuhan, demi kesempurnaan Kehidupan Abadi, yang mereka percaya dapat dicapai sekarang, adalah untuk melihat Tuhan dalam Dzat-Nya. Keakuan dapat ditaklukkan dengan dukungan sebuah cinta yang lebih besar daripada kecintaan-diri, dan karenanya kaum mistikus telah menjadi kekasih-kekasih Tuhan, yang mencari penyempurnaan cinta mereka dalam penyatuan dengan Sang Kekasih.

Akan tetapi mistisisme bukanlah teoretis melainkan praktis, yang mengajarkan sebuah Jalan Hidup, untuk dipatuhi oleh semua yang akan memenangkan tujuan ini, dan pandangan ini akan ditemukan pola yang sama, di Timur dan Barat. Harus ada terlebih dahulu perubahan dan kedisiplinan untuk membuang hasrat-hasrat diri, yang akan membawa kehidupan abadi ke dalam bentuk yang sesuai dengan sang pencari Tuhan. Setelah itu muncullah kedisiplinan kehidupan-batin yang membawa pikiran-pikiran dan perasaan serta kehendak ke dalam harmoni Kehendak Tuhan yang kekal dan yang membuat kaum mistikus mampu menerima iluminasi Tuhan. Jiwa sekarang mampu menggapai kehidupan dalam Tuhan, tempat jiwa berbagi, dalam kehidupan abadi.

Ada sebuah kecenderungan awal terhadap asketisme dan disiplin diri uang ditemukan dalam Islam. Puasa Ramadhan, shalat lima kali sehari, menunaikan ibadah haji berikut larangan-larangannya, pengharaman arak, semua ini diarahkan menuju pembatasan hawa nafsu dan memalingkan pikliran kepada kebutuhan-kebutuhan rohani dalam jiwa. Gerakan asketisme ini berkaitan dengan kecenderungan-kecenderungan terhadap mistisisme, yang sudah ada dalam Yudaisme dan Kristenitas dan agama-agama lain di India. Para Sufi – nama ini diambil dari pakaian wol putih (shuf) yang dikenakan oleh asketik-asketik terdulu – adalah orang-orang yang memasrahkan diri kepada kehidupan keterasingan (pengingkaran-diri), hidup dalam kemiskinan dan menghabiskan waktu mereka untuk ibadah dan perenungan, yang menyebut diri mereka sebagai ‘kekasih-kekasih Tuhan’ (auliya’ Allah), dari sebuah tradisi yang berkata:

“Bahwasanya, sahabat-sahabat Tuhan tidak takut terhadap apapun dan tidak memiliki alasan untuk berduka. Karena mereka memandang realitas batin dari dunia, sementara orang-orang lain memandang penampakan lahirnya. Mereka juga merindukan akhir dunia, sementara yang lain mementingkan dunia sekarang yang singkat. Mereka menghancurkan di dalamnya apa yang mereka takutkan bisa menghancurkan mereka, dan meninggalkan apa yang mereka tahu akan meninggalkan mereka. Mereka memusuhi segala hal yang menjadi sumber kedamaian orang lain dan memuja hal-hal yang dibenci manusia. Mereka menunjukkan kekaguman terbesar terhadap perbuatan-perbuatan baik orang lain, sementara mereka sendiri memiliki kebagusan-kebagusan yang layak mendapatkan kekaguman terbesar. Bagi mereka, ilmu adalah tongkat pembimbing, dengannya mereka memperoleh ilmu. Mereka tidak meyakini apapun kecuali pada apa yang mereka harapkan, tidakj takut pada apapun kecuali pada apa yang harus dihindari.”

Sumber: Margareth Smith, Mistikus Islam, Ujaran-ujaran dan Karyanya, Hal. Iv.

Iklan

Responses

  1. krim dunk ttng pengalaman2 para tokoh2 mistiknya

    • siapa tokoh yang anda inginkan? akan tim coba untuk memuatnya

      thanks 🙂

  2. sip man, by rumi. hehe…

  3. thanks gue copy y………..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: