Persahabatan Menurut Konfusius

semut salamanSalah satu anugerah bagi umat manusia adalah persahabatan. Dimana persahabatan bisa dialami dan dimiliki setiap orang tanpa dibatasi oleh umur mereka. Anak-anak, remaja, pemuda, dan orang tua masing-masing bisa merasakan indahnya persahabatan dalam hidup mereka. Berbicara tentang tema persahabatan bukanlah hal yang baru dalam sejarah umat manusia. Dalam epos Gilgamesh diceritakan tentang persahabatan antara Gilgamesh dan Enkidu dan bagaimana mereka memuji persahabatan mereka “memang mustahil menang sendirian, tetapi persahabatan melipatkan kekuatan. Tali teranyam tak mudah diputuskan, dua singa lebih kuat dari bapanya”. Selain itu tak bisa dipungkiri bahwa tema persahabatan telah secara intensif digumuli juga oleh para pemikir ataupun para penulis. Homer berbicara tentnag tema persahabatan dalam Odyssey. Plato dan Xenophon memberitahukan kepada kita bahwa Sokrates sering berdiskusi dengan para muridnya tentang persahabatan. Cicero, Horace, Ovid dan banyak penulis terkenal masa Yunani-Roma bahkan menulis buku-buku tentang persahabatan atau setidaknya menjadikan itu tema dalam bagian pekerjaan mereka.

Tulisan ini juga akan mengulas tentang tema persahabatan tetapi dari kacamata hikmat Timur, secara khusus persahabatan menurut Konfusius. Pada akhir tulisan penulis akan mencoba memberi kesimpulan sekaligus tanggapan dari pembahasan tentang tema persahabatan ini.

Persahabatan menurut Konfusius
Dalam karyanya Konfusius juga memberikan perhatian tentang pentingnya relasi persahabatan. Have no friend not equal to yourself demikian diungkapkan oleh Konfusius. Ini menunjukkan bahwa persahabatan merupakan hal penting dalam relasi antar manusia, ungkapan tersebut mirip dengan peribahasa Ibrani bahwa seseorang yang tidak mempunyai seorang sahabat seperti seseorang yang tidak memiliki sebelah tangan. Persahabatan membuat seseorang lengkap demikianlah hal yang bisa kita tangkap dari ungkapan Konfusius tersebut.

Mengingat pentingnya relasi persahabatan antar manusia maka wajarlah bahwa Konfusius menempatkannya dalam bingkai lima relasi manusia yang ditonjolkan. Menurut Konfusius, yang kemudian di dukung oleh Mencius, ada lima norma dasar dalam tatanan masyarakat sosial (wu lan). Lima norma dasar inilah yang menjadi tuntutan bagi kehidupan masyarakat :
1. Antara penguasa dan menteri harus ada kebijakan.
2. antara ayah dan anak laki-laki harus ada kasih sayang.
3. Antara suami dan istri harus ada saling pengertian tentang fungsi masing-masing.
4. Antara saudara tua dan saudara muda harus berperilaku sesuai dengen tempat masing-masing.
5. Antara sahabat harus ada kesetiaan.

Dalam konteks yang lebih luas lagi, keluarga merupakan mikrokosmik dari masyarakat keseluruhan serta unit dasar dalam tatanan sosio-politik. Oleh sebab itu Konfusius menganjurkan pada para raja agar menjaga keharmonisan keluarga serta perdamaian di dalam negeri berdasarkan prinsip filial piety (xiao). Pendekatan Konfusius bisa dikatakan bersifat familio-sentrio sebagaimana ditegaskan Konfusius :
“…Berbaktilah dan penuhilah tugas dalam keluarga, lalu berbaktilah kepada negara. Barang siapa memenuhi tugas I, maka dengan sendirinya ia memberikan andil bagi pemerintahan yang baik…”

Cukup menarik bila kita memperhatikan “lima relasi manusia” yang ditonjolkan oleh Konfusius bila relasi sau sampai empat terlihat sebagai hubungan yang hirarkis dimana dalam relasi tersebut setidaknya disifatkan sebagai berikut :
a. Adanya dua tipe relasi, yaitu tipe superordinasi (relasi atasan dengan bawahan) dan ada tipe subordinasi (relasi bawahan dengan atasan).
b. Dimana ada relasi-relasi superordinasi dan subordinasi, kita boleh mengandaikan bahwa pihak atasan mengontrol tingkah laku pihak bawahan melalui instruksi, perintah ataupun larangan.
c. Pengontrolan ini dianggap oleh pihak atasan menjadi kewajibannya dan sah (menurut hukum).
d. Karena unsur hukum ini, baik pihak bawahan yang tingkah lakunya dikuasai, maupun pihak atasan yang berwenang, selalu dapat tahu dengan pasti batas dimana waewenang seseorang dan batas kewajiban untuk taat hal ini cukup penting, karena pihak yang berwenang mungkin bertindak sewenang-wenang, atau mereka tidak mau mengontrol orang lain yang tidak berada di bawah wewenangnya.

Jika hubungan hirarkis bersifat seperti diatas. Kita bisa bertanya bagaimana dengan relasi kelima menurut Konfusius, yaitu relasi persahabatan (relasi antar teman) apakah itu mengandaikan suatu hubungan yang setara, equal, ataukah hubungan persahabatan menurut Konfusius tetap merupakan hubungan dalam bingkai sistem hirarkis dimana ada pihak yang diatas dan ada pihak yang dibawah, ada kuat ada lemah.

Dalam analects maka bagi Konfusius hirarki berfungsi secara pokok atau essensial dalam sistem pemikiran Konfusius. Dan itu merupakan hal yang mendasari “lima relasi manusia” tersebut dan sekaliguis menyatukannya dalam satu ikatan sistem yang utuh. Dari masa dinasti Han (202 – 220 SM) hirarki telah terintegrasikan dalam pemikiran kosmologi dengan menghubungkannya dengan yin dan yang, dua unsur yang menopang alam semesta. Di dalam segala hal selalu ada yang diatas dan yang dibawah dan hal tersebut juga berlaku dalam hubungan antar manusia. Hubungan sosial yang baik diartikan seorang ayah melebihi putranya, penguasa melebihi rakyatnya, suami melebihi istrinya, saudara tua melebihi saudara mudanya, dan bahkan dalam hubungan persahabatan seorang sahabat mengatasi atau melebihi sahabatnya. Jika demikian persahabatan menurut Konfusius tetaplah dalam bingkai pemikiran hirarki, ada yang di atas dan ada yang dibawah.
Kepercayaan terhadap persahabatan
Baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun berekonomi kepercayaan terhadap persahabatan dipegang sangat teguh. Hal ini termasuk ajaran pokok dalam “pelurusan nama baik” dalam berekonomi Konfusius menitik beratkan kepada keserasian kerjasama antar manusia. “Keuntungan dianugerahkan dari langit tidak dapat menyamai keuntungan dari bumi, tetapi tidak sebanding dengan keuntungan yang diperoleh sebagai anugerah kerjasama manusia”. Atas dasar kerjasama ini dibangun hidup berekonomi. Sehingga bisa dikatakan bahwa persahabatan diukur dari keuntungan yang diperoleh, jika persahabatan dipandang tidak menguntungkan maka seseorang bisa memutuskan hubungan tersebut, if one friend refuse to be moral and good, the other can abondan the frienship (Mencius 4B.30). Setidaknya ada ukuran yang ditetapkan bilamana persahabatan itu pada akhirnya berhenti.

Penekanan untung rugi dalam persahabatan juga terlihat dari ungkapan Konfusius ketika dia menegaskan :
There are three friendships which are advantageous, and three which are injurious, friendship with upright, friendship with the sincere; and friendship with the man of much observation; these are advantageous. Friendship with the man of specious airs; friendship with the insinuatingly soft and friendship with the glib-tongued; these are injurious.

Jadi bisa dikatakan bahwa persahabatan menurut Konfusius didasarkan dari kegunaan ataupun untung yang didapatkan dari orang lain. Persahabatan didasarkan pada utility (“Apa yang aku dapatkan dari orang lain/sahabatku, dan berapa banyak yang akan kuberikan untuk itu?”) sehingga utility merupakan bentuk tertinggi dari persahabatan.

Penutup
Dapat disimpulkan bahwa persahabatan menurut Konfusius berangkat dari pemikiran tentang sistem hirarki dan dari hal tersebut kita tidak bisa mengandaikan bahwa persahabatan merupakan hubungan yang setara, equal, dalam hubungan antara sahabat karena selalu ada yang superior dan inferior dalam hubungan tersebut. Selain itu bersahabatan juga didasarkan dari pemikiran untung rugi sehingga dekat dengan pemikiran utiliatarianism (tetapi apakah itu sama dengan prinsip kegunaannya John Stuart Mill masih dapat dipertanyakan, tetpai itu tidak perlu dibahas dalam pokok yang lain).

Jika kita bandingkan dengan pemikiran Aristoteles tentang persahabatan maka kita akan menemukan beberapa perbedaan. Bagi Aristoteles, persahabatan merupakan salah satu sarana bagi manusia untuk mencapai tujuannya, telosnya yaitu kebahagiaan atau eudaimonia. Dan persahabatan tersebut bukanlah didasarkan dari keuntungan ataupun kesenangan yang akan didapat “When those who are equal choose one another as frienship, not merely for the sake of pleasure or adventage, but because of the other’s characther”. Sehingga persahabatan tidaklah bisa merupakan hubungan yang satu arah melainkan hubungan yang setara antar manusia.

Kita juga tidak boleh berhenti pada pemahaman bahwa persahabatan adalah hubungan antar manusia melulu. Bagi Agustinus hanya Allah sajalah sumber persahabatan, “sebab tidak ada persahabatan yang benar kalau tidak direkatkan olehMu antara dua makluk yang dihubungkan menjadi satu berkat kasih yang dicurahkan di dalam hati kami oleh Roh Kudus yangt elah dikaruniai kepada kami”. Persahabatan antar manusia bukanlah hubungan dua orang saja, hubungan antar manusia saja melainkan di dalamnya adan Yang Illahi, Yang Transender sebagaimana yang diungkapkan oleh Daud kepada Yonatan tentang persahabatan mereka bahwa “TUHAN ada diantara aku dan engkau sampai selama-lamanya” (1 Samuel 20:23). Hal yang serupa juga ditegaskan oleh Kierkegaard dalam bukunya work of love “Cinta Kristen harus antara tiga pihak karena Allah selalu menadi yang di tengah” .

Sumber: forumteologi.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s