Oleh: MAULA | September 20, 2009

Idul Fitri; Momentum Solidaritas Bangsa

Oleh: Munawar Azis

Kartu Lebaran

Kartu Lebaran

Idul Fitri kembali hadir dalam denyut nadi kehidupan bangsa. Momentum kemenangan ini paling ditunggu-tunggu setiap muslim yang berpuasa. Setelah selama sebulan penuh berpuasa menahan lapar dan pahitnya dahaga serta desakan hawa nafsu, Idul Fitri menjadi pentahbisan atas ujian Tuhan.

Idul Fitri bukanlah momentum antiklimaks untuk melepaskan nafsu setelah sebulan dikekang dan dikendalikan. Akan tetapi, Idul Fitri merupakan puncak kemenangan rohani bagi mereka yang telah berjuang di bulan Ramadan. Menurut Komaruddin Hidayat, Idul Fitri merupakan ”hari wisuda” bagi mereka yang telah berhasil mencapai prestasi dalam mencucikan nurani dan memurnikan jiwa.

Hakikatnya, Idul Fitri sebagai ruang rindu untuk menemukan kasih sayang paling suci. Idul Fitri menebarkan kedamaian dan implementasi toleransi, yang menjadi elemen fundamental menuju manusia agung yang berhati suci.

Akan tetapi, kali ini Idul Fitri hadir dengan wajah yang berbeda. Hari kemenangan ini diwarnai dengan beragam bencana kemanusiaan yang menghantui bangsa. Rakyat kecil belum menemukan ruang kebebasan sebenarnya akibat terpersok pada jurang kemiskinan yang parah.

Lumpur Lapindo masih menyisakan derai tangis rakyat kecil, akibat solusi penanganannya yang tak kunjung didapatkan. Penggusuran PKL dan pemukiman kumuh tak pernah surut, dengan dalih menambah estetika kota. Akan tetapi, fakta berbicara lain, penggusuran pemukiman rakyat miskin sebagai lokasi mall dan apartemen mewah yang menguntungkan pengusaha dan pejabat.

Tangisan sedih rakyat miskin semakin keras terdengar seiring melejitnya harga bahan pokok. Kebutuhan hidup semakin mahal, tetapi pekerjaan semakin langka dan susah mendapatkan uang sebagai penyambung nafas kehidupan.

Di ranah politik, wajah kusam negeri ini semakin kentara. Koruptor masih saja berkeliaran dengan santainya, menikmati udara kebebasan. Memang, ada banyak tokoh politik yang tertangkap dan diadili karena dugaan korupsi, akan tetapi gelombang koruptor yang dibebaskan dari dakwaan juga tak kalah derasnya. Proses hukum yang ada hanya sebagai formalitas untuk menutupi wajah bopeng hukum negeri ini. Lembaga penegak hukum juga saling adu kekuatan, sehingga law enforcment menjadi tersendat.

Lalu bagaimana seharusnya merayakan Idul Fitri dalam konteks keindonesiaan yang sedang dilanda kemelaratan ini? Di panggung kesedihan, perayaan kemenangan akan kehilangan maknanya. Dalam konteks ini, Abdul Ghani al-Nabulsi dalam Ta’thir al-Anam fi Tafsir al-Ahlam menjelaskan, barang siapa sedang merayakan Idul Fitri, sebenarnya ia sedang keluar dari kesedihan menuju kesenangan dan kemudahan.

Dengan demikian, merayakan Idul Fitri di tengah naiknya harga kebutuhan pokok, penggusuran pemukiman, sulitnya mencari pekerjaan dan korupsi yang menggurita menjadi kehilangan esensinya, rasa kemenangan runtuh dan digantikan dengan tangisan panjang yang mewartakan kesedihan.

Menuju kemanusiaan fitri
Di tengah kepungan kemelaratan ini, harus ada spirit baru yang membawa pencerahan bagi semua pihak.Hakikat yang sebenarnya, Idul Fitri sebagai hari kemenangan mendesak diimplementasikan. Spirit pencerahan itu akan membawa manusia menuju kemanusiaan yang fitri. Nurani menjadi suci dari segala bentuk kemungkaran sosial dan keserakahan. Pesan kesucian ini terekam dalam Surat al- Rum (30) ayat 30 yang bermakna, ”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada din (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. Spirit kesucian manusia yang tergambar dalam ayat ini menjadi pesan penting untuk merayakan Idul Fitri.

Peran pemuka agama
Pemuka agama harus mampu menampilkan pesan yang semestinya tentang peran agama dalam ranah sosial. Tokoh agama harus berfungsi sebagai panutan yang memberikan pencerahan kepada warga dan memberikan solusi terhadap problem kemanusiaan yang membelenggu. Pemuka agama harus berani menampilkan ayat-ayat agama dengan semestinya, tanpa diracuni dengan pesan politik yang membelokkan pesan keagamaan.

Pemuka agama dan ulama harus berani menyinggung berbagai masalah kemanusiaan dalam setiap ceramahnya. Ulama dan penceramah harus berani menyinggung masalah sosial, seperti penggusuran, lumpur Lapindo dan beragam problem sosial lainnya.

Pesan pencerahan yang disampaikan akan memberi energi positif bagi warga untuk keluar dari belenggu krisis kebangsaan. Peran sosial ini apabila dijalankan dengan segenap fungsinya dengan tepat akan memberi makna terdalam dan spirit merdeka dari dekapan krisis.

Merayakan Idul Fitri akan lebih bermakna apabila diiringi dengan solidaritas kebangsaan yang utuh. Spirit solidaritas akan memberikan energi berlipat yang membebaskan bangsa dari penderitaan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Prof Buya Hamka, ”Distribusikan kebahagiaan itu pada mereka yang memerlukan, santunilah yang tidak mampu, tolonglah yang lemah dan bebaskan yang menderita”. Tanggung jawab pemerintah, peran sosial pemuka agama dan spirit solidaritas yang utuh akan memberi makna Idul Fitri yang sebenarnya.

Sumber: http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=11037&Itemid=62

MAULA mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga setiap amal ibadah kita diterima oleh Tuhan YME. Jayalah Indonesia!!!

Iklan

Responses

  1. memang sedih melihat negara kita…. mari kita tolong mereka yang benar2 membutuhkan pertolongan kita dengan ikhlas..

    BTW, thanks for artikelnya, sangat menarik…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: