Oleh: MAULA | Oktober 31, 2009

Deklarasi Cikini 2009

1225126800_Bulu_IndahmuMufakat Budaya

Deklarasi Cikini 2009

Mukadimah

Apa yang terjadi di Indonesia masa kini, adalah kebingungan dan kekeliruan yang akut di semua level dan elemen kehidupan kita. Hal itu diakibatkan oleh peran negara, cq pemerintah, yang terlampau dominan dan menafikan publik dalam semua proses pengambilan keputusan. Praksis kekuasaan seperti itu merupakan produk dari sebuah pendekatan kebudayaan yang dilandasi oleh cara berpikir yang agraris, orientasi kedaratan atau kontinental. Orientasi dan tradisi berpikir semacam ini sesungguhnya adalah hasil kolonialisme sejak abad 17 oleh bangsa-bangsa Eropa, lebih tepat lagi sejak masa kolonialisme purba, yang dilakukan India (bangsa Arya) sejak permulaan Masehi.

Kolonialisme itu melakukan satu proses pembudayaan melalui cara mencangkokkan (transplantasi kultural) khasanah simbolik dan sistem nilai pihak kolonial pada penduduk setempat. Satu proses yang membuat semua perangkat kehidupan –seperti politik, hukum, ekonomi, agama, pendidikan, sains, dan sebagainya—ditempatkan dan dimanfaatkan untuk melayani kepentingan kekuasaan semata. Semua hal tersebut jelas mengingkari bukan hanya fakta historis bahwa bangsa-bangsa di nusantara ini berjaya dan disegani dunia karena budaya maritimnya, sejak lebih dari 5.000 tahun SM, tapi juga daya hidup tradisinya yang memiliki kemampuan teruji untuk tetap berkembang, melakukan proses pertukaran budaya yang konstruktif dan mutualistis, dengan karakter dasarnya yang toleran, terbuka dan egaliter.

Deklarasi

Karena itu, kami yang tergabung dalam Temu Akbar Mufakat Budaya yang bersidang dan berbincang, mufakat mendeklarasikan hal-hal berikut:

  1. Menolak (dan mendesak dihentikannya) proses-proses berkebudayaan –dengan implikasinya dalam kehidupan hukum, politik ekonomi dan seterusnya—yang dilakukan dengan cara mencangkokkan begitu saja sistem nilai asing ke dalam kehidupan rakyat Indonesia di semua dimensinya.
  2. Mengembalikan cara-cara kita bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, termasuk di dalamnya tradisi kekuasaan serta praksis politik, pada kearifan bangsa-bangsa di kepulauan ini yang telah berkembang dan teruji lebih dari 5.000 tahun.
  3. Keberadaan adab modern yang dipenetrasi kolonialime dan globalisme hingga di tingkat kognitif, memori hingga kemampuan imajinatif kita –termasuk sains dan teknologi– tidak lebih untuk memperkaya, mempertinggi nilai tambah, dan mengakselerasi kekuatan kultural negeri ini. Semua itu harus berlangsung lewat kearifan dan tradisi sebagaimana dimaksud di atas.
  4. Dengan tradisi dan kearifan itulah kebudayaan nasional kita dibangun sebagai mosaik yang terus menjadi dari seluruh elemen sub etnik di nusantara ini, dan seharusnya tumbuh secara alamiah –bersama interaksinya dengan kenyataan mutakhir—hingga dapat menjadi sebuah identitas bernama: Indonesia . Manusia, sebagai pelaku terpenting dari proses itu, merupakan entitas yang kongruen dengan jati diri bangsanya, yakni: makhluk budaya yang secara personal maupun komunal memiliki hak setara dengan institusi apa pun dalam berkontribusi bagi gerak pembangunan yang ada.
  5. Untuk tugas-tugas kebangsaan itu, rakyat secara menyeluruh harus difasilitasi ruang gerak maupun ekspresinya untuk dapat menemukan sebuah imajinasi kolektif yang baru, dimana Indonesia sesungguhnya mendapat fondasi keberadaannya yang sejati.

Cikini, Jakarta Pusat, 28 Oktober 2009.

Tertanda,

01.  Radhar Panca Dahana

02.  Teuku Kemal Fasya

03.  Donny Gahral Adian

04.  Yasraf Amir Piliang

05.  Jaleswari Pramowardhani

06.  Prof. Abu Hamid

07.  Edy Utama

08.  Tisna Sanjaya

09.  Ferdinand Marisan

10.  Prof. Mochtar Naim

11.  Dedi Gumelar

12.  Rizaldi Siagian

13.  Soegeng Sarjadi

14.  Sukardi Rinakit

15.  Jansen H Sinamo

16.  Prof. Taufik Abdullah

17.  Ade Armando

18.  Ratih Sang

19.  Sys NS

20.  Ray Sahetapy

21.  Yudi latif

22.  Yockie Soeryoprayogos

23.  Rocky Gerung

24.  Dr.Bustami Rahman

25.  Nungky Nirmala

26.  Tjia May On

27.  Arbi Sanit

28.  Rahman Arge

29.  Prof. Eko Budiharjo

30.  Pontjo Sutowo

31.  Aspar Paturisi

32.  Imelda Sari

33.  Dr.Setyanto P. Santosa

34.  Agus Pambagyo

35.  Bambang Widodo Umar

36.  Prof. Bambang Pranowo

37.  Dolorosa Sinaga

38.  Edwin Partogi

39.  Sri Adiningsih

40.  Dr. Taufik Hidayat

41.  Mayjen Heryadi

42.  Diah maro

43.  Tubagus Andre

44.  Rosihan Anwar

45.  Kemal Syah

Sumber: icas-jkt@yahoogroups.com

Iklan

Responses

  1. Para pembaca yth,

    semoga saja bukan hanya dihunjani dengan pernyataan-pernyataan seperti Deklarasi Ciki ini, tetapi yang lebih penting adalah adanya tindakan konkret dan merakyat untuk kepentingan kelanggengan bangsa ini. Syukur-syukur Tuhan masih mau mengerati harapan para wong cilik sehingga mereka yang sering mengatasnakan rakyat kecil untuk meraih income yang besar mendapat imbalan dan pahalanya setimpal dengan sikaptidak Indonesiananya, amin


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: