Oleh: MAULA | Januari 3, 2010

Frans Seda; Mutiara dari Timur

Franciscus Xaverius Seda

Franciscus Xaverius Seda

Sebagai orang yang lahir dan dibesarkan dalam lingkungan yang serba terbatas, Frans Seda merasakan arti keberuntungan. Ketika kita mendapatkan itu maka janganlah kita lalu menerapkan aji mumpung, tetapi bagaimana ingat akan mereka yang belum beruntung.

Keputusannya untuk meninggalkan tanah kelahiran di Flores dan menimba ilmu di Yogyakarta mengubah perjalanan hidup Frans Seda. Ia bukan hanya bisa mengecap pendidikan tinggi, tetapi bisa ikut langsung dalam masa perjuangan dan berkenalan dengan tokoh-tokoh politik nasional.

Dari sanalah Seda bertemu dan berkenalan dengan Soekarno, yang kemudian membawanya masuk ke panggung politik nasional sebagai Menteri Perkebunan. Profesionalisme yang  dikembang Seda membuat ia terus terpakai meski rezim berganti. Seda benar-benar menjadi tokoh di segala zaman mulai dari Orde Lama, Orde Baru, dan kini Orde Reformasi.

Semua kesempatan yang dimiliki itu tidak harus membuat Seda meninggalkan kebersahajaannya. Ia tetap Seda yang peduli kepada mereka yang tertinggal. Tanpa harus terikat kepada primodialisme sempit, Seda merupakan tokoh yang selalu mengingatkan para pemimpin nasional akan pentingnya membangun Indonesia bagian Timur.

Di bandingkan mereka yang tinggal di wilayah barat Indonesia, masyarakat di Indonesia Timur tidak memiliki banyak pilihan. Kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang baik, kesehatan, dan juga bisnis sangatlah terbatas. Kalau Indonesia Timur tidak ditingkatkan kualitas manusianya, maka kawasan itu akan selalu tertinggal dan akhirnya menjadi beban.

Oleh karena itu, ketika ia dipercaya Presiden Soeharto menjabat sebagai Menteri Perhubungan, usaha yang ia lakukan adalah membuka isolasi Indonesia Timur. Bukan hanya melalui pembangunan transportasi laut, tetapi juga transportasi udara didorong untuk membuka wilayah Indonesia Timur.

Sebagai pejabat negara, Seda mendapat kesempatan untuk bisa hidup lebih makmur. Apalagi ia kemudian mengembangkan juga bisnis. Bersama IJ Kasimo, PK Ojong, dan Jakob Oetama, Seda adalah pendiri surat kabar “Kompas”, yang kini menjadi perusahaan media terbesar di Indonesia.

Namun Seda tidak menjadikan materi sebagai tujuan hidup. Meski menjabat sebagai komisaris utama di “Kompas”, Seda tidak pernah mau ikut campur dalam urusan operasional. Setiap tahun saat menghadiri rapat umum pemegang saham, Seda lebih banyak mengingatkan akan peran “Kompas” untuk menjadi alat pendidikan bagi bangsa.

Seda sangat menentang sikap pejabat yang mentang-mentang dan menerapkan aji mumpung. Ia selalu marah kepada praktik korupsi, kolusi dan nepotisme yang dilakukan terutama oleh pejabat negara. Dalam pandangannya, korupsi para pejabat adalah merampas hak rakyat untuk menikmati kehidupan yang lebih baik.

Kepergian Seda bersamaan dengan berpulangnya Presiden ke-4 KH Abdurrahman Wahid di pengujung tahun 2009 merupakan kehilangan besar bagi bangsa Indonesia. Seda bukan hanya seorang ahli ekonomi, tetapi pelaku politik yang selalu jernih dalam melihat persoalan bangsa. Komitmennya kepada kemajuan bangsa sangat jelas dan tidak pernah setengah-setengah.

Paham nasionalis yang melekat kuat pada dirinya, membuat Seda tidak ubahnya seperti Gus Dur. Pemahaman akan ke-Indonesia-an begitu maju, sehingga meninggalkan ke belakang paham primodialisme.

Warisan penting Seda yang harus diteruskan oleh mereka yang mendapatkan kesempatan untuk menjadi pejabat negara adalah bagaimana mengintegrasikan perekonomian domestik. Itu merupakan pekerjaan rumah yang belum selesai sampai ketika Seda meninggalkan kita semua.

Indonesia akan menjadi semakin kokoh apabila mampu mengintegrasikan ekonomi domestiknya. Kalau kita mampu membangun “jembatan” yang bisa menghubungkan 17.000 pulau yang ada, maka bukan hanya lalu lintas barang yang akan semakin meningkat, tetapi juga lalu lintas manusia tidak akan ada lagi penghambatnya.

Pengintegrasian Indonesia akan memberi kesempatan yang sama dari semua warga dari Sabang sampai Merauke untuk bisa maju. Apabila seluruh warga bangsa ini bisa menjadi manusia yang produktif, maka kontribusinya bagi kemajuan bangsa akan luar biasa.

Persatuan Indonesia sekarang ini memang masih dalam tataran ideologis. Mereka yang tinggal di kawasan Indonesia Timur tertinggal dalam segala hal. Ketika mereka tidak bisa menembus keterisolasian, maka seumur-umur mereka akan menjadi manusia yang tertinggal.

Tugas kita semua bagaimana membuat Indonesia menjadi satu dalam arti yang sesungguhnya. Kita harus berani memulai dengan menghubungkan Sumatera dan Jawa misalnya dengan membangun jembatan.

Di tengah arus besar globalisasi yang semakin menyatukan masyarakat dunia, sangatlah ironis apabila kita tidak mampu menyatukan Indonesia. Frans Seda sudah memulai itu dan kini giliran kita yang ditinggalkan untuk meneruskan cita-citanya itu.

Selamat jalan Pak Frans Seda.

Sumber: http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/tajuk/2010/01/02/205/Frans-Seda-dan-Integrasi-Ekonomi

Seluruh redaksi Maula turut berbela sungkawa atas wafatnya Frans Seda. Semoga amal perbuatan beliau diterima di Sisi Tuhan YME. Amien.

Iklan

Responses

  1. Ya benar. Kesederhaan dan tidak lupa pada asal-usul dan sesama yang kurang beruntung adalah modal dasar perjuangan seorang anak manusia. Sembari menatap masa depan yang cerah. jangan lupa pada Sang Pencipta dan ciptaanNya. Ituah sosok seorang Katolik sejati dan nasionalis yang boleh dicontoh.

    Terima kasih Pak Frans Seda atas jasa kekatolikanmu di bumi Indonesia. Engkau terurapi oleh Jesus dan Bunda Maria. Semoga perjuanganmu tidak sia-sia dan dapat dicontoh oleh sesamamu. Namamu besar di bumi dan akhirat, amin

    • Bangsa Indonesia berutang kepada Frans Seda, atas baktinya untuk bangsa ini. Semoga perjuangan beliau dapat kita lanjutkan. Amien.
      Bangkitlah anak bangsa!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: