BUDHISME MASYARAKAT INDUSTRI

Oleh: Prof. Makoto Hayashi

LATAR BELAKANG SEJARAH
(1) BUDHISME DI INDIA
Di negeri asal Budhisme, sejarahnya terbagi atas empat masa :
Pertama dari sejak Budha sampai Raja ASOKA. Budhisme mulai sejak abad 5 atau 4 SM (sebelum Masehi) dalam komunitas kecil, semacam kelompok sektarian. Saat konsili Budhis kedua, abad 4 SM, terdapat dua majelis bersaingan. Yang menganut tradisi monastik elit disebut THERAVADA, sedangkan yang pada tradisi lebih populer yakni MAHAYANA. Kaum Budhis purba terutama memfokus keselamatan pribadi, dan tata monastik awalnya memang ke pencapaian non-duniawi. Tetapi dalam Budhisme sektarian purba terdapat unsur-unsur Budhisme peradaban yang kemudian mekar di masa Raja ASOKA.
Kedua, sejak ASOKA sampai abad 2 M, Budhisme menjadi agama baru yang terkait budaya maju canggih yang melampaui batas lokal maupun politik. ASOKA, penguasa ketiga pada garis kekaisaran Maurya, mengirimkan duta-duta khusus untuk memastikan bahwa DHARMA dilaksanakan dan diajarkan di berbagai komunitas kekuasaannya. Selama tiga abad dari abad 2 SM sampai abad 1 M, Budhisme merupakan kekuatan religius besar di seluruh India, Srilangka dan Asia Tengah. Berbagai negeri mengikuti ASOKA menjadikan Budhisme agama negara, baik di Srilangka, India Tengah, maupun India Barat Laut.
Budhisme juga mulai menembusi pusat-pusat perdagangan di China Utara dan terus berkembang melalui daratan dan lautan ke China Selatan dan Asia Tenggara.
Masa ketiga, dari abad 2 M hingga 9 M, Budhisme berjaya baik kreativitas maupun pengaruhnya. Mekar bestari di Srilangka, India Tengah dan Asia Tengah. Melalui asimilasi dengan kepercayaan dan upacara setempat (indigen) serta dijadikannya agama kerajaan, Budhisme meluas di China
Utara maupun Selatan, serta di Asia Tenggara. Kekaisaran China juga diwarnai pengaruh Budhisme, terus meluas ke Asia Tenggara, bahkan Jepang dan Tibet. Tetapi pada pertengahan abad 9 M, kejayaan peradaban Budhisme di segenap Asia mulai merosot.

Masa keempat selama abad 9 dan 10 M, dengan pusatnya China dan Jepang, ternyata juga tak lepas dari serangan. Gabungan kebangkitan kembali HINDU dan serangan kaum Muslim membuat lenyapnya komunitas Budhis India di abad 13. Budhisme hanya berkembang di daerah pinggiran.

(2) BUDHISME CHINA
Sulit melukiskan mulai masuknya Budhisme ke China, namun pada abad 2 SM Budhisme memang sudah tercatat hadir disana. Kaisar HAN masuk Budhisme di pertengahan abad 2, dan didirikanlah lembaga resmi yang menerjemahkan teks-teks suci berbahasa asli Sanskerta kedalam bahasa setempat.
Budhisme menyebar ke masyarakat China sangat mendalam ketika itu. Negeri-negeri kecil di China melindungi Budhisme, dan Budhisme lambat laun berakar. Walau Budhisme sangat terbuka terhadap adat setempat, terkadang diserang juga oleh kerajaan-kerajaan kecil yang menganut KONGHUCU. Sejak abad 9 Budhisme merosot baik secara doktrin maupun lembaga, apalagi setelah dinasti TANG tercerai-berai.
Dalam praktek, Budhisme di China sangat akomodatif. Budhisme mengikuti lekuk-liuk-liku pemikiran orang China, yang selalu praktis, moralistis, tidak terlalu doktriner, ingin menjaga kerukunan di masyarakat, serta toleran terhadap berbagai pandangan (opini). Kemudian ada dua kecenderungan religius di China. Pertama ke meditasi transendental, lainnya ke devosi dan invokasi Budha tertentu yang diyakini akan menolong para penyembahnya.
Proses pemerosotan sejak akhir abad 8 yakni masa perubahan, dan semakin penyesuaian ke lingkungan China. Lembaga-lembaga monastik agung dan sekolah-sekolah doktrin makin layu, sebaliknya muncul bentuk-bentuk baru praktek religius yang mengabaikan doktrin ketat. Praktek Zen dan devosi Tanah Murni makin merupakan ciri Budhisme China kemudian. Kuil dan
vihara makin longgar pula melakukan keduanya. Pelatihan dan praktek Zen lebih mementingkan pribadi sang MASTER, bukan lembaganya. Keyakinan Tanah Murni serupa dengan Surga ala Barat, bukan kota duniawi. Tipe Zen inilah yang terus berkembang setelah dinasti Tang. Budhisme China semakin terserap oleh praktek Zen atau sekte Tanah Murni yang lebih populer. Bahkan keduanya makin kabur batasnya, menjadi semacam agama rakyat. Keduanya sangat menarik bagi orang awam dan menjadi kekuatan andalan Budhisme Asia Timur.
Dinasti-dinasti KONGHUCU dan MANCHU sangat bercuriga pada doktrin-doktrin yang menolak atau menampik keduniaan serta longgarnya relasi kemasyarakatan. Bagi mereka, ada risiko bahwa Budhisme dapat menjungkirbalikkan nilai-nilai ketatanegaraan dan kesediaan rakyat untuk mengabdi negara. Mereka kemudian mengganjal perkembangan Budhisme dan memperkecil pengaruh para rahib Budhis. Sejak itu, walau Budhisme diberi toleransi kehadirannya sebagai kenyataan historis, namun pengaruh dan vitalitasnya di masyarakat China makin nyungsep.

Memang keberhasilan berkembangnya Budhisme paling dahsyat di China, yang kemudian pengaruh politis dan militer bagi negara-negara sekelilingnya membuat orang hendak meniru contoh dan otoritas dinasti Tang disana. Bangsa-bangsa sekitar melihat hebatnya militer China dan menjadikannya teladan pemerintahan dan budaya. Mereka meniru Tang secara sadar. Pemerintahan bersatu Tibet pertama di abad 7 serta adanya negara Nanchao di Yunnan sekitar tahun 740, mereka meniru sistem perundang-undangan Tang. Di Asia Timur, corak politik dan budaya Tang sepenuhnya dianut. SILLA adalah replika miniatur kekaisaran Tang. Kerajaan Turgusik P-ohai meniru lembaga-lembaga negara dinasti Tang. Usaha-usaha Jepang di abad 7 dan 8 mendirikan Tang-Tang kecil di kepulauan luarnya, juga merupakan contoh nyata. Jadi Budhisme menyebar ke daerah dan pulau pinggiran sebagai cermin kosmopolitanisme budaya Tang.

(3) BUDHISME DI ASIA TENGGARA
Hingga abad 10 dan 11 Masehi, Budhisme di Asia Tenggara amat beragam dan eklektif : bercampur unsur kedewaan HINDU, Budha Mahayana, praktek TANTRISME, sampai tradisi Theravada PALI. Masa klasik Budhisme Asia Tenggara ialah di abad 11, walau di Jawa di abad 8 sudah ada dinasti Syailendra pendiri Borobudur (selain Sanjaya yang Hindu). Berkembangnya SRIVIJAYA (Sumatera), ANGKOR (Kamboja), PAGA (Burma), SUHOTAI (Siam), LUANG PRABANG (Laos) dll akhirnya memuncak dengan mantapnya tradisi Theravada Pali normatif garis monastik MAHAVIHARA SINHALA. Pada abad 14 dan 15 bentuk Budhisme utama di Burma, Thailand/Siam, Laos dan Kamboja adalah ortodoksi SINHALA. Ortodoksi berakar Theravada Pali ini yang menyertai munculnya bangsa Burma dan Thai di Asia Tenggara. Vietnam, Malaysia dan Indonesia agak berlainan corak. Budaya Vietnam amat kuat dipengaruhi China, sedangkan Malaysia dan Indonesia dipengaruhi masuknya Islam abad 13.

Geseran ke ortodoksi Theravada Sinhala di Asia Tenggara mulai akhir abad 11 sampai awal abad 13 berangsur-angsur. Faktor lain ialah intensifnya hubungan antara Srilangka, Burma dan Thailand. Budhisme mempengaruhi konsep kerajaan Asia Tenggara serta perundang-undangan ketatanegaraannya, dengan ideal DHARMARAJA yang diteladankan Raja ASOKA. Peranan Srilangka amat kentara. Budhisme Sinhala bersumbangsih legitimasi kekuasaan kerajaan. Juga merupakan religi rakyat, lewat penghormatan relikwi dan citra-citra sucinya.

CIRI-CIRI KHAS BUDHISME

(1) KERAJAAN
Dari sejarah nampak betapa erat Budhisme dengan kerajaan. Raja ASOKA, yang pertama mempersatukan INDIA, menjadi sponsor penyebaran Budhisme ke seluruh India. Tatkala bangsa-bangsa dan negeri pinggiran menganut Budhisme, mereka menghormati Asoka dan siap meneladaninya. ASOKA menjadi Archetipe raja Budhis ideal yang melindungi Budhisme.
Kerajaan-kerajaan di negeri-negeri etnik utaralah yang mula-mula memasukkan Budhisme ke China. Puncaknya pada masa Kaisarin WU. Budhisme berjaya manakala raja mensponsori. Tetapi ia menjadi loyo ketika kerajaan-kerajaan KONGHUCU melabraknya dalam tempo amat lama. Dari abad 7 ke 8, kerajaan-kerajaan di Korea dan Jepang mengambil Budhisme sebagai model ejawantah sistem Tang. Di negara-negara modern daratan Asia Tenggara, Budhisme ditopang kerajaan-kerajaan yang stabil. Kejayaan Budhisme di masyarakat terkait dengan hubungan mesra antara Budhisme dan kerajaan. Kerajaan niscaya dipimpin dengan praxis ajaran DHARMA. Jadi negaralah yang pertama dan utamanya merupakan wahana kemajuan spiritual menuju keselamatan. Bukan hanya perkembangan spiritual pribadi, namun sekaligus pensucian atas kerajaannya. Budhisme merupakan penopang moral bagi pendidikan rakyat.
Sistem inilah yang memberi kekuatan. Budhisme didukung kekuatan temporer dunia sehingga para rahib dapat berfokus ke kemajuan kehidupan spiritual. Lagipula, ada keistimewaan kedudukan religius di mata rakyat kebanyakan. Keberhasilan mengandalkan kerajaan, maka merosotnya kerajaan pun berdampak melemahnya Budhisme.
Perkembangan Budhisme di ASIA sangat didukung faktor kerajaan. Budhisme menikmati keistimewaan dari kerajaan-kerajaan stabil dalam waktu lama. Tetapi Budhisme merosot apabila kerajaannya kerap berganti penguasa lewat pemahsulan atau pendudukan.

(2) RODA KELAHIRAN KEMBALI
Kosmologi Budhis tenar dicirikan oleh roda kelahiran kembali serta karma. Segala mahluk hidup dan mati berulang, serta buahnya adalah sesuai hukum sebab-akibat. Kemerdekaan dari roda kelahiran kembali itulah tujuan penyelamatan sempurna Budhis.
Budhis dilandasi oleh kesadaran terdalam atas duka. Menurut Budha, hidup ini diliputi duka (derita, sengsara) dan duka itu akibat keinginan dan rasa aku. Jelas ini adalah kesadaran umum dalam tradisi religius INDIA, dan bahwa hidup ini penuh penderitaan. Gejala universal duka, dan cara mengenyahkannya, ialah melalui penghilangan keinginan. Kalau hendak membandingkan konsep keselamatan itu dengan yang ada dalam ajaran iman KRISTIANI atau ISLAM, harus diingat tiga hal :
Pertama, segala mahluk, termasuk deva, mengalami peluruhan-keausan, menua dan akhirnya kembali ke keadaan lain. Proses berlanjut tanpa henti. Semua mengalami dan menerima karmanya. Budhisme hadir untuk melepaskan dari ikatan roda berulang itu.
Juga, tiada kematian yang final. Cepat atau lambat, setiap orang mengalami kelahiran kembali, ke eksistensi baru. Eksistensi berikut itupun mengandung (provisional) kematian.
Ketiga, eksistensi berikut itu tak harus sama dengan yang terdahulu. Justru lebih acap berbeda. Manusia dapat menjadi hewan, deva, atau roh jahat bekasakan. Sesuai Dharma maupun Karma-nya.
Maka kalau kita meyakini eksistensi kepribadian kita, maka kita hidup dalam ilusi. Jawaban Budhisme : segala sesuatu yang kita yakini mendasari dan menyusun realitas, sebenarnya hanya sementara, remeh, dan menghadirkan duka derita. Ketiganya itulah ciri dalam kehidupan manusia serta panggung kehidupannya.
Cara Budhis yang sempurna dan nalar ialah menjadi rahib. Dicampakkan barang duniawi, bahkan dirinya sendiri, menjalani hidup wadat (selibat) tanpa milik (laku miskin) agar terbasmi segala bentuk keinginan. Dijalani cara hidup lebih disiplin, meditasi pencerahan lebih ketat, tercapai kelepasan dari duka. Pencampakan hal-hal duniawi demi perkembangan spiritual adalah bagian penting ajaran Budhisme.
KARMA itu hal umum dalam ajaran religi India, termasuk juga Hindu. Diluar India hal ini tidak mesti diterima di kalangan negeri-negeri Budhis. Di lain pihak, animisme dan pemujaan leluhur merupakan unsur umum dalam berbagai agama rakyat di seluruh penjuru Asia.

(3) RITUS MENGENANG YANG TELAH MATI
Secara umum bangsa-bangsa ASIA cenderung meyakini bahwa ada dunia lain tempat para arwah yang meninggal dan roh-roh lain hidup, berbeda daripada yang ada di dunia kasat mata ini. Bagi kalangan yang percaya dunia roh ada keyakinan dapat berkomunikasi dengan roh melalui ritual tertentu atau perantaraan shaman. Menurut pemikiran Budhis atas Karma, mahluk hidup itu mengalami lahir kembali tanpa akhir, bukan pergi ke dunia lain seperti surga atau tempat orang mati. Maka gagasan KARMA adalah penolakan atas animisme dan pemujaan leluhur.

Akan tetapi Budhisme telah beradaptasi dengan lingkungan keyakinan orang akan roh dan jiwa orang mati yang hidup di dunia lain. Salah seorang pakar sejarah Ketimuran, de Vary, perihal perubahan Budhisme di China menulis sebagai berikut :
Lambat laun Budhisme menyesuaikan diri dengan sistem kekeluargaan dan lembaga politis di China. Hal ini karena Budhisme selain menekankan pentingnya meninggalkan hal duniawi untuk meraih kehidupan religius, serta bahwa pemerintah perlu mendukung dan melindungi agama sebagai sumber manfaat spiritual bagi khalayak, memang Budhisme tidak terlalu banyak bicara tentang bagaimana menata dan melakukan penyelenggaraan hidup bebrayan dalam keluarga maupun di masyarakat. Karena disitu tidak ada petunjuk pegangan, maka dirasa boleh menyesuaikan diri dengan selera lokal.
Hal ini bukan hanya berlaku bagi Budhisme China, namun Budhisme secara umum. Ciri khas Budhisme adalah sangat akomodatif, tak peduli penolakannya akan hal-hal duniawi. Budhisme China adalah salah satu Budhisme yang telah disenyawakan dengan selera lokal. Para Budhis China sangat mementingkan kehidupan sekarang (hic et nunc) maupun keadaan nanti (setelah mati). Mereka mencari kedamaian (pribadi dan publik), selamat dari berbagai bencana dan musibah, serta pencapaian sukses (karier) hidup. Dan di keadaan kelak (setelah kematian), orang menginginkan bahagia pula. Walau doktrin Budhis dan para rahib ortodoks tidak sependapat dengan hal itu, berdasar keyakinan bahwa Karma yang ditumpuk seseoranglah penentu masa depannya, orang kebanyakan justru masih sangat percaya akan perlu dan pentingnya DOA. Rahib mungkin hanya melihat meditasi, tetapi khalayak masih mementingkan SEMBAHYANG.
Di China Budhisme mulai bertautan dengan berbagai ritus sekitar tahap-tahap kehidupan manusia, termasuk RITUS KEMATIAN. Ritus dan upacara Budhis kerap dilakukan bagi arwah orang meninggal, dalam keluarga yang KESRIPAHAN. Sebagai contoh : kalau di India, ritus Budhis lazim dilakukan tujuh kali setiap tujuh hari sejak meninggalnya, karena pada saat-saat itulah
diyakini arwah orang meninggal akan kembali menjelma ke dunia ini, dalam
eksistensi lain yang juga terarah pada kematian. Ritus ini di India didasari pemikiran akan kelahiran kembali dan Karma. Saat Budhisme masuk ke China, para rahib Budhis China memberi tafsiran khas atas ritus kematian. Itu merupakan ibadat mengenang yang meninggal agar arwahnya lancar masuk
surga. Maka ditambahkan tiga (3) upacara lain selain yang semula tujuh (7) dari India, dan disebut KESEPULUH UPACARA SEMBAHYANGAN BUDHIS. Sesudah penguburan, keluarga orang yang meninggal memanggil rahib Budhis untuk menyelenggarakan berbagai upacara itu. Makin banyak sembahyangan, makin bahagialah arwahnya di surga. Begitulah, rahib Budhis JEPANG menerima kesepuluh upacara itu, bahkan menambah lagi tiga (3) ritus, menjadi TIGABELAS UPACARA KESRIPAHAN. Dan umat Budhis di Jepang menerima kenyataan itu dengan suka ria, berkali-kali mengadakan sembahyangan itu membahagiakan sang arwah nun di sana, apabila ada anggota keluarga meninggal.
Di JEPANG, arwah yang punya pertalian keluarga dengan yang ditinggal di bumi dan merayakan upacara leluhur itu disebut UENREI. Anak cucu dan sanak keluarga niscaya melakukan sembahyangan, dan mereka dilindungi oleh arwah leluhur itu. Lawannya uenrei ialah MUENREI yaitu arwah tanpa pertalian kekeluargaan. Diyakini bahwa muenrei ini dapat memberikan bencana atau kesialan, kemalangan, maka perlu juga upacara agar mereka tidak mengganggu yang masih hidup di dunia.
Jelaslah, di CHINA dan JEPANG, mungkin juga di negeri-negeri lain diluar India, konsep RODA Kelahiran Kembali tak lagi diterima secara otentik. Justru pemujaan leluhur dan kult arwah yang meninggal itu faktor utama yang menjadikan Budhisme berubah menjadi Budhis populer (khalayak)
yang berona agama rakyat setempat. Pada Budhisme Jepang, roda kelahiran kembali sungguh sudah berganti dengan upacara dan keyakinan akan dunia lain.

ANEKA MASALAH DI MASYARAKAT MODERN
Untuk memahami berbagai masalah yang dihadapi Budhisme masa kini, harus kita simak hubungan antara Budhisme dan modernisasi ASIA. Kolonisasi Asia oleh negara-negara Barat diawali abad 17 sangat mendesak Budhisme. Modernisasi Asia abad 19 dan 20 merombak tata kehidupan tradisional dan keyakinan religius masyarakatnya. Maka pada abad 20 Budhisme pun diperhadapkan dengan aneka krisis di masyarakat. Banyak faktor terlibat didalamnya, namun ada tiga (3) yang penting disebut: (1) masuknya Kekristenan yang menekan Budhisme di masa lalu, (2) adanya lembaga-lembaga pendidikan Barat, (3) nilai-nilai masyarakat industri yang mengedepankan perihal kerja.
(1) Negara Barat menggunakan Kristen untuk mengendalikan berbagai negeri ASIA selama zaman kolonial. Beberapa negeri Budhis semisal Srilangka, Burma dan negeri-negeri Indochina, terjajah penuh, sedangkan lainnya yakni Thailand, Jepang dan China sangat dipengaruhi keadaan kolonisasi Asia itu. Kejadian bisa diwarnai kekerasan, misalnya di Srilangka orang Portugis menghancurkan bangunan-bangunan suci dan relikwi. Budhisme di Asia berperan besar menggalang kekuatan bangsa-bangsa menentang kolonial Barat, memekarkan budaya nasional. Di Kamboja dan Laos misalnya, para rahib berperan politik kental.
(2) Di zaman ASIA pra-modern, pranata Sangha Budhis berperan eksklusif dalam soal lembaga kependidikan yang mengajarkan MORAL dan tata hidup bermasyarakat. Rahib berkedudukan sangat terhormat dan cendekia. Tetapi dengan munculnya Universitas yang bercorak Barat, kemuliaan rahib itupun terkikis. Sangha tak menarik lagi karena tak sanggup bersaing dengan sistem dan lembaga pendidikan modern, padahal mahasiswa makin tergiur lapangan
kerja berpenghasilan tinggi, bukan lagi kehidupan monastik ala biara. Di Jepang, Korea dan Taiwan, dengan berbagai universitas yang bagus, menjadi rahib tak lagi memikat kaum muda. Para rahib JEPANG biasanya punya profesi dan pekerjaan lain untuk menambah pendapatan serta kehormatan sosial. Sebaliknya, di negara-negara dimana ada kebangkitan kembali Budhisme, seperti di Srilangka, terdapat perlawanan atas pendirian universitas gaya Barat oleh pemerintah yang menerima baik rahib maupun awam. Masalah dipecahkan dengan mendirikan lembaga pendidikan khusus bagi para rahib. Di Burma, dulu perdana menteri U Nu membuat terobosan mengadakan pendidikan Budhis di universitas umum.
(3) Masyarakat industri tidak menyepakati gagasan ideal Budhis bahwa rahib harus menjauhi pekerjaan sesehari dan pernikahan agar mencapai keadaan Nirvana. Pekerjaan adalah nilai tertinggi dan mulia bagi khalayak modern. Gagasan kemonastikan Budhisme sukar dicerna masyarakat modern karena berlawanan dengan prinsip masyarakat industri, misalnya menempuh pendidikan formal, bekerja keras mencari nafkah, dan membentuk keluarga bahagia. Di negeri-negeri Konghucu seperti China, Korea, dan Jepang, banyak kritik ditujukan kepada Budhisme yang menolak dan meninggalkan keduniawian. Dirasakan bahwa prinsip Konghucu lebih seiring dengan tuntutan masyarakat industri. Dari kacamata ini, keberhasilan ekonomis negeri-negeri Asia Timur lebih berkat keKonghucuan.
Tetapi Budhisme pun terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat industri modern. Berbagai gerakan Budhis awam mencerminkan hal itu. Budhis awam berpendapat, kedudukan rahib atau awam adalah sama dalam berbakti kepada Budha. AMBEDKAR memeluk Budhisme di India untuk menolong kalangan kasta tercampak dan terpinggirkan. Di JEPANG, berbagai agama baru Sokagakkai, Risshokoseikai, Reiyukai, adalah gerakan Budhis awam, mengedepankan nilai praktis capaian duniawi dan kebahagiaan kelimpahan serta gapaian kebaikan dan keindahan, juga mengajarkan betapa penting menghormati nabi Jepang abad 13 NICHIREN sebagai Budha Sejati yang dinubuatkan dalam Sutra Padma itu.
Di negeri-negeri ASIA TENGGARA, terutama di Burma dan Siam (Thailand), setiap orang, awam, diwajibkan memasuki biara untuk memperoleh ajaran dan meditasi, setidaknya sementara. Jadi semua orang pernah menjadi rahib. Hal itu meningkatkan partisipasi dan kepedulian masyarakat dalam hal kemonastikan.

BUDHISME KESRIPAHAN DI JEPANG
Bagaimana Budhisme menghadapi tantangan perubahan zaman ? Di Jepang kehidupan rahibnya serupa dengan awam dalam hal pernikahan dan larangan makanan tertentu. Banyak rahib hidup di kuil (candi) keluarga. Jadi kuil Jepang itu tak lain tempat tinggal sang rahib, terpisah dari Sangha. Maka rahib pulang dari Sangha ke rumahnya sendiri, dan dengan begitulah Budhisme Jepang selalu bebas dari aneka perubahan politik apapun yang terjadi.
Budhisme di Jepang kini sangat erat kaitannya dengan ritus-ritus Budhisme-kesripahan . Sejak abad 16 orang Jepang punya adat pelayanan saat kematian oleh rahib. Di masa shogun EDO dikenal sistem kuil keluarga yang merupakan sarana ikatan suatu keluarga dengan kuil tertentu, yang melandasi organisasi Budhisme modern di masyarakat Jepang. Rahib dapat hidup normal dengan sumbangan pendapatan dari upacara di keluarga yang kesripahan. Tetapi itu banyak dikritik pedas, ibaratnya rahib itu benalu di kala susah, sejahtera tetapi sarat koruptif moral. Namun tanpa sumbangan bila ada anggota keluarga meninggal, Budhisme Jepang tak akan bertahan dalam berbagai perubahan politik. Organisasi Budhis perlu bantuan pemerintah pula. Dan praktek Budhisme kesripahan beraspek sosial industri JASA, dan para rahib adalah profesional ritus kesripahan di masyarakat modern yang memiliki sistem pembagian kerja. Pilihan Budhisme Jepang itupun salah satu alternatif kelestarian ke masa depan.
Ada banyak sekali macam upacara kesripahan di Jepang kini. Sejak 1970-an
ada MIZUKO KUYO yakni upacara sembahyangan dan persembahan sekaitan anak meninggal keguguran. Ada juga upacara sekaitan korban pada profesi tertentu: upacara bagi ikan oleh para nelayan, bagi lembu oleh kalangan petani, bagi kuda oleh peniaga kuda, lab dan perusahaan riset bagi semua hewan percobaan yang telah dikorbankan dsb. Banyak tugu peringatan didirikan bagi kuburan hewan di Gunung Koya. Belum lagi aneka upacara peringatan bagi hewan piaraan di kalangan penyayang binatang. Dan semua itu menuntut peranan rahib.
Di Jepang, manusia atau apapun terasa mudah mencapai kebudhaan. Mencengangkan bagi kalangan luar Jepang, bahwa di Jepang dengan mudah seseorang yang meninggal disebut Budha. Setiap arwah mudah ditenangkan dengan upacara kematian tertentu. Tradisi itu sudah kokoh di Jepang, tetapi jangan dilupa bahwa itupun terkait dengan doktrin Budhisme Mahayana bahwa segala mahluk itu memiliki hakikat Budha. Rahib Budhis masa kini di Jepang dengan mudah mempromosikan berbagai upacara dan peringatan agar masyarakat terhindar dari segala bentuk kutuk. Mereka itu adalah para penjual dan direktur usaha layanan jasa sembahyangan kesripahan. Tetapi ada pula yang mengkritik pedas hal tersebut sebagai korupsi atau komersialisasi jabatan oleh para rahib, walau sebaliknya juga tak sedikit yang membela agar kelembagaan agama Budha tetap stabil dan beroleh kesempatan melakukan berbagai kajian spiritual pula.
Syukurlah, berkat hal itu pula maka kini kajian Budhis Jepang telah amat maju, dan para cendekia menjadi semakin peka dan memahami apa yang sebenarnya diajarkan oleh Sang Budha sendiri melalui berbagai kajian. Mereka memahami betapa berbedanya antara Budhisme purba dan Budhisme Jepang. Demikianpun terdapat perbedaan besar antara Budhisme Jepang, Budhisme India, Budhisme China, akibat faktor budaya. Banyak cendekia Budhis enggan membuka besarnya perbedaan tersebut, sebagian lainnya berusaha merelatifkan perbedaan mencolok itu dengan kilah bahwa didalam hati orang tetap mampu berkomunikasi dengan Budha walau diluar tampak begitu mencolok perbedaannya. Ada juga yang mengalami kesulitan mempertemukan aneka perbedaan itu dan menyimpulkan bahwa Budhisme
Jepang itu memang tidak sama dengan Budhisme yang asli. Sejarah Budhisme melibatkan aneka asimilasi budaya lokal, maka wajar bila Budhisme dewasa ini berlainan dari Budhisme zaman dulu kala.
Berkembangnya berbagai kajian mutakhir atas Budhisme juga memekarkan minat diantara para cendekia Barat. Hal ini tak sekadar menjadikan Budhisme obyek penelitian, namun sekaligus sebagai sumber pencerahan dan ilham spiritual. Baru setelah tahun 1870-an tafsiran atas Budhisme makin positif. H.P.Blavatsky dan H.S.Olcott mendirikan Himpunan Teosofi 1875, kemudian mengadakan kontak erat dengan para Budhis Srilangka bahkan memeluk agama Budha. Di peralihan abad ke 20 pusat perhatian cendekia Barat, utamanya Eropa, lebih atas tradisi Theravada. Budhisme Theravada adalah bentuk Budhisme yang tertua dan tersederhana.
Kelompok Budhis Jerman berdiri tahun 1903. Di Inggris, Dharmapala datang
membentuk cabang Himpunan Mahabodhi tahun 1925, dan D.T.Suzuki mendatangi Inggris tahun 1936. Di Amerika, Mahayana merupakan ungkapan paling menonjol Budhisme lantaran imigrasi ke barat, perdagangan, latar belakang sejarah, dll.
Imigrasi dari Asia makin membuat masyarakat Amerika mengenal Budhisme Mahayana. Menurut Sinko Saeki, seorang Amerika yang memeluk Budhisme, ada tiga (3) kelompok orang Budhis baru di Amerika. Pertama, adalah jenis pemeluk Budhis yang memang gemar berpindah-pindah keyakinan. Kedua, adalah kalangan drop-out dan yang merasa tercampak dari masyarakat (kulit putih misalnya) Amerika. Ketiga ialah kaum cendekia yang berbuat sebagai pemeluk Budhis dan bersikap menghargai semua agama (walau itu berarti murtad dari Kekristenan) . Di Barat, yang acap teramati ialah, merosotnya Kekristenan diikuti dengan meningkatnya pemeluk Budhis.

KESIMPULAN
Ada tiga (3) hal : Budhisme Jepang mengembangkan segi SPESIALIS KESRIPAHAN selaku industri jasa. Disini Budhisme menyesuaikan diri
begitu mulusnya dengan masyarakat industri. Kedua, di ASIA TENGGARA, para rahib memainkan peranan penting dalam gerakan NASIONALISTIK. Sedangkan di Barat, Budhisme diterima masyarakat umum sebagai sarana dan wahana teknik MEDITASI. Ketiga-tiganya sedang terus berdinamika sekarang, walau sekilas tak tampak saling bertautan. Tetapi ada benang merah, dalam ketiga-tiganya Rahib berperan DILUAR Sangha. Para rahib Jepang lebih berbuat di sektor ekonomis, sejawat para rahib di Asia Tenggara lebih berkiprah politis. Dan ajaran Budha bahwa orang harus meninggalkan keduniawian justru lebih bergema di Barat, di kalangan pemeluk baru Budhisme, daripada di kalangan para rahibnya.

Populernya RODA KELAHIRAN KEMBALI akhir-akhir ini diantara orang Barat sekilas bersejajar gejalawi dengan adanya gerakan New Age.

Sumber: ppiindia@yahoogroups.com

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s