Oleh: MAULA | Januari 9, 2010

Standardisasi Pendidikan

Buku dan Belajar

Oleh: Asarpin, Peminat kajian humaniora

Standardisasi pendidikan tak jarang membawa efek penyeragaman. Apa-apa yang beda dan karena itu kreatif, hendak distandarkan. Dan berpikir standar semacam ini sudah lama dijalankan, dan terus dilanjutkan dengan model-model yang sepintas beda tapi tampaknya mengungkapkan hal yang sama.

Apa sesungguhnya makna berbeda bagi kita? Benarkah perbedaan adalah berkat dan membawa rahmat? Kalau ya, mengapa begitu sering kita menyaksikan pertikaian hanya karena kita beda agama, beda budaya, beda suku, beda warna kulit, hingga beda cara? Dan pendidikan agama, yang selama ini kita klaim sebagai instrumen yang diharapkan membawa rahmat, ternyata tak berbuat banyak, bahkan tak jarang menimbulkan akibat sebaliknya. Lalu apakah agama masih pantas dianggap sebagai pembawa rahmat dan kedamaian di muka bumi?

Jika memang Tuhan menciptakan perbedaan agar manusia saling mengenal, menyapa, hidup berdampingan, dan hidup dalam kekeluargaan, pantaskah kita sebagai manusia mengingkari keragaman yang diciptakan oleh Tuhan itu? Kalau ada di antara kita merasa terganggu dengan pluralitas dan kemajemukan agama, bahasa, suku, adat, warna kulit, apakah ini artinya kita mengingkari kehendak Tuhan?

Sayang sekali kita tak pernah siap untuk beda: beda pikiran, beda penampilan, beda segalanya. Jika ada sesuatu yang beda dari kebanyakan, tak jarang kita memberi cap gila. Padahal perbedaan adalah inheren dalam kehidupan manusia. Keunikan dan keragaman, potensi alami kita yang terhebat, sudah semestinya kita akui kembali, kita hargai kembali, dan kita berdayakan kembali. Jangan jadikan hidup ini dalam bingkai keseragaman melalui acuan standar tanpa tahu nikmatnya perbedaan.

Marilah kita simak sebuah dongeng Afrika yang bertajuk Hati Seekor Elang, yang diceritakan kembali oleh Dawna Markova, dalam sebuah buku tentang pendidikan. Dongeng ini mengisahkan seekor burung elang yang menetas di kandang ayam. Seorang anak menemukan “anak ayam yang aneh” di antara anak-anak ayam. Meskipun sang anak mengatakan itu seekor elang, peternak ayam bertahan bahwa itu ayam. Sampai kemudian ibu sang anak membeli anak elang tersebut. Mulanya si elang begitu dilempar agar terbang malah terjatuh. Namun, akhirnya anak elang bisa terbang dan tidak pernah kembali ke kandang ayam.

Kesalahan paling umum yang kita buat sebagai orang tua dan guru adalah berpikir bahwa seseorang tak dapat membuat perbedaan. Kalau ada seseorang yang berpikir beda, kita anggap menyimpang. Kita selalu mengejar yang sama, yang standar dan yang seragam. Dan ini adalah tragedi pendidikan yang sangat menyedihkan.

Jarang sekali kita bersimpati terhadap apa yang dilakukan anak kecil tentang ayam yang dianggapnya elang itu. Padahal pendidikan yang baik semestinya dapat membantu siswa menemukan elang dalam dirinya. Anak-anak bukanlah ayam-ayam dan tidak perlu menjalani kehidupannya seakan-akan mereka adalah ayam.

Alam mencintai keragaman, karena keragaman berasal dari Tuhan. Keragaman merupakan suatu kondisi alami dan anugerah bagi spesies kita. Kita tak bisa menampik keragaman karena ia niscaya dalam kehidupan kita. Semua yang berbeda menjadi bagian dari kita, maka anak-anak akan berhenti menghakimi, mengisolasi, dan mengasari mereka yang tidak sesuai dengan norma-norma yang terstandardisasi sejauh mereka mengenal dengan baik potensi perbedaan. Keragaman merupakan sumber daya sekaligus tantangan yang mau tidak mau harus dihadapi dengan cara-cara mengenal potensinya yang akan membawa berkat.

Kita semua memiliki aspek diri yang berbeda. Inilah yang justru menjadikan kita manusia. Tatkala kita dapat menerima dan mengintegrasikan beda-beda dengan tepat, maka alam dan Tuhan akan mendatangkan rahmat bagi kita. Kita berusaha mengubah seluruh yang beda seakan-akan perbedaan itu sesuatu yang harus diperbaiki, diakali, diisolasi, dan dihancurkan sepenuhnya. Hasilnya adalah hilangnya getaran, vitalitas, dan energi kehidupan. Saat kehilangan perasaan akan keunikan dan perbedaan kita, kita menjadi komponen lain di dalam roda dan kehilangan setiap pemahaman mengenai tujuan hidup.

Sejak kecil anak-anak kita telah kehilangan kapasitas dan potensi mereka untuk berbeda. Seluruh sistem dan norma kehidupan dibuat sestandar mungkin. Bahkan mirip baju tentara, seluruh pakaian fisik dan batin kita seragam. Mirip paduan suara, jadilah kita kehilangan kreasi dan kemampuan untuk mengenal keragaman ciri-ciri.

Dalam pendidikan, kita mengukur pembelajaran melalui tes-tes yang terstandardisasi, menggolongkan mereka sebagai ini dan itu, mengisolasi siapa pun yang berbeda, seakan-akan mereka adalah penyakit. Sungguh, inilah hasil pendidikan penyeragaman warisan Orde Baru yang sampai kini belum terkikis, bahkan kian tebal dan kian banal!

Untuk menghadapi realitas perbedaan sebagai keniscayaan itu, di mana batas-batas kultural bangsa dan negara sudah semakin menyempit, yang kita butuhkan kini adalah semangat keterbukaan menerima segala yang beda, kemudian mengakui sebagaimana kita mengakui dan memelihara tubuh kita sebagai anugerah dari yang Ilahi.

Sumber: http://www.lampungp ost.com/cetak/ berita.php? id=2010010801145 627

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: