Oleh: MAULA | Februari 26, 2010

Hakikat Shalawat kepada Muhammad saw

Muhammad saw

Muhammad saw

Sesungguhnya telah terjadi perbedaan pendapat dari para Ushul Fiqih‘ nabi ‘ dalam ayat salawat tersebut, Apakah bermakna atau bermaksud Rasulullah Muhammad SAW ataukah bukan ?

Sebelum kita mencoba membahas dan memahami persoalan tersebut, sebelumnya marilah kita mecoba memahami kembali hakikat dari pemakaian kata ‘ nabi ‘ dalam ayat salawat yang merupakan sandaran utama dalam kajian hakiat salawat ini “ Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk nabi, Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya “

Dalam ayat tersebut Allah SWT memakai kata ‘ nabi ‘ dan tidak menyebut langsung nama Muhammad, padahal biasanya setiap kali Allah SWT menceritakan atau menyebutkan salah seorang nabi–Nya, Allah SWT pasti menyebut nama nabi yang bersangkutan.

“ Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan nabi Ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah pelindung semua orang-orang yang beriman “ ( QS : 003 : Ali ‘Imran : Ayat 068 )

Sedangkan Dalam ayat salawat ini, Allah SWT tidak menyebut satu pun nama nabi. Dari disinilah sesungguhnya awal perbedaan pendapat para Ushul Fiqih itu dimulai.

Nabi atau kata ‘ nabi ‘ merupakan nama jabatan yang diberikan Allah kepada orang – orang terpilih dan dipilih Allah SWT untuk menerima wahyu dan para nabi ini tidak diberikan kewajiban untuk menyampaikan wahyu yang diberikan Allah tersebut kepada umatnya. Berbeda dengan Rasul yang juga merupakan nama jabatan untuk orang – orang yang terpilih dan dipilih Allah SWT untuk menerima wahyu dan disertai dengan kewajiban atau perintah untuk meyampaikan seluruh wahyu tersebut kepada seluruh umatnya.

Jadi, setiap rasul sudah pasti adalah seorang nabi dan seorang nabi belum tentu seorang rasul, sehingga dari sisi jumlah, maka  jumlah nabi jauh lebih banyak dari pada jumlah rasul dan sebutan untuk rasul cendrung dipertegas dengan sebutan nabi dan rasul. Dalam I’tiqat Ahlul sunnah wal Jamaah atau sunny di fahami bahwa nabi dan rasul yang wajib diimani itu berjumlah 25 nabi dan rasul yang dimulain dari Nabi Adam AS dan diakhiri dengan nabi terakhir, penutup segala nabi dan rasul, tidak ada lagi nabi dan atau rasul yang diutus setelah beliau baik dengan atau tanpa risalah wahyu yaitu Nabi besar  Muhammad SAW.

Selain itu, dengan melihat dari asal katanya. Kata ‘ nabi ‘ berasal dari kata ‘ naba’a ‘ yang berarti “ yang memberi kabar “. Seharusnya kata nabi diakhiri dengan hamzah sehingga dibaca nabi’un, tapi dalam kenyaannya tidak demikian.

Menurut Zamakhsyari, hal ini menunjukkan kemuliaaan dan kedekatan rasulullah dengan Allah SWT dan Sibawaih mengatakan bahwa kata nabi’un berkonotasi negatif sehingga sangat jarang dipakai dalam pembicaraan orang Arab. Kata nabi ‘ lebih agung dan lebih bermakna dibandingkan dengan kata ‘ nabi’un ‘ dan Rasullullah sendiri telah melarang para sahabat memanggi beliau dengan sebutan ‘ Nabi’ullah ‘ dan memerintahkan untuk memanggil beliau dengan sebutan ‘ Nabiyullah ‘.

Kata ‘ nabi ‘ yang merupakan sebutan untuk jabatan yang diberikan Allah SWT dalam ayat salawat tersebut dapat juga difahami melalui ayat berikut  :

“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah- rumah nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang Maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu nabi lalu nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), Maka mintalah dari belakang tabir. cara yang demikian itu lebih Suci bagi hatimu dan hati mereka. dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri – isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah “ ( QS : 033 : Al Ahzab : ayat  : 53 )

Melalui postingan yang singkat ini daptlah kiranya difahami bahwa nabi yang dimaksud dalam ayat salawat “ Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk nabi, “ adalah Rasulullah Muhammad SAW dan ditambah lagi dengan kelanjutan ayat  salawat tersebut yang berbunyi  “ Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya “ Yang mengkhususkan perintah tersebut kepada orang – orang yang  beriman ( mukmin ) yang merupakan sebutan yang lazim diberikan kepada pengikut Nabi Muhammad SAW dan bukan kepada pengikut nabi  yang lain.

Demikian, semoga postingan yang singkat ini bisa bermanfaat dan menghilangkan keragu – raguan tentang tujuan dan hakikat makna dari salawat yang selalu kita panjatkan kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW dengan harapan semoga kita mejadi bagian dari orang – orang yang mendapatkan syafaatnya disaat ketika seluruh perhitungan dimulai. Amin.

Sumber: http://myrazano.com/kedudukan-rasulullah-saw-dalam-ayat-salawat/

Iklan

Responses

  1. Simpel saja memaknainya Bro, gak perlu report2 perang ayat tanding hadits. shalawat sudah pasti untuk “Muhammad Rasulullah SAW” karena Qur’an diturunkan kepada Rasulullah untuk umatnya, di perkuat dengan hadits tentang shalawat yang banyak diriwayatkan oleh para sahabat.

    Betapa bodohnya Ushul Fiqh yang memperdebatkan itu !

    • yang bodoh itu yang menganggap argumentasi ayat dan hadits tak dibutuhkan lagi.

      itu perlu untuk menunjukkan asbabun nuzul ayat. ayat shalawat pasti ada asbabun nuzul. kalo gak ada, gimana kita tau cara shalawat??????

  2. Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu
    Doa ini mengiringi dalam persaudaraan kita seislam dan seiman
    Saudaraku,
    saya ingin mendapatkan bagaimana suasana dan situasi saat firman Allah : ” Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk nabi, Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya “
    Bisa membantu saya??
    Jazakumullah katsiran

  3. Mengenai ayat di atas tentang kepada nabi apa / siapa saya kira sudah jelas jelas dari bentuk kalimatnya. Kata Nabi pada ayat tersebut diawali alif lam makrifat artinya nabi tertentu. Kemudian tertulis kata ‘alaihi, kita tahu ini bukan bentuk jamak maka artinya kepada seseorang (nabi), bukan kepada beberapa orang (nabi-nabi). Wallohu a’lam.

  4. “Saudaraku,
    saya ingin mendapatkan bagaimana suasana dan situasi saat firman Allah dst …”
    maksudnya … ? ya kalau kita dimampukan “menyaksikan” keadaan/hal bagaimana malaikat bershalawat pasti tersungkur dlm kehinaan diri. Lantas kita akan didera rasa rindu yg amat sangat kepada Rasulullah saw. Dan tiada sesuatu yg lebih indah dari anugerah tsb dari seluruh hidup yg telah kita lewati.

    salam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: