Oleh: MAULA | Maret 4, 2010

Kemandirian Berteologi

Keberagaman

Keberagaman

Tunggul Wulung dikategorikan orang sakti oleh sebagian orang-orang di wilayah Jepara. Kesaktian beliau di antaranya : mampu menempuh perjalanan jauh ( Jepara – Pati, sekitar 40 km ) dalam waktu 10 menit berjalan kaki. Cerita yang lain menyebutkan bahwa Tunggul Wulung mampu berkotbah dalam waktu dan jam yang sama di dua tempat yang berbeda (artinya : beliau bisa memecah dirinya menjadi dua).

Terdapat lebih banyak lagi cerita tentang kesaktian dan hal-hal spektakuler yang beliau kerjakan yang beredar di khalayak. Tunggul Wulung juga mengajarkan dan mempraktekkan cara-cara kekristenan yang berbeda dengan kekristenan umum ( barat ). Tidak mengherankan jika mantram, ubo rampe kembang menyan, dan lain sebagainya merupakan hal yang lazim dalam praktek hidup kekristenan Tunggul Wulung.

Secara garis besar, Tunggul Wulung mempraktekkan kekristenan yang “njawani”. Kebetulan Tunggul Wulung adalah seorang pribumi asli yang “mengenal Kristus” karena mendapatkan panggilan langsung melalui laku. Tunggul Wulung tentang perkenalan dan pemahamannya tentang Yesus Kristus, Alkitab dan Kekristenan dapat dikategorikan “mandiri”, terbatas dalam singgungan dan masukan dari konsep-konsep Teologia Kristen barat. Tunggul Wulung menghasilkan pandangan teologis dan praktek hidup kekristenan berdasarkan Alkitab yang diinterpretasikan berdasarkan konsep-konsep filosofis Timur ( Jawa ).

Tunggul Wulung sebagai seorang Kristen berperilaku selayaknya orang Timur. Konsep-konsep pemikiran Tunggul Wulung tentang Yesus, Alkitab dan kekristenan “seringkali dianggap miring” oleh sebagian orang. Tunggul Wulung dianggap mistis, klenik, sinkretis dan lain sebagainya. Pandangan miring tersebut seringkali ditegaskan dengan dukungan dukungan praktek hidup “sakti” Tunggul Wulung yang seringkali dipertanyakan : apakah dari Tuhan atau dari bukan Tuhan.

Menarik sekali menanggapi justifikasi “miring” yang dikenakan kepada Tunggul Wulung oleh sebagian orang. Justifikasi ini tentu didasarkan sebuah “paradigma berpikir” yang menjadi “standart acuan”. Dengan kata lain, penilaian ketidaklaziman Tunggul Wulung ini muncul dari “sebuah kelaziman umum” yang ada di pikiran para penilai. Kelaziman tersebut adalah standart yang telah ada.

Apakah standar kelaziman tersebut? Standar kelaziman tersebut adalah system interpretasi barat yang menghasilkan teologia dengan frame “barat”, dan praktek-praktek hidup barat yang timbul dari system interpretasi dan “teladan barat”. Konsep barat, entah Eropa atau Amerika telah menjadikan dirinya “seolah-olah” Alkitab itu sendiri. Praktek-praktek kekristenan ala Barat seolah-olah merupakan sebuah praktek hidup Kekristenan yang benar. Akibatnya : “segala sesuatu di luar kelaziman Barat” dianggap sumir. Pertanyaannya adalah : apakah memang demikian? Pendapat teologi yang teraplikasi dalam hidup mau tidak mau merupakan hasil interpretasi yang dibangun dari sebuah paradigma berpikir.

Demikian halnya pendapat teologia barat yang menghasilkan praktek-praktek hidup kekristenan adalah produk “paradigma pikir Eropa”. Ketika Alkitab ini ditafsir oleh orang-orang barat dengan paradigma pikir mereka merupakan sesuatu yang sah. Tetapi ketika produk interpretasi ini dijadikan sebuah standar acuan kebenaran, tentu perlu dipertanyakan dan dipertentangkan. Alkitab tidak sama dengan Barat.

Kekristenan yang benar tidak sama dengan kekristenan ala Barat. Kekristenan “produk Barat” sah bagi orang-orang Barat, tetapi belum tentu pas dan relevan dengan orang-orang Kristen di Indonesia. Mengapa? Karena Indonesia tidak sama dengan barat. Produk teologia semestinya relevan dengan manusia pelakunya.

Kristen Indonesia semestinya menerapkan praktek hidup Kristen berdasarkan produk teologia yang sesuai dengan frame keIndonesiaan. Kekristenan Indonesia dan produk teologianya yang berbeda dengan “Barat” tidak berarti menyimpang. Berbeda iya, kalau salah tidak. Sangat naïf jika memaksakan kebenaran Barat bagi Timur ( Indonesia ).

Apa yang dipikirkan dan dikerjakan oleh Tunggul Wulung merupakan sebuah kemandirian. Berteologi dan bertindak Kristen sesuai ala berpikir Timur ( Indonesia ). Tidak semestinya jika paradigma Barat menjadi standar justifikasi bagi keindonesiaan Tunggul Wulung. Teologia Barat punya hak hidup dan wilayahnya sendiri, demikian pula teologia Kristen Timur punya hak dan wilayahnya sendiri. Istilah mistik, klenik, dan sinkretis yang dikenakan kepada Tunggul Wulung merupakan sebuah arogansi “paradigma Barat” terhadap teologia Timur. Kata lain : keserakahan rasionalisasi Barat terhadap tata pikir Ketimuran.

Tentu hal ini tidak bisa dibiarkan. Berinterpretasi dan berperilaku Timur merupakan hak dan keharusan Kekristenan Timur. Hak ini sama diberikan kepada orang-orang Kristen Barat untuk bebas berinterpretasi dan berperilaku Barat. Kemandirian berteologi,berinterpretasi dan berperilaku dalam konteks merupakan hak dan juga kewajiban. Tujuannya supaya kekristenan membumi di mana dia berada.

Karena sesungguhnya, demikianlah semestinya Alkitab dihidupkan oleh setiap manusia di mana saja dia berada, sesuai dengan konteks budaya masing-masing. Mari berteologia dan berinterpretasi dalam konteks secara lebih percaya diri. Yesus Kristus empunya semesta raya dengan segala kekhasannnya masing-masing, memberkati.

Sumber: http://lintaskultural.blogspot.com/2010/01/kemandirian-berteologi.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: