Oleh: MAULA | Maret 26, 2010

Diskriminasi dalam Ruang Publik Kota

Alienasi dalam Ruang Publik

Alienasi dalam Ruang Publik

Oleh: Ahmad Arif

Jika ruang publik adalah gambaran dari jiwa warga kota, maka gambaran itu adalah  keterasingan dan diskriminasi. Jelajahilah ruang-ruang publik di kota kita dan rasakanlah sekat-sekat yang akan memerangkap kita dalam kelas-kelas sosial. Sekat yang akan mengasingkan diri dengan kemanusiaan kita sendiri.

Mari telusuri keberadaan ruang-ruang publik di kota-kota kita, khususnya di Jakarta. Kita bisa memulai dari ruang publik di sekitar rumah. Kompleks perumahan telah mendesak kampung yang egaliter. Bahkan kini muncul konsep kluster, perumahan di dalam perumahan. Artinya penyekatan semakin mengecil.

Bahkan, sekalipun tinggal di dalam kluster, banyak orang tua yang tak mengizinkan anak-anak mereka keluar rumah. Menyebabkan anak menjadi tahanan rumah. Dunia anak dan mungkin juga orangtuanya menjadi hanya sebatas pagar rumah masing-masing. Satu-satunya kesempatan mengenal masyarakat dari kelas sosial berbeda adalah melalui interaksi dengan pembantu di rumahnya. Interaksi yang tak setara karena berdasar logika majikan dan buruh.

Dari ruang rumah yang memenjara, mari kita tengok ke sekolah. Ruang tempat tumbuh anak-anak kita itu jelas semakin elitis dan mengkotak-kotakkan. Munculnya sekolah mahal jelas hanya bisa menampung anak-anak yang berpunya (the have) dan menyisihkan anak-anak miskin (the have not) dalam ruang sekolahnya sendiri; sekolah negeri atau sekolah swasta murahan yang – biasanya – tak dikelola dengan baik.

Lalu, mari kita tengok pusat perbelanjaan atau mal yang telah menjadi ruang publik baru bagi masyarakat kota. Datanglah ke mal-mal termewah kota ini. Sebutlah, misalnya, Plaza Indonesia, Senayan City, atau Mal Pondok Indah, maka kita tak akan menemukan manusia dari the have not. Kalaupun ada di sana, mereka menjelma dengan tampilan yang berbeda karena telah memoloes diri agar tampak serupa dengan kalangan the have.

“Itu bukan ruang kami. Belum pernah ke Mal Pondok Indah, apalagi ke Plaza apa tadi… Indonesia? Belum tahu di mana tempatnya,” kata Bu Mina (45), pembantu rumah tangga di Ciputat, Tangerang Selatan. Dia mengaku paling banter ke Ramayana di dekat Pasar Ciputat. Kenapa tidak pernah ke mal-mal mewah di sana? “Itu, mah, untuk orang kaya. Lagi pula untuk apa? Tak ada yang bisa dibeli,” ujar dia. Nah, mal pun jelas mengkotakkan kelas sosial, sebagaimana pasar tradisional yang identik dengan kumuh, jorok, dan tempat belanja untuk kalangan tak berpunya.

Sekarang mari kita turun ke jalanan. Di ruang publik ini, pemisahan kelas semakin kentara, mulai dari kelas pengguna sepeda motor, mobil pribadi – pun dengan berbagai kelas harga dan merek – hingga pengguna bus ataupun kereta. Sedikit anomali adalah munculnya B2W (bike to work), yang menarik kalangan berpunya untuk mengayuh sepeda ke kantor. Namun, kelas sosial tetap saja terlihat, misalnya dengan harga sepeda dan pernak-pernik pelaku B2W yang berbeda dengan penjual sayur bersepeda.

Transportasi umum yang semestinya menjadi ruang berinteraksi semua kelas sosial nyatanya justru menjadi ruang pembeda kelas. Kita mengenal kereta expres eksekutif, yang mengasumsikan penumpangnya para eksekutif dan para miskin silakan keluar. Selain itu ada juga kereta api ekonomi ber-AC (KRL Ciujung, misalnya). Penumpangnya taruhlah untuk kelas menengah. Terakhir kita mengenal kereta ekonomi atau yang biasa dikenal dengan kereta sayur. Sudah bisa diduga untuk siapa kereta ini diperuntukkan.

Padahal, di negara-negara lain, sebangsa Jerman dan Belanda, misalnya, hanya dikenal satu jenis kereta di kota, satu jenis bus kota atau trem, yang boleh dinaiki dan terjangkau harganya oleh semua kelas.

Di kota-kota kita, bahkan di dalam ruang-ruang yang sedari awal didesain untuk publik pun ternyata tak benar-benar bebas sekat. Tengoklah taman-taman kota yang tak terawat dan tak terjamin keamanannya. Adakah para kalangan berpunya mau berpesiar ke ruang terbuka kota seperti itu? Hampir-hampir warga kota Jakarta tak menemukan ruang terbuka tanpa bea masuk yang nyaman dan aman. Bahkan, beberapa taman kota identik dengan kelas sosial tertentu, misalnya Taman Lawang yang identik dengan transgender.

Sekarang, mari kita berpesiar ke rumah masa depan. Tempat kembalinya jasad kita di pemakaman umum. Bisa dibilang, inilah satu-satunya ruang kota yang masih memungkinkan berkumpulnya majikan dan buruh dalam satu area. Namun, sektarianisme mulai merambah ruang ini, misalnya, melalui munculnya pemakaman mewah semacam San Diego Hills.

Ruang Ideal

Konsep dasar ruang publik adalah ruang nirsekat. Di sini, publik bisa berinteraksi dan dengan bebas mengemukakan pendapat sehingga memungkinkan terjadinya transformasi sosial dalam proses yang demokratis.

Ruang publik ideal seperti ini pertama kali digagas oleh Jurgen Habermas, filosof dari Jerman. Dalam bukunya The Structural Transformation of the Public Sphere: an Inquiry into a Category of Bourgeois Society, juga dalam Civil Society and the Political Public Sphere, Habermas menyebutkan, ruang publik yang ideal adalah yang mampu menjadi jembatan interaksi antara penguasa dan masyarakat dari beragam kelas. Hanya melalui ruang publik inilahdapat terwujud masyarakat yang dewasa, bebas penindasan, dan mampu menanggulangi krisis.

Konsepsi Habermas ini muncul dari pengamatannya terhadap ruang publik di Inggris dan Perancis. Menurutnya, ruang publik di Inggris dan Perancis sudah tercipta sejak abad ke-18. Pada zaman tersebut di Inggris orang biasa dari berbagai kelas berkumpul untuk berdiskusi di warung-warung kopi. Mereka mendiskusikan segalanya, mulai dari soal seni hingga ekonomi dan politik. Sementara di Perancis, perdebatan-perdebatan seperti ini biasa terjadi di salon-salon.

Sejarah Eropa sejak lama memang menganal ruang publik, seperti Agora – ruang terbuka yang juga berfungsi sebagai pasar pada Yunani kuno – yang merupakan cikal bakal tradisi ruang publik. Atau juga Basilica dan Forum di zaman Romawi kuno, yang biasa digunakan untuk menyampaikan pendapat secara terbuka oleh publik.

Sebenarnya, tata kota kerajaan di Jawa pun mengenal ruang publik semacam ini melalui apa yang disebut alun-alun, yang selalu menjadi pusat orientasi atau titik nol dari sebuah kota. Namun, ruang seperti alun-alun ini semakin kehilangan fungsi dan kini tak lebih dari tempat berjualan pedagang kaki lima. Dengan demikian, banyak alun-alun warisan masa lampau di beberapa kota di Jawa yang diberi pagar pembatas disekelilingnya.

Dampak Sosial

Tiadanya ruang publik yang menjembatani pertemuan antarkelas sosial menyebabkan masyarakat tumbuh dalam dunia yang menyempit. Mereka hanya bersinggungan dengan dunia dari kelas berbeda melalui dunia maya, seperti melalui film atau tayangan televisi, atau paling banter melalui jendela kaca mobil saat menyaksikan anak-anak yang meminta-minta di lampu merah. Tentu saja, nuansa yang tertangkap akan sangat berbeda.

Namun, dunia layar kacaini pun tak lepas dari diskriminasi dan hegemoni cara pandang dari kelas berpunya, yaitu melihat kemiskinan sebagai sesuatu yang jorok , harus disikat habis, atau paling banter patut dikasihani. Tengoklah sinetron atau acara-acara televisi kita yang kebanyakan menampilkan kemiskinan dari perspektif itu.

Patut diduga, pelaku penggusuran terhadap kaum miskin kota adalah kolaborasi penguasa dan pengusaha, yang selama hidup mereka tak pernah bersinggungan secara manusiawi dengan kalangan miskin.

Mereka melihat kemiskinan dan kekumuhan hanya sebagai sesuatu yang patut dihilangkan, tetapi abai terhadap akar masalah kesenjangan, yaitu minimnya celah transformasi ekonomi dan sosial. Semua ini, bisa jadi, bermuara pada tiadanya ruang publik untuk berinteraksi secara manusiawi dengan sesamanya.

Sumber: Kompas, 1 Maret 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: