Oleh: MAULA | Maret 26, 2010

Terorisme dan Ideologi Fundamentalisme

Dua Tokoh Teroris Dunia

Dua Tokoh Teroris Dunia

OLEH: AHMAD HASAN MS

Jajaran Kepolisian Ne­gara Republik Indo­nesia (Polri) kembali meringkus jaringan teroris di Aceh.

De­ta­semen Khusus (Densus) 88 me­nembak mati dua tersangka teroris bernama Anceng Kurnia dan Ura Sudarma dan me­nangkap delapan teroris lainnya. Pelaku ditangkap di Desa Leupueng, Kecamatan Leu­pueng, Kabupaten Aceh Besar pada Jumat, 12 Maret. Pe­nang­kapan ini merupakan rang­kaian kerja tim Densus 88 setelah sebelumnya menangkap gembong teroris Dulmatin di Pamulang, Tangerang, Selasa, 9 Maret lalu.

Memori kolektif masyara­kat kembali bertanya-tanya mengapa jaringan teroris tak pernah habis. Apa yang menyebabkan mereka tak gentar dalam melakukan aksi terorisme? Bukankah terorisme bertentangan dengan ajaran agama mana pun? Pertanyaan bernada gugatan dan reflektif ini senantiasa mengendap dalam benak kita.

Seperti diketahui, jaringan terorisme di Indonesia berjalan secara sistematis dan massif. Jaringan ini diduga kuat memiliki kedekatan dengan Jamaah Islamiyah (JI) dan Al-Qaeda. Serentetan tragedi pengeboman disertai bunuh diri yang berlangsung di Indonesia mulai dari Bom Bali (12 Oktober 2002), Hotel JW Marriot, Ja­karta (5 Agustus 2003), bom di Kedubes Australia dan se­terusnya, membuktikan mereka cukup rapih, cerdas, canggih, dan lihai dalam melancarkan aksinya.

Mulai dari strategi perekrutan anggota, pelatihan dan pengkaderan, penggalangan dana hingga aksi lapangan, semua direncanakan secara rinci dan terstruktur. Pola kepemimpinan organisasi tidak me­ngandalkan satu orang, akan tetapi dibentuk tim se­hingga semua saling berperan. Akan tetapi, mereka berjalan secara kolektif. Modal kekompakan itulah yang membuat gerakan mereka sulit ditumpas. Pihak kepolisian sering kali dibuat repot dan kalang kabut. Mereka ibarat ikan belut yang sulit ditangkap dan dijebak.

Meski telah ditangkap dan dibunuh, pelbagai gembong teroris seperti Dr Azahari, Noordin M Top, Am Rozi, Imam Samudra, Dulmatin dan tokoh teroris lainnya, kenyataanya masih saja ancaman selalu muncul. Mereka pandai me­lakukan pengkaderan. Ibarat peribahasa, “hilang satu tumbuh seribu.” Ini dibuktikan de­ngan masifnya kelompok tersebut dalam melatih dan me­rekrut orang-orang muda di daerah Provinsi Aceh. Bahkan, Aceh diproyeksikan sebagai tempat persembunyian, pelatihan, dan pertemuan teroris untuk tingkat Asia Tenggara.

Aceh dipandang sebagai daerah yang aman dan efektif. Terlebih, Aceh merupakan dae­rah bekas konflik yang mayoritas beragama Islam. Aceh cu­kup kondusif, khususnya pas­ca­penandatangana n nota kese­pahaman (Memo­ran­dum of Understanding/ MoU) Helsinki. Akam tetapi, tentu kita patut bersyukur bahwa jajaran kepolisian berhasil mengendus gerombolan tersebut. Dengan begitu, sedikit banyak itu bisa melumpuhkan dan memutus mata rantai gerakan terorisme.
Apa yang dilakukan aparat kepolisian beberapa hari yang lalu di Aceh, dengan menembak mati dua teroris Anceng Kurnia dan Ura Sudarma dan penangkapan delapan pelaku terorisme, kiranya sedikit melegakan dada. Akan tetapi, tentu kita masih bertanya-tanya, apakah dengan ditangkapnya para pelaku ini lantas gerakan terorisme akan lenyap, sekaligus menjamin keberlang­sungan keamanan RI di masa-masa mendatang?
Pertanyaan tersebut tentu tidak bisa dijawab dengan mudah. Dibutuhkan sebuah kajian dan penelitian mendalam. Ahmad Syafi’i Ma’arif (2008) menyatakan, gerakan terorisme tidak bisa ditumpas begitu saja tanpa dicari akar ma­salahnya.
Bagi Syafi’i Ma’arif, gerakan terorisme yang dideng­ung­kan oleh ke­lompok JI tidak lepas dari ideologi fundamentalisme yang cenderung radikal dan bercita-cita mendirikan negara Islam.
Mereka tidak puas dengan sistem demokrasi saat ini yang dinilai sekuler dan liberal. Mereka membenci “antek-antek” AS, yakni Indonesia, yang dinilai telah masuk lembah kapitalisme dan libera­lisme.
Pemerintah Harus
Evaluasi Diri
Martin E Marty dan R Scott Aplleby (1991) dalam Fun­damentalism Observed yang di­kutip Karen Amstrong, me­nyatakan bahwa fundamentalisme merupakan ideologi yang teguh dalam prinsip, termasuk ajaran agama, mengaku paling benar dan tidak bisa dikritik (uncriticable) . Ideologi ini memiliki pola-pola tertentu sebagai mekanisme pertahanan yang muncul sebagai reaksi atas krisis yang mengancam. (Karen Amstrong, Berperang Demi Tuhan; Fundamentalisme dalam Islam Kristen dan Yahudi, Serambi, 2001).
Rumadi dalam bukunya, Renungan Santri, dari Jihad Hingga Kritik Wacana Agama (Erlangga, 2007), menyebutkan bahwa kemunculan fundamentalisme diakibatkan pelbagai faktor yang saling berhubu­ngan erat. Pertama, kekecewaan terhadap sistem de­mokrasi yang dinilai sekuler. Ajaran de­mokrasi yang me­nempatkan suara rakyat suara Tuhan (Vox Vopuli Vox Dei) dianggap telah mensubordinasi Tuhan. Mes­kipun kelompok fundamentalis radikal, termasuk JI dan ka­wan-kawannya, kecewa terha­dap sistem de­mok­rasi, namun mereka me­manfaatkan mo­men­tum de­mokrasi itu sebagai sarana memperjuang­kan aspirasi politiknya.

Kedua, kekecewaan terha­dap kebobrokan sistem sosial yang disebabkan ketidakberdayaan negara untuk mengatur kehidupan masyarakat secara religius. Demokrasi yang di­anut Indonesia dinilai cende­rung sekuler dan mengabaikan prinsip-prinsip agama. De­mok­rasi hanya membiarkan ber­kembangnya kemaksiatan dan kemudaratan.

Ketiga, ketidakadilan politik. Fundamentalisme radikal muncul sebagai ekspresi perlawanan terhadap sistem politik yang menindas dan tidak adil. Bagi kelompok JI, termasuk para teoris, sistem de­mokrasi menyebabkan rakyat Indonesia jatuh dalam jurang kemiskinan dan ketidakadilan sosial. Demokrasi hanya me­nindas orang-orang kecil yang papa, tak berdaya, dan termarginalkan. Kesejah­teraan hanya dimiliki elite politik dan pe­nguasa yang ber­kongkalikong dengan pengusaha. Rakyat hanya diperas dan ditindas.

Fundamentalisme merupakan sebuah tantangan bagi bangsa Indonesia. Gerakan terorisme berbasis fundamentalisme ini tidak bisa dilenyapkan begitu saja. Kepolisian atau Tim Densus 88 bisa saja menangkap dan menyisir pelaku terror, akan tetapi akar masalah tersebut tetap menjadi pekerjaan rumah (PR) yang wajib diselesaikan bersama.
Itulah sebabnya, fundamentalisme harus diputus. Pendekatan inklusivis, kema­nusiaan, dan paham multikulturalisme layak disemaikan. Pemerintah juga harus bereva­luasi untuk berpihak pada civil society yang berkeadilan dan berkeadaban.

Penulis adalah peneliti pada Lakpesdam NU DIY.

Sumber: http://www.sinarhar apan.co.id/ cetak-sinar/ berita/read/ terorisme- dan-ideologi- fundamentalisme/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: