Oleh: MAULA | April 6, 2010

Solidaritas Melawan Kemiskinan

Apakah kemiskinan adalah dosa sejarah?

Apakah kemiskinan adalah dosa sejarah?

Oleh Benny Susetyo Pr.

KEMISKINAN merupakan fakta yang lumrah terjadi di dunia ini. Namun, kemiskinan menjadi masalah serius ketika ia terjadi bukan karena sebab yang lumrah. Hal itulah yang menjadi masalah serius di negeri ini sejak kemerdekaan dan lebih parah sepanjang masa Orde Baru hingga kita rasakan sampai masa kini.

Masalah Struktural

Kemiskinan di negeri ini umumnya terjadi karena sebab-sebab struktural. Kemiskinan terjadi karena kesalahan kebijakan kita dalam mengelola sumber daya alam. Juga, karena ada orang lain yang lebih kaya, yang berjumlah sedikit, yang mengeruk manfaat dari kemiskinan itu.

Kemiskinan sampai saat ini memang terus-menerus menjadi masalah berkepanjangan. Kemiskinan tidak hanya bermula dari masalah krisis ekonomi semata. Tapi, sejak dulu bangsa ini didera penderitaan kemiskinan yang begitu parah hingga deritanya seolah tak terasakan lagi.

Tidak kunjung membaiknya perekonomian Indonesia di tengah-tengah negara-negara lain yang sudah bangkit sejak krisis ekonomi 10 tahun lalu membuktikan bahwa akar penyebab kemiskinan di Indonesia sangatlah kompleks.

Terutama, masalah struktural yang dimulai dari cara pandang bangsa ini dalam mengelola sumber daya alamnya hingga kebijakan-kebijakan yang tidak pro-orang miskin merupakan serentetan masalah struktural yang terkadang sering diabaikan sebagai penyebab utama kemiskinan. Bangsa ini lebih banyak menilai orang miskin karena bodoh dan malas. Kenyataannya, sulit dicerna dengan akal sehat, di tengah keberlimpahan sumber daya ekonomi, jumlah orang miskin terus bertambah dari waktu ke waktu.

Di tengah-tengah laporan tentang penanggulangan kemiskinan yang dikabarkan semakin menurun, rasanya kita tidak bisa memercayai begitu saja. Begitu banyak bukti yang menunjukkan bahwa derajat kualitas dan kuantitas kemiskinan di negeri ini semakin meningkat. Tragisnya, kemiskinan kerap dipolitisasi hanya untuk kepentingan- kepentingan tertentu.

Perkembangan perekonomian masyarakat berjalan sangat lambat di satu sisi dan justru diperparah peningkatan kualitas korupsi di tingkat elite yang semakin membabi-buta. Kesenjangan ekonomi antara si kaya dengan si miskin tidak sulit dipahami dengan mata telanjang, terutama ketika kaum elite berebut kue pembangunan dan kaum miskin semata-mata tetap menjadi objek pembangunan.

Solidaritas Baru

Fakta yang dikemukakan tersebut menjadi sumber perenungan kita semua dalam Paskah kita kali ini. Dalam Paskah kali ini, kita diajak merenungkan peran kita dalam mengatasi masalah yang sangat rumit tersebut.

Sebagai warga negara sekaligus umat beragama, kita mengalami Paskah di tengah situasi bangsa yang kurang menguntungkan dan di tengah ketidakpastian akan segala hal yang menyelimuti negeri ini.

Di tengah kecamuk ketidakpastian tersebut, negeri ini telah kehilangan rasa untuk menganggap lainnya sebagai saudara. Persaudaraan telah memudar karena ulah dan perilaku elite politik yang sering bekerja demi kepentingan diri sendiri dan tentu kepentingan uang semata-mata.

Ketika uang menjadi semacam ”dewa” bagi bangsa ini, kita semakin pesimistis tak mampu lagi mengangkat bangsa ini untuk memiliki kebesaran dan memperjuangkan peradaban. Perabadan politik telah digantikan oleh kekuatan uang yang luar biasa. Ia menentukan segala hal, bahkan mulai moralitas hingga harga diri.

Ia begitu dominan dalam menyelesaikan setiap persoalan. Uang juga menjadi penentu gegap gempitanya percaturan politik di negeri ini. Lalu, orang pun bertanya, di manakah kedaulatan rakyat? Sebagian di antara kita dengan sedih menyatakan daulat rakyat telah digantikan daulat uang. Itulah awal mula kematian bangsa ini ketika logika akal sehat sudah tidak lagi menjadi ukuran.

Karena itu, dalam Paskah ini kita bertanya, masih adakah harapan untuk melakukan perubahan? Perubahan seperti apa yang dikehendaki elite-elite bangsa ini? Dalam Paskah ini, kita bersedih karena sebagian (besar) elite bangsa kita telah gelap mata. Hal itu mengakibatkan mata hati kemanusiaan terlindas oleh naluri mencari kepuasan dan kekuasaan semata. Kita merasakan hari demi hari negeri ini tak memiliki tuan. Sebab, tuannya adalah uang.

Anak negeri kini telah mengalami kelumpuhan mata hati karena pendidikan yang menempatkan uang sebagai satu-satunya pemecah masalah. Realitas penderitan yang kini dialami anak negeri ini sering kita pertanyakan apakah memang sebagai bagian dari nasib dan takdir yang tak terelakkan?

Apakah itu merupakan bagian dari kutukan karena sebagian (besar) pemimpinnya lebih menyukai menjadi pembohong, pembual, penipu, dan pemfitnah? Mengapa negeri ini selalu dirundung nestapa serta penderitaan?

Benarlah apa yang dikatakan Pengkhotbah (5:16) ”Telah mengeluh bahwa manusia sepanjang umurnya berada dalam kegelapan dan kesedihan, mengalami banyak kesusahan, penderitan, dan kekesalan.” Yang dikatakan Pengkhotbah itu merupakan cermin penderitan bangsa ini yang tak pernah putus dirundung penderitaan.

Penderitaan bangsa ini semata-mata bukan disebabkan kesalahan sendiri. Bangsa ini menderita lantaran para pemimpinnya tidak menggunakan mata hatinya dalam menjalankan amanat. Para pemimpin hanya mengejar hal yang populer yang semata-mata berorientasi untuk kepentingan dirinya.

Dalam Paskah kali ini, kita diajak menyalakan lilin kehidupan yang mampu menerangi mata hati kembali ke dalam rasa kemanusiaan yang otentik. Kemanusiaan itulah yang harus dikembalikan ke dalam jati diri manusia Indonesia. Penemuan kembali jati diri kemanusiaan hanya bisa terjadi bila kembali pada Sang Kebenaran Abadi. Dan itulah Paskah yang sejati.

Marilah kita mengingat kisah murid Emaus (Luk 24:13-35). Para murid baru sadar bahwa Tuhan beserta mereka ketika Dia menampakkan di hadapan mereka. Kesadaran Tuhan beserta kita harus menjadi kesadaran bangsa ini. Bahwa Tuhan tidak tidur, Gusti ora sare. Dia ada di dalam relung hati setiap orang yang memperjuangkan nilai kemanusiaan, kelembutan, serta ketulusan hati. (*)

*). Benny Susetyo Pr., sekretaris eksekutif Komisi Hubungan Antarumat Beragama Konferensi Wali Gereja Indonesia

Sumber: Milis

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: