Oleh: MAULA | April 6, 2010

Tinjauan Kritis atas Penggunaan Istilah “Konflik” dalam Kasus Invasi Israel ke Tanah Palestina

Dunia kembali meradang melihat kelakuan agresor zionis Israel yang kembali mengobarkan perang dengan Palestina, setelah sebelumnya menyerang dan dikalahkan oleh Hisbullah di Lebanon. Ibarat cerita David melawan Goliath, Israel dengan segala peralatan tempur mutakhir dan tentara yang terlatih dengan baik melawan kelompok perlawanan Hamas dijalur gaza. Dengan hanya bermodalkan senjata & roket seadanya, tetapi disertai dengan semangat juang yang menggelora.

Meskipun dinyatakan oleh barat sebagai “teroris”, ditimpakan hukuman dan isolasi kolektif dalam beberapa waktu belakangan ini kepada Hamas dan rakyat Gaza, akibat penyaluran aspirasi secara demokratis yaitu memenangkan organisasi Hamas dalam Pemilu Palestina. Hukuman serta isolasi kolektif yang dijatuhkan oleh AS dan sekutunya (yang secara sepihak mengatasnamakan masyarakat dunia) terhadap Hamas serta rakyat Palestina di jalur Gaza, menjadikannya serba kesulitan. Tetapi rakyat Palestina sudah “kadung” kebal terhadap segala bentuk fitnah dan cobaan yang ditimpakan kepada mereka tersebut. Hal tersebut tidak menyurutkan semangat mereka untuk tetap berjuang, merebut hak dan martabat mereka sebagai pemilik sah seluruh tanah Palestina yang diserobot oleh bangsa israel.

Pembiasaan terhadap penggunaan istilah “Konflik” dalam kasus Palestina-Israel Apakah yang terjadi di Palestina memang suatu konflik ? Harus ditelaah dulu pengertian secara lebih jauh apa yang dimaksud dengan konflik itu sendiri. Definisi konflik adalah : konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul.

Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. (Wikipedia) Faktor penyebab & jenis konflik Melalui Wikipedia juga disebutkan bahwa faktor penyebab konflik adalah sebagai berikut :

(1) Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.;

(2) perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda ;

(3) perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok ;

(4) perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat. Menurut Dahrendorf, konflik dibedakan menjadi 4 macam : – konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi), misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga atau profesi (konflik peran (role)) – konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga, antar geng). – konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa). – konflik antar satuan nasional (kampanye, perang saudara) – konflik antar atau intra agama – konflik antar politik.

Maka, jika dilihat secara definisi, konflik memang bisa dikatakan bahwa kasus Palestina-Israel dapat dikatakan konflik. Karena terdapat salah satu pihak berusaha menyingkirkan & menghancurkan pihak lain. Tetapi bila dilihat dari faktor penyebab dan jenis konflik, tidak ada satu hal pun yang bisa dikatakan bahwa kasus Palestina-Israel ini adalah sebagai suatu konflik. Jadi sekali lagi perlu digarisbawahi bahwa kasus kekerasan yang terjadi antara Palestina dan Israel adalah bukan merupakan ”konflik”. Lalu istilah apa yang cocok digunakan ? ”Imperialisme”, adalah istilah yang cocok digunakan dalam kasus ini.

Untuk itu perlu ditelaah lebih lanjut pengertian dari istilah tersebut. – Asal mula kata/istilah imperialisme Imperialisme berasal dari kata Latin “imperare” yang artinya “memerintah”. Hak untuk memerintah (imperare) disebut “imperium”. Orang yang diberi hak itu (diberi imperium) disebut “imperator”. Yang lazimnya diberi imperium itu ialah raja, dan karena itu lambat-laun raja disebut imperator dan kerajaannya (ialah daerah dimana imperiumnya berlaku) disebut imperium. Pada zaman dahulu kebesaran seorang raja diukur menurut luas daerahnya, maka raja suatu negara ingin selalu memperluas kerajaannya dengan merebut negara-negara lain. Tindakan raja inilah yang disebut imperialisme oleh orang-orang sekarang, dan kemudian ditambah dengan pengertian-pengertian lain hingga perkataan imperialisme mendapat arti-kata yang kita kenal sekarang ini. – Arti kata imperialisme Imperialisme ialah politik untuk menguasai (dengan paksaan) seluruh dunia untuk kepentingan diri sendiri yang dibentuk sebagai imperiumnya.

“Menguasai” disini tidak perlu berarti merebut dengan kekuatan senjata, tetapi dapat dijalankan dengan kekuatan ekonomi, kultur, agama dan ideologi, asal saja dengan paksaan. Imperium disini tidak perlu berarti suatu gabungan dari jajahan-jajahan, tetapi dapat berupa daerah-daerah pengaruh, asal saja untuk kepentingan diri sendiri. Apakah beda antara imperialisme dan kolonialisme ? Imperialisme ialah politik yang dijalankan mengenai seluruh imperium. Kolonialisme ialah politik yang dijalankan mengenai suatu koloni, sesuatu bagian dari imperium jika imperium itu merupakan gabungan jajahan-jajahan.

Jenis–jenis Imperialisme

Jika mendasarkan pendangan kita pada sektor apa yang ingin direbut si imperialis, maka kita akan mendapatkan pembagian macam imperialisme yang lain, yaitu:

• Imperialisme politik.

Si imperialis hendak mengusai segala-galanya dari suatu negara lain. Negara yang direbutnya itu merupakan jajahan dalam arti yang sesungguhnya. Bentuk imperialisme politik ini tidak umum ditemui di zaman modern karena pada zaman modern oaham nasionalisme sudah berkembang. Imperialisme politik ini biasanya bersembunyi dalam bentuk protectorate dan mandate.

• Imperialisme Ekonomi.

Si imperialis hendak menguasai hanya ekonominya saja dari suatu negara lain. Jika sesuatu negara tidak mungkin dapat dikuasai dengan jalan imperialisme politik, maka negara itu masih dapat dikuasai juga jika ekonomi negara itu dapat dikuasai si imperialis. Imperialisme ekonomi inilah yang sekarang sangat disukai oleh negara-negara imperialis untuk menggantikan imperialisme politik.

• Imperialisme Kebudayaan.

Si imperialis hendak menguasai jiwa (de geest, the mind) dari suatu negara lain. Dalam kebudayaan terletak jiwa dari suatu bangsa. Jika kebudayaannya dapat diubah, berubahlah jiwa dari bangsa itu. Si imperialis hendak melenyapkan kebudayaan dari suatu bangsa dan menggantikannya dengan kebudayaan si imperialis, hingga jiwa bangsa jajahan itu menjadi sama atau menjadi satu dengan jiwa si penjajah. Menguasai jiwa suatu bangsa berarti mengusai segala-galanya dari bangsa itu. Imperialisme kebudayaan ini adalah imperialisme yang sangat berbahaya, karena masuknya gampang, tidak terasa oleh yang akan dijajah dan jika berhasil sukar sekali bangsa yang dijajah dapat membebaskan diri kembali, bahkan mungkin tidak sanggup lagi membebaskan diri.

• Imperialisme Militer (Military Imperialism).

Si imperialis hendak menguasai kedudukan militer dari suatu negara. Ini dijalankan untuk menjamin keselamatan si imperialis untuk kepentingan agresif atau ekonomi. Tidak perlu seluruh negara diduduki sebagai jajahan, cukup jika tempat-tempat yang strategis dari suatu negara berarti menguasai pula seluruh negara dengan ancaman militer.

Jika dianalisa lebih lanjut, Istilah imperialisme lebih cocok jika digunakan dalam kasus Palestina-Israel. Jenis-jenis imperialisme yang dipaparkan sudah praktekan oleh Israel sebagai negara imperialis.

– Secara politis (dan geografis), Wilayah Palestina terbelah menjadi 2 wilayah (mungkin lebih cocok disebut ”settlemen” seperti apa yang diucapkan oleh Gus Dur dalam suatu wawancara yang ditayangkan oleh salah satu televisi swasta nasional), terbelah oleh wilayah ”negara Israel”. Sebelum perang Arab-Israel, bangsa Israel adalah stateless, tidak mempunyai wilayah, tidak mempunyai pemerintahan sah dan masih merupakan kantong-kantong yahudi yang tersebar di beberapa belahan benua Eropa. Tetapi atas dukungan Inggris, seluruh warga yahudi di kantong-kantong tersebut dipindahkan ke wilayah Palestina yang pada saat itu masih berada di bawah jajahan Inggris, dan mencaplok secara perlahan-lahan wilayah tersebut dari tangan rakyat Palestina hingga seperti pembagian wilayah seperti saat ini (akibat perjanjian Oslo yang ditandatangani oleh Pemimpin PLO, Yasser Arafat), kemudian Israel ”dipaksakan” untuk menjadi suatu negara. Pembagian wilayah yang tidak seimbang ini, merupakan ”great loss” bagi rakyat Palestina. Mengapa tidak, pembagian wilayah yang disepakati, pengelolaan sumber daya alam yang ada (seperti air contohnya), hingga saat ini mutlak dikuasai oleh Israel. Jika ditelaah lebih jauh, terlihat seperti penjara. Hanya bedanya ”penjara Palestina” ini daerahnya sangat luas untuk ukuran sebuah penjara.

– Dari sisi imperialisme ekonomi, kita ambil contoh saja di Jalur Gaza. Di wilayah ini selain berbatasan dengan Israel juga berbatasan dengan Mesir. Wajar apabila akan sangat sulit memasuki Israel dengan berlapis-lapisnya pintu penjagaan perbatasan Palestina-Israel, yang disertai dengan penjagaan ekstra ketat. Harapan lainnya adalah pintu perlintasan perbatasan Palestina-Mesir di Rafah. Melalui lobi tingkat tinggi antara Mesir dengan Israel, Pintu Rafah juga ditutup bagi lalu lintas barang dan jasa untuk menggerakan roda perekonomian rakyat Palestina. Praktis roda perekonomian sangat sulit berputar diakibatkan oleh kondisi yang serba terjepit ini.

– Imperialisme kebudayaan, akibat situasi kekerasan yang sudah terlalu lama berlangsung, sehingga kekerasan menjadi salah satu menjadi suatu aspek negatif yang mempengaruhi budaya masyarakat Palestina. Bagaimana tidak, desingan peluru, dentuman bom & bahan peledak sepertinya menjadi sarapan pagi. Tetapi mengenai intervensi budaya Israel, sepertinya agak sulit membaur dengan budaya sekitar, karena masyarakat Palestina cenderung kuat untuk mempertahankan budaya mereka sendiri.

– Mengenai imperialisme militer sepertinya sudah tidak perlu disangsikan lagi, jelas wilayah Palestina telah diduduki dan dijajah oleh Israel hingga saat ini dengan penuh kekejaman. Dengan berbagai pembenaran agresi militer yang sengaja dilegalkan oleh negara-negara barat, dengan dalih “membela diri”, yang pada akhirnya untuk melemahkan kekuatan pejuang Palestina sehingga Israel dapat leluasa melakukan pengusiran massal rakyat Palestina yang tinggal sejengkal lagi.

Peranan media massa dalam pemberitaan “konflik” Palestina-Israel.

We Will Not Go Down

We Will Not Go Down

Seperti banyak diketahui, media massa baik cetak maupun elektronik saat ini secara mayoritas dikuasai oleh kaum yahudi. Tentu saja media massa tersebut digunakan sebagai corong untuk memutarbalikkan fakta . Atau untuk lebih “menghaluskan” berita yang sesungguhnya terjadi. Penggunaan istilah “konflik” juga merupakan hasil dari pemutarbalikkan fakta tersebut, yang sesungguhnya di lapangan (Palestina), hal ini merupakan suatu bentuk penjajahan (imperialisme) yang “masih ada di jaman “demokrasi” masa kini. Pemberitaan yang ada cenderung berat sebelah, dan terkadang menempatkan Israel sebagai pihak korban. Sedangkan rakyat Palestina yang banyak menjadi korban (terutama kaum ibu dan anak-anak) sepertinya sudah menjadi biasa dan tidak berharga sama sekali.

Seperti biasa diberitakan, warga Israel menjadi korban serangan roket pejuang Hamas, tetapi apakah disebutkan juga oleh media massa bahwa semua warga Israel yang sudah dewasa merupakan kombatan dan masuk dalam pasukan cadangan IDF (Israeli Defensive Force). Hal inilah yang membuat pemberitaan menjadi rancu, karena segala sesuatu tidak diuraikan apa adanya dan cover both side. Hal ini dapat terlihat di beberapa stasiun televisi swasta nasional yang tersirat secara halus membenarkan penyerangan zionis Israel ke Gaza.

Jika tidak percaya, silahkan buktikan. Menyoal Palestina pasti media kebanyakan akan menyebutkan konflik, bukan penjajahan. Karena hal ini sudah di stereotipe-kan sejak dulu oleh media massa nasional dan internasional, dan sukses. Kemudian perhatikan lebih dalam lagi, jika dalam pemberitaan media televisi, aksi invasi Zionis Israel hampir selalu disebutkan merupakan aksi balasan terhadap aksi serangan roket pejuang Palestina. Yang perlu ditekankan disini adalah, dimana ada penjajahan, disitu pasti ada perlawanan. Dan yang terpenting adalah, bagaimana menggiring opini publik untuk menjadikan sesuatu yang salah menjadi sesuatu yang benar, dengan melakukan pemanipulasian bahasa, terutama oleh para penguasa media.

Jadi hal ini menimbulkan kesadaran, bahwa imperialisme pers terkadang lebih merusak dibandingkan imperialisme secara fisik. Maka anggapan, “jika ingin menguasai dunia, maka kuasailah minyak”, tidak relevan lagi. Tetapi yang releven sekarang,” jika ingin menguasai dunia, kuasailah media”.

Demo Anti Invasi Israel di Negara Barat

Demo Anti Invasi Israel di Negara Barat

Sumber: http://alelee.dagdigdug.com/2009/01/12/tinjauan-kritis-penggunaan-istilah-%E2%80%9Ckonflik%E2%80%9D-dalam-kasus-invasi-zionis-israel-ke-jalur-gaza/

Iklan

Responses

  1. mmg kebanyakan media tdk mengulas masalah ini secara jujur dan imbang. seolah2 perang ini karena hamas yg tdk mau damai, hamas mengorbankan rakyat palestina demi kepentingan mereka. padahal tidak sesimple itu. hamas bersama rakyat palestina hanya memperjuangkan hak dan harga diri mereka. yg sdh lama tercabik oleh keserakahan israel.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: