Oleh: MAULA | April 10, 2010

Gerilya Pemburu TKI ABG

Tak kurang dari 2,7 juta tenaga kerja Indonesia (TKI) setiap tahun mengadu nasib dengan hijrah ke negeri orang. Para TKI itulah yang menjadi penyumbang devisa negara, hingga Rp 180 triliun per tahun. Jumlah yang tidak sedikit untuk menguntungkan negara. Namun, apakah sebanding dengan nestapa yang didapatkan sebagian buruh migran Mengingat, TKI identik dengan penderitaan.

Penganiayaan yang mengakibatkan cacat fisik dan mental hingga meninggal dunia kerap dialami para TKI. Seperti yang dialami Nurhasanah. Selama tujuh tahun tenaga kerja wanita asal Brebes, Jawa Tengah ini disiksa majikannya di Riyadh, Arab Saudi. Hingga tangan, punggung, dan kepalanya penuh luka. Nasib tak jauh berbeda dialami Sutilah asal Demak, Jawa Tengah. Bukan hanya siksaan dan upah yang tidak dibayarkan, ia juga dibuang di jalan oleh sang majikan.

Dibutuhkan lembaga yang serius melindungi TKI

Dibutuhkan lembaga yang serius melindungi TKI

Nasib lebih tragis menimpa Halimah, seorang tenaga kerja wanita asal Cianjur, Jawa Barat. Ia lama terlunta-lunta di bawah jembatan layang di Jeddah, Arab Saudi, karena tidak mendapatkan perawatan dokter akibat penyakit paru-paru. Halimah sempat mengemukakan keinginan terakhirnya untuk pulang ke Indonesia, namun ajal lebih cepat menjemputnya sebelum sempat bertemu keluarga.

Cerita memilukan nasib para TKI ternyata sudah dimulai di penampungan pengerah jasa TKI atau PJTKI. Seperti yang ditemukan di penampungan milik PT Mitra Makmur Jaya Abadi, yang pada Mei lalu janji memberangkatkan para TKI ke luar negeri. Para calon TKW ini malah disekap dengan perlakuan tidak manusiawi di tempat penampungan.

Di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, tim Sigi menemukan kenyataan bahwa banyak para TKI di bawah umur, alias masih anak-anak. Kemiskinan memaksa mereka menjadi mesin penghasil uang. Desa-desa miskin adalah tempat di mana para calo TKI ilegal berburu mangsa. Iming-iming hidup layak di negeri orang membuat remaja-remaja lugu mudah terpedaya. Berbekal dokumen palsu, buruh-buruh migran itupun mengadu peruntungan.

Kisah pilu dialami Titin, wanita paruh baya warga Desa Pamekaran, Karawang. Anak gadisnya, Unarsih, hilang tanpa kabar setelah sang anak berangkat ke Arab Saudi lima tahun silam. Saat itu usia Unarsih baru 12 tahun. Titin tertipu seorang kenalan yang mengaku hendak menyekolahkan Unarsih ke Arab Saudi. Tapi, sang anak justru dipekerjakan sebagai tenaga kerja ilegal. Berbagai upaya sudah dilakukannya, namun pencariannya tak membuahkan hasil. Sampai saat ini ia hanya bisa menanti.

Sementara calo TKI yang ditemui tim Sigi membantah keras tudingan memperdaya Titin dan keluarganya. Ia mengaku, sejak awal dimintai bantuan untuk mencarikan kerja di luar negeri.

Penelusuran tim Sigi mendapati banyak calo TKI yang biasa disebut “sponsor”, masih bebas berkeliaran. Jawa Barat dikenal sebagai sentra pemasok TKI, terutama ke negara-negara Timur Tengah, Malaysia, Hongkong, dan Singapura. Calo atau Sponsor TKI berburu ke kampung-kampung, mencari calon tenaga kerja. Pemburu tenaga kerja inilah yang menjadi ujung tombak bisnis ekspor manusia itu.

Para calo bekerja dengan jalan keliling kampung, dari pintu ke pintu mendatangi mangsa. Target utamanya adalah anak-anak dan wanita. Maklum, di luar negeri, permintaan tenaga kerja di sektor informal lebih banyak didominasi pekerja anak dan wanita. Mereka menarik warga desa dengan kisah-kisah sukses pahlawan devisa, ketika mangsa sudah terpikat, promosi makin gencar dilancarkan.

Para calo rela merogoh kocek pribadi untuk memberangkatkan TKI, sebesar dua hingga lima juta rupiah per orang. Ini lantaran tingginya permintaan buruh migran di luar negeri. Nantinya, seluruh biaya tersebut diganti oleh agen dan PJTKI. Imbalan bagi para calo ini bervariasi. Untuk pemula, upah biasanya berkisar Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta setiap merekrut orang.

Bagaimana dengan masalah dokumen Calo menyediakan jasa urus-mengurus surat identitas palsu. Mulai dari kartu keluarga hingga kartu tanda penduduk. Kartu identitas palsu mudah dikantongi, tentunya dengan memanipulasi usia calon TKI. Dan pastinya dengan uang pelicin. Tak banyak, hanya Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu, aparat pun bisa diajak bermain mata.

Sindikat pemalsu dokumen TKI menjamur di mana-mana. Tak jarang, pemalsuan dokumen dilakukan lintas daerah. Kurangnya koordinasi antarinstitusi terkait membuat pengawasan dan penanganan tenaga kerja tidak maksimal. Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI) menilai ujung pangkal permasalahan TKI terletak pada buruknya pendataan penduduk. Selama belum diberlakukan kepemilikan kartu identitas tunggal, manipulasi identitas tki mudah dilakukan. Bisa jadi jumlah TKI ilegal akan terus bertambah.

Contohnya Rika, bocah berusia 14 tahun yang tekadnya sudah bulat untuk menjadi TKI. Ia ingin mengadu nasib di Negeri Petro Dolar, Arab Saudi. Meski belum cukup umur, Rika terpikat iming-iming hidup mapan di negeri seberang. Gambaran yang diembuskan calo TKI di kampungnya. Dengan menyetor uang muka Rp 1 juta, Rika dijanjikan berangkat ke luar negeri. Namun, baru saja mimpinya kandas. Soalnya, PJTKI tempatnya bernaung digerebek polisi.

Sampai saat ini, Indonesia masih menjadi salah satu negara pemasok tenaga kerja terbesar di dunia. Tahun lalu saja, 2,7 juta TKI diberangkatkan ke luar negeri. Dengan tujuan negara favorit adalah Malaysia, 1,2 juta TKI hijrah ke Negeri Jiran. Disusul Arab Saudi, yang menyedot 927 ribu TKI. Kemudian Taiwan mencapai 130 ribu TKI dan Hongkong sekitar 120 ribu orang.

Sayang, banyaknya buruh migran di luar negeri tak dibarengi perlindungan hukum yang memadai. Bukannya mendapat upah, malah kekerasan dan pelecehan seksual kerap didapat. Kasus seperti ini, paling banyak menimpa TKI di Timur Tengah dan Malaysia. Hukum indonesia juga tak bisa menjangkau.

Kondisi ini jelas memprihatinkan. Di satu sisi, TKI dianggap sebagai pahlawan devisa. Namun, sisi berbeda, perlindungan terhadap para pahlawan devisa itu jauh dari layak. Pemerintah dikritik hanya pintar menempatkan TKI, tapi gagal dalam hal perlindungan.

Sumber: http://id.news.yahoo.com/lptn/20100407/tpl-gerilya-pemburu-tki-abg-b03a71c.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: