Oleh: MAULA | April 18, 2010

Kasus Priok dan Politik Wahabi; Perspektif yang Berbeda

Para santri yang siap mencegah penggusuran makam Mbah Priok

Para santri yang siap mencegah penggusuran makam Mbah Priok

Habib Hasan bin Muhammad al Haddad alias Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A, atau yang biasa disebut oleh masyarakat dengan sebutan mBah Priok adalah tokoh penyebar agama Islam yang melegenda, dimana bahkan namanya dijadikan cikal bakal nama kawasan Tanjung Priok.

Tokoh yang dilahirkan di Ulu, Palembang Sumatera Selatan, pada tahun 1722 ini pergi ke tanah Jawa pada tahun 1756. Sebelumnya, ia sempat memperdalam ilmu agama Islam ke Hadramaut, Yaman Selatan.

Komplek makamnya yang juga didirikan masjid ini sampai saat ini masih digunakan untuk mengadakan majelis taklim dimana para jamaahnya memperdalam ilmu agama Islam.

Makam mBah Priok atau ada juga yang menyebutnya dengan nama komplek Gubah Al-Hadad ini pada hari kemarin dicoba digusur oleh pemerintah.

Cerita tentang penggusuran makam ini mungkin bagi sebagian kalangan mengingatkan kembali kepada sejarah berdirinya dinasti Saud yang menganut faham ideologi Wahabiyah.

Pada awal sejarah berdirinya dinasti ini dikenal sebagai awal dari sejarah penggusuran dan penghancuran situs-situs bersejarah umat Islam di Saudi Arabia.

Kubah-kubah di atas makam para keluarga Rasulullah SAW dan para sahabatnya yang berada di Ma’la (Mekkah) serta di Baqi’ dan Uhud (Madinah) diratakan dengan tanah.

Termasuk dan tak terkecuali rumah tempat kelahirannya Baginda Rasulullah SAW yang telah dirubuhkan kemudian diganti peruntukannya menjadi tempat kandang onta.

Hanya karena desakan kalangan Islam dunia, maka tempat kelahiran Baginda Rasulullah SAW yang sudah dirubah menjadi kandang onta itu dirubah lagi menjadi perpustakaan.

Rumah tempat kediaman Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW yang berada di Mekkah pun juga sama nasibnya. Walau begitu, beberapa kalangan masih dapat mengenalinya. Di salah satu toilet dan WC yang saat ini ada di Masjidil Haram itulah dulunya merupakan bekas tempat kelahiran Kanjeng Nabi SAW sebelum dihancurkan oleh dinasti Saud yang Wahabiyah.

Padahal di rumah tempat kediaman Rasulullah SAW itulah sebagian besar dari wahyu-wahyu Makkiyah diturunkan. Dan, di tempat itulah wafatnya Sayyidah Khadijah ra, salah satu wanita yang telah dijanjikan surga oleh Allah SWT.

Tak ada yang keramat bagi kalangan Wahabiyah. Bahkan makam Rasulullah SAW tak luput dari incaran rencana mereka untuk digusur dan dihancurkan.

Dunia Islam pun kemudian risau dibuatnya. Tak terkecuali juga para ulama Islam yang di Indonesia. Sehingga para ulama itu pada tangga 31 Januari 1926 M (16 Rajab 1344 H) menyelengarakan pertemuan di Surabaya.

Diantara mereka yang hadir antara lain adalah KH. Hasyim Asy’ari (Jombang), KH. R Asnawi (Kudus), KH. Wahab Hasbullah (Jombang), KH. Bisri Syansuri (Jombang), KH. Nawawie bin Noerhasan (Sidogiri Pasuruan), KH. Ma’shum (Lasem), KH. Nachrowi (Malang), KH. Ndoro Muntaha (Bangkalan), KH. Ridwan Abdullah (Surabaya), KH. Mas Alwi Abdul Aziz (Surabaya).

Pada pertemuan tersebut disepakati untuk mengirimkan delegasi dengan nama Komite Hijaz untuk bergabung ke Konggres Dunia Islam yang akan memperjuangkan upaya penolakan terhadap rencana penggusuran makam Rasulullah SAW.

Delegasi tersebut beranggotakan KH. Wahab Hasbullah, Syekh Ghanaim Al-Mishri, KH. Dahlan Abdul Kohar.

Disamping itu komite ini juga akan memperjuangkan jaminan kebebasan beramaliyah yang mengacu kepada hukum fiqih empat mazhab lainnya, yaitu Hanafi dan Maliki serta Syafii dan Hanbali, di wilayah kekuasaannya dinasti Saud yang bermazhab Wahabiyah.

Selanjutnya atas desakan Konggres Dunia Islam dan ancaman dari beberapa negara Islam yang akan menyerang Arab Saudi jika dinasti Saud berani menggusur makam Rasulullah SAW, maka dinasti penganut faham Wahabiyah ini mengurungkan niatnya menggusur makam Rasulullah SAW.

Kini, hanya tinggal makam Kanjeng Nabi SAW yang bersebelahan dengan dua dari empat sahabat utamanya, Sayyidina Abu Bakar ra dan Sayyidina Umar ra, yang nyaris merupakan satu-satunya tempat bersejarah yang berkaitan dengan sejarah perjuangan Islam di Saudi Arabia yang selamat dari penggusurannya pengikut Wahabiyah.

Lucunya, dinasti Saud yang Wahabiyah ini justru tak segan-segan membelanjakan uang ratusan juta USD untuk meneliti dan menggali kembali situs-situs peninggalan zaman pra Islam, dengan dalih untuk dijadikan obyek wisata dan penelitian sejarah.

Untungnya, sampai saat ini para pengikut faham Wahabiyah di Indonesia masih belum berhasil merebut tampuk pimpinan negara.

Jika nanti di kemudian harinya mereka berhasil merebut kekuasaan negara, maka mungkin program pertama yang akan mereka lakukan bukan hanya menggusur komplek makamnya mBah Priok alias Habib Hasan bin Muhammad al Haddad. Namun juga termasuk menggusur makamnya para Wali Songo dan para wali lainnya.

Untungnya juga, faham Wahabiyah ini hanya laku keras di saudi Arabia, dan mulai sedikit berkembang di Indonesia melalui sebagian dari para alumni universitas-universitas di Saudi Arabia saja.

Sedangkan di negara-negara lain masih belum laku, sehingga di Mesir komplek makam Imam Syafii yang berada didalam Masjid masih aman berdiri kokoh.

Demikian pula dengan komplek makamnya Imam Bukhari di Bukhara yang indah dan megah. Termasuk juga komplek makamnya Tuan Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani di Irak, Tuan Syaikh Bahauddin Naqsyabandi di Samarkand, serta komplek makam para waliyullah lainnya yang tersebar di beberapa negara.

Tak terkecuali juga benda-benda bersejarah penginggalannya Baginda Nabi SAW, Alhamdulillah masih ada, lantaran berada diluar jangkauan tangannya para pengikut Wahabiyah.

Benda-benda itu tersimpan dengan aman di museum topkapi di Istanbul Turki, yang antara lainnya berupa beberapa buah pedang dan perlengkapan perangnya Kanjeng Nabi Muhammad SAW, potongan rambutnya beliau Rasulullah SAW, jubah pakaiannya dan sendal serta beberapa barang yang lainnya.

Jika benda-benda itu berada di Saudi Arabia, mungkin sudah lain ceritanya. Jika makam Rasulullah SAW saja akan digusurnya, maka benda-benda peninggalan Rasulullah SAW itu pastilah juga sudah dihancurkan oleh mereka.

Demikianlah sekilas tentang sepak terjangnya para pengkut faham Wahabiyah yang berkaitan dengan kegemarannya menggusur makam-makam waliyullah.

Barangkali saja Gubernur DKI Jakarta itu bukanlah pengikut faham Wahabiyah, namun bisa jadi bahwa secara tak disadarinya dirinya sedang dimanfaatkan oleh para pengikut faham Wahabiyah.

Paling tidak itu kentara dari beberapa kelompok yang biasanya paling vokal dalam membela kepentingannya umat Islam, namun justru dalam menyikapi peristiwa bentrokan Priok itu nyaris tak terdengar suara pembelaannya.

Padahal dalam bentrokan itu, umat Islam dari kelompoknya jamaah majelis taklim Gubah Al-Hadad sedang dililit kesulitan dalam rangka mempertahankan komplek tempat diselengarakannya kegiatan majelis taklim.

Akhirulkalam, janganlah sampai rencana penggusuran Gubah Al-Haddad di Priok itu sampai ditunggangi oleh kepentingannya segelintir orang saja tetapi sampai harus dengan mentumbalkan nyawa beserta jiwa raga dan harta benda dari saudara sebangsa lainnya.

Salah satu korban saat kerusuhan di makam Mbah Priok beberapa waktu lalu

Salah satu korban saat kerusuhan di makam Mbah Priok beberapa waktu lalu

Wallahualambishshawab.

*

Catatan Kaki :

  • Artikel terkait Bentrokan Priok 2010 yang membahas peristiwa bentrokan Priok ini dipicu oleh tekanan dan pesanan dari kepentingan negara asing yang menginginkan digusurnya komplek Gubah Al-Haddad dapat dibaca dengan mengklik di “Priok 2010 : “Israel & US Coast Guard” , dan yang membahas peristiwa bentrokan Priok ini dapat berpotensi menjadi awal dari akan meledaknya kerusuhan sosial yang lebih besar dan lebih dahsyat lagi dapat dibaca dengan mengklik di “Jangan remehkan Priok” .

  • Artikel terkait Rasulullah SAW yang membahas benda-benda bersejarah penginggalannya Baginda Nabi SAW dapat dibaca dengan mengklik mengklik di “Pameran Pedang Rasulullah SAW” , dan yang membahas upaya pencurian jasadnya Rasulullah SAW di Masjid Nabawi dapat dibaca dengan mengklik di “Makam Nabi SAW Dilingkari Besi” .

Sumber: http://polhukam.kompasiana.com/2010/04/16/kasus-priok-dan-politik-wahabi/

Iklan

Responses

  1. emang dalam pengajian zainal abidin lc tokoh wahabi mengatakan AGAMA DIDUKUNG KEKUASAAN AKAN LANGGENG…..

    • Agama memang banyak dijadikan sebagai stempel bagi kekuasaan, apalagi ketika para ahli agama bermain-main dengan pemegang kekuasaan…
      Terima kasih 🙂

  2. Bismillah…

    Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Q.S. AnNisa 59)

    Larangan membangun mesjid di atas kuburan, larangan memasang gambar di dalam mesjid dan larangan menjadikan kuburan sebagai tempat salat

    Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahu ‘anha.:
    Bahwa Ummu Habibah Radhiyallahu ‘anha. dan Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha. menyebut-nyebut sebuah gereja yang pernah kami lihat di Habasyah yang penuh dengan gambar utusan Tuhan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. lalu bersabda: Mereka itu mempunyai kebiasaan apabila ada orang saleh dari mereka meninggal dunia, maka mereka akan membangun sebuah mesjid di atas kuburnya dan menggambar beberapa gambar di dalamnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah pada hari kiamat. (Shahih Muslim No.822)

    Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahu ‘anha., ia berkata:
    Pada saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. sakit dan tidak sanggup bangun, beliau bersabda: Allah mengutuk orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat mesjid (tempat ibadah). (Shahih Muslim No.823)

    Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anha., ia berkata:
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. bersabda: Mudah-mudahan Allah memerangi orang-orang Yahudi yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai mesjid. (Shahih Muslim No.824)

    Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahu ‘anha., ia berkata:
    Tatkala ditimpa suatu musibah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. akan menampakkan rasa sedih pada roman wajahnya. Bila hatinya merasa sempit, akan tampak pada raut wajahnya. Beliau bersabda bersabda: Kutukan Allah atas orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai mesjid. Beliau memperingatkan apa yang mereka perbuat tersebut. (Shahih Muslim No.826)

    Diriwayatkan oleh Muslim dari Jundub bin Abdullah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Aku mendengar bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda lima hari sebelum beliau wafat, ‘Sungguh aku menyatakan kesetiaanku kepada Allah dengan menolak, bahwa aku mempunyai seorang khalil (kekasih mulia) di antara kamu, karena sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai khalil. Seandainya aku menjadikan seorang khalil dari umatku, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai khalil. Ketahuilah bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah, maka janganlah kamu sekalian menjadikan kubur sebagai tempat ibadah, karena aku benar-benar melarang kamu melakukan perbuatan itu.’”

    Berdasarkan Sunnah Nabi, kubur yang tinggi harus dirubuhkan dan diratakan. Berdasarkan hadits ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhum. bahwa ia berkata, “Ketahuilah, aku akan mengutusmu untuk sebuah tugas yang dahulu pernah Rasulullah tugaskan kepadaku, yaitu janganlah biarkan patung kecuali engkau menghancurkan dan janganlah biarkan kuburan yang tinggi kecuali engkau ratakan!” (HR Muslim (969).

    Dan Imam Ahmad meriwayatkan hadits marfu’ dengan sanad yang jayyid, dari Ibnu Mas’ud, bahwa Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
    “Sesungguhnya, termasuk sejelek-jelek manusia adalah orang yang masih hidup saat hari kiamat tiba, dan orang yang menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah (masjid)” (HR. Abu Hatim dalam kitab shohehnya).

    Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari’ Aisyah Radhiyallahu ‘anha, bahwa Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha (salah seorang istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) menceritakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang gereja dengan rupaka-rupaka di dalamnya yang dilihatnya di Negeri Habasyah (Ethiopia). Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    “Mereka itu, apabila ada orang yang shalih -atau hamba yang shalih- meninggal di antara mereka- mereka bangun di atas kuburnya sebuah tempat ibadah, dan mereka buat di dalam tempat itu gambar-gambar mereka; mereka itulah makhluk yang paling buruk di hadapan Allah.

    Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam “mereka itulah makhluk yang paling buruk di hadapan Allah” menunjukkan haramnya membangun masjid-masjid di atas pekuburan, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang melakukan hal itu. Perbuatan itu merupakan sarana yang mengantarkan kepada kekufuran dan kesyirikan, yang secara nyata merupakan kezhaliman yang paling besar.

    Al Baidhawi berkata: “Tatkala orang-orang Yahudi dan Nasrani bersujud kepada kuburan para nabi dengan maksud mengagungkan derajat mereka, dan menjadikan kuburan-kuburan tersebut sebagai kiblat, yang mereka menghadap dalam shalat, serta menjadikannya sebagai berhala-berhala, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat mereka”.

    Imam al Qurthubi berkata,”Mula-mula, para pendahulu mereka memahat gambar-gambar tersebut agar mereka dapat menjadikannya sebagai suri teladan dan mengenang perbuatan-perbuatan shalih mereka, sehingga dapat memiliki kesungguhan beribadah yang sama seperti mereka; karenanya, mereka beribadah kepada Allah di sisi kuburan-kuburan mereka. Kemudian setelah mereka meninggal, datanglah generasi yang tidak mempunyai pengetahuan yang cukup terhadap agama, sehingga tidak mengerti maksud dari pendahulu mereka tersebut; lalu setan merasuki mereka dengan menyatakan, bahwa para pendahulu mereka tersebut sebenarnya telah menyembah rupaka-rupaka ini dan mengagungkannya. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang terjadinya hal tersebut untuk menutup segala hal yang dapat mengarah ke perbuatan tersebut.”

    • Berarti kuburan para nabi memang harus kita ratakan dengan tanah ya? hem…. 😕
      😉

  3. Ass.Wr.Wb. Sebagai Bangsa yang bermartabat, alangkat baiknya memecahkan masalah dengan musyawarah agar menemukan mufakat. Ws


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: