Oleh: MAULA | April 30, 2010

Anies Baswedan masuk Daftar 20 Tokoh Berpengaruh di Dunia 20 Tahun Mendatang

Anies Baswedan

Anies Baswedan

Rektor Paramadina Anies Baswedan terpilih sebagai satu dari 20 tokoh yang membawa perubahan dunia untuk 20 tahun mendatang oleh majalah Foresight yang terbit di Jepang akhir April ini.

Dalam edisi khusus yang berjudul “20 Orang 20 Tahun” itu, Foresight mengulas 20 tokoh yang diperkirakan bakal menjadi perhatian global karena mereka diprediksi berperan dalam perubahan dunia dua dekade mendatang.

Nama Anies dicantumkan bersama 19 tokoh dunia lain seperti Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, Presiden Venezuela Hugo Chavez, Menteri Luar Negeri Inggris David Miliband, anggota Parlemen dan Sekjen Indian National Congress India Rahul Gandhi, serta politisi muda Partai Republik dan anggota House of Representative AS, Paul Ryan.

“Anies adalah seorang muslim moderat yang sampai saat ini tetap konsisten pada pendiriannya untuk tidak memihak pada kekuatan (politik) tertentu,” tulis Foresight sebagaimana dalam rilis Universitas Paramadina, Jumat (30/4/2010).

Menurut majalah bulanan berbahasa Jepang itu, Anies berhasil meraih kepercayaan dari masyarakat luas karena citranya yang netral, serta memiliki pandangan yang berimbang.

Majalah tersebut menulis bahwa cucu almarhum AR Baswedan — tokoh yang ikut andil dalam meraih kemerdekaan Republik Indonesia — itu merupakan salah satu calon pemimpin Indonesia masa mendatang.

Menanggapi pilihan Majalah Foresight, Anies sendiri tidak ingin membanggakan diri. Ayah empat anak yang dikenal sederhana dan selalu optimis itu menganggap bahwa berbagai penghargaan kelas dunia yang diterimanya sebenarnya menunjukkan makin besarnya perhatian dunia terhadap Indonesia. Anies yang dalam beberapa bulan belakangan ini bicara di berbagai forum dunia merasakan hal itu.

“Saya mendapat kesan bahwa dunia kini makin memperhatikan Indonesia,” kata Anies yang belum lama ini menjadi pembicara di berbagai pertemuan internasional di Tokyo, London, Copenhagen, dan Madrid.

Pada April 2008 lalu majalah Foreign Policy, Amerika, pernah memilih Anies sebagai satu-satunya orang Indonesia yang masuk dalam daftar “100 Tokoh Intelektual Dunia” bersama Noam Chomsky, Al Gore, Francis Fukuyama, Samuel Huntington, Vaclav Havel, Thomas Friedman, Bernard Lewis, Lee KuanYew dan pemenang Nobel asal Bangladesh Muhammad Yunus.

Menurut majalah itu, karena citranya yang netral, adil, serta memiliki pandangan yang berimbang itulah, Anies berhasil meraih kepercayaan luar biasa dari masyarakat luas, termasuk banyak tokoh politik.

Tahun 2009, Anies juga mendapatkan penghargaan sebagai salah seorang ‘Young Global Leaders 2009’ dari Forum Ekonomi Dunia (The World Economic Forum, WEF). Namanya disejajarkan bersama 230 orang Pemimpin Muda Dunia yang dianggap memiliki prestasi dan komitmen kepada masyarakat, serta mempunyai potensi untuk berperan dalam memperbaiki dunia di masa mendatang.

Namanya disejajarkan bersama 230 orang Pemimpin Muda Dunia yang dianggap memiliki prestasi dan komitmen kepada masyarakat. Tokoh dunia lain yang juga masuk daftar Pemimpin Muda Dunia antara lain pendiri dan CEO Facebook Mark Zuckerberg, pegolf Tiger Woods, Anchor CNBC-India Shireen Bhan, CEO YouTube Chad Hurley dan pebalap F-1 Michael Schumacher.

Perhatian Dunia pada Indonesia dan Pendidikan.

Pada tanggal 2 hingga 6 Mei mendatang, Anies juga diundang menjadi pembicara asal Indonesia pada pertemuan puncak tokoh muda dunia, Young Global Leaders Summit, di Tanzania, Afrika.

Direktur Marketing & Public Relations Univ.Paramadina Syafiq Basri Assegaff menyatakan bahwa apresiasi Foresight itu menjadi sinyal bahwa dunia pendidikan di Indonesia punya peran penting. “Sebab beliau bukan saja satu-satunya orang dari Asia Tenggara yang disebut di situ, melainkan juga merupakan satu-satunya pendidik dalam daftar di Foresight itu,” kata Syafiq.

Menurutnya, penghargaan itu bukan saja menjadi tantangan bagi Anies secara pribadi. “Saya pikir, ini sekaligus menjadi tantangan bagi seluruh staf di Paramadina untuk menunjukkan tekad serius mencapai mutu kelas dunia — world class quality — dalam berbagai aspek,” kata Syafiq sambil menambahkan bahwa, pihak Paramadina patut bersyukur atas prestasi baru ini, setelah dua kali penghargaan kelas dunia berturut-turut diterima sang rektor selama dua tahun sebelumnya.

NYARIS DITOLAK GADIS PUJAAN

Saat Anies mengungkapkan perasaannya, hati gadis itu berbunga-bunga. Tetapi, kenapa setelah itu si gadis justru sangsi dan khawatir?

IP MINIMAL 3,75
Berbeda saat kuliah di Tanah Air, di Amerika Anies tidak terlalu aktif di organisasi. Ia hanya ikut konferensi di beberapa tempat, seperti di Washington, dan Atlanta. Itu pun saat menjelang akhir kuliah. Maklum, beasiswanya sudah pas-pasan untuk hidup sendiri, sementara ia harus hidup dengan istri dan dua anak.

Meski mendapat beasiswa untuk mengambil program pendidikan master, tak urung uang mereka mepet juga. Karena itu, keluarga kecil ini harus hidup hemat. Berbelanja harus teliti dan sesuai daftar barang yang dibutuhkan. Anies sampai menemukan cara merapikan baju tanpa harus disetrika. Selesai dicuci, baju itu dijemur sedemikian rupa. Sehingga, begitu kering, bentuknya seperti sudah disetrika. Kalau mobil ngambek, ia tidak berani membawa ke bengkel, karena biayanya mahal. Anies pun menjadi montir, sementara onderdil dibeli di tempat penjualan mobil bekas/kiloan.

Tujuan utama berada di Amerika adalah untuk belajar. ”Sekolah di sana tidak mungkin tidak belajar, karena di sana nilai harus tinggi!” tegasnya. ”Kalau IP (indeks prestasi) turun, maka beasiswa bisa dihentikan. Bagi penerima beasiswa, minimal IP-nya harus 3,75. Kalau nilainya kurang dari itu, diberi waktu satu semester untuk memperbaiki. Kalau tidak bisa memperbaiki juga, ya… tidak akan ada maaf lagi! Alhamdulillah… IP saya tidak memalukan. Tetapi, kalau harus diomongin, ya… saru. Pamali,” tuturnya. Setiap minggu Anies paling tidak harus membaca 1.000 sampai 1.500 halaman. Anies merasa sangat beruntung mempunyai kedua orang tua dan kakek yang hobinya membaca. ”Koleksi buku Eyang ada ribuan. Saat beliau wafat, Abah kemudian merapikan dan membuat perpustakaan mini di rumah.”

Tahun 2004, kuliah selesai, tetapi ia tidak bisa pulang karena tidak mempunyai cukup bekal. Anies lalu bekerja di IPC, Inc. Chicago, sebuah asosiasi perusahaan elektronik sedunia. Karena sudah doktor, ia diterima menjadi manajer riset, dengan gaji sekitar 48.000 dolar AS setahun. Tetapi, ternyata uang yang ia terima tidak sebanyak itu, karena harus dipotong pajak, tunjangan hari tua, social security, dan sebagainya.

BEASISWA UNTUK MAHASISWA
Ada tiga hal yang menjadi pertimbangan ketika dia mendapat tawaran menjadi rektor Universitas Paramadina (UPM), yaitu apakah secara intelektual ia bisa tumbuh, apakah dirinya tetap bisa menjalankan tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga, dan apakah amanat ini mempunyai pengaruh sosial? ”Saya melihat, di kampus Paramadina, saya bisa tumbuh secara intelektual dan posisi itu bisa mendorong saya berbagi kepada masyarakat,” tegasnya.

Tapi, Anies tetap perlu waktu untuk memutuskan tawaran itu. Sebagai direktur riset The Indonesian Institute, penghasilannya jauh melampaui penghasilan sebagai seorang rektor. ”Dari segi income, ini suatu penurunan yang cukup jauh. Saya perlu waktu cukup lama untuk memikirkan hal ini, apakah jalur ini harus saya ambil atau tidak,” tambahnya.

Beruntung Fery tidak mempermasalahkan hal itu. ”Selama dia menyukai dan enjoy dengan pekerjaan itu, urusan penghasilan tidak menjadi masalah!” Fery menjawab.

Tanggal 15 Mei 2007, ketika dilantik sebagai rektor, Anies bertekad menyukseskan program UPM, yaitu menyiapkan generasi masa depan Indonesia. ”Bila ingin mengubah wajah negeri ini, kita harus fokus pada anak muda dan bidang pendidikan. Pendidikan yang terbaik hanyalah di universitas,” katanya.

Sembilan tahun yang lalu, ketika universitas ini didirikan oleh cendekiawan muslim, Prof. Dr. Nurcholish Madjid (alm), Anies masih sebagai mahasiswa pascasarjana di University of Maryland. Saat menghadiri wisuda di Boston, ia terkesan pidato Joseph Nye, Dekan Kennedy School of Government di Harvard University. Menurutnya, salah satu keberhasilan universitasnya adalah ’admit only the best’. Hanya menerima yang terbaik! Dari sinilah ia kemudian menggagas rekrutmen anak-anak terbaik Indonesia.

Sejak itu ia langsung mencanangkan Paramadina Fellowship sebagai Strategi Rekayasa Masa Depan. Anak-anak terbaik itu dibiarkan untuk fokus pada masa depan mereka, dan universitas memfasilitasi melalui beasiswa yang komprehensif. Beasiswa itu meliputi biaya kuliah, buku, dan biaya hidup.

Niat luhur itu tentu bukan seperti membalikkan tangan. Beasiswa yang dirancang itu sangat mahal, yaitu bagi mahasiswa Jabotabek Rp65 juta, dan Rp100 juta untuk mahasiswa dari luar Jabotabek (per tahun 2008). Perhitungannya, Rp20 juta untuk biaya tahun pertama, dan sisanya diinvestasikan. Keuntungan investasi itu bisa mencapai Rp30 juta, dan ini bisa dipakai untuk dana abadi. Anies sadar betapa sulit meyakinkan para calon sponsor beasiswa, karena dunia pendidikan dan bisnis memiliki ’bahasa’ yang berbeda. Anies mempresentasikan idealisme dengan bahasa bisnis. Ia mengadopsi konsep penamaan mahasiswa yang sudah lulus, seperti yang biasa digunakan di banyak universitas di Amerika Utara dan Eropa. Caranya, titel seorang profesor mencantumkan nama sponsor risetnya. Misalnya, jika mahasiswa mendapatkan dana dari Mien R. Uno (seorang pendonor), maka mahasiswa tersebut diwajibkan menggunakan titel Paramadina Mien R. Uno Fellow.

Responsnya sangat luar biasa. ”Dukungan secara pribadi ataupun institusi dari berbagai sektor sungguh mengharukan. Hal ini membuktikan bahwa dunia usaha peduli pada masa depan bangsa.” Donatur yang datang memang beragam: pribadi, lembaga survei, perusahaan media massa, perbankan, sampai jaringan bioskop.

Sambutan calon peserta beasiswa pun sangat luar biasa. Tahun 2008, seleksi di 14 kota di seluruh Indonesia diikuti oleh 1.300 pendaftar. Dari jumlah tersebut akhirnya terpilih 69 lulusan SLTA, yang nantinya diharuskan merampungkan pendidikan maksimal selama empat tahun dengan IP minimal 3. Untuk tahun 2009 ini, UPM menargetkan ada 100 mahasiswa penerima beasiswa, sehingga dengan peserta beasiswa untuk program pascasarjana (di berbagai universitas), jumlah seluruh peserta Paramadina Fellowship adalah hampir 25 persen dari 2.000 jumlah mahasiswa UPM. Sungguh suatu sumbangan Anies yang tidak kecil bagi generasi muda negeri ini.

DIAKUI DUNIA
Anies tidak pernah mengira namanya masuk dalam daftar intelektual dunia versi Foreign Policy (2008). Jurnal berpengaruh terbitan AS ini, rutin menggelar nominasi 100 intelektual dunia, yang kemudian dipilih 20 nominator. Dari 100 orang yang sudah disusun, publik dipersilahkan memilih intelektual terbaik. ”Saya tidak tahu kalau dinominasikan,” katanya. ”Saya baru tahu saat pengumuman itu ditulis. Jadi seluruh informasi tentang saya, mereka cari sendiri tanpa sepengetahuan saya.”

Kriteria daftar bergengsi ini adalah aktivitas publik keintelektualnya, yang tak hanya berpengaruh di dalam negeri, tapi harus melampaui batas negaranya. Komposisi yang terpilih adalah 36 dari Amerika Utara, 30 dari Eropa, 4 dari Amerika Latin, 11 dari Timur Tengah, 4 dari Afrika, 12 dari Asia, dan 3 dari Asia Tenggara dan Oseania.

Anies disejajarkan di antaranya dengan Lee Kuan Yew (menteri mentor Singapura), Al Gore (aktivis lingkungan/mantan Wakil Presiden AS), Francis Fukuyama (ilmuwan AS), Muhammad Yunus (peraih Nobel Perdamaian dari Bangladesh). Sebagai orang yang berobsesi ingin menjadi seorang intelektual berkelas internasional, Anies tentu sangat senang. ”Penominasian ini menunjukkan Indonesia memiliki potensi intelektual yang sama dengan negara lain. Ini bukan hal yang mustahil!” katanya.

Menurut Anies, bangsa Indonesia sudah lama memiliki tradisi intelektual. Tokoh-tokoh seperti Soekarno, Sjahrir,Agus Salim, dan lainnya pernah tersohor di kalangan internasional. ”Saya ingin tokoh-tokoh intelektual kita juga kembali muncul sebagaimana mereka,” tandasnya.

Sumber: http://www.suaramedia.com/berita-nasional/21190-anies-baswedan-disejajarkan-dengan-19-tokoh-besar-dunia-.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: