Oleh: MAULA | Mei 2, 2010

Pemikiran Politik Ibnu Khaldun

Ibnu Khaldun

Ibnu Khaldun

Berasal dari Tunisia (Afrika utara) pada tahun 1332 M dan meninggal dunia pada tahun 1406, meskipun ada juga yang menulis 1395. Ia menghabiskan waktunya untuk tiga tahap kehidupan, pertama, menjadi hakim pada tahun 1375, kemudian tahap kedua adalah menulis, termasuk buku terkenalnya muqaddimah. Pada waktu ini, beliau aktif sebagai dosen yang mengajar di Universitas Al –Azhar, Cairo. Dan ketiga, menjalani karier politik baik di mesir maupun marokko. Karena itu, beliau dikenal sebagai bapak sosiologi. Beliau juga menulis sangat banyak buku yang tidak hanya dalam bidang islam.

Buku muqaddimah membahas mengapa seorang dinasti bisa eksis dan jatuh. Dalam buku ini diceritakan peperang antara orang-orang nomaden dengan penduduk kota (mekkah, damaskus, baghdad, cairo). Pada kondisi ashobiyah sangat kental dan menyebabkan kemunduran. Apalagi penyerangan dari bangsa barbar menyebabkan penduduk kota menjadi lemah. Pada kondisi yang diwarnai pergantian dinasti yang tidak aman ibnu khaldun menghabiskan waktunya.

Pemikiran Ibnu khaldun banyak terpengaruh dengan pemikiran yunani kuno, beliau mendiskusikan manajemen social masyarakat yunani, membahas interpretasi mimpi, pengaruh iklim terhadap ketersediaan makanan, dan pengaruh serta kepribadian seorang pemimpin dalam kehancuran suatu dinasti. Dan yang perlu dipahami bahwa ibnu khaldun sebenarnya tidak menulis tentang politik dan pemerintahan Islam secara keseluruhan, melainkan hanya kondisi afrika pada waktu berada dibawa kekuasaan Islam.

Pemikiran beliau diakui dunia terutama dalam bidang sosiologi dan sejarah budaya.beberapa teori yang terpengaruh dengan pikiran ibnu khaldun antaralain, teori konflik antarkelompok karl marx, teori tipologi kepemimpinan oleh max weber, dan teori solidaritas kelompok oleh email durkheim.

Pemikiran Politik Ibnu Khaldun
Beberapa pemikiran Ibnu Khaldun dalam politik antaralain:
a. Senada dengan ibnu taimiyah, ibn khaldun menilai bahwa politik amat penting. Dan hanya dimiliki oleh manusia dan tidak dimiliki oleh binatang. Adapun kotornya bukan karena politik, tapi sifat manusia.

b. Politik merupakan mekanisme yang mengajarkan manusia untuk mencapai keselamatan dunia dan akhirat. Dalam politik manusia harus berusaha keras untuk mempertahankan diri dari serangan orang luar, dan itu merupakan jihad.
Ibnu khaldun sangat terpengaruh dengan kondisi social pada waktu itu, dimana terjadi pertentangan antara kelompok nomaden dengan penduduk kota karena terjadi penyerangan oleh kelompok nomaden tadi.

c. Negara merupakan lembaga yang tepat untuk mengatur urusan masyarakat dan mekanisme memilih pemimpin. Tanpa Negara yang terorganisir dengan baik maka kehidupan manusia belum lengkap. Hanya saja seringkali mengalami masalah ketika ada ashobiyah dan krisis moral di kalangan masyarakat (umat Islam).

d. Adapun Negara ini muncul karena manusia merupakan makhluk social yang tidak mungkin bertahan hidup tanpa bantuan orang lain. Untuk kebutuhan makan, keamanan, dan lainnya, manusia memerlukan orang lain. Karena itu diperlukan perasaan persatuan dan solidaritas yang kuat antar sesama. Dalam hal ini, atas nama persatuan dan persaudaraan, nyawapun harus dikorbankan.

e. Agama merupakan alat yang sangat ampuh untuk menyatukan manusia. Karena Allah dalam Alquran surat Al-anfal ayat 63 berfirman bahwa ”Sesungguhnya engkau membelanjakan segala yang ada di muka bumi ini seluruhnya, engkau tidak akan bisa mempersatukan hati mereka”. Hal ini pula yang menyebabkan islam bisa dengan mudah menguasai afrika utara.

f. Agamalah yang menghindarkan manusia dari persaingan tidak sehat, justru untuk kebaikan dan kebenaran. Dalam islam misalnya dikenal semboyan, ”hidup mulia atau mati sahid”

g. Jadi secara sederhana ibnu khaldun menggabungkan konsep sosiologis dan agama dalam membangun negara. Bagi beliau, manusia bersatu dalam sebuah negara karena ada kebutuhan satu sama lain terhadap hukum. Dalam hal ini hukumnya yang akan menjaga hidup, harta, mata uang, bahkan kebijaksanaan para pemimpin. Oleh karena itu, hukum harus dengan kuat ditegakkan, tetapi tidak menyebabkan rakyat harus membayar pajak yang lebih mahal atau bahkan terjadi persaingan tidak sehat antara pemerintah dengan swasta.

h. Ketika negara dan kepemimpinan sudah terbentuk, maka seorang pemimpin harus ditaati agar tidak muncul kekacauan, anarkhi, dan ketidakamanan. Dan hubungan yang terbentuk antara penguasa dengan rakyat adalah hubungan yang bersifat relational, penguasa memiliki rakyat dan rakyat memiliki penguasa. Jadi kekuasaan tidak sebagai atribut, melainkan lebih sebagai aktor kepercayaan masyarakat (relasi yang demokratis).

i. Seorang pemimpin hendaklah orang yang mempunyai kelebihan, tetapi tidak terlalu pintar dibandingkan rakyatnya, ”kalian harus memimpin dengan bahasa kaummu”. Jika seorang pintar yang memimpin justru menghambat komunikasi dengan rakyat.

Sumber: http://gondayumitro.staff.umm.ac.id/2010/04/05/pemikiran-politik-ibnu-khaldun/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: