Yang Meniti Jalan Ma’rifat

Oleh: Ikranagara

Islam masuk ke Indonesia dengan jalan damai, karena yang membawanya
masuk itu kalangan panganut tarikat/sufi yang menekankan kepada
ritual percintaan manusia dengan Tuhan-nya. Termasuk Admiral Cheng
Ho yang Islam dari China itu pun menyebarkan Islam di pesisir Jawa
Tengah tidaklah menggunakan senjata dan kekerasan.

Tapi kemudian bangsa Eropah dengan agama lain datang menjarah negeri
nenekmoyang kita itu dengan tipudaya pedagang dan kekuatan senjata
serdadu mereka. Bahkan ketika Raja atau pun Ratu di negeri mereka
melakukan upacara pelepasan keberangkan rombongan eksplorer Eropah
tersebut maka para petinggi negeri mereka itu tak lupa mengingatkan
kepada yang akan berangkat bahwa mereka membawa missi peradaban
relijius untuk menyelematkan ruh kaum primitif yang akan mereka
temukan dalam perjalanan eksplorasi mereka. Nenekmoyang bangsa-
bangsa Timur berhasil ditaklukkan oleh bangsa Eropah/Barat.

Pelajaran apa yang bisa didapatkan oleh nenakmoyang kita, pribumi,
dari berhadapan dengan kaum kolonial materiil dan spirituil itu?
Dari pandangan hidup sebagai makhluk biologis, maka mudah ditebak:
belajar untuk survive! Itu artinya kekuatan senjata dan kekerasan
merupakan jalan untuk mencapai kejayaan. Hidup harus menang, dan
untuk menang harus kuat dan rela mengorbankan nyawa.

Tampaknya hasil pembelajaran semacam itu memang universal saja.
Lumrah. Sudah harus seperti itu, baik pada masa Zaman Perang
Kemerdekaan, Zaman Perang Dingin atau pun paska Perang Dingin, atau
Zaman Perang Peradaban sekarang seperti diungkapkan oleh Huntington;
sebab, itu sudah hukum alam “survival of the fittest” yang akan
abadi sejak manusia belum menjelma menjadi manusia, bahkan “gagasan”
ini sudah “disadari sejak tingkatan makhluk satu sel sekali pun.

Pada dasarnya manusia yang dikenal secara ilmiah/biologis sebagai
spesies Homo sapiens ini masih pada tingkatan “Hakikat” (setelah
meninggalkan tingkat Syari’at, tapi belum mencapai tingkat Ma’rifat
apalagi Syufi’at), artinhya baru berupa makhluk yang mengagungkan
kepahlawanan sebagai penghayatan atas prinsip “survival of the
fittest” itu tadi.. Warrior! Itulah sebabnya kalau kita perhatikan
patung-patung dari zaman kuno peradaban kita sampai peradaban modern
atau mutakhir kita ini, maka akan mudah ditemukan patung-patung
pahlawan semacam itu dalam arti harfiah maupun simbolis maupun
nyanyian-nyanyian bersemangat. Itulah konsep dan realisasi dari apa
yang dikenal sebagai “Insan Kamil” dalam hidup sehari-hari yang
dikenal dan diterima umumnya oleh Homo sapiens, sampai sekarang.

Itu berarti kita masih akan menyaksikan kekerasan demi kekerasan
dijadikan jalan keluar dalam menyelesaikan konflik-konflik antara
sesama kita. Konflik memang bukan barang yang anek. Konflik
merupakan sesuatu yang tak terhindarkan. Memang! Tapi kekerasan?
Apakah itu sesuatu yang tak terhindarkan juga? Kenapa kekerasan,
yang tak lebih dari salah satu jalan keluar itu, tidak bisa kita
posisikan sebagai salah satu pilihan saja, atau paling tidak sebagai
pilihan-yang-tidak-ideal dan karenanya harus diusahakan sebisa-
bisanya untuk dihindari?

Tapi itulah: tingkat perkembangan kecerdasan intelektual, emosional
dan spiritual Homo sapiens itu, yang dijadikan pondasi sosial-
politik-ekonomi-budaya dalam peradaban sehari-hari kita sekarang
ini, itu barulah pada tingkat “Hakikat” saja. Tapi Rumi dan para
Sufi sebenarnya sudah meningkatkan harkat kemanusiaannya ke taraf
yang lebih tinggi: Ma’rifat!

Dalam konteks inilah saya membaca apa yang dicanangkan oleh PBB
sebagai “Tahun Rumi” untuk tahun 2007 yang sudah berada pada kwartal
terakhirnya ini.

Pesan atau gagasan apa yang dikumandangkan oleh Rumi yang lahir pada
1207, atau tepat pada 800 tahun yang lalu itu? Jawabnya tercakup
dalam satu kata saja: Cinta — dengan huruf besar C.

Maka bukanlah sebuah kebetulan jika tahun 2007 ini dinobatkan
sebagai Tahun Rumi oleh lembaga internasional setingkat PBB. Bumi
sedang mengalami gebalau kekerasan di mana-mana, padahal Zaman
Perang Dingin yang hampir saja menjadi Perang Nuklir itu sudah
berakhir.

Lewat upacara seninya berupa gabungan tarian gasing, musik, dan
pembacaan puisi-puisi sufistik, Rumi mengajak seluruh Ummat Manusia
dan alam semesta untuk lebur menyatu dalam Cinta. Manusia yang
dimaksudkan adalah tanpa pandang bulu, bukan hanya yang beragama
Islam, bahkan termasuk yang atheis sekali pun, diserunya untuk ikut
lebur menyatu dalam Cinta. Cinta dengan huruf basar adalah Cinta
Tuhan. Tuhan adalah Kekasih dan asal-muasal segala-galanya. Manusia
ditamsilkannya sebagai “seruling bambu,” yang suara merdunya penuh
dengan kerinduan dan kesenduan kepada Kekasih, sumbernya, Tuhan
sendiri, yang ditamsilkannya sebagai “rumpun bambu” itu sendiri.
Manusia yang sampai ke tingkat Ma’rifat (tingkatan yang satu jenjang
di atas “Hakikat;” dan “Hakikat” adalah satu jenjang di
atas “Syari’at”) inilah Insan Kamil yang sejati. Hanya Manusia
Ma’rifat yang akan bisa mencapat tingkat keabadian “Syufi’at” nanti.

Sebenarnya Insan Kamil seperti itu sudah pernah hadir di dalam
sejarah Abad-20 kita. Dia bernama Gandi, seorang “Mahatma” (Maha
Atma, Jiwa yang Maha atau Jiwa yang Tuhan) Ada satu lagi tokoh di
India pada saat hidupnya Gandi, seorang Muslim, yang sejalan dengan
gagasan cinta damai Gandi: Ahimsa (Non-Violence). Gandi adalah
seorang Insan Kamil yang tidak hanya berhenti di puncak menara
tinggi berasyik ma’syuk dalam Cinta Tuhan, melainkan turun ke bumi
fakir memimpin bangsanya untuk mengusir penjajah Eropah dari
negerinya. Gandi tidak memilih hasil pembelajaran berupa memuja
pahlawanan perang (Warrior) lagi. Gandi adalah Homo sapiens yang
mencapai tingkatan Ma’rifat seperti yang dicanangkan oleh para Sufi,
termasuk Rumi, ratusan tahun yang lampau itu.

Jadi, kembali kepada zaman masuknya Islam ke Indonesia, para
penyebar Islam itu adalah Manusia Ma’rifat, atau pinjam istilah
Danarto (cerpenis/sufi Indonesia): Adam Ma’rifat. Beberapa orang
sastrawan Indonesia sudah juga menggulati gagasan dan pengalaman
pribadi kema’rifatan mereka masing-masing sebagaimana terungkap di
dalam karya-karya mereka, antara lain Taufiq Ismail, Abdul Hadi WM,
Sutardji Calzoum Bachri dan Hudan Hidayat.

Sumber: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/message/72476

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s