Oleh: MAULA | Mei 15, 2010

Korupsi dan Pengkhianatan Intelektual

Oleh: Ferizal Ramli

Was diese Wissenschaft betrifft,

Es ist so schwer, den falschen Weg zu meiden,

Es liegt in ihr so viel verborgnes Gift,

Und von der Arznei ist’s kaum zu unterscheiden.

Am besten ist’s auch hier, wenn Ihr nur einen hört,

Und auf des Meisters Worte schwört.

Im ganzen – haltet Euch an Worte!

Dann geht Ihr durch die sichre Pforte

Zum Tempel der Gewissheit ein.

Terjemahan , kira-kira begini :

Apa yang menjadi hakekat dari ilmu pengetahuan,

Itu sangat sulit menghindari kesalahan pemahaman,

Di dalamnya terkadung begitu banyak racun yang mematikan,

dan darinya juga terdapat obat mujarab, yang diantara keduanya tidak
mudah dibedakan.

Yang terbaik adalah kita berada dimana kita mendengar sebuah kebenaran,

dan pada kata-kata yang terbaiklah kita berpegang teguh.

Dalam kondisi apapun peganglah kata kebenaran!

Kemudian berjalan lah dengan penuh gerbang kepastian

Memasuki keyakinan Tuhan…

Dari Filsuf Johann W. Von Goethe

dalam Karya Masterpiece- nya:

“Faust – Der Tragödie Erster Teil”

(Tragedi „Faust” bagian pertama)

Sulitnya menggunakan pengetahuan demi menjunjung kebenaran adalah tantangan hakiki semua intelektual. Goethe jelas menyatakan bahwa para intelektual sangat mudah terjebak pada arah yang salah. Adalah “wajar”, jika kesalahan itu karena kekhilafan. Tapi jika intelektual
karena kepentingannya sengaja memilih jalan yang salah maka inilah yang dikenal oleh sejarah sebagai pengkhinatan intelektual.

Sejarah mencatat filsuf besar Martin Heidegger melalukan pengkhianatan terhadap ilmu pengetahuan. Atas nama kepentingan politiknya, Heidegger yang pernah menulis karya filsafat lembut yang tertulis dalam “Sein und Zeit” tentang kemanusiaan, berubah menjadi filsafat fatalis yang propagandais mendukung Hitler dengan gaya intelektual elegence tetapi
mematikan kehidupan.

Pengkhinatan intelektual biasanya dilakukan dengan menggunakan pengetahuannya meraih semua kepentingannya tanpa pernah memperdulikan nilai-nilai kebenaran yang ada di hadapannya.

Pengkhinatan intelektual adalah cerita klasik kejahatan kaum terdidik. Ini terjadi dimanapun tanpa terkecuali. Di Indonesia, pengkhianatan paling menojol adalah pada kejahatan
ekonomi. Masih tajam diingatan bagaimana Mafia Berkeley dengan privilege pengetahuan yang dimilikinya memporak-porandakan perekonomian bangsa. Menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa terbenam dalam kejahatan korupsi tanpa bandingan. Jargonnya: “Teori neo
klasik!”

Atas nama pertumbuhan dan kestabilan ekonomi, kekayaan alam yang dimiliki digadaikan. Atas nama pertumbuhan dan kestabilan ekonomi seluruh akses untuk mendapatkan kebenaran dibungkam. Atas nama pertumbuhan dan kestabilan ekonomi, berbagai kontrak karya, kontrak
hutang, dan kontrak-kontrak lainnya ditandatangani tanpa pernah tahu seberapa besar manfaatnya buat rakyat. Disini, jalinan korupsi disulam melalui tangan-tangan intelektual anak negeri berkolaborasi dengan para bromocorah pengeruk kekayaan sumber daya alam lintas negara.

Semua ini untuk pertumbuhan ekonomi siapa? Untuk kestabilan ekonomi siapa? Siapa yang sejahtera? Apa manfaat yang bisa dinikmati oleh rakyat kecil atas ilmu pengetahuan yang dimiliki para intelektual? Mafia Berkeley adalah cerita tragis pengkhinatan inteletual dalam
kejahatan ekonomi.

Tapi tidak usah bersedih, di Cile nun jauh disana para intelektualnya yang tergabung dalam Chicago Boys, juga menggunakan jargon neo klasik, menghancurkan bangsanya. Jadi, kita tidak sendiri.

Semua sudah terjadi. Tapi pepatah “nasi telah menjadi bubur” tidak berlaku disini. Biarlah para generasi dulu pernah melakukan pengkhianatan intelektual. Tapi saat ini, seharusnya tidak ada lagi tempat buat pengkhianatan intelektual. Saatnya intelektual tahu kemana
berpihak. Pada kebenaran. Pengabdian pengetahuannya buat kesejahteran rakyat, bukan untuk memuaskan kepentingan- kepentingan korup segelintir orang yang akan menghancurkan kita semua.

Saatnya zero tolerance terhadap korupsi dimanapun berada dan sekecil apapun ditegakkan. Dan jadikanlah nurani sebagai batas untuk menentukan apa yang benar dan apa yang salah. Dan gunakan pengetahuan untuk menegakkan yang benar tanpa kompromi with all cost in any
circumstance.

Semoga para intelektual tahu persis kemana mereka berpihak…

Dari Lembah Sungai Spree,

Sebuah mimpi yang uthopie

Ferizal Ramli adalah konsultan di Jerman

http://indonesianmuslim.com/korupsi-dan-pengkhianatan-intelektual.html

Iklan

Responses

  1. Pengkhianatan intelektual, cuma bisa dilakukan oleh orang yang egois sekaligus munafik…
    Naudzubillahi mindzalik, semoga kita terhindar dari melakukan hal-hal seperti itu…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: