Oleh: MAULA | Juni 5, 2010

Dari Rachel Corrie Hingga Sabra-Shatila

Rachel CorrieRachel Corrie

Ia adalah sedikit dari orang Amerika yang peduli pada tragedi kemanusiaan di Palestina. Saat itu, 16 Maret 2003, ia berdiri di depan buldoser Israel. Ia berusaha mencegah penghancuran rumah, tempat tinggal keluarga Samir Nasrallah.

Buldoser jelas tak bermata. Tapi tentara Israel di atasnya lebih buta lagi; sama sekali tak berhati. Dengan kendaraan yang beratnya berton-ton itu, ia merangsek ke arah rumah Nasrallah. Dan, Rachel Corrie, perempuan Amerika itu, tewas dilindas.

”Namaku Rachel Corrie,” demikian ia hendak dikenang melalui judul pementasan Bengkel Teater New York, Maret lalu, tiga tahun setelah kematiannya. Ada juga sedikit dari orang Amerika yang peduli pada tragedi kemanusiaan itu dan berupaya tak melupakannya.

Tapi, ada pula orang seperti Edward Rothstein. Ia menulis artikel panjang lebar di New York Times, berusaha meyakinkan bahwa Rachel Corrie tak layak dikenang. Ia bercerita tentang penyelundupan senjata dari Mesir ke Rafah di kawasan Palestina, melalui terowongan bawah tanah.

Rumah Nasrallah yang dibela Rachel Corrie, kata Rothstein, adalah salah satu ujung terowongan jalur penyelundupan itu. Dengan demikian, menurut dia, Rachel tak lebih dari aktivis naif dan radikal yang mempertahankan penyelundupan senjata.

Ada banyak orang seperti Rothstein. Mata mereka terbuka namun buta. Hati mereka berdenyut tapi beku. Mereka tak peduli bahwa Nasrallah tak lebih dari pedagang obat yang Rachel kenal baik dan tak ada kaitan dengan senjata. Mereka juga tak mau tahu bahwa jumlah rumah yang dihancurkan di Rafah mencapai ribuan. Banyak keluarga yang kehilangan tempat bernaung kedua kali, ketiga kali, dan lebih dengan biang keladi yang tetap sama, Israel.

Pementasan ”Namaku Rachel Corrie” ditunda setelah kemenangan Hamas dalam pemilu legislatif Palestina. Orang-orang seperti Rothstein bersorak dan menyebut pementasan figur Rachel hanya akan membawa citra buruk bagi Bengkel Teater New York dan membawa lembaga itu ke dalam balutan propaganda Hamas; citra yang akan menjauhkan mereka dari para donor.

Tragedi itu, cara kematian Rachel, berbuntut dengan tragedi lain yang tak kurang menyedihkan: Kematian rasa kemanusiaan, karena kepahlawanan dan kejahatan dinilai dengan seberapa besar peluang datangnya donor memberi bantuan dana.

Dalam kasus Palestina, kasus ini terus berulang dan hati banyak manusia dibuat tumpul dan dingin. Kematian dengan cara paling dramatis pun menjadi kelaziman. Itu pula yang terjadi pekan-pekan ini. Di Jalur Gaza, misalnya, bulan lalu, rudal Israel menghunjam Pantai Beit Lahia, saat banyak keluarga menghabiskan waktu menikmati kelembutan pasir, desir angin, dan debur ombak.

Rudal yang tak bermata meluncur dengan kendali manusia tak berhati. Ali Ghalia dan keluarganya tak berdaya. Mereka berusaha menghindar, namun monster itu lebih cepat. Ali wafat bersama istri dan lima anaknya. Enam anggota keluarga lainnya terluka. Apa kata pemerintah Amerika saat itu? ”Tindakan itu adalah hak Israel untuk membela diri,” kata jubir Gedung Putih, Sean McCormack.

Dunia apa yang sedang kita hadapi ini? Betapa mudah putih menjadi hitam dan hitam menjadi putih. Jahatkah aktivis bernama Rachel Corrie? Bela dirikah pembunuhan tujuh orang dalam satu keluarga yang sedang berlibur di pantai?

Pekan ini bom Israel telah jatuh di Lebanon. Empat puluh orang wafat hanya dalam kurun dua hari. Kita takkan pernah melupakan betapa negeri ini tercabik sebelumnya, dengan biang keladi yang itu-itu juga. Siapa dapat melupakan tragedi Sabra-Shatila?

Bela diri, itu pula alasan Israel saat itu. Dari gedung Kedutaan Kuwait yang telah kosong, 15 September 1982, Jenderal Ariel Sharon menyaksikan penyerbuan kamp Sabra-Shatila. ”Ada 2.000 teroris di dalamnya,” kata Sharon tentang kedua kamp pengungsi yang berada di satu lokasi itu.

Penyerbuan dengan tank dan pesawat hanyalah pembuka. Israel menggunakan proksinya, tentara Phalangis, untuk sebuah operasi pembantaian terencana. ”Operasi disetujui,” kata Sharon. Lalu dalam 40 jam berikutnya, tentara Phalangis Lebanon membunuhi pengungsi di kamp, memperkosa para perempuan.

Israel mencatat 700 orang meninggal dalam peristiwa itu. Media massa menyebut angka 3.500. Sementara, Komite Palang Merah Internasional (ICRC) mencatat pemakaman 1.000 jenazah. Tapi, tak pernah ada pengadilan atas peristiwa itu karena pahlawan dan penjahat adalah definisi yang bisa saling bertukar posisi.

Ratusan ribu orang turun ke jalan di Tel Aviv. Sharon gagal mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan parlemen, Knesset. Ia dialihkan dari menteri pertahanan menjadi menteri negara tanpa portofolio. Tapi, ia tak pernah diadili. Kariernya bahkan meroket lagi, hingga menjadi perdana menteri pada 2001.

Penjahat atau pahlawan di bumi ini tak jelas lagi. Jadi, kalaupun sekarang Israel kembali membabi buta, wajar saja ada banyak media di negeri kita yang tenang-tenang dan menganggap biasa. Mungkin mereka bingung apakah peristiwa di Palestina dan Lebanon kejahatan atau kepahlawanan.

Sumber: http://www.infoanda.com/linksfollow.php?lh=VFVXWAVQBgMA

Klik disini jika ingin mengunduh video kekejaman tentara Zionis-Israel saat membunuh Rachel Corrie.


Responses

  1. demi tuhanku yang maha agung…terkutuklah bangsa israel…
    aq memang tak bisa berbuat apa2..
    yang aq bisa hanya menunggu saat yang telah dijanjikan tuhan…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: