Hari: Juni 10, 2010

Mitoskah Holocaust?

oleh: Dina Sulaeman

Kalau Eropa memang bersalah membantai kaum Yahudi pada PD II, lalu mengapa Palestina yang harus menanggung akibatnya? Seharusnya Eropa menyediakan tanah di wilayahnya sendiri untuk mendirikan negara Israel.

Kalau pembantaian itu tidak pernah ada, lalu mengapa Eropa mendukung pendirian negara Israel di atas tanah Palestina dengan alasan kemazluman bangsa Yahudi pada PD II?

(Ahmadinejad, Presiden Iran)

Pernyataan keras Presiden Iran tentang Zionis ini menyulut kemarahan para pemimpin Eropa. Kanselir Jerman, Angela Merkel, mengatakan, “Sebagai Kanselir Jerman, dan dalam pandangan tanggung jawab sejarah, saya hanya bisa mengatakan bahwa kami menentang hal ini dalam bentuk yang paling keras dan kami akan melakukan apa saja yang mungkin untuk menjelaskan bahwa tidak boleh ada ancaman apapun bagi hak Israel untuk eksis dan kita harus mengambil pandangan yang realistis dan jelas tentang sejarah, dan hal itu termasuk tanggung jawab Jerman.”

(lebih…)

Mengapa harus Membela Palestina?

Mengapa kita harus repot-repot membela Palestina nun jauh di sana? Bukankah di negeri ini begitu banyak kesengsaraan? Lihatlah berita televisi, melulu tentang Gaza. Kasus Sri Mulyani dan Bank Dunia terlupakan, Century lewat, Lapindo lewat (lihatlah TVOne, milik Ical, sangat gencar memberitakan tentang  Gaza, sampai-sampai kita lupa pada saudara-saudara kita di Sidoarjo sedemikian sengsara akibat lumpur Lapindo).

Menjawab kegundahan ini, saya pikir, kita orang Indonesia harus think globally, act globally plus locally. Pembelaan terhadap Palestina, pada hakikatnya adalah sikap melawan tirani dunia dan menjadi pemisah mana negara budak, mana negara merdeka. Negara-negara yang tidak takut kepada AS akan maju secara aktif membela Palestina. Sebaliknya, Indonesia, yang jelas-jelas tunduk dan patuh pada IMF dan Bank Dunia, dan sangat pro AS, terlihat tak berani melakukan langkah konkrit (selain menyeru dan mengutuk). Secara sinergi, kepatuhan pada tiran-tiran dunia itu juga terimplementasikan pada kebijakan-kebijakan dalam negeri. (lebih…)

Sajak-sajak Sufi Rumi

Oleh Abdul Hadi W. M.

Jalaluddin Rumi adalah penyair sufi terbesar sepanjang zaman. Nama lengkapnya Jalaluddin Muhammad bin Husayn al-Khattibi al-Bahri. Banyak gelar yang disandangnya, yang paling popular ialah Khudawandagar, yang dalam bahasa Turk artinya Tuan Besar. Dalam sajak-sajaknya dia menggunakan takhallus (nama pena) Khamsuy, yang artinya Diam. Di Turki dia dipanggil Mevlana atau Mevlevi, artinya sama dengan Syekh. Beberapa muridnya seperti Aflaki menyebutnya Sirr Allah al-A`zam (Rahasia Agung Tuhan). Gelar al-Rumi atau Mulla yi-Rum diberikan karena dia menghabiskan sebagian besar masa hidupnya di Asia Kecil, yaitu Turki atau Anatolia, yang pada awal abad ke-13 sebagian besar dari wilayahnya masih merupakan bagian dari kekaisaran Rumawi atau Bizantium. (lebih…)

Dengarkan Suara Seruling Bambu

Pertanyaan awal dalam kajian-kajian tasawuf biasanya berkenaan dengan posisi manusia dengan Allah Swt. Mengapa ia diciptakan-Nya? Apa tugas dan kewajibannya? Bagaimana ia harus menjalani hidupnya? Dan apa yang kelak menantinya?
Manusia diciptakan dari Iradah dan Qudrah Tuhan. Pembahasan tentang penciptaan manusia sangat beragam. Mulai dari berpegang pada ayat yang mengatakan bahwa manusia diciptakan untuk beribadah, hingga pendapat yang menetapkan bahwa Tuhan memerlukan kehadiran makhluk-Nya. Menarik memang, tapi kita akan membatasi pembahasan teoritis itu dengan menyimpulkannya dari syair Jalaluddin Rumi. (lebih…)

Cara Liberalisme-Kapitalisme Merampas Negara

Tadinya, agak enggan memasukkan artikel ini, tapi mengingat nasihat guru, kalau manusia itu harus berkumpul ditengah-tengah realitas kehidupan, jika seorang sufi berada di perbukitan, dia bukan manusia tapi bagian dari gunung dan bebatuan…! Nikmati dan jalani sajalah diri ini sebagai ‘sufi melek’..! Supaya kita beragama tidak kecanduan, asyik dlm ritus-ritus individu yang egoistik dan bersikap ‘dingin’  atas problema sosial & derita pilu masyarakat…? (Ama, May 2010)

—————————————————————-

Tulisan lama yang saya rasa masih bermanfaat dan sangat relevan bagi kondisi bangsa kita saat ini. Sekadar info, buku ini bisa didonlot gratis di gigapedia.

“Siapa pun yang ingin mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi di dunia, mesti segera membaca buku ini.” (lebih…)

Sri Mulyani Indrawati (SMI), Berkeley Mafia, Organisasi Tanpa Bentuk (OTB), IMF dan World Bank (WB)

Oleh :Kwik Kian Gi e

Mundurnya Sri Mulyani Indrawati (SMI) sebagai Menteri Keuangan RI menimbulkan kehebohan dan banyak pertanyaan tentang penyebab yang sebenarnya. Ada yang mengatakan bahwa perpindahannya pada pekerjaan yang baru di World Bank (WB) adalah hal yang membanggakan. Tetapi ada yang berpendapat, bahkan berkeyakinan tidak wajar, terutama kalau dikaitkan dengan skandal Bank Century (Century).

(lebih…)