Oleh: MAULA | Juli 10, 2010

Neoliberalisme oleh World Bank, IMF, dan WTO

Di bawah adalah artikel mengenai nerakan Neoliberalisme oleh IMF, World Bank, dan WTO. Jika kita teliti lebih jauh, penggerak Neoliberalisme ini menguasai mesin uang dunia seperti The Fed, dan banyak Bank Sentral di berbagai negara.

Dengan uang itu mereka biayai kampanye presiden AS dan presiden2 lainnya sehingga sulit bagi pemimpin itu untuk menolak agenda Neolib seperti membail-out kaum Neolib dgn uang ratusan milyar dollar jika mereka collapse atau mencabut subsidi yang menaikkan kenaikan harga barang. Cuma segelintir presiden saja yang di luar jangkauan mereka seperti Ahmadinejad, Hugo Chavez, Evo Morales, dsb.

Penyebaran Neoliberalisme

Penerapan agenda-agenda ekonomi neoliberal secara mencolok dimotori oleh Inggris melalui pelaksanaan privatisasi seluruh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mereka. Penyebarluasan agenda-agenda ekonomi neoliberal ke seluruh penjuru dunia, menemukan momentum setelah dialaminya krisis moneter oleh beberapa Negara Amerika Latin pada penghujung 1980-an. Sebagaimana dikemukakan Stiglitz, dalam rangka menanggulangi krisis moneter yang dialami oleh beberapa negara Amerika Latin, bekerja sama dengan Departemen keuangan AS dan Bank Dunia, IMF sepakat meluncurkan sebuah paket kebijakan ekonomi yang dikenal sebagai paket kebijakan Konsensus Washington.

Agenda pokok paket kebijakan Konsensus Washington yang menjadi menu dasar program penyesuaian struktural IMF tersebut dalam garis besarnya meliputi : (1) pelaksanan kebijakan anggaran ketat, termasuk penghapusan subsidi negara dalam berbagai bentuknya, (2) pelaksanaan liberalisasi sektor keuangan, (3) pelaksanaan liberalisasi sektor perdagangan, dan (4) pelaksanaan privatisasi BUMN.
http://id.wikipedia.org/wiki/Neoliberalisme

Lawan ! Cengkraman Globalisasi-Neoliberalisme
Dikirim oleh Webmaster

Pergeseran relasi dunia Internasioanal yang didominasi mazhab free market-neoliberal- optimum pareto dengan asas laissez faire-nya mengundang banyak kontroversi baik dari teori hingga ketimpangan kebijakan yang diterapkan oleh unholy trinity-rezim kapitalisme internasional ; International Monetary Fund (IMF), World Bank dan World Trade Organiztioan (WTO) yang tidak lebih merupakan lokomotif dan perangkat hegemoni kepentingan negara-negara industri maju.

Pendahuluan

Dinamika ekonomi politik Internasional,sampai saat ini sangatlah tidak bisa lepas dari kompleksitas interest conflict antar negara bangsa (state actor), interest capital and profit Multi National Corperations (MNC’s) hingga non state actor lainnya (NGO’s dan interest players). Adapun posisi kontemporer pada era saat ini,dominasi negara (state led development) secara radikal digeser oleh dominasi pasar bebas (market driven development),yang dalam beberapa dekade terakhir seringkali menjadi perdebatan yang sangat krusial dan memunculkan konskwensi-konskwensi logis terhadapa sosial-ekonomi-politik dan budaya dunia.

Pergeseran relasi dunia Internasioanal yang didominasi mazhab free market-neoliberal- optimum pareto dengan asas laissez faire-nya mengundang banyak kontroversi baik dari teori hingga ketimpangan kebijakan yang diterapkan oleh unholy trinity-rezim kapitalisme internasional ; International Monetary Fund (IMF), World Bank dan World Trade Organiztioan (WTO) yang tidak lebih merupakan lokomotif dan perangkat hegemoni kepentingan negara-negara industri maju.

Hegemoni Neoliberalisme

Bukti konkrit dominasi keuntungan oleh negara-negara maju terhadap negara berkembang dan dunia ketiga dalam relasi ekonomi politik internasional, dapat dilihat dari seringkalinya negara-negara maju menggunakan lembaga Internasional (unholy trinity) seperti dalam bidang investasi pembangunan dunia melalui kedok Bank Dunia (World Bank),bidang keuangan moneter internasional dengan IMF dan bidang perdagangan melalui World Trade Organization (WTO).

Hal ini dapat dilihat misalnya dari struktur keanggotaan dalam 184 negara anggota Bank Dunia, 150 negara berkembang di antaranya hanya memiliki kekuatan suara 33 persen. Sementara itu 34 negara maju di dalamnya memiliki kekuatan suara sebesar 67 persen suara hal ini menunjukkan dominasi struktur kepemilikan saham Bank Dunia,maka tidaklah mengherankan kebijakan yang lahir dari Bank Dunia, tidak lebih laksana koorporasi raksasa yang melahirkan kebijakan ”memfasilitasi” kepentingan pemegang saham terbesar. Mulai dari struktur kebijakan hingga penunjukan perusahaan rekanan Bank Dunia yang memiliki afiliasi terhadap negara maju.

Kebijakan penerapan pemberian utang berkedok bantuan luar negeri berupa proyek pembangunan maupun program kebijakan seringkali digunakan sebagai kontrol ekonomi dan politik negara maju terhadap negara penerima bantuan,hal ini dapat dilihat dari penerapan kebijakan Bank Dunia yang cenderung mendorong deregulasi,pencabutan subsidi ranah publik,

perluasan pasar bebas, non proteksi, liberalisasi perbankan,regulasi dan liberalisasi briokrasi dan konstitusi (berbungkus program good governance) yang kesemuanya merupakan penerapan prinsip Washingthon Consensus (Baswir : 2003)

Kebijakan Moneter internasional yang dilakukan oleh IMF pada krisis yang menerpa Mexico dan Amerika Latin hingga krisis Keuangan Asia pada akhir tahun 90’an, yang dalam hal ini Indonesia mengalami krisis terparah, dapat dijadikan contoh sangat relevan, bagaimana peran-peran negara maju (Amerika, Uni Eropa dan Jepang sebagai pemegang saham mayoritas IMF) mendorong kebijakan liberalisasi segala sektor. IMF dengan resep ”mujarab” yang mematikan. Resep Structural Adjustment Program (SAP) atau dapat juga disebut sebagai program liberalisasi seluruh lini sektor-minimalisir peran negara,SAP diterapkan oleh IMF untuk atasi krisis moneter yang berkembang secara membabi buta, hingga menyebabkan krisis yang semakin berkelanjutan.

Secara umum, program penyesuain struktural (SAP) tersebut terdiri dari beberapa elemen. Pertama, pengurangan secara radikal pengeluaran pemerintah atas biaya kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan (pemotongan subsidi). Kedua, privatisasi dan deregulasi perusahaan-perusahaan negara. Ketiga, devaluasi mata uang. Keempat, liberalisasi impor dan menghaspuskan hambatan­-hambatan yang membatasi investasi asing. Kelima, memangkas upah dan menghapuskan atau melemahkan mekanisme-mekanisme perlindungan tenaga kerja (Danaher : 2001).

Penerapan SAP oleh IMF, diawali dengan pemberian suntikan dana moneter,salah satunya melaui mekanisme Utang Luar Negeri. Ketika Indonesia dan negara-negara miskin dan berkembang lainnya mengalami krisis ekonomi pada tahun 1990-an, pemerintah Amerika Serikat bekerjasama dengan pemerintah dari negara-negara maju lainnya, menekan negara-negara berkembang untuk masuk ke dalam paradigma pasar bebas sebagai sebuah kondisi atau syarat untuk mendapatkan pinjaman atau utang. Meskipun negara-negara berkembang tersebut menyadari bahwa kondisionalitas dalam bentuk structural adjustment program (SAP) tersebut merupakan sebuah bentuk baru dari imprialisme kapitalis, namun mereka tidak memiliki pilihan lain dan pemikiran dari para perumus kebijakan telah terkonstruksi oleh gagasan neoliberal ini, maka mereka harus mengikutinya jika ingin mendapatkan utang dengan dalih untuk pembiayaan pembangunan dan mencapai pertumbuhan. Dalam proses ini IMF berperan sebagai lembaga
yang mengawasi dan memastikan diterapkannya kebijakan-kebijakan tersebut, dan Bank Dunia melakukan dorongan diberlakukannya reformasi serupa melalui kedok utang atau pinjaman yang dikondisikan untuk melahirkan kebijakan berorientasi kepada program penyesuaian struktural, dalam bentuk liberalisasi, privatisasi dan deregulasi.

Dalam konteks ke Indonesian terhitung sejak 1950, pemerintah Indonesia memiliki dua jenis utang, yaitu utang luar negeri warisan pemerintah Hindia Belanda sebesar US$ 4 miliar dan utang luar negeri baru sebesar Rp. 4,5 miliar, pada era Soekarno utang luar negeri Indonesia tercatat sebesar US$ 6,3 miliar, pada saat kejatuhan Soeharto, jumlah utang luar negeri Indonesia membengkak menjadi US$ 54 miliar. Prestasi besar dicatat oleh pemerintahan Habibie. Dalam tempo dua tahun, pemerintahan Habibie berhasil menambah utang luar negeri Indonesia sebesar 23 miliar dollar AS menjadi US$ 77 miliar. Penambahan utang ini terus berlanjut sampai ke pemerintahan berikutnya. Maka tidak heran kalau akhirnya pembayaran utang luar negeri Indonesia terhadap lembaga Keuangan Internasional (World Bank, Asia Develoment Bank (ADB), IMF dll) dan Negara-negara kreditor yang notabene Negara maju menyedot hampir 27-30% dari APBN hingga hari ini.

Karakteristik utang luar negeri yang dipenuhi oleh beragam kondisionalitas, pemenuhan kondisi oleh pemerintah di negara pengutang dalam rangka memperoleh tambahan dana untuk menutup defisit neraca pembayaran dalam bentuk kebijakan liberalisasi, privatisasi, dan pemotongan subsidi yang pada dasarnya lebih mencerminkan kepentingan negara kreditor, dan karakter utang yang bersifat elites alliance, kolaborasi antar elit dalam mekanisme pertanggungjawaban antar elit dan bukan kepada rakyat, telah berujung pada semakin terpuruknya kehidupan rakyat

Kritik Strukturalisme

Dalam perspektif paham strukturalisme, baik strukturalisme awal maupun neostrukturalisme, adanya konsepsi menolak ketimpangan-ketimpangan struktural sebagai sumber ketidakadilan sosial-ekonomi. Ketimpangan-ketimpangan struktural yang menyangkut pemusatan, penguasaan dan pemilikan aset dan sumber ekonomi, ketimpangan distribusi pendapatan, produktivitas dan kesempatan ekonomi, serta ketimpangan-ketimpangan dalam kelembagaan pemerintah, partisipasi dan emansipasi sosial-ekonomi, kemiskinan dan pengangguran struktural, merupakan pusat perhatian dan kepedulian kaum strukturalis.

Apabila strukturalisme cenderung menolak mekanisme pasar-bebas adalah karena pasar-bebas seringkali mengakibatkan ketidakadilan relasi sosial-ekonomi suatu negara bangsa,yang seringkali diakibatkan oleh dominasi dan hegemoni negara-negara maju (Swasono: 2002)

Inilah yang kemudian menjadi daya kritik kaum strukturalis, ketika melihat free market-neoliberal sebagai mazhab ekonomi politik Internasional Negara-negara maju melakukan proses dominasi global,yang akhirnya menyebabkan gaps antara kelas elit, menengah hingga rakyat bawah dalam jurang kemiskinan yang dalam. Maka tidaklah heran, jika ungkapan Frank (1984) mengumpamakan hubungan hubungan negara-negara industri Barat dengan non-industri dunia ketiga sebagai rangkaian hubungan dominasi dan eksploitasi antara metropolis dengan satelit-satelitnya. Ketergantungan Negara berkembang terhadap Negara maju sangatlah begitu kuat, pemaksaan dan penerapan mazhab strategi subtitusi import yang cenderung,memaksa Negara berkembang dan dunia ketiga mengekspor raw material terhadap Negara maju dan menerima limpahan paksa produk pasar dan masal dari Negara maju, baik teknologi maupun material perindustrian.

Setidaknya strukturalis mencoba melihat dari sudut pandang negara berkembang dan dunia ketiga. Tujuan ekspansi, dominasi dan hegemoni tersebut ke negara ketiga pada mulanya hanyalah untuk meluaskan pasar produknya yang sudah jenuh dalam negeri sendiri, serta untuk pemenuhan bahan baku. Namun, pada pekembangan lebih jauh, ekspansi kapitalis ini adalah berupa cara-cara produksi, sampai pada struktur ekonomi, dan bahkan idelologi dan budaya.

Struktur ketergantungan secara bertingkat mulai dari negara pusat sampai periperi disampaikan oleh Galtung (1980). Imprialisme neoliberal ditandai satu jalur kuat antara pusat di pusat dengan pusat di periperi (cC-cP).

Asumsi ini berdasar teori ketergantungan (dependensia), yang menganggap ketergantungan sebagai gejala yang sangat umum ditemui pada negara-negara dunia ketiga, disebabkan faktor eksternal, lebih sebagai masalah ekonomi dan polarisasi regional ekonomi global (Barat dan Non Barat, atau industri dan negara ketiga,utara-selatan), dan kondisi ketergantungan adalah anti pembangunan atau tak akan pernah melahirkan pembangunan dan tidak lebih merupakan bentuk imprialisme baru. Keterbelakangan adalah label untuk negara dengan kondisi teknologi dan ekonomi yang rendah diukur dari sistem standarisasi Negara maju penganut kapitalisme-neoliberal.

Karakteristik struktur ekonomi internasional tersebut,memungkinkan negara yang memiliki power yang dominan untuk menciptakan aturan-aturan yang mengendalikan aktifitas-aktifitas ekonomi internasional dalam rangka memenuhi kepentingan-kepentingan yang dimilikinya. Sebagai akibatnya terciptalah pola hubungan yang bersifat asimetris di antara negara hegemon dengan negara lainnya, yang berujung pada ketergantungan negara dunia ketiga kepada negara hegemon, baik itu dari segi ekonomi maupun politik, bahkan tidak jarang perubahan pada struktur domestik sebuah negara yang tergantung ditentukan oleh pola hubungan yang asimetris tersebut.

Bahkan secara ekstrim John Gallagher dan Ronald Robinson dalam artikel “The Imprialism of Free Trade”, menulis bahwa cara seperti inilah yang disebut “kebijakan penjajahan”. Kebijakan itu misalnya kini disebut: “penciptaan ekonomi terbuka, privatisasi, proteksi hak-hak investor luar negeri, aturan tentang ekspor bahan mentah,dll. Semua strategi ekonomi ini, biasanya diterapkan IMF pada negara peminjam dan akrab dengan telinga kita di Indonesia yang sudah terperangkap strategi “The Imperealism of Free Trade” Amerika Serikat (Habibie center: 2004)

Penutup

Realitas hegemoni kebijakan ekonomi politik Negara maju melalui lembaga Internasional,cenderung memiskinkan rakyat negara dunia ketiga. Beban pembayaran Utang dan dampak liberalisasi dan pencabutan subsidi ranah public sector yang berikat langsung dengan rakyat bawah seperti liberalisasi pendidikan, privatisasi), jasa (kesehatan dan pendidikan) dan liberalisasi pertanian menyebabkan pemiskinan terjadi semakin progresif. Pemiskinan ini didorong terhadap ketergantungan dan hegemoni Negara-negara maju yang dikondisikan dalam struktur sistem kebijakan Negara dunia ketiga yang tidak lagi pro terhadap rakyat, dan peran Negara sekedar fasilitator tidak lagi sebagai regulator yang proteksionis (mensejahterkan).

Maka jelas apa yang dikemukakan oleh Raul Prebisch , pada dasarnya sistem ekonomi Internasional itu mengalami bias secara struktural yang lebih condong pada negara-negara industri dan berlawanan dengan kepentingan-kepentingan perkembangan dunia Selatan. Dampak dari liberalisme ekonomi adalah untuk mempertahankan dan memperkuat posisi negara-negara industri yang dominan, yaitu negara-negara yang berada di pusat sistem, dan untuk melanggengkan ketergantungan dunia terbelakang pada kebijakan – kebijakan ekonomi politik mereka (Lyn H.Miller : 2006).

Demikian pula yang diungkapkan Willian K.Tabb,secara lebih luas free market-neoliberal-imprialisme, juga melibatkan pengambilalihan kontrol ekonomi dan politik atas wilayah dan masyarakat lain, baik dengan kekuatan militer maupun dengan cara-cara yang lebih halus. adalah persoalan kebijakan dan praktik negara untuk memperluas kekuasaan dan dominasi, sering kali dengan menggunakan cara-cara ekonomi. Apresiasi terhadap hakekat kapitalisme sebagai sistem dunia dimana negara pusat memanfaatkan kekuasaan atas wilayah pinggiran, saling untuk memperoleh pengaruh dan kontrol, dan bekerjasama untuk menjadi yang terbaik, dengan menggunakan cara apapun (William K. Tab: 2006)

Wajar kiranya kaum strukturalis mulai menggunakan istilah-istilah keras untuk menyentak mind-set neoklasikal, seperti “turbo capitalism”, “greedy capitalism”, “new imperialism”, “the dangerous currents”, “the winner-takes-all market”, “the zero-sum society” dan “the winner-takes-all society”, dst dst. Jan Tinbergen mengatakan kepada saya (1992) bahwa lobang ozon makin besar karena kelakuan “the greedy capitalism”. Lebih lanjut Tinbergen mengatakan bahwa “the limits to growth” (Swasono:2002)

Akhirnya konklusi dari realitas ini menunjukkan, negara-negara maju (antagonist state) dalam frame strukturalis benar-benar mendominasi, mengkondisikan ketergantungan dan menyebabkan pemiskinan yang berkelanjutan pada Negara berkembang dan dunia ketiga. Kebijakan free market–Neoliberalisme yang segaris dengan globalisasi sekedar kepentingan total Negara-negara dan Kita perlu mengingat pula yang dikatakan oleh Henry Kissinger (Trinity College, 1998), bahwa “globalisasi adalah nama lain dari dominasi Amerika Serikat.” Friedman mengatakan “culturally speaking, globalization has tended to involve the spread (for better or worse) of Americanization.”

Sudah saatnya kita mencoba mengambil jalan alternative progresif yang lebih populis, menghadang kerakusan neoliberal-kapitalis, setidaknya dalam pandangan strukturalisme, peduli akan harkat manusia dalam lingkup moralitas ekonomi. Strukturalisme menolak homo economicus yang melahirkan akhlak homo homini lupus, menolak eksploitasi dan proses pemiskinan (impoverishment) sosial-ekonomi (Swasono:2002).

Cengkraman Neoliberalisme, hanya biasa dilawan dengan alternatif kekuatan solidaritas nasional yang berbasiskan populisme dus popular movement dan kearifan profetis. Kebangkitan dan pembebasan dari Rezim internasional dan subordinasi Imprialisme mesti dibendung dengan nasionalisme demokratik popular, bukan sekedar nasionalisme elitis yang sarat dengan basa basi dan jargon. Sound of revolution !

M.Danial Nafis

Ketua Umum Koordinator Nasional Gerakan Mahasiswa Pemuda Indonesia (Koornas GMPI)
http://www.selamatkan-indonesia.net/index.php?option=com_content&task=view&id=224&Itemid=2

Dari komentar “JackManis” di Kaskus:

“Empat Langkah Strategi” World Bank untuk Memperbudak Negara Berkembang

Profesor Joseph Stiglitz, mantan Ketua Ekonom World Bank, dan mantan Ketua Penasehat Bill Clinton, mengakui di publik “Empat Langkah Strategi” World Bank untuk memperbudak negara demi keuntungan bankir.

Langkah Satu : Privatisasi. Pemimpin nasional akan ditawarkan 10% komisi untuk menjual aset-aset nasional. Uang akan disimpan dengan aman di rekening mereka di Swiss.

Langkah Dua : Liberisasi Pasar Modal. Stiglitz menyebutnya siklus uang panas. Dana dari luar negeri harus dibiarkan bebas masuk untuk berspekulasi di real estate dan mata uang. Saat keadaan tampak menjanjikan, uang ditarik keluar untuk menciptakan kekacauan ekonomi.

Negara bersangkutan kemudian akan meminta bantuan dari IMF dan IMF kemudian mensyaratkan untuk menaikkan suku bunga bank antara 30% sampai 80%. Ini terjadi di Indonesia, Brazil, dan juga negara-negara Asia dan Latin lainnya. Suku bunga tinggi ini menyebabkan kemiskinan bangsa, menurunkan nilai properti, menghancurkan produksi industri dan mengeringkan tabungan nasional.

Langkah Tiga : Penentuan Harga Pasar. Harga makanan, air, dan gas dinaikkan yang menyebabkan keresahan sosial yang berujung ke kerusuhan. Ini dikenal dengan istilah “kerusuhan IMF”. Kerusuhan akan menyebabkan pelarian modal dan kebangkrutan pemerintah. Ini menguntungkan korporasi luar negeri karena aset-aset negara tersebut sekarang bisa dibeli dengan harga amat murah.

Langkah Empat : Perdagangan Bebas. Ini adalah tahap di mana korporasi internasional akan memasuki pasar Asia, Latin Amerika, dan Afrika pada saat mereka sendiri tetap mengenakan tarif masuk bagi produk agrikultur negara dunia ketiga. Mereka mengenakan harga yang sangat tinggi untuk obat bermerek dan menyebabkan tingkat kematian dan penyakit yang sangat tinggi.

Akan ada banyak orang yang kalah dalam sistem ini, dan sangat sedikit pemenang, para bankir. Sesungguhnya penjualan utilitas seperti listrik, air, telepon, dan gas adalah prasyarat untuk mendapatkan pinjaman oleh negara berkembang. Aset-aset ini diperkirakan senilai 4 trilyun dolar.

Bulan September, Stiglitz diberikan hadiah Nobel bidang ekonomi.

http://www.kaskus.us/showthread.php?p=207803821#post207803821

Jubilee Plus publishes below a damning interview between Joseph Stiglitz ex-chief economist at the World Bank with the Observer, held over the weekend of the IMF’s 2001 Spring meetings. In the interview he attackes the role of the US in stripping debtor nations of assets. He praised Botswana for defying the Bank and the Fund, and refusing a Structural Adjustment Programme.

IMF’s Four steps to Damnation

(UK) 29th April, 2001 by Gregory Palast

It was like a scene out of Le Carré: the brilliant agent comes in from the cold and, in hours of debriefing, empties his memory of horrors committed in the name of an ideology gone rotten. But this was a far bigger catch than some used-up Cold War spy.

The former apparatchik was Joseph Stiglitz, ex-chief economist of the World Bank. The new world economic order was his theory come to life. He was in Washington for the big confab of the World Bank and International Monetary Fund. But instead of chairing meetings of ministers and central bankers, he was outside the police cordons. The World Bank fired Stiglitz two years ago. He was not allowed a quiet retirement: he was excommunicated purely for expressing mild dissent from globalisation World Bank-style.

Here in Washington we conducted exclusive interviews with Stiglitz, for The Observer and Newsnight, about the inside workings of the IMF, the World Bank, and the bank’s 51% owner, the US Treasury. And here, from sources unnamable (not Stiglitz), we obtained a cache of documents marked, ‘confidential’ and ‘restricted’. Stiglitz helped translate one, a ‘country assistance strategy’. There’s an assistance strategy for every poorer nation, designed, says the World Bank, after careful in-country investigation. But according to insider Stiglitz, the Bank’s ‘investigation’ involves little more than close inspection of five-star hotels. It concludes with a meeting with a begging finance minister, who is handed a ‘restructuring agreement’ pre-drafted for ‘voluntary’ signature.

Each nation’s economy is analysed, says Stiglitz, then the Bank hands every minister the same four-step programme.

Step One is privatisation. Stiglitz said that rather than objecting to the sell-offs of state industries, some politicians – using the World Bank’s demands to silence local critics – happily flogged their electricity and water companies. ‘You could see their eyes widen’ at the possibility of commissions for shaving a few billion off the sale price. And the US government knew it, charges Stiglitz, at least in the case of the biggest privatisation of all, the 1995 Russian sell-off. ‘The US Treasury view was: “This was great, as we wanted Yeltsin re-elected. We DON’T CARE if it’s a corrupt election.” ‘ Stiglitz cannot simply be dismissed as a conspiracy nutter. The man was inside the game – a member of Bill Clinton’s cabinet, chairman of the President’s council of economic advisers. Most sick-making for Stiglitz is that the US-backed oligarchs stripped Russia’s industrial assets, with the effect that national output was cut
nearly in half.

After privatisation, Step Two is capital market liberalisation. In theory this allows investment capital to flow in and out. Unfortunately, as in Indonesia and Brazil, the money often simply flows out. Stiglitz calls this the ‘hot money’ cycle. Cash comes in for speculation in real estate and currency, then flees at the first whiff of trouble. A nation’s reserves can drain in days. And when that happens, to seduce speculators into returning a nation’s own capital funds, the IMF demands these nations raise interest rates to 30%, 50% and 80%. ‘The result was predictable,’ said Stiglitz. Higher interest rates demolish property values, savage industrial production and drain national treasuries.

At this point, according to Stiglitz, the IMF drags the gasping nation to Step Three: market-based pricing – a fancy term for raising prices on food, water and cooking gas. This leads, predictably, to Step-Three-and-a-Half: what Stiglitz calls ‘the IMF riot’. The IMF riot is painfully predictable. When a nation is, ‘down and out, [the IMF] squeezes the last drop of blood out of them. They turn up the heat until, finally, the whole cauldron blows up,’ – as when the IMF eliminated food and fuel subsidies for the poor in Indonesia in 1998. Indonesia exploded into riots. There are other examples – the Bolivian riots over water prices last year and, this February, the riots in Ecuador over the rise in cooking gas prices imposed by the World Bank. You’d almost believe the riot was expected. And it is. What Stiglitz did not know is that Newsnight obtained several documents from inside the World Bank. In one, last year’s Interim Country
Assistance Strategy for Ecuador, the Bank several times suggests – with cold accuracy – that the plans could be expected to spark ‘social unrest’. That’s not surprising. The secret report notes that the plan to make the US dollar Ecuador’s currency has pushed 51% of the population below the poverty line. The IMF riots (and by riots I mean peaceful demonstrations dispersed by bullets, tanks and tear gas) cause new flights of capital and government bankruptcies This economic arson has its bright side – for foreigners, who can then pick off remaining assets at fire sale prices. A pattern emerges. There are lots of losers but the clear winners seem to be the western banks and US Treasury.

Now we arrive at Step Four: free trade. This is free trade by the rules of the World Trade Organisation and the World Bank, which Stiglitz likens to the Opium Wars. ‘That too was about “opening markets”,’ he said. As in the nineteenth century, Europeans and Americans today are kicking down barriers to sales in Asia, Latin American and Africa while barricading our own markets against the Third World ‘s agriculture. In the Opium Wars, the West used military blockades.

Today, the World Bank can order a financial blockade, which is just as effective and sometimes just as deadly. Stiglitz has two concerns about the IMF/World Bank plans. First, he says, because the plans are devised in secrecy and driven by an absolutist ideology, never open for discourse or dissent, they ‘undermine democracy’. Second, they don’t work. Under the guiding hand of IMF structural ‘assistance’ Africa’s income dropped by 23%. Did any nation avoid this fate? Yes, said Stiglitz, Botswana. Their trick? ‘They told the IMF to go packing.’ Stiglitz proposes radical land reform: an attack on the 50% crop rents charged by the propertied oligarchies worldwide. Why didn’t the World Bank and IMF follow his advice? ‘If you challenge [land ownership], that would be a change in the power of the elites. That’s not high on their agenda.

‘ Ultimately, what drove him to put his job on the line was the failure of the banks and US Treasury to change course when confronted with the crises, failures, and suffering perpetrated by their four-step monetarist mambo. ‘It’s a little like the Middle Ages,’ says the economist, ‘When the patient died they would say well, we stopped the bloodletting too soon, he still had a little blood in him.’ Maybe it’s time to remove the bloodsuckers.

http://www.guardianunlimited.co.uk

http://www.jubileeresearch.org/analysis/articles/IMF_Four_steps_Damnation.htm

http://www.globalpolicy.org/component/content/article/209/42969.html
http://kabarislam.wordpress.com/2010/05/11/empat-langkah-strategi-world-bank-untuk-memperbudak-negara-berkembang/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: