Bulan: Agustus 2010

31 Agustus dalam Sejarah

Malaysia Merdeka
53 tahun yang lalu, tanggal 31 Agustus 1957, Malaysia meraih kemerdekaannya dari Inggris. Masyarakat Malaysia sejak abad ke-13 secara bertahap mengenal Islam. Pengaruh Eropa masuk ke negara ini pada awal abad ke-16 dengan masuknya Alburquerque, pelaut Portugis. Pada abad ke 17, Belanda menguasai Malaysia. Kemudian pada tahun 1824 atas perjanjian antara Belanda dan Inggris, Malaysia diserahkan kepada Inggris dan Indonesia diserahkan kepada Belanda.
Pemerintahan Malaysia berbentuk federasi dan tiap negara bagian dipimpin oleh seorang Sultan. Wilayah Malaysia terdiri dari dua bagian terpisah di tepi Laut Cina Selatan. Luas wilayah negara ini adalah sekitar 330 ribu kilometer persegi dan berbatasan dengan Indonesia dan Thailand. (lebih…)

Iklan

Hatta, SBY, Ahmadinejad

Kusmayanto Kadiman, Menteri Negara Riset dan Teknologi RI saat itu mendapat kesempatan untuk mendampingi Presiden Iran Mahmoud Amadinejad ke Jakarta, dari Selasa 9 Mei hingga Jumat 12 Mei 2006 dalam kunjungan kenegaraannya. Sekelumit pengalaman mendampingi Ahmadinejad itu dipublikasikan Pak Kadiman dalam artikelnya yang dimuat Koran Kompas.

Pak Kadiman yang saat itu menjabat sebagai Menristek menulis, Ahmadinejad tampil sederhana. Presiden Iran ini jauh dari tampilan glamor. Sepatu, kaus kaki, celana panjang, baju putih kerah, dan jas yang dia pakai tanpa embel-embel merek terkenal dan biasa kita jumpai di dalam negeri. Ia pun tidak pernah berdasi sebagai salah satu ciri khasnya.

Figur sederhana seperti ini mungkin sulit ditemukan pada tokoh-tokoh nasional saat ini yang cenderung glamour dan ingin tampil beda. Tidaklah heran bila presiden seperti Ahmadinejad disambut luar biasa oleh masyarakat Indonesia. Sambutan luar biasa itu bisa dikatakan sebagai kritikan bagi para pejabat pemerintah saat ini, khususnya kepada Presiden SBY. (lebih…)

Individu dan Masyarakat Industri

Dalam masyarakat industri biasanya terdapat spesialisasi pekerjaan. Terbentuknya spesialisasi pekerjaan tersebut disebabkan oleh semakin kompleks dan rumitnya bidang-bidang pekerjaan dalam masyarakat industri. Proses perubahan yang terjadi dalam diferensiasi pekerjaan ini mengakibatkan terjadinya hierarki prestise dan penghasilan yang kemudian menimbulkan adanya stratifikasi dalam masyarakat yang biasanya berbentuk piramida. Stratifikasi sosial inilah yang menentukan strata anggota masyarakat yang ditentukan berdasarkan sikap dan karakteristik masing-masing anggota kelompok.

Distribusi terjadi karena dalam masyarakat terdapat barang-barang yang bernilai/berharga namun jumlahnya langka dan harus dialokasikan kepada anggota-anggota masyarakat. Model dari proses distribusi dalam masyarakat, terutama masyarakat industri adalah stratifikasi sosial. (lebih…)

Jawaban Sang Ayah

Seorang anak pulang kerumah setelah menyelesaikan ujian bertanya kepada ibunya
Anak   : Bu, tadi aku ujian seperti betul semua, tapi ada yg meragukan jawabnya Bu …….
Ibu      : Apa yang meragukan ?
Anak   : Kalau seseorang mempunyai istri lebih dari 1 apa namanya Bu ?
Ibu      : Poligami nak
Anak   : Asyik betul, kalau yang punya suami lebih dari 1 ?
Ibu      : Itu namanya Poliandri…..
Anak   : Asyik betul lagi…. Kalo yang punya 1 suami dan 1 istri ?
Ibu      : Monogami, sayang …
Anak   : Yaaaah salah dong bu… Kata Ayah jawabnya MONOTON……
Ibu      : Panggil ayahmu sekaraaaaang………!!!
Sumber: milis Hukum Online

Laylatul Qadr; Malam Ketika Semua Penyakit Disembuhkan

Manusia, untuk mencapai kesempurnaan dan ketinggian kemanusiaan, hanya bisa diraih di bawah naungan dan hubungan kedekatan manusia dengan Allah Swt. Bulan Ramadhan adalah kesempatan yang sangat luar biasa. Allah Swt telah berfirman, “Lailatul Qadri Khairun min Alfi Syahr, Malam qadar lebih baik daripada seribu bulan.” (Qs. Al-Qadr: 3). Rasulullah Saw juga bersabda bahwa, Bulan Ramadhan ini dianggap sebagai bulan perjamuan-Nya. Apakah mungkin, manusia yang telah duduk di suatu perjamuan, kemudian ia keluar dari tempat itu, sedangkan ia tidak mendapatkan sesuatu dari perjamuan itu?

Kecuali mereka yang tidak memasuki perjamuan yang syarat dan penuh dengan ampunan dan keridhaan Ilahi. Iya, mereka yang tidak memperoleh nikmat ini sungguh tidak memperoleh nikmat Ilahi itu secara hakiki. Ketidakpunyaan yang sesungguhnya adalah bagi sseorang yang tidak mampu memperolah ampunan Ilahi. (lebih…)

Wahdatul Wujud dan Teologi Asy’ariyah

Oleh: Muhsin Labib

Sufi yang mengalami wahdahul syuhud tetapi menolak konsep wahdahul wujud, berpegang pada konsep wahdahul ma’abud adalah kepercayaan kepada keesaan Tuhan tanpa menafikan kewujudan makhluk ciptaan Tuhan. Sufi golongan ini mengakui bahwa wujud makhluk memang tidak berhakikat tetapi oleh karena makhluk diciptakan Tuhan maka makhluk mempunyai kewujudan yang teguh, stabil, tetap, kekal mempunyai tindakbalas dan sebagainya, bukan seperti wujud khayali yang dibuat oleh ahli silap mata. Jadi, wahdahul syuhud yang membawa sebahagian sufi kepada wahdahul wujud itu juga yang menetapkan sufi pada wahdahul ma’abud.

Ahmad Sirhindi (1564-1624,) lahir di kota Sirhind di India utara. Ia disebutkan sebagai anak keturunan para ulama dan bangsawan yang dikenal dengan gelar khajeh hingga bersambung dengan khalifah Umar. Ia memproklamirkan dirinya sebagai wali milenium karena bukunya ‘al-Maktubat’ (semacam diary) ditulis bertepatan dengan pergantian dari abad ke-16 menuju abad ke-17 dan mengumumkan keinginannya untuk membersihkan Islam India dari pengaruh adat kebiasaan India yang pagan. Usaha Maharaja Akbar untuk menciptakan din- i ilahi, sebuah agama elektis yang terdiri dari semua unsur positif dari agama-agama yang ada di wilayah kemaharajaannya yang luas, menimbulkan kemurkaan kaum Muslim ortodoks, sebagaimana tercermin dalam karya sejarah Bada’oni, Muntakhab al-tawarikh. Konsep keagamaan yang diberi nama din ilahi ini adalah konsesi dan langkah akomodatif Sultan demi meredakan konflik umat Islam dan umat Hindu yang berkepanjangan. Namun, dalam kenyataan selanjutnya, upaya ini malah mendeskeditkan umat Islam, ketika Sultan Akbar memproklamasikan gagasannya sebagai agama resmi di Mughal.

(lebih…)

Jangan Biarkan Kasih dan Sayang itu Hilang

Oleh: Emi Nur Hayati Ma’sum Said

Ikatan perkawinan merupakan sebuah ikatan suci yang terjadi karena adanya kebutuhan dan daya tarik antara laki-laki dan perempuan secara timbal balik. Namun, kehidupan harmonis yang bisa membawa pasangan suami istri menuju ke puncak materi dan spiritual, semata-mata karena adanya unsur “kasih sayang”. Mungkinkah ada rumah tangga yang bertahan dan kontinu dengan tanpa adanya kasih sayang kendati sesaat pun? Mungkinkah masing-masing suami istri mampu bertahan menghadapi pasangannya tanpa adanya kasih sayang secara timbal balik dan hubungan kemanusiaan? Sementara Allah mendasari kehidupan rumah tangga dengan fondasi “cinta dan kasih sayang”.

(lebih…)