Oleh: MAULA | Oktober 14, 2010

Selebriti dan Kelas Sosial Baru

Bukan hal yang mudah untuk menentukan di mana selebritis Indonesia masuk dalam kategori kelas sosial. Sekilas, bisa jadi banyak orang menganggap mereka masuk dalam kelompok kelas menengah jika yang menjadi indikator adalah jumlah penghasilan, gaya hidup ataupun pola konsumsinya. Namun, tidak pernah ada batasan yang cukup jelas tentang kelas menengah. Ariel Heryanto (1993) menyebutkan bahwa sesungguhnya kelas menengah merupakan posisi yang mandiri dalam kaitannya dengan proses dan relasi produksi

Teori kelas sendiri, sebagai salah satu teori penting dalam usaha mengkaji proses perubahan sosial masyarakat, selama ini mendasarkan diri pada pemikiran Marx dan Weber. Pemikiran Marxian hanya mengenal dikotomi dua kelas sosial, yaitu “yang dihisap” dan “yang menghisap”. Dalam konsteks politik, artinya para pemegang kekuasaan adalah kelas atas (penghisap) dan rakyat adalah kelas bawah (yang dihisap). Marx tidak memasukkan “kelas menengah” di antara keduanya. Dari sisi ekonomi, dua kelas itu adalah kelas pemilik modal dan kelas pekerja. Sedang menurut Weber, kelas sosial tidak hanya terdiri dari dua atau tiga, melainkan bisa banyak. Pembentukan kelas tidak hanya ditentukan oleh kepemilikan alat produksi, tetapi juga status sosial, pola konsumsi dan posisinya dalam pasar. Itu sebabnya banyak yang menyatakan bahwa konsep kelas menengah sesungguhnya adalah titik temu dari pemikiran Marx dan Weber.

Di Indonesia, yang disebut dengan kelas menengah selalu identik dengan kaum yuppies. Artinya, indikasinya adalah jumlah penghasilan dan orientasinya terhadap kegiatan konsumsi. Itu sebabnya, kelompok selebritis selalu masuk dalam kelas ini. Sebagai bisnis yang tumbuh pesat, industri hiburan Indonesia memang memiliki putaran uang yang cukup besar. Aktor-aktor yang ada dan akan terlibat di dalamnya selalu dibayangi dengan impian untuk memperoleh penghasilan yang tinggi. Jumlah penghasilan yang diterima oleh seseorang dalam bisnis hiburan biasanya ditentukan oleh seberapa kuat daya tariknya untuk dapat menghasilkan keuntungan bagi pemilik modal hiburan, baik melalui iklan maupun jumlah konsumen (penonton bagi aktor film/sinetron atau pembeli kaset bagi seorang penyanyi/musisi).

Namun, dari kacamata budaya, bukan tidak mungkin untuk memasukkan kelompok selebritis ini dalam kelas atas. Dalam sebuah proses produksi budaya, tetap diperlukan aktor-aktor yang memegang peranan penting. Kita bisa saja menyebut kelompok selebritis sebagai pemilik modal budaya yang memiliki posisi tawar kuat dengan pemilik modal bisnis hiburan (meskipun berada di lingkaran yang sama, tetapi posisi para pemilik modal bisnis hiburan, Raam Punjabi misalnya, tetap dilihat sebagai kelas atas dari sisi ekonomi). Kelompok selebritis ini tetap berperan sebagai produsen—dengan lagu atau film/sinetron sebagai produknya—dan para penggemar mereka sebagai konsumennya. Mereka sendiri harus tetap memiliki taktik dan strategi tertentu untuk bisa melakukan “penguasaan” terhadap para penggemarnya.

Posisi dominan selebritis sebagai pihak yang berada dalam kelas atas tampak saat mereka menggunakan posisinya sebagai public figure untuk mempengaruhi penggemar. Posisi sebagai idola ini memungkinkan mereka untuk dapat menentukan hal-hal mana yang kiranya baik untuk dikonsumsi, dilakukan atau dipakai oleh orang lain. Selebritis berada pada medan budaya yang memungkinkan mereka untuk menentukan modal-modal budaya apa yang berhak dipertarungkan.

Karenanya, selebritis merupakan satu kelas sosial yang istimewa dalam masyarakat kontemporer. Ada banyak kemudahan yang diterima selebritis berkaitan dengan statusnya sebagai individu. Tak heran jika selebritis mau melakukan banyak hal untuk mempertahankan kelas sosialnya yang tinggi ini. Orang biasa pun, tak jarang yang berusaha mati-matian untuk bisa masuk dalam kelas selebritis. Selebritis menjadi salah satu cara untuk “naik kelas”. Kita mencatat, bagaimana Iwan Fals atau Ebiet G. Ade harus bekerja keras agar lagu-lagunya bisa didengarkan orang banyak, bahkan mulai dari mengamen di pinggir jalan. Meski membawakan karya yang sama, tentu ada perbedaan saat mereka akhirnya dianggap sebagai “artis” yang eksis.

Selebritis juga punya sejarah panjang dalam relasinya dengan kelas penguasa. Ini juga merupakan salah satu strategi bagaimana mereka mempertahankan kelas sosial tertentu yang melekat padanya. Kelas penguasa, sebagai pihak yang berwenang untuk membuat regulasi dalam masyarakat—termasuk dunia hiburan—harus didekati dan diminta “doa restunya”. Karenanya, organisasi artis juga selalu melakukan kunjungan minta doa restu kepada presiden jika mereka baru saja melakukan pergantian pengurus. Selain itu, artis-artis yang dekat dengan penguasa merasa punya jaminan adanya peningkatan kemampuan ekonomi (karena dilibatkan pada proyek-proyek bernilai besar) dan nilai plus. Di masa Soekarno, ketika kesenian yang diimpor dari Barat dilarang, maka yang punya hubungan dekat dengan penguasa adalah seniman dari kalangan film, atau musik pop keroncong. Di antaranya adalah Rima Melati (bahkan nama ini pun pemberian Soekarno) dan Yurike Sanger. Seniman-seniman yang dianggap kontrarevolusi dijebloskan ke penjara, termasuk Koes Plus.

Di masa Orde Baru, banyak sekali artis yang dikenal dekat dengan keluarga Cendana ataupun para menteri. Titik Puspa bahkan sempat membuat lagu berjudul “Bapak Pembangunan” yang menurutnya, merupakan simbol kekagumannya terhadap Pak Harto. Selain itu, para selebritis juga dikerahkan untuk mendapatkan dukungan massa. Kampanye Partai Golkar di masa lalu tak ubahnya seperti panggung hiburan yang dimeriahkan oleh penyanyi seperti Camelia Malik, Nicky Astria, Desy Ratnasari, dan lain sebagainya. Banyak juga kisah percintaan yang mewarnai relasi para selebritis dengan para penguasa atau keluarganya. Yang paling menghebohkan adalah kisah cinta Desy Ratnasari dan Abdul Latif. Selain itu, kedekatan Tommy Soeharto dengan beberapa orang artis cantik. Dekat dengan pemegang kekuasaan, selain menjamin mereka dalam hal ekonomi, juga menimbulkan satu kebanggaan

Bagaimana selebritis memperlakukan modalnya untuk bertahan dalam kelas atas? Hal yang menarik adalah sikap selebritis terhadap tubuhnya. Kita sering melihat bagaimana para selebritis menganggap bahwa tubuh adalah modalnya yang utama untuk bisa bertahan dalam status sosial yang istimewa. Karenanya, diet, kosmetik, senam dan olahraga pembentukan tubuh lainnya, serta fashion adalah hal-hal yang sangat akrab dengan dunia selebritis. Akses ke dunia selebritis pun banyak yang menjadikan ‘tubuh dan kecantikan’ sebagai syarat utama. Dunia modelling, misalnya, jelas-jelas mencantumkan syarat wajah fotogenik bagi siapa saja yang berminat untuk masuk ke dalamnya. Demikian pula dalam sinetron—meskipun sebenarnya tidak bisa dibedakan lagi mana yang sungguh-sungguh model dan mana yang sungguh-sungguh pemain sinetron—kemampuan akting bukan lagi persyaratan utama.

Titi DJ pernah punya pengalaman menarik tentang hal ini. Titi memang pernah dikenal sebagai seorang artis yang cukup “cuek” dalam hal penampilan. Gaya busananya sering dianggap aneh dan norak. Menurut Titi, pada masa-masa itu, terbukti tidak banyak tawaran untuk manggung datang padanya. Banyak produsen dan event organiser yang menyarankan Titi untuk sedikit lebih langsing dan lebih feminin. Dan kini, kita melihat bagaimana penampilan Titi DJ. Menurutnya, ia membutuhkan show sebagai sumber penghasilan, dan dalam hal ini, ia memang menyadari bahwa jika ia tidak tampil menarik—meskipun suaranya bagus—maka orang tidak akan senang datang ke konsernya.

Selain itu, yang menjadi modal bagi selebritis adalah juga kecerdasan dan pengetahuannya akan perkembangan budaya. Banjir informasi memungkinkan semua orang memiliki akses untuk menjadi sumber “pengetahuan”. Bagi selebritis, adalah penting untuk menunjukkan kepada publik pengetahuan yang dimilikinya. Apalagi keragaman acara di televisi memungkinkan mereka untuk merambah bidang-bidang lain selain musik dan film, misalnya menjadi pembawa acara infotainment, majalah tivi ataupun talkshow. Pengetahuan akan perkembangan politik ataupun fenomena sosial lainnya, juga akan memberikan cap “intelek” bagi selebritis. Dian Sastro misalnya, banyak orang yang memujinya berkaitan dengan kecerdasan Dian. Dalam sebuah wawancara di majalah Gadis, ia menyebutkan bahwa buku favoritnya adalah Madilog-nya Tan Malaka. Ia juga selalu berbicara mengenai minatnya yang tinggi terhadap ilmu filsafat. Hughes, juga contoh yang menarik. Baginya, kecerdasan memungkinkannya untuk menghibur orang dengan cara yang berbeda.

Ada juga artis yang lebih “serius” dalam masalah intelektualitas ini. Dewi Lestari, sempat membuat heboh dunia sastra lewat Supernova-nya, yang menunjukkan pengetahuannya yang luas tentang berbagai fenomena dalam ilmu sosial, fisika, filsafat dan psikologi. Ada juga Rieke Dyah Pitaloka, yang terang-terangan ikut di garis depan dalam aksi demonstrasi mahasiswa. Belakangan Rieke—yang mahasiswa S2 Filsafat di Universitas Indonesia—menerbitkan kumpulan puisi Renungan Kloset.

Intelektualitas muncul sebagai jalan baru untuk menjadi berbeda.Ini juga menjadi salah satu cara untuk merespon banyaknya kritik yang sering disampaikan pada mereka karena identik dengan dunia yang glamor. Menjadi selebritis yang tampak berbeda, secara sosial menempatkan mereka pada posisi yang berbeda pula dalam kelas selebritis sendiri.
Berbagai usaha yang dilakukan oleh selebritis untuk mempertahankan keberadaannya dalam satu kelas sosial tertentu, dapat dilihat pula sebagai upaya untuk tetap mempertahankan jarak dengan para penggemarnya. Bagaimanapun, selebritis merasa posisinya harus selalu eksklusif. Pada titik ini, selebritis menjadikan media massa tempat mereka biasa tampil sebagai agen untuk memperkenalkan selera dan gaya yang menurut mereka baik. Setelah terjadi proses reproduksi gaya dan selera selebritis dalam masyarakat—yakni ketika gaya mereka mulai ditiru dan dikonsumsi oleh orang kebanyakan—seketika itu juga para selebritis mulai menciptakan gaya yang baru. Mereka akan selalu menciptakan jarak dengan penggemarnya.

Sumber: http://www.cyberforums.us/forum/showthread.php?t=6284


Responses

  1. Setuju..! dan terima kasih.

  2. dear Maula,
    terima kasih telah meminta ijin di artikel kami “Selebriti dan Kelas Sosial” karya MEYTI RIDIRTA di blog YUK NULIS! http://yuknulis.com/meyti-ridirta/selebriti-dan-kelas-sosial

    Mohon untuk mengoreksi sumber artikel dan nama penulis.

    Tentu kamu tidak mau dianggap sebagai plagiator kan? Pernah membayangkan kalau tulisanmu diakui orang lain? Rasanya menyakitkan lho!

    Terima kasih.

    Yuk Nulis!
    YukNulis[dot]com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: