Oleh: MAULA | November 9, 2010

Jangan Biarkan Kau Hidup Di Bawah Bayang Globalisasi

Oleh: Zezen Zaenal Mutaqin 

Anthony Giddens punya sebuah cerita menarik tentang sahabatnya yang suatu saat, untuk kepentingan penelitian, berkunjung ke pedalaman Afrika. Sehubungan dengan keperluan studinya itu, dia menyempatkan mengadakan kunjungan awal sebelum riset diadakan. Pada hari kedatangannya di desa tersebut, yang ada dalam benak sahabat Giddens tersebut adalah upacara sambutan bernuansa etnik dengan berbagai kostum dan tradisinya. Namun ia segera mendapatkan kejutan ketika pada malam penyambutan ia disuguhi film Basic Insting dari sebuah video. Ia diajak nonton bareng warga desa tersebut. Padahal saat itu, tutur Giddens tentang sahabatnya, film Basic Insting yang ditontonnya belum juga banyak beredar di bioskop-bioskop kota London.

Giddens memaparkan cerita tersebut untuk membuka bukunya yang berjudul Runaway World, How Globalisation is Reshaping Our Life. Buku tersebut adalah salah satu buku yang berisi pemaparan teoritis berkaitan dengan satu fenomena yang belakangan ini menggejala di mana-mana dan dirasakan oleh siapa saja: globalisasi. Sebuah fenomena baru. Meski demikian, fenomena tersebut telah berhasil merubah sendi-sendi kehidupan manusia. Masa di mana kita hidup sekarang ini adalah masa yang sangat berbeda dengan masa sebelumnya.

Jaman baru ini, menurut Giddens, lari lintang-pukang, menggilas kehidupan manusia tanpa terkontrol. Sekarang ini adalah sepenggal masa di mana resiko kehidupan menjadi sangat tinggi (high consequence risk). Selain itu, pada masa ini pulalah realitas ruang dan waktu menjadi nisbi. Diantara keduanya terjadi distansiasi, di mana dimensi ruang dicabut dari dimensi waktu. Bayangkan: sebuah kotak kecil bisa menyatukan emosi jutaan manusia di dunia dalam waktu bersamaan ketika David Beckham di Stadion Wembley menyarangkan golnya ke gawang lawan. Apakah mungkin hal itu terjadi pada suatu masa, dulu, ketika nenek moyang kita harus mengendarai kuda untuk keluar kota.
Namun, kalau direnungkan, apakah globalisasi, sebagaimana diungkapkan Giddens di atas, betul-betul baru? Bukankah ratusan tahun silam, jauh sebelum Masehi, orang-orang dari India sudah datang ke desa kita, mengajarkan titah Sidarta Gautama, membeli rempah-rempah dan lain sebagainya? Bukankah Alexander Agung pernah menyatukan separuh dunia di dalam rengkuhannya? Jalur Sutra juga sudah menghubungkan orang-orang dari daratan Eropa dan Asia beberapa ratus tahun silam. Azyumardi Azra bahkan mengungkapkan bahwa jejaring ulama nusantara bisa dilacak awal mulanya sekitar abad 14 atau 15, di mana saat itu Haramain (Mekkah dan Medinah), menjadi lokus utama tempat para ulama dari seluruh dunia muslim berinteraksi membangun jaringan “global”. Jadi apakah memang fenomena tersebut benar-benar baru. 

MELACAK AKAR
Apa yang dipaparkan Robert O. Koehane dan Joseph S. Nye Jr.(Profesor di Harvard University) dalam Foreign Affair edisi musim semi 2000, di bawah judul Globalisation: What’s New What Not? mungkin bisa menuntun kita pada muara jawaban. Menurut keduanya akar globalisasi tentu bisa dilacak sejauh kita mau, sebagaimana sebagian diungkapkan di atas. Namun yang terpenting bukanlah memperdebatkan “baru” atau “lama-nya” globalisasi. Keduanya memilih untuk mengangkat persoalan seberapa “ramping” atau “gemukkah” globalisasi pada setiap fase masa tertentu. Keduanya menggunakan terminologi “thin globalisation” dan “thick globalisation”

Nye dan Koehane mengemukakan contoh bahwa Jalur Sutra telah menjadi sarana interaksi, baik ekonomi maupun budaya, antara tradisi dan kultur yang berbeda: Eropa dan Asia. Perdagangan tersebut telah membuat terjadinya pertukaran barang dan modal, juga perembesan kebudayaan. Namun hal tersebut hanyalah “thin globalisation”. Alasannya karena globalisasi tersebut hanya terjadi di antara segelintir orang dan kelompok saja. Pengaruhnya juga hampir tidak bisa dirasakan kecuali oleh beberapa orang dari lapisan masyarakat tertentu. Sementara itu, globalisasi yang terjadi sekarang adalah “thick globalisation” karena globalisasi sekarang telah menyentuh siapapun dan di manapun, dengan pengaruh yang luar biasa dan tak pernah terbayangkan sebelumnya. Globalisasi telah merevolusi struktur ekonomi, budaya, politik dan lingkungan dunia. Dalam bahasa Thomas Friedman, Globalisasi yang terjadi sekarang “semakin jauh, semakin cepat, semakin dalam dan semakin murah…” Menurut Nye dan Koehane fenomena tesebut bisa dilihat dari semakin “padatnya jaringan” (density of network), semakin “cepatnya institusi-institusi (dunia) berhubungan” (institutional velocity), serta munculnya saling ketergantungan dan partisipasi lembaga transnasional.
Terlepas dari semua perdebatan di atas, fakta bahwa globalisasi telah merubah struktur kehidupan kita adalah sebuah kenyataan. Mungkin tak pernah terbayangkan sebelumnya, juga oleh Giddens di atas, sebuah suku di pedalaman Afrika Tengah menonton Basic Insting, ketika bioskop-bioskop di London belum memutarnya. Juga tak terbersit dalam fikiran kita sebelumnya kalau di sebuah desa yang lumayan terisolir, di kaki Gunung Ciremai, di rumah saya, bisa terhidang McDonald dan Coca Colla untuk menemani tontonan dari CNN dan MTV. Bayangkan: mereka semua hadir—bahkan tak cuma hadir, tapi mereka juga usul untuk merubah, menata ulang, bahkan merusak tradisi, keluarga dan kehidupan kita—dalam tempo hitungan detik dari kejadian sesungguhnya. Sekejap. Satu hal yang benar-benar mustahil terjadi pada suatu masa, dulu, ketika nenek moyang kita harus menempuh waktu berhari-hari untuk menyampaikan sebuah berita.
Apa yang menyebabkan semua ini terjadi? Kenapa hal seperti ini tidak terjadi ketika, misalkan, Nabi Muhammad menyebarkan wahyu? Kalau dulu seperti sekarang, di mana internet dan sms sudah jadi bagian dari keseharian kita, ajaran yang oleh Muhammad disebarkan selama 23 tahun mungkin cukup disebarkan beberapa bulan saja. Apa sesungguhnya kondisi objektif sejarah yang menyebabkan semua ini terjadi. Menjawab pertanyaan ini tentunya akan sangat menantang.
Kenyataan awal yang tak bisa dibantah adalah fakta bahwa globalisasi yang muncul adalah buah segar dari peradaban Barat Modern. Globalisasi adalah anak modernitas yang tonggaknya sudah dipancangkan semenjak Francis Bacon pada masa Renaisance sekitar abad 15 M. Para pemikir basar Barat yang terbentang dari Rene Descartes sampai Stiglitz masing-masing memberikan sumbangsih untuk mengokohkan peradaban mereka. Renaisance sebenarnya muncul dengan sebuah ajaran sederhana yang pada abad pertengahan dikubur di bawah dogmatisme Kristiani: hiduplah dengan akal budimu! Sesuatu yang sudah diajarkan oleh para filusuf Yunani seperti Socrates, Aristoteles dan Plato.
Namun jawaban itu tentu sama sekali tidak memuaskan. Kita butuh sebuah penjelasan yang memuaskan: menemukan apa kekutan penggerak dibalik semua fenomena ini. Christopher Newman[1]mengemukakan bahwa dalam perdebatan seputar hal ini, terjadi dua polarisasi yang berbeda. Pendapat pertama kurang lebih meyakini bahwa globalisasi adalah sebuah fenomena yang muncul akibat suatu penyebab tunggal. Masing-masing orang dalam kelompok ini berbeda pendapat tentang apa penyebabnya. Immanuel Wallerstein (Direktur Fernard Braudel Center for The Study of Economic, Historical Systems and Civilization dan guru besar di Yale Unibersity) dan James N. Rosenau (Profesor Hubungan Internasional George Washington University) termasuk dalam kelompok yang pertama ini. Wallerstein menekankan aspek kapitalisme ekonomi dunia sebagai penyebab munculnya globalisasi. Modallah, dengan perantaraan lembaga keuangan dunia dan Transnational Coorporations, menurut Wallerstein, yang menyebabkan globalisasi. Rosenau barpendapat lain: globalisasi muncul karena kemajuan teknologi.Teknologilah yang memungkinkan dunia saling berhubungan satu sama lain dengan sangat cepat, sihingga di zaman kita sekarang ini ruang dan waktu menjadi nisbi.
Pendapat seperti ini dikritik karena terkesan menyederhanakan persoalan. Karena alasan itulah muncul varian yang kedua. Pendapat yang kedua ini kurang lebih mengatakan bahwa globalisasi yang ada sekarang ini muncul karena sebab yang beragam. Giddens, Robetson dan Joseph S Nye Jr. bisa kita kelompokan dalam kubu ini. Bagi Giddens globalisasi yang muncul sekarang berdimensi politik, teknologi, budaya, militerisme dan juga ekonomi. Globalisasi mempunyai empat gugus institusional, yaitu ekonomi kapitalis dunia, industrialisme, militerisme dan sistem negara bangsa[2] Giddens sendiri merasa keberatan dengan pandangan yang mengatakan bahwa globalisasi muncul semata-mata karena faktor ekonomi. Menurut dia, kemunculan globalisasi sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi semenjak ditemukannya hurup Morse pada abad 19. Pendapat yang lain juga tidak terlalu berbeda dengan pendapat Giddens ini.
Apa yang dikemukakn Giddens dan Robertson, kalau dieksplorasi lebih jauh, mungkin lebih memuaskan dan konfrehensif dalam melihat persoalan globalisasi ini. Namun demikian, untuk kepentingan tulisan ini, saya hanya ingin memfokuskan pada pendapat yang menekankan betapa aspek ekonomi kapitalis dunia adalah penyebab munculnya globalisasi, sebagaimana dikemukakan Immanuel Wallerstein. Menurut pandangan ini, globalisasi adalah wajah lain dari begitu banyak topeng kapitalisme. Ia adalah penjelmaan paling mutaakhir kekuatan modal setelah sebelumnya mengambil bentuk kolonialisme dan pembangunanisme (developmentalisme). Meskipun demikian, hal ini tidak berarti saya menapikan adanya variabel lain sebagai penyebab Globalisasi. Jalur ini diambil karena saya mempunyai keyakinan bahwa diantara sekian variabel penyebab munculnya Globalisasi, variabel ekonomi sepertinya adalah yang paling kuat.
Dalam hal ini isu lingkungan, kebudayaan, gender dan lain-lain, sebagaimana banyak diperjuangan kelompok-kelompok masyarakat sipil, adalah isu sekunder yang muncul sebagai akibat eksploitasi alam dan budaya untuk kepentingan ekonomi. Pendapat ini didukung oleh Andrea Durbin dan Carol Welch dalam tulisannya yang bertajuk The Environmental Movement and Global Finance.[3] Menurut keduanya, kebijakan-kebijakan ekonomi keuangan internasional seperti Bank Dunia, IMF, dan WTO, banyak mengakibatkan dampak negatif terhadap lingkungan. Hal tersebut terutama dirasakan di negara-negara dunia ketiga. Kerusakan hutan Amazon yang telah memicu perlawanan dari kelompok-kelompok lingkungan dan masyarakat lokal sekitar tahun 80-an, adalah contoh dari kebijakan Bank Dunia yang berdampak negatif terhadap lingkungan. Para penyadap karet yang dikomandio Chico Mendez di Barazil dan gerakan Zapatista juga adalah dua contoh menarik dari bentuk resistensi terhadap kepentingan modal yang telah mengorbankan lingkungan. Gerakan lain juga, menurut keyakinan saya, tidak jauh berbeda 

GLOBALISASI ADALAH NEO-LIBERALISASI

Setelah berjuang malawan stroke selama sepuluh hari, Mansour Fakih akhirnya harus menyerah pada suratan takdir. Senin dini hari tanggal 16 Februari 2004, intelektual organik ini meninggal dunia. Empat bulan sebelumnya, November 2003, bukunya yang terakhir dengan judul Bebas dari Neolibralisme diterbitkan oleh lembaga yang selama ini diasuhnya: Insist. Buku itu sendiri, sebagaimana bisa kita tangkap dalam pendahuluannya, adalah buku yang muncul dari hasil pergulatannya dengan masalah kemiskinan.
Pertanyaan dalam buku itu cukup menggigit: kenapa kita miskin. Bagi Mansour Fakih, kemiskinan bukanlah takdir. Kemiskinan terjadi bukan semata-mata karena kebodohan, kemalasan, atau karena lemahnya sumberdaya manusia. Kita, menurut Mansour, “dimiskinkan” oleh sebuah kebijakan sistematik. Kebijakan yang membuat kita miskin itu adalah neoliberalisme.
Dalam buku sebelumnya, Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi, Mansour mengidentifikasi neoliberalisme sebagai ideologi dibalik munculnya fenomena globalisasi. Dari kacamatanya yang Marxis, Mansour melihat globalisasi sebagai kelanjutan pola dominasi para pemilik modal, orang-orang kaya, terhadap orang lemah[4]. Pola dominasi yang menindas ini sudah berlangsung lima ratus tahun. Fase pertama adalah fase kolonialisme, yakni satu fase sejarah di mana kapitalisme di Eropa mengharuskan ekspansi fisik untuk membuka pasar baru dan mendapatkan bahan baku. Melalui kolonialismelah dominasi manusia atas manusia menjelma dalam bentuk penjajahan dan penindasan hampir di separuh belahan dunia.
Selepas negara-negara dunia ketiga ini merdeka secara fisik, fase selanjutnya menunjukan pola yang hampir sama: dominasi yang menindas. Kali ini kehadiran fisik tidak terjadi, dominasi datang dengan seperangkat teori dan ideologi. Masa ini adalah masa neo-kolonialisme. Fase ini juga dikenal dengan fase pembangunan atau masa developmentalisme. Negara-negara yang baru merdeka ini seperti sebuah televisi yang digerakan oleh sebuah remot kontrol.
Ketika fase ini belum selesai, satu lagi tipe mode of domination baru hadir. Fase yang terjadi sekarang ini ditandai oleh liberalisasi dalam segala bidang yang diterapkan secara terstruktur oleh lembaga-lembaga keuangan global seperti IMF dan WTO. Inilah era globalisasi. Secara lebih tegas, menurut Mansour, globalisasi adalah proses pengintegrasian ekonomi nasional ke dalam sistem ekonomi dunia berdasarkan sebuah keyakinan: liberalisasi ekonomi[5]
Apa sesungguhnya neoliberalisme itu? Kenapa bagi Mansour setan yang satu ini terkesan sangat menekutkan? Bagi Mansour neoliberalisme tidak bisa dilepaskan dari liberalisme itu sendiri. Kedunya berasal dari satu nenek moyang yang sama: ekonomi liberal klasik yang lahir dari tangan Adam Smith. Neoliberalisme, meski di sana-sini sedikit mengalami perubahan, tatap memakai prinsip yang sama dengan liberalisme ekonomi klasik. Tokoh neoliberalisme seperti Milton Friedman dan Fredrich August von Hayek adalah dua penganut pandangan ekonomi Smith yang radikal.
Adam Smith dalam magnum opusnya, An Inquiry Into the Nature and Causes of The Wealth of Nations menanamkan sebuah kepercayaan bahwa pasar akan bisa mengatur dirinya sendiri. Jika, dan hanya jika, pasar dibiarkan mengatur dirinya sendiri, kesejahteraan akan tercipta. Akan ada tangan yang tak nampak yang akan mengatur roda perekonomian masyarakat. Usaha-usaha untuk mengatur pasar, sebagaimana dilakukan oleh negara, justru akan merusak jalannya harmoni alamiah kehidupan ekonomi.
Ada baiknya saya mengemukakan satu kalimat panjang dari Smith yang mungkin bisa mewakili pandangannya tentang ekonomi.
“ Jika sistem yang memberikan hak istimewa dan yang memberikan batasan dihapuskan, maka dengan sendirinya akan terbentuk sebuah sistem kebebasan alamiah yang sederhana. Selama setiap pribadi tidak melanggar aturan ini, ia akan diberikan kebebasan sepenuhnya agar dapat memenuhi kepentingannya dengan caranya sendiri serta dapat mengembangkan dan melaksanakan kreatifitas kerjanya, begitu juga modalnya, dalam persaingan dengan orang lain atau dapat mengembangkan modalnya dibidang lain. Penguasa (pemerintah) akan bebas dari kewajibannya, yang untuk melakukannya harus banyak melaksanakan penipuan dan untuk memenuhinya tidak cukup kebijaksanaan manusia…….Dalam sistem kebebasan yang alamiah, kekeuasaan tertinggi (negara) mempunyai tiga tugas yang sangat penting, tetapi mudah dan dapat diterima akal sehat. Pertama, kewajiban melindungi negara dari kekerasan dan serangan segara lain. Kedua, tugas melindungi angota masyarakat sejauh mungkin dari ketidakadilan dan penindasan oleh anggota masyarakat lainnya atau mendirikan sebuah lembaga hukum yang bisa diandalkan. Ketiga, mendirikan atau memelihara beberapa sarana atau institusi untuk umum yang tidak dapat dibuat oleh perorangan atau kelompok kecil, karena keuntungan yang didapat darinya sedikit sehingga tidak dapat menutupi ongkos-ongkosnya.”[6] 

Pada pandangan liberalisme klasik inilah orang seperti Hayek dan Friedman bertumpu. Meskipun keduanya berjalan lebih jauh dengan meradikalkan pandangan “peran negara ramping”. Neoliberal ibarat mencukur plontos peran negara yang sebelumnya sudah cepak. Bahkan kita bisa mendapat kesan, neoliberal memandang negara sebagai musuh bagi pasar yang alami.

Orang seperti Hayek sebenarnya sudah merumuskan teori-teorinya sejak tahun 1940-an. Bukunya yang terkenal, dan menjadi semacam kitab suci kalangan neoliberal, The Road to Serfdom, disusunnya tahun 1944. Namun demikian, gagasannya baru sangat berpengaruh dan menyebar luas sekitar awal 80-an ketika Margaret Tatcher dan Ronald Reagan menerapkannya menjadi kebijakan negara. Hayek datang seperti ratu adil dalam kelesuan ekonomi sekitar tahun 70-an yang muncul sebagai—tentu menurut kalangan neoliberal—akibat dari kebijakan intervensionisme negara dalam pasar selama dasawarsa 40 samapai 60-an.
Sebagaimana kita semua tahu, kebijakan intervensionisme pasar adalah kebijakan ekonomi yang bertumpu pada ajaran dan pandangan John Maynard Keynes (ekonomi Keynisian). Pandangan ini semenjak tahun 1930-an menjadi dominan karena diangap bisa menyelamatkan perekonomian dunia dari depresi ekonomi yang sangat parah dan berkepanjangan pada saat itu.
Keynes, sebagaimana dalam bukunya yang mashur, The General Theory of Employment, Interest and Money, melakukan sedikit revisi terhadap pandangan ekonomi liberal kelasik dengan memasukan peranan negara ke dalam pasar. Untuk menghadapi depresi ekonomi yang parah saat itu, menurut Keynes, negara harus berperan dalam menggerakan roda perekonomian dengan mengontrol inlfasi dan pengangguran serta menerapkan kebijakan investasi untuk membangkitkan belanja masyarakat[7]. Dalam model negara seperti ini negara masuk ke dalam perekonomian masyarakat. Subsidi bagi kesehatan, lingkungan hidup, pengangguran, memberi tunjangan-tunjuangan, melakukan regulasi, dan lain-lain adalah kaidah umum teori Keynesnian. Negara yang seperti ini lazim disebut dengan negara keasejahteraan (welfare state)
Untuk beberapa lama pandangan Keynesian ini bisa mengatasi masalah ekonomi yang menjerat dunia saat itu. Namun sekitar akhir 70-an, negara yang high tax dan big spender (pajak tinggi dan boros) mengalami kelesuan ekonomi. Kalangan neoliberal yang muncul kemudian menuding penyebabnya adalah kerena negara telah merusak roda pasar yang seharusnya dibiarkan bergerak secara alamiah. Kebijakan Keynesian, menurut Friedman, justru akan membangkrutkan masyarakat karena kontrol terhadap inflasi dan pengangguran juga berarti kontrol terhadap peredaran uang[8]. Pengganguran dan masalah lainnya harus dibiarkan pada mekanisme pasar, karena dengan sendirinya pasar akan mengatur keadaan tersebut.
Neoliberalisme mungkin akan semakin jelas dalam pandangan kita, kalau kita sejenak melihat cara bagaiamana mereka melihat hakikat manusia. Bagi kalangan neoliberal, manusia adalah homo economicus. Satu-satunya model yang mendasari hubungan dan tindakan antar manusia, baik itu persahabatan, keluarga, cinta, hukum, tata-negara dan lain-lain, adalah model ekonomi. Dengan kata lain, seluruh relasi antar manusia direduksi pada pola relasi untung-rugi. Jika leberalisme klasik abad 18 menuntut pemerintah untuk menghormati kinerja pasar sebagai salah satu cara jitu kehidupan ekonomi, neoliberalisme menuntut kinerja pasar bebas sebagai satu-satunya tolak ukur untuk menilai bergasik tidaknya semua kebijakan pemerintah[9].
Mansour Fakih dalam bukunya Bebas dari Neoliberalisme memaparkan beberapa pokok pendirian neoliberalisme[10]. Pertama, Kepercayaan mutlak pada pasar bebas. Masuk dalam keyakinan ini beberapa hal: bebaskan perusahaan swasta dari campur tangan negara, lenyapkan kontrol atas harga, berikan kebebasan total arus modal, barang dan jasa dan tekan pengeluaran upah. Semua ini bisa jelas terlihat dalam kredo neoliberal: unreguleted market is the best way to increse economic growth.. Kedua, rampingkan pengeluaran dengan memangkas semua anggaran negara yang tidak produktif seperti subsidi untuk pelayanan sosial, pendidikan, pengangguran dan lain sebagaianya. Ini adalah konsekuansi dari pandangan neolib yang melihat manusia sebagai enterpreneur yang bebas, di mana masing-masing manusia mempunyai dua unsur sebagai modal: ciri genetis bawaan dan keterampilan yang diperoleh dari hasil historisitasnya. Setiap orang telah “diswastakan”, dan masing-masing bertanggungjawab atas dirinya sendiri, dan bertanggung jawab mendapatkan “surplus” dari modal yang dipunyainya. Masalah-sosial seperti kemiskinan, pengangguran dan lain sebaginya, bukanlah urusan negara, karena itu semua adalah masalah individu ‘swasta”. Penangananya bukan welfare system, sebagaimana dalam sistem Keynesian, tetapi individual self-care[11]
Ketiga, neoliberalisme yakin akan perlunya deregulasi. Segala bentuk regulasi negara terhadap pasar harus ditiadakan. Keempat, keyakiana akan privatisasi. Semua perusahaan negara lebih baik dijual kepada investor. Dari bank sampai air tidak lepas dari rencana privatisasi. Kelima, masukan gagasan “public goods”, kesejahetraan sosial, gotong royong dan segala bentuk yang berbau solidaritas bagi persamaan, ke dalam peti es. Ganti semuanya itu dengan: individu, dan hanya individu yang bertanggungjawab bagi dirinya sendiri.
Dalam semua hal inilah kita bisa menyaksikan gejala hilangnya negara. Negara menjadi lebih kerdil dari sekedar negara “penjaga malam”. Modal, terutama modal-modal perusahaan multinasional, telah menggantikan peranan negara. Kekuasaan, otoritas, otonomi dan kompetensi negara telah dialihkan ke tangan “market”, melalui wakil-wakilnya seperti IMF, Bank Dunia, WTO, dan perusahaan raksasa dunia. Negara hanya tingal berfungsi sebagai penyetempel semua kebijakan yang dibentuk pasar. Apa yang diramalkan Marx betul: negara tak lebih dari panitia bagi kepentingan borjuis.
Kebijakan seperti inilah, menurut Mansour Fakih, yang membuat kita menjadi miskin. Alasannya sederhana: modal hanya akan meluluskan kepentingan yang punya modal. Yang punya modal itu adalah negara-negara industri maju, maka yang akan diuntungkan dari semua kebijakan ini hanyalah negara-negara maju. Kita menjadi objek eksploitasi. Yang rusak bukan hanya ekonomi dan kehidupan kita, lingkungan dan budaya juga ikut tergusur. Trickle down effect yang diharapkan akan terjadi untuk mensejahterakan masyarakat jika ekonomi dibiarkan bebas, hanya mitos. Yang ada adalah bertambahnya pengangguran, kemiskinan, kerusakan lingkungan, dan kehancuran budaya. Globalisasi bukanlah kampung global (global village) yang menyenangkan, tetapi tak lebih dari bentuk penjarahan global (glonal village) yang menyengsarakan.
Bagi sebagian yang lain, seperti bagi sebagian kalangan fundamentalis, globalisasi, yang ditopang ideologi neoliberalisme, tak ubahnya proses “Baratisasi”—kalau bukan Amerikanisasi. Perusahaan-perusahaan dunia dan lembaga keuangan dunia sebagian besar berbasis di Amerika. Amerika menjadi satu-satunya negara yang dominan dalam segala hal: ekonomi, militer, kebudayaan, pendidikan dan lain-lain. Semuanya tentu karena mereka yang punya modal. Neoliberaslisme mungkin sangat berhasil, tetapi berhasil hanya di tempat ideologi tersebut disemaikan: Barat.
Namun apakah benar demikian? Menurut saya, pada ujung-ujungnya kita terjebak ke dalam relatifitas pandangan. Tergantung dari mana dan siapa yang melihatnya. Orang yang yakin dengan ideologi neoliberal dan pro globalisasi bisa mengeluarkan sejumlah bukti, tabel statistik dan angka-angka kemajuan ekonomi. Thailand, China, Korea mengalami kemajuan ekonomi dan kemakmuran setelah pasarnya lebih terbuka. Orang yang tidak setuju dengan ideologi tersebut dan menganut ideologi lain, seperti Mansour misalkan, akan melihat lain. Krisis ekonomi dan kesengsaraan, utang yang menumpuk dan lain-lain adalah ulah neoliberalisme ini.
Berkaitan dengan perbedaan cara pandang terhadap globalisasi di atas, sekarang ini kita dihadapkan pada satu fenomena menarik yang merupakan respon terhadap globalisasi. Fenomena tersebut adalah fenomena gerakan anti-globalisasi yang belakangan menguat. Gerakan tersebut adalah bentuk resistensi terhadap globalisasi, karena globalisasi dianggap sebagai sumber bencana, kemiskinan dan ketidakadilan sosial. “Pertempuran di Seattle” pada Desember 1999 yang berhasil menggagalkan pertemuan WTO dan berdirinya World Social Forum pada tahun 2001 di Brazil yang beranggotakan ratusan NGO dari seluruh dunia—yang terakhir menggelar pertemuan di Mumbay India, setidaknya adalah dua hal yang bisa menunjukan menguatnya fenomena anti-globalisasi. Kejadian lain yang merupakan bentuk resistensi terhadap berbagai kebijakan globalisasi, juga terjadi hampir di seluruh belahan dunia.
Fenomena ini sebenarnya juga menunjukan satu hal baru: momen munculnya peranan masyarakat sipil dalam merespon globalisasi. Masyarakat sipil yang dalam teori-teori lama selalu ditempatkan hanya dalam kerangka negara-bangsa, kini harus menempati posisi dalam kancah globalisasi. Secara konseptual, masyarakat sipil sekarang, di satu sisi, harus berhadapan dengan negara, di sisi lain harus juga berhadapan dengan pasar sebagai kekuatan penggerak globalisasi. 

CIVIL SOCIETY MELAWAN ?

Dalam masyarakat sipil sendiri respon terhadap globalisasi sebenarnya cukup beragam. Kalau menggunakan skema yang sederhana, dalam kelompok masyarakat sipil terdapat kelompok yang anti dan yang menghendaki globalisasi. Hal tersebut, menurut saya, tergantung pada cara pandang masing-masing kelompok tersebut melihat persoalan.
Kelompok yang memandang negatif globalisasi, akan mengekspresikan bentuk perlawanan dengan berbagai instrumen sebagai respon. Cara yang paling lazim digunakan sebagai bentuk perlawanan biasanya berbentuk protes melalui demonstrasi dan pembangkangan sipil (civil disobidience)[12]. Cara tersebut banyak digunakan karena dianggap lebih efektif dibanding, misalkan, dengan membuat kritik konseptual terhadap globalisasi. Meskipun tentu dalam realitasnya kedua hal tersebut bisa dilakukan bersamaan.
Bagi kalangan yang anti-globalisasi, ketika negara sudah berada dalam cengkraman pasar, satu-satunya harapan memang tinggal masyarakat sipil (civil society). Itupun dengan satu persyaratan: masyarakat sipil yang harus mentransformasikan dirinya menjadi gerakan-gerakan sosial (social movement) Syarat itu menjadi sangat penting, karena dalam kenyataannya, lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau asosiasi-asosiasi sebagai komponen dalam masyarakat sipil, juga tidak bisa lepas dari hegemoni kekuatan yang dominan. Bahkan, kalau kita merujuk pada apa yang dipaparkan oleh Helmut Anheir, Marlies Glasius dan Mery Kaldov dalam The Global Civil Society Yaer Books, gerakan-gerakan masyarakat sipil yang menentang globalisasi hanyalah satu bagian dari apa yang disebut dengan gerakan masyarakat sipil global (Global Civil Society)[13]Dalam buku tersebut mereka memaparkan berbagai kelompok masyarakat sipil dan posisi mereka terhadap globalisasi. Ada kelompok pendukung seperti perusahaan-perusahaan multinasional yang mengusai perdagangan dunia dan lembaga-lembaga yang terkait dengannya. Ada juga yang menentang[14]
Kelompok penentang melihat globalisasi tak lebih dari proses kapitalisasi dunia di bawah naungan ideologi neoliberal. Globalisasi hanya membuat dunia semakin sengsara. Mungkin ada baiknya kalau saya menyalin utuh apa yang dipaparkan Anheir, Glasius, dan Kaldov: 

Jenis kelompok Posisi Terhadap Globalisasi

Pendukung Perusahaan-perusahaan bisnis multinasional dan lembaga-lembaga yang terkait.
Menghendaki kapitalisme global. Sponsor globalisasi. Menghendaki penegakan hukum secara universal
Penentang
Gerakan-gerakan sosial anti kapitalis; para nasionalis, gerakan fundamentalis
Oposisi Kiri terhadap kapitalisme global. Menghendaki kedaulatan nasional Negara.
Reformis
Sebagian besar IGO (International Government Organisations) Beberapa institusi internasional; beberapa gerkan social dan jaringannya
Ingin membuat globalisasi semakin ‘beradab” atau manusiawi (civilise globalisation)
Alternatif
Kelompok-kelompok akar rumput (grass roots) Gerakan-gerakan sosial;
Memilih untuk keluar dari globalisasi
Dari pemaparan di atas kita bisa melihat bahwa dalam payung masyarakat sipil global (global civil society) terdapat banyak kelompok dengan respon yang berbeda-beda terhadap globalisasi. Kelompok penentang dan kelompok alternatif pada tabel di atas sebenarnya memiliki satu pandangan yang hampir sama: anti-globalisasi. Kelompok pendukung dan reformis juga sebenarnya memiliki satu sikap yang juga hampir sama: mendukung globalisasi. Kelompok reformis sedikit berbeda dengan kelompok pendukung dalam hal bahwa kelompok ini menghendaki satu model globalisasi yang tidak terlalu eksploitatif dan lebih manusiawi.
Lebih lanjut Alison Von Rooy menulis dalam buku Civil Society and Global Finance, bahwa Bank Dunia saja, semenjak tahun 1973, telah melibatkan LSM-LSM dalam 752 proyeknya. Lembaga seperti IMF bahkan kini mempunyai jaringan mailing list dengan sekitar 1000 buah LSM diseluruh dunia[15]. Jadi, hanya berharap pada masyarakat sipil saja sama sekali tidak cukup untuk menggerakan roda anti-globalisasi.
Mungkin itulah yang membuat Mansour Fakih dalam tulisan di akhir bukunya Bebas dari Neoliberalisme sedikit pesimis dengan keberadaan masyarakat sipil dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang diharapkan menjadi kekuatan hegemoni tandingan (counter-hegemony) terhadap globalisasi. Menurutnya, sebagian besar LSM, elit partai, cendekiawan, agamawan banyak yang tidak menyadari bahaya globalisasi dengan ideologi neoliberal di belakangnya. Dan karena itu mereka berada dalam dilema antara memilih menjadi kekuatan yang “memihak” pada globalisasi, ataukah mereka akan menjadi bagian dari kekuatan ‘social movement” dengan melakukan perubahan sosial dan ikut menawarkan konsep alternatif[16]
Masyarakat sipil (civil society) secara tidak langsung telah menjadi panggung ajang pertarungan ideologi-ideologi untuk menancapkan pengaruhnya. Dalam hal inilah sepertinya konsep Gramsci tentang hegemoni menjadi penting, karena dengan konsep tersebut kita bisa melihat fenomena yang dikeluhkan oleh Mansour Fakih di atas.
Sebagaimana kita tahu, titik awal teori hegemoni Garmsci sebenarnya bertitik pangkal pada proposisi yang sederhana, yakni bahwa sebuah kelas yang berkuasa akan menjalankan kekuasaan terhadap kelas di bawahnya baik lewat kekerasan, maupun lewat cara-cara persuasif. Hegemoni adalah model dominasi lewat belayan, bukan cambukan, di mana faktor konsensus atau kesepakatan menjadi faktor utama penentu ketundukan.
Sebelum dilanjutkan, ada baiknya kita menyinggung sedikit pandangan Gramsci tentang masyarakat sipil, karena sepertinya, dalam pandangan Gramsci, keduanya tak dapat dipisahkan. Namun harus diingat, baik teori tentang hegemoni maupun civil society yang dulu dikonstruksi Gramsci, selalu diandaikan berada dalam kerangka negara-bangsa (nation-state). Dan sekarang kita mencoba mengabstraksikannya pada ranah yang lebih makro, yakni ranah mayarakat global. Menurut Gramsci, berbeda dengan masa sebelumnya, dalam struktur masyarakat kapitalis sekarang terdapat tiga jenis hubungan sosial: hubungan produksi sebagai pola hubungan yang mendasari interaksi pemodal dan buruh; hubungan koersif yang menjadi pola dasar hubungan negara; dan hubungan sosial lain yang merupakan pola dalam masyarakat sipil[17].
Pola hubungan dalam masyarakat kapitalis tersebut kemudian membentuk tiga ranah yang berbeda, yakni ranah masyarakat politik atau negara, pasar (masyarakat ekonomi) dan masyarakat sipil[18]. Pada ranah masyarakat politik, negara menjalankan pola hubungan yang memaksa. Negara bahkan menjadi agen yang mempunyai legalitas untuk melakukan kekerasan (violence). Dalam masyarakat ekonomi kapitalis, pola hubungan yang terjadi adalah hubungan eksploitasi antara kelas yang memiliki alat-alat produksi, yakni kaum borjuis, dan kelas pekerja (ploretar). Sementara dalam masyarakat sipil, yang menjadi corak hubungan adalah kesepakatan (konsensus) melalui hegemoni. Karena itulah, masyarakat sipil menjadi arena tempat kekuatan-kekutan idologi, baik ideologi borjuis maupun pekerja berebut kekuasaan dan pengaruh. Ideologi-ideologi tersebut perlu menghegemoni masyarakt sipil, karena masyarakat sipilah yang akan menjadi alat efektif bagi kemapanan ideologi tersebut. Civil sosiety, dalam istilah Arato, menjadi benteng bagi ideologi dominan (baca: ideologi borjuis). Asosiasi-asosiasi dalam masyarakat sipil pada ujungnya tidak bisa dilepaskan dari pengaruh kekuatan ideologi dan kelompok ekonomi.
Dengan demikian jelaslah kenapa ada sebagian lembaga yang mendukung dan menentang globalisasi dalam masyarakat sipil. Keberadaan lembaga-lembaga tersebut tidak lepas dari kekuatan ideologi yang melatarbelakanginya. Kalau kekutan yang dominan sekarang adalah ideologi neoliberal, maka tak aneh kalau banyak lembaga-lembaga dalam masyarakat sipil yang “berpersfektif” neoliberal dan mendukung globalisasi. Namun demikian, tidak berarti kekuatan lain yang lebih lemah tidak punya tempat. Kekuatan tersebut bisa menyusun kekuatan dan pengaruh. Gramsci menyebutnya “counter-hegemony” (hegemoni tandingan atas kekuatan yang dominan). Dalam hal inilah gerakan anti-globalisasi harus kita tempatkan. Gerakan anti-globalisasi adalah gerakan tandingan atas ideologi yang dominan dalam masyarakat sipil. Berkaitan dengan hal ini, komentar Arato dan Cohen, sekali lagi, cukup menarik. Menurutnya, gerakan-gerakan sosial yang menguat, justru menunjukan bahwa kekuatan hegemonik dalam masyarakat sipil adalah kekuatan kaum borjuis. Karena kalau masyarakat sipil telah berubah menjadi socialist civil society, maka raison d’etre gerakan-gerakan sosial menjadi tidak ada.[19]
Namun demikian, gerakan anti-globalisasi, bagi saya, sering terjebak pada utopia. Utopia dalam pengertian bahwa apa yang ingin dicapainya, adalah sesuatu yang mustahil. Selama ini gerakan anti-globalisasi seperti tak punya alternatif lain selain apa yang ditawarkan oleh idiologi Marxis. Contoh kecil adalah, lagi-lagi, Mansour Fakih. Akhir bukunya Bebas dari Neoliberalisme hanya berisi jargon-jargon utopia. Ia mengulang lagi kata-kata Karl Marx: kaum miskin sedunia bersatulah! Tak ada solusi meyakinkan yang diberikannya. Yang ditawarkannya hanyalah “…demokrasi sosial yang memihak pada rakyat miskin.”
Dalam hal inilah Gramsci juga bagi saya akhirnya utopis. Karena harus diingat bahwa perhatian utama Gramsci adalah revolusi kaum ploretar dan penjelmaan masyarakat sosialis. Oleh karena itu, keseluruhan analisisnya dibingkai dalam paradigma umum teori kelas Marxian. Pertanyaan-pertanyaan bagaimana membangun kesadaran kelas pekerja yang merupakan tugas intelktual organik; bagaimana membangun blok historis untuk membuat counter-hegemoy kaum sosialis; bagaimana membuat kekuasaan kaum pekerja, adalah pertanyaan khas Marxian. Bagi saya apa yang dilakukan Gramsci cukup berhasil dalam batasan analisis dan konseptualisasi. Dan menemukan kegagalan ketikan mengharapkan revolusi sosialis kaum ploletar sebagai buah dari analisisnya
Menurut saya, gerakan anti-globalisasi sebagai bentuk perlawanan adalah sesuatu yang akan tetap berguna dengan satu catatan: bahwa gerakan tersebut anti terhadap unsur-unsur tertentu dari globalisasi, bukan anti pada globalisasi itu sendiri. Melepaskan diri dari globalisasi dengan segenap piranti ideologisnya, sepertinya adalah sesuatu yang hampir mustahil. Ibarat ikan yang ingin hidup di luar kolam.
Saya sudah memaparkan di atas bahwa negara dan bahkan masyarakat sipil sekalipun tak bisa lepas dari kungkungan globalisasi dan ideologi di baliknya. Karena hal tersebut, bagi saya, gerakan anti-globalisasi adalah satu gerakan yang hanya bertugas untuk menjadi cambuk agar globalisasi terus manusiawi, bukan gerakan yang berpretensi menggantikan tatanan yang ada dengan sesuatu yang benar-benar baru, sebagaimana diimpikan kaum utopis. Globalisasi yang tunggang-langgang tersebut harus terus sekuat tenaga dikendalikan. Dan gerakan-gerakan anti-globalisasi adalah pecut yang akan bisa mengendalikan globalisasi. Dalam konteks inilah saya melihat orang seperti Joseph Stiglitz di tempatkan. Bukunya Globalisation and Its Discontent adalah buku yang ingin menjadi pecut bagi globalisasi yang menurutnya telah jauh melenceng dari tujuan awal.
Saya dari awal mencoba sangat berhati-hati agar tidak terjebak ke dalam posisi menerima atau menolak, karena bagi saya masalahnya bukan itu. Bagi saya masalahnya adalah bagaiman kita seharusnya mengimbangi apapun yang merupakan kekuatan yang lebih besar. Globalisasi dengan ideologi neoliberal adalah kekuatan yang sekarang ini hegemonik dan bahkan tak terhindarkan, karena itu harus senantiasa diimbangi. Alasannya sederhana: agar kekutan yang lebih besar tersebut terus terkontrol dan manusiawi.
Sekali lagi, bagi saya masalahnya adalah bagaiman kita seharusnya mengimbangi apapun yang merupakan kekuatan yang lebih besar. Dan perlawanan masyarakat sipil terhadap globalisasi adalah upaya untuk mewujudkan hal tersebut***** 

[1]Lihat http://www.suitecol.com/article.cem/sociology
[2] Pemaparan ini bisa kita jumpai dalam hampir sebagian besar buku Giddens yang membahas tentang globalisasi seperti Runaway World, How Globalisation is reshaping Our Live dan The Thrid Way The Renewal of Social Democracy dan lain-lain. Pemaparan yang lebih mendalam bisa dilihat dalam karyanya ini.
[3] Civil Society and Global Finance, edited by Jaan Aart Scholte and Albretch Schnabel, Routledge, 2002. hal, 213
[4] Mansour Fakih, Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi, Insist Yogyakarta, 2001. hal 208
[5] ibid, hal 210
[6] Paul-Heinz Koesters, Tokoh-Tokoh Ekonomi Menubah Dunia, Gramedia Jakarta 1987. hal 27. Buku ini terjemahan dari karya aslinya yang berjudul Okonomen Verandern die Welt, terbit di Hamburg 1983
[7] Lebih jelas silakan lihat tulisan B. Herry Priono dalam buku Neoliberalisme, editor: I Wibowo dan Francis Wahono, Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas, Yogyakarta, 2003. Hal 52-53.
[8] Ibid, hal 53
[9] ibid, hal 54-55
[10] Mansour Fakih, Bebas dari Neoliberalisme, Insist Yogyakarta, hal 56-58.
[11] Opcit 56.
[12] James Hamilton, Katharine Kleeman, http://www.sssn.flinders.edu.au
[13] Mike Moore “A World without Walls: Freedom, Development, Free Trade and Global Governance” Cambridge University Press, 2003. Hal 191.
[14] kita harus membuat catatan, bahwa pengertian masyarakat sipil yang mereka gunakan harus ditempatkan dalam konsep masyarakat sipil Hegelian. Yakni konsep masyarakat sipil yang, menurut saya, cakupannya sangat luas, yakni suatu struktur masyarakat di luar entitas keluarga dan negara
[15] Jaan Aart Scholte and Albretch Schnabel, op cit hal 251
[16] Opcit hal 132.
[17] Roger Simon, Gagasan-Gagasan Politik Gramsci, Pustaka Pelajar 2000. hal 103
[18] Kalau dalam konsep masyarakat sipil Hegelian struktur pasar adalah bagian dari masyarakat sipil, dalam konsepsi Gramsci keduanya terpisah. Penjelasan lebih jauh tentang latar belakang konseptual kenapa Gramsci membedakan domain ekonomi dari civil society, bisa dilihat dalam buku Jean L. Cohen dan Arato, Civil Society and Political Theory. halaman 143-144
[19] Ibid. hal 147


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: