Oleh: MAULA | November 26, 2010

Haruskah Kita Percaya?

Why Don’t You Get A Life And Grow Up!
Why Don’t You Realize That You’re Fucked Up!
Why Criticize What You Don’t Understand!
Why Change My Words, You’re So Afraid!

You Think You Have The Right To
Put Me Down?
Propaganda Hides Your Scum
Face To Face You Don’t Have A Word To Say
You Got In My Way, Now You’ll Have To Pay

Don’t, Don’t Believe What You
See!
Don’t, Don’t Believe What You Read
No!!!
[Sepultura – Propaganda]
What is Propaganda?What is Propaganda?

Propaganda, propaganda dan propaganda. Apa sebenarnya yang terjadi? Kutipan lirik lagu lawas dari salah satu band asal Brazil yang saya jadikan pembuka tulisan ini mengingatkan pada lekatnya benak kita dengan gejala-gejala “tak perlu berpikir, diamlah dan nikmati berita-berita yang berhamburan”.

Noam Chomsky dan Edward S. Herman menguraikan apa yang disebut sebagai “model propaganda”, kekuatan “tak terlihat” yang menjamin bahwa media massa akan memainkan peran propaganda, menyebarkan informasi yang bias. Media semata :memobilisasi dukungan untuk kepentingan istimewa yang mendominasi negara dan kegiatan privat. Chomsky dan Herman menjelaskan lebih lanjut dengan memaparkan “lima saringan berita” (news filter) yang menjadi jantung model propaganda. Saringan-saringan tersebut pada satu tingkat dan waktu akan menghapus semua “elemen-elemen yang tak diinginkan” dari kemungkinan untuk menerobos ke rumah-rumah dan bahkan ke dalam benak pikiran kita. Bisa dibayangkan, apa sebenarnya “propaganda” ini. Setiap yang kita saksikan di media, kita baca, kita dengar, apa yang kita perbincangkan dengan orang-orang lain, segala tema yang menjadi perdebatan hangat (bisa jadi) adalah hasil dari propaganda. Kita menerima propaganda, mengunyah dan menelan mentah-mentah, mengeluarkannya lagi hanya untuk dikonsumsi berjamaah. Sungguh merupakan reproduksi teks yang mengerikan.

Apa saja lima saringan berita tersebut? (1) Uang, yaitu kekayaan para pemilik modal yang melimpah. Menunjukkan bahwa kepemilikan media terkonsentasi di genggaman segelintir tangan korporasi besar, dan fakta bahwa korporasi media -seperti korporasi lainnya- eksis hanya untuk meraup laba.Pada sekitar abad ke-19, pers bebas mulai berakar di Inggris yang mewakili identitas kaum buruh dalam suatu cara yang belum dikenal sebelumnya, tapi pada paruh abad itu, koran-koran kecil tersebut mati dan digantikan oleh entitas yang lebih besar. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, maka biaya persaingan dalam pasar yang lebih besar itu pun berkembang. Untuk mendirikan sebuah media penerbitan dibutuhkan jumlah biaya yang besar pula. Saringan ini merupakan hambatan luar biasa bagi siapa pun yang ingin mendapat tempat di pasar media. Hanya orang dengan kekayaan melimpah yang bisa mendaftar, dan tiap tahun media semakin terkonsentrasi ke semakin sedikit tangan. Sentralisasi semakin meningkat sejak Perang Dunia II, dengan muculnya televisi dan jaringan-jaringan nasionalnya. Apalagi televisi sekarang menjadi sumber utama berita bagi publik. Namun ketika muncul televisi kabel dan media-media elektronik baru seperti internet, kecenderungan menuju ke arah desentralisasi. Tetapi, masih dirasakan jika upaya monopoli berusaha untuk mengekang media-media baru. Buktinya, sampai abad ini, kekuatan media masih diatur oleh kepemilikan modal.

 

don’t try to think!

Sebelum munculnya (2) Iklan, harga surat kabar harus dapat menutupi biaya produksi. Tapi dengan biaya yang harus dibayar para pengiklan, publikasi dapat dipasarkan dengan harga kurang dari ongkos produksinya. Ini menyebabkan surat kabar yang tidak menjual iklan akan terpental dari lingkaran pasar. Iklan dalam publiaksi yang melayani orang kaya akan membuat mereka meraup uang yang lebih banyak karena orang kaya memiliki uang untuk dibelanjakan. Bahkan, pemograman media penyiaran di Amerika (di samping media cetak) dibeli dan dijual oleh pengiklan, dan mereka terang-terangan mengendalikannya.

Untuk memenuhi kuota dalam berita-berita harian, institusi media memerlukan (3) Sumber Informasi Berita yang handal dan kokoh. Para wartawan tidak dapat ke mana-mana dalam satu waktu untuk mencari berita, sehingga mereka akan memusatkan aktivitas di tempat-tempat di mana berita muncul setiap hari secara rutin, misalnya kantor polisi, bank, kantor-kantor bisnis atau gedung-gedung pemerintah. Mereka menjadi sumber informasi yang ‘terpercaya’ akibat dari status politik, ekonomi dan intelektualitas. Cara ini tentunya sangat menghemat waktu. Hal ini yang jadi alasan mengapa birokrasi berita memiliki hubungan dekat dengan birokrasi pemerintah dan bisnis, dan sangat bergantung keapda mereka agar memperoleh pasokan berita secara ‘lengkap’. Selain itu, jika kita meragukan informasi ‘versi pemerintah resmi’, akan ditampilkan para ‘pakar’ dari berbagai bidang. Tentunya, para ‘pakar; ini dapat dikooptasi oleh korporasi besar atau kepentingan pemerintah atau institusi lain yang menetukan gaji dan pendanaan setiap ‘informan’ dalam berita.

 

JFK Can FlyJFK Can Fly

(4) Flak ialah istilah yang menunjukkan reaksi negatif atas pernyataan media, biasanya berupa surat, telepon, petisi, tuntutan hukum, pidato, rancangan undang-undang dan bentuk-bentuk tindakan hukum lainnya. Pihak yang dirugikan oleh pemberitaan media tentunya memiliki kekuatan untuk memprotes media.  Saringan berita yang terakhir adalah (5) Isu Global. Di masa perang dingin isu tentang ‘Anti Komunisme’ menajdi mekanisme pengendali dalam media. Ketika Uni Soviet runtuh, para pakar propaganda mulai kebingungan mengenai siapa musuh yang harus diletakkan dalam lingkaran setan. Imajinasi yang terbentuk saat ini ialah, bahwa musuh utama adalah terorisme. Isu terorisme lalu perlahan dan semakin menguat merujuk pada kelompok Islam garis keras dan Timur Tengah. Hal ini sudah jamak kita jumpai dalam berita-berita media dan bahkan dalam media hiburan misalnya film.

 

we'll bomb who we want!we’ll bomb who we want!

Jika melihat dari ringkasan di atas memang sangat mengerikan. Chomsky telah menunjukkan bahwa media telah menjual beberapa mitos yang sangat sempurna mengenai media. Mitos-mitos yang menyebutkan bahwa negeri kita tidak dimiliki, diatur dan dikendalikan oleh segelintir orang kaya. Bahwa, media kita tidak dimiliki, diatur dan dikendalikan oleh segelintir orang kaya dan opini kita dengan bebas dibentuk, tidak dipaksakan, dimanipulasi atau direkayasa sesuai rancangan segelintir orang kaya. Lalu apa yang dapat dilakukan? Chomsky memberi jawaban untuk mengatasi perasaan tak berdaya dari orang yang ingin melakukan tindakan benar dalam dunia yang semakin kompleks dan berbahaya ini;

 

ChomskyChomsky

 

“Kamu bertanggung jawab atas konsekuensi yang dapat diperkirakan dari tindakanmu. Pertanyakan segala sesuatu. Hal yang paling penting adalah melatih pikiran sehingga tidak mudah ditipu. Latih pemikiran dengan mengkritik dan melontarkan pertanyaan sebab penerimaan pasif adalah kebiasaan yang berbahaya.”

[Sebagian besar sumber tulisan merupakan hasil ringkasan dari buku Chomsky for Beginner by David Cogswell – 1996)

Sumber: http://bnugroho.wordpress.com/2010/05/13/masihkah-kita-percaya/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: