Hari: Januari 1, 2011

Film; The Messenger

Menjadi pengirim pesan sepertinya adalah pekerjaan mudah tapi tidak jika pesan yang harus dikirimkan adalah berita duka. Itulah pekerjaan paling berat yang harus diemban tentara pengirim ‘pesan kematian’ setelah mereka pulang dari sebuah pertempuran. Kali ini tugas berat ini jatuh ke tangan Will Montgomery (Ben Foster). Sepulang dari tugasnya di Irak, Will dan Tony Stone (Woody Harrelson) adalah dua orang tentara yang ditugaskan di Casualty Notification. Tugas mereka adalah mengirim kabar duka dengan datang langsung ke rumah keluarga para tentara yang meninggal di medan tugas ini. Tak perlu waktu lama buat Will untuk menyadari bahwa tugas menjadi pembawa pesan ini ternyata jauh lebih berat dari menghadapi musuh di medan perang. (lebih…)

Asyura dan Karakter Islam Nusantara; Perspektif Budaya

Peringatan Tabot di Bengkulu

Peringatan Tabot di Bengkulu

Salah satu kekuatan tradisi Syi’ah maupun Sunni di Nusantara adalah kemampuannya membentuk Islam berkarakter moderat, toleran dan akomodatif terhadap kebudayaan lokal. Seperti ditunjukkan pada kemunculan kesultanan Islam pertama di Indonesia, Pasai, yang berkultur Syi’ah, hingga kehadiran Walisongo di Jawa. Tidak berlebihan kalau Abdurrahman Wahid dalam satu tulisannya di Warta NU (1995) menyebut penyebaran Islam di Nusantara dimungkinkan karena Islam Sunni di Jawa lebih berkarakter “Syi’ah kultural”. Mengapa demikian?

Karena wajah yang seperti itulah yang menjadikan Islam begitu mudah diterima oleh berbagai etnis yang ada di Nusantara. Hal ini terjadi karena ada kesesuaian antara agama baru (Islam) dengan kepercayaan lama mereka. Setidaknya kehadiran Islam tidak mengusik kepercayaan lama, tetapi sebaliknya kepercayaan tersebut diapresiasi dan kemudian diintegrasikan ke dalam doktrin dan budaya Islam. Karena kemampuan berdialog dan melakukan tawar-menawar dengan kebudayaan setempat itulah yang menyebabkan agama Islam secara umum bisa berkembang dengan pesat tanpa menemukan benturan yang berarti dengan kepercayaan, tradisi dan budaya yang ditemui. (lebih…)

Membangun Kemandirian Ekonomi Indonesia

Hugo Chavez

Hugo Chavez

Oleh Bahrullah Akbar

PROFESOR Sarbini Sumawinata (1983) menulis, “sejarah ekonomi kita adalah sejarah tanpa perubahan.” Pernyataan demikian memang sangat satir dan terkesan hiperbolis.

Namun, apabila dikaji secara mendalam, perkembangan perekonomian Indonesia sejak kemerdekaan hingga reformasi saat ini belum menunjukkan perubahan yang berarti. Hal ini bukan berarti sejarah kemerdekaan kita statis, justru sebaliknya sangat dinamis. Akan tetapi, gelombang dinamika sejarah kita selalu kembali ke titik semula. Akibatnya, sekarang kita berdiri pada titik yang tidak ada perubahan dibandingkan dengan titik permulaan. Khususnya bila melihat dari segi pembangunan ekonomi yang berorientasi pada kemakmuran dan kesejahteraan rakyat banyak.

Kalau kita membandingkan struktur ekonomi pada zaman kolonial dan masa permulaan kemerdekaan dengan struktur ekonomi sekarang, beberapa hal seolah-olah menunjukkan adanya perubahan struktur. Khususnya bila kita melihat sumbangan sektor pertanian terhadap GNP dan GDP, seolah-olah nampak perubahan struktur ekonomi yang besar. BPS (2010) mencatat sumbangan sektor pertanian pada Triwulan I Tahun 2010 sebesar 16.0 persen.
(lebih…)

Refleksi Toleransi Kehidupan Beragama di Indonesia pada tahun 2010

Gus Dur

Gus Dur

Oleh : Benget Silitonga

Tahun 2010 tercatat sebagai tahun yang sarat dengan praktik intoleransi beragama dan berkeyakinan, baik di level nasional maupun lokal.

Beberapa kasus intoleransi yang menyita perhatian publik di tahun 2010 ini diantaranya, berulangnya kekerasan terhadap penganut Ahmadiyah di berbagai tempat, dan tragedi menghebohkan yang menimpa warga Gereja HKBP di Ciketing, Bekasi.

Di penghujung tahun 2010, praktik intoleransi juga terjadi terhadap warga HKBP Bethania, Rancaekek, Bandung. Sementara di tingkat lokal, praktik intoleransi terjadi berkaitan dengan rencana sekelompok massa dan pemerintah kota setempat untuk menurunkan patung (rupang) Budha di Vihara Tri Ratna di Tanjung Balai, Sumut.

Di lain pihak, kasus lama penganut Parmalim yang tidak bisa mendirikan rumah ibadah di jalan Air Bersih Medan, hingga kini juga masih terkatung-katung penyelesaiannya. Masalahnya kemudian apa makna di balik masih suburnya praktik intoleransi sepenjang tahun 2010? (lebih…)