Oleh: MAULA | Februari 4, 2011

Pemuda Indonesia dan Kewajibannya Mengambil Peran Kebangsaan

Gambaran ideal tentang kemerdekaan tentu dapat dilihat secara multiperspektif. Kalau ditanyakan pada sekelompok orang yang berpandangan sinis di negeri ini, sangat boleh jadi mereka lebih senang mengedepankan keburukan ditengah-tengah kebaikan yang melimpah. Sebaliknya, meminta pendapat pada sekelompok intelektual yang terkooptasi oleh kekuasaan, pendapat President can do no wrong menjadi harga mati. Mereka senantiasa meyakinkan semua pihak bahwa tak ada yang salah di negeri ini, mereka seolah-olah menutupi  kenyataan dalamnya jurang perbedaan antarkelompok masyarakat.

Wacana siapa yang paling pantas memimpin bangsa, apakah kelompok tua atau kelompok muda yang muncul beberapa tahun terakhir cukup menggelitik. Mereka seperti berpandangan bangsa ini akan hidup seumur manusia generasi sekarang saja. Sedangkan regenarasi mutlak dilakukan sebab suatu bangsa tak bisa diukur dari umur manusia. Di Indonesia, agaknya ini merupakan hukum sosial. Generasi tua yang telah berakar di masyarakat hingga dimitoskan oleh massa, secara instingtif tidak suka pada pikiran-pikiran baru pada masyarakat. Suara oknum generasi tua yang menghendaki established thinking dipertahankan, sebetulnya cermin dari suara generasi bukan lagi suara orang perorang. Begitupula suara oknum pemuda yang menyuarakan pembaharuan dan ide-ide mutakhir, bukanlah suara oknum melainkan mewakilkan suara generasinya.

Menggantungkan Masa Depan

Masa depan Indonesia berada di tangan mereka yang kuat bacaan akan masa depan. Bukan dalam bentuk academic exercise yang kering, tapi secara akurat mencerminkan dimensi kesejarahan nusantara dalam mendorong kemajuan. Ada visi yang jelas mau dibawa kemana arah perjalanan bangsa. Dengan visi dan mimpi, mereka menumbuhkan kembali optimisme yang kadung meredup akibat  perbuatan-perbuatan elit yang tak bertanggung jawab.

Modal visi dan impian tentang Indonesia yang dicita-citakan, haruslah dibarengi dengan kreatifitas. Dalam pergulatan sehari-harinya, seorang kreatif senantiasa menampilkan hal-hal yang belum ada dan sebisa mungkin menghindari adanya campur tangan atau pengaruh kerja rutin. Dia selalu menemukan sesuatu yang baru sesuai dengan cita rasanya. Dalam taraf awal, kita mesti mengobarkan semangat mencipta pada generasi muda. Emosi mencipta akan membuat kita gelisah. Dan kegelisahan membuat kita bergerak. Kita tidak akan pernah puas  dalam situasi kegelisahan itu, kegelisahan yang memang kita cari sendiri.

Banyak kecaman dan ketidaksetujuan akan menjadi rintangan yang harus ditembus. Tapi ini akan berjalan sementara, sebab arus pembaharuan tak dapat dibendung. Pembaharuan adalah hukum alam yang tak dapat ditolak. Tinggal bagaimana para pemuda memosisikan diri mereka ; apakah ingin menjadi reactive modernizer yang menerima pembaharuan karena tak dapat mengelak dari seretan arus sejarah. Atau menjadi creative modernizer sebagai orang-orang terdepan dalam menyuarakan pembaharuan bagi bangsa.

Dalam kaitan itu, visi masa depan Indonesia haruslah dinyatakan dalam time frame yang jelas. Dengan begitu, kita memiliki scale of priority dalam menempatkan kebijakan pembangunan. Karena betapapun retorika kemerdekaan dikumandangkan sedemikian rupa, orang akan bertambah bingung dengan makna kemerdekaan. Sebab, seluruh janji kemerdekaan yang tertera di pembukaan UUD 1945 belum dibayar lunas. Masyarakat belum merasa merdeka dari kemiskinan, kebodohan, apalagi ikut ambil bagian dalam perdamaian global. Pemuda harus bisa menyuarakan aspirasinya dalam seperti sekarang hingga masyarakat merasakan kehadirannya.

Saya kira, itulah tantangan pemuda saat ini dalam menawarkan mimpi-mimpi keindonesiaan. Sejarah awal berdirinya republik pun seperti itu. Kita mulai bernegara dalam kondisi serba prihatin :  rakyat yang miskin, rakyat yang tidak cerdas, infrastuktur yang tidak ada. Kemudian datang sekelompok pemuda terpelajar sejak era pra kemerdekaan yang meyakinkan masyarakat dengan impian-impian kemerdekaan.  Gagasan-gagasan mereka dipercakapkan di harian umum, komunitas intelektual, kedai kopi, hingga akhirnya berhasil menggerakkan 70 juta rakyat Indonesia ketika itu.

Bung Karno pernah berujar, “menawarkan gagasan ibarat menjatuhkan palu godam diatas meja”. Dan “palu godam” itu haruslah terdengar getaran dan suaranya hingga pelosok negeri. Mulai memberanikan dan membiasakan diri mengungkap gagasan dan karya-karya nyata akan membuat masyarakat merasakan kehadirannya. Peluang itu kini makin terbuka. Kita bisa lihat, di universitas, di bisnis, partai-partai, NGO, bahkan pada tingkat tertentu di pemerintahan, signifikansi peran pemuda semakin tampak.

Peran strategis pemuda dalam mempercepat tujuan proklamasi kemerdekaan Indonesia, tak diragukan lagi, memiliki arti penting dalam perjalanan sejarah panjang Indonesia. Secara simbolik, tedapat investasi permanen dalam memperjuangkan cita-cita kemerdekaan yang dilakukan pemuda.  Sekarang ini waktunya untuk mengembalikan warisan sejarah agar peran dan fungsi pemuda tidak lagi ahistoris dalam perjalanan bangsa.

Sumber, dengan beberapa penyesuaian


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: