Oleh: MAULA | Februari 6, 2011

Membandingkan Keyakinan Ahlussunnah dengan Ahmadiyah

Pada dasarnya Ahmadiyah tidak pernah menyimpang dari akidah mainstream. Selama ini yang menjadi pangkal keyakinan Ahmadiyah adalah datangnya nabi Isa as. kedua kali yamg sama-sama diyakini oleh mainstream ahlus-sunnah. Perbedaannya adalah hanya pada masalah pemahaman mengenai person dan waktu. Siapa dan kapan..

Berikut ini saya tuliskan beberapa kutipan pendapat yang dirangkum dari berbagai sumber tentang akidah kedatangan kembali nabi Isa as kedua kalinya. Semoga bermanfaat:


1. Pendapat NU yang termaktub dalam Mukatamr ke III di Surabaya tanggal 28 September 1928 :

“ Kita wajib meyakini Isa bin Maryam as. akan datang di akhir zaman nanti sebagai nabi/rasul yang melaksanakan Syariat nabi Muhammad saw. hal itu tidak berarti menghalangi nabi Muhammad saw. sebagai nabi terakhir (pembawa Syariat) sebab nabi Isa bin Maryam as. hanya akan melaksanakan Syariat Nabi Muhammad saw. (Ahkamul Fuqaha).
Kemudian ada disebutkan juga bahwa Mahzab empat pada waktu itu hapus (tidak berlaku).

Al-Qurtubi, Mufassir terkemuka, juga mempunyai pendapat yang mirip dengan NU memberikan rumusan: “bahwa yang benar (al-shahih) adalah, sebenarnya Allah mengangkat Nabi Isa ke langit tanpa diwafatkan terlebih dahulu dan bukan dalam keadaan tidur. Kelak, Ia akan benar-benar diturunkan ke bumi untuk membasmi kemungkaran.”

2. Pendapat Ayahanda Hamka Dr. Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul)
“….yaitu bahwasanya Isa al Masih yang akan datang itu tidaklah diketahui oleh seorang juga, apakah hakikatnya….Dan siapakah dia? Dan kapankah? Dimanakah? Maka iman dengan dia itu ialah wajib, sedang mengetahui hakikatnya itu wajib pula diserahkan kepada Allah Taala saja….”dst…. (Al-Qaulush Shahih, halaman 134).

3. Pendapat Prof. Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah)1956, “Peladjaran Agama Islam,” Penerbit “Bulan-Bintang,” Djakarta, Tjetakan Pertama.
“Ulama tafsirpun berbincang hebat tentang turunnya Nabi Isa. Lebih-lebih telah tersebut pula dalam satu hadis, bahwa “Mahdi itu tidak lain adalah Isa.” Mereka perbincangkan apakah Isa itu masih hidup, lalu diangkat Tuhan kelangit, ataukah dia telah meninggal dunia sebagaimana kebanyakan”

“ Orang yang memegang kepercayaan bahwa Nabi Isa belum mati, dan hanya menguatkan bahwa Nabi Isa diangkat ke langit dengan tubuhnya, terpaksa mesti mencari arti yang lain dari kata “wafat” itu. Tetapi yang berpendapat bahwa Nabi Isa mati, langsung saja mengartikan ayat itu menurut zahir bunyinya. Mula-mula beliau wafat, setelah itu beliau diangkat ke hadirat Tuhan, sebagaimana setiap insan yang mulia. Sebab itu ke-angkat-an itu tidak mesti ke langit, melainkan ke hadirat Tuhan.”

“Adapun dasar kepercayaan kita dengan berpegang kepada ayat yang tertulis di atas tadi nyatalah bahwa Nabi Isa telah wafat. Nabi Isa telah wafat, dengan berdasarkan kepada “mutawaffika” tadi. Dan dia telah diangkat ke hadirat Allah, (wa rafi’uka ilayya), sebagaimana setiap roh yang suci senantiasa diangkat menghadap ke hadirat Allah.”

“Adapun tentang turunnya kembali beliau ke dunia, sebelum hari kiamat datang, adalah hadis yang bernama “Al-Uhad.” Tidak termasuk kedalam hadis yang mutawatir. Maka menurut pertimbangan ahli-ahli hadis, kalau sekiranya tidak kita jadikan menjadi pokok kepercayaan, sebagaimana pokok kepercayaan yang enam perkara (rukun iman), tidaklah kita keluar dari Agama Islam.”

“Meskipun demikian tidaklah boleh kita menolak kekuasaan Tuhan. Turunnya Nabi Isa kembali ke dunia, tidaklah hal yang mustahil, walaupun tulangnya telah hancur. Bukanlah didalam Al-Quran ada tersebut cerita burung-burung yang telah dicincang lumat oleh Nabi Ibrahim atas perintah Tuhan. Burung itu empat ekor banyaknya. Lalu dihantarkan ke puncak empat buah bukit. Tuhan memerintahkan kepada Ibrahim supaya
empat burung itu dipanggil kembali. Maka datanglah keempat burung itu, dengan izin Allah!”

“Dipandang dari segi kepercayaan ini, datangnya Nabi Isa kembali ke dunia setelah beribu tahun beliau wafat, hanyalah permulaan saja dari kebangkitan mahluk Tuhan yang lain. Seluruh insan dihari kemudian akan dibangkitkan. Hanya Isa Al-Masih didahulukan. Hal ini biasa saja bagi Tuhan.”

4. Pendapat Ulama Kontemporer

Atau bisa saja Nabi Isa as. diturunkan ke bumi, tapi turun dengan pengertian “semangat”, “ruh”, bukan dengan pengertian hakikat; raga dan bentuknya. Maka, era Isa adalah masa kebangkitan semangat menghidupkan kembali syariat Islam yang telah lama tercabik-cabik. Dan Dajjal bukanlah makhluk raksasa ’setengah dewa’ yang sebelah matanya buta, dengan membawa surga dan neraka di genggamannya, yang menjadi musuh bebuyutan Nabi Isa, tetapi ia tak lebih dari simbol kemungkaran, ikon kejahatan yang dikalahkan oleh ‘ruh Isa’. Pendekatan hermeneutika seperti ini dihembuskan oleh Imam al-Razi, Rasyid Ridla, Muhammad Abu Zahrah, Muhammad Abduh, Alusi, al- Maraghi, serta beberapa pemikir kontemporer lainnya.

PENDAPAT-PENDAPAT LAINNYA :

Pertama, bila Nabi Isa as. diwafatkan dulu sebelum diangkat dan yang diangkat ke langit adalah ruhnya saja, berarti ada dua mayat Isa di bumi. 1) Mayat Nabi Isa as. putra Maryam, 2) Mayat Isa ‘kembaran’ yang diserupakan oleh Allah yang disalib. Pertanyaannya, bila pandangan seperti ini dipaksa untuk diterima, lantas dimana tempat pemakaman Nabi Isa as. putra maryam saat ini? Dan terlalu riskan kiranya, bila kita berdalih dengan adanya ‘kemungkinan’ terjadinya hal itu tanpa mengutarakan argumen dan realita konkret.

Kedua, kalau alasan Nabi Isa tidak akan turun kembali ke bumi karena landasan turunnya Nabi Isa (ruhan wa jasadan) adalah hadits ahad, bukan hadits mutawatir, sehingga tidak memiliki tendensi yang kuat dan hanya berhubungan dengan masalah keyakinan, buktinya Rasulullah saw. pernah bersabda dengan diriwayatkan oleh riwayat mutawatir. Sabda Nabi “Isa putra Maryam akan turun kembali ke bumi dan membunuh Dajjal, lalu ia tinggal beberapa lama (di dunia.) Kemudian ia wafat, dan kaum muslimin menshalatinya lalu mengebumikannya”.

Ketiga, bila sebelum diangkat Nabi Isa telah diwafatkan, dan kelak akan turun kembali, tentunya beliau juga akan wafat kembali sesuai dengan bunyi hadits di atas “Kemudian ia wafat, dan kaum muslimin menshalatinya lalu mengebumikannya,” Jika demikian, maka akan ada sosok manusia yang mati sebanyak dua kali. Padahal, Allah telah memaklumatkan kepada hamba-hambanya bahwa Dia telah menciptakan mereka, lalu mematikan dan akan menghidupkan (membangkitkan) kembali, sebagaimana firman-Nya, “Dialah dzat yang telah menciptakan kalian, lalu memberi rizki kalian, kemudian mematikan kalian dan menghidupkan kembali.”

Keempat, jika dikatakan bahwa yang akan turun kelak di akhir zaman adalah semangat menghidupkan kembali ruh Islam yang dilambangkan dengan Nabi Isa, sementara Dajjal -sebagai rival Isa as.-adalah simbol kerusakan dan kebobrokan masa, maka persepsi ini akan sangat bertolak belakang dengan hadits-hadits yang menjelaskan ciri-ciri Dajjal sebagai sosok mahluk raksasa yang cerdas, bermata satu, membawa gergaji dan air serta neraka dan surga di genggamannya. Atau hadits mutawatir yang menjelaskan bahwa Nabi Isa membunuh Dajjal, lalu beliau wafat, orang-orang pun mensalati dan mengebumikannya. Masalahnya, mungkinkah hadits sharih yang melambangkan wujud konkret Nabi Isa dan Dajjal seperti di atas, digiring pada suatu ta’wil dan makna metafor yang sangat tidak sinkron?

Sumber


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: