Oleh: MAULA | Februari 13, 2011

10 % Media Yang Sehat di Indonesia

Hear My Voices

Hear My Voices

Ini pengakuan. Ini kejujuran. Sungguh, tak banyak ketua umum sebuah organisasi profesi yang mengakui dengan jujur kelemahan organisasinya. Di antara yang tak banyak itulah berdiri tegak seorang Margiono, Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat. Betapa tidak. Di depan para wartawan, di depan para menteri, di depan para pejabat tinggi, dan di depan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ia blak-blakan menceritakan tentang realitas kehidupan media massa Indonesia. Sebagaimana diberitakan situs presidenri.go.id, Rabu, 9 Februari 2011, 10:54:47 WIB, Peringatan HPN 2011, SBY: Akan Saya Sampaikan Apa yang Sedang dan Akan Dilakukan Pemerintah:

Margiono menjelaskan bahwa saat ini tercatat ada sekitar 900 media di Indonesia, baik cetak maupun elektronik. Dari 900 media, yang sehat benar hanya 10 persen, yang baik 20 persen, cukup 30 persen, kurang 30 persen, dan yang buruk sekali 30 persen.

Sebuah realitas yang memilukan. Hal itu dikemukakan Margiono pada acara puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) ke-65 di Aula Utama El Tari, Kantor Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Kupang, Rabu (9/2/2011) pagi. Di era informasi ini, di mana jutaan rakyat mengkonsumsi informasi untuk pengambilan keputusan, boleh jadi kondisi tersebut mencemaskan banyak pihak.

Kenapa? Dengan kondisi seperti itu, apa jadinya kualitas informasi yang tersaji di berbagai media tersebut? Seberapa tinggi akurasi tiap informasi yang diberitakan? Seberapa komprehensifnya berita yang dimuat media yang dimaksud? Ujung-ujungnya, seberapa bisa dipercaya pemberitaan sebuah media? Berbagai pertanyaan ini muncul dalam kepala saya. Mungkin juga dalam kepala jutaan rakyat negeri ini.

Karena, logikanya, kesehatan sebuah media tentulah akan sama-sebangun dengan kesehatan para wartawan serta para pekerja media tersebut. Kongkritnya, dengan penghasilan pas-pasan, dengan konsumsi makanan yang tak memenuhi 4 sehat 5 sempurna, dengan kondisi tempat tinggal yang di bawah standar, dengan fasilitas kerja yang minim, apa mungkin para juru warta itu menghasilkan informasi yang berkualitas tinggi? Meski begitu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono punya harapan besar terhadap pers, sebagaimana diberitakan mediaindonesia.com, Rabu, 09 Februari 2011, 15:42 WIB, Pers Jangan Bosan Mengontrol Penguasa:

Pers perlu terus mengontrol jalannya kekuasaan agar tidak korup dan dimanfaatkan secara berlebihan. Kontrol yang dilakukan oleh pers, memungkinkan kekuasaan itu dijalankan baik dan benar.

Pasalnya, penguasa cenderung melakukan penyimpangan. Jika kekuasaan itu amat absolut, penyimpangan yang terjadi semakin besar.

Presiden menekankan perlunya kontrol pers guna menjaga keseimbangan pemerintahan, menciptakan stabilitas politik dan keamanan. Kekuasaan tidak boleh berjalan tanpa kontrol. Kekuasaan mesti dikontrol oleh kekuasaan yang lain.

Berlebihankah harapan Presiden? Patutkah seorang Presiden mengharapkan kontrol dari media, padahal kondisi media yang sehat benar hanya 10 persen? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Ini mengingat kerja pers, para pekerja pers, relatif berbeda dengan para pekerja di profesi yang lain. Setidaknya, dalam hal sikap-mental menjalani profesi ini. Penghasilan yang terbatas dan fasilitas kerja yang minim, toh tak membuat para juru warta surut langkah dalam mencari fakta serta menyajikannya kepada masyarakat.

Meski, untuk semua itu, mereka harus menghadapi resiko yang tak ringan. Dewan Pers mencatat terjadi 25 kasus kekerasan terhadap media sepanjang 2010, dalam berbagai bentuk, yakni intimidasi, pelecehan verbal, perusakan alat liputan, perusakan kantor media, menghalangi peliputan, penyekapan, penganiayaan, dan pembunuhan. Sebagaimana diberitakan tempointeraktif.com, Rabu, 29 Desember 2010 | 19:59 WIB, Selama 2010, Dewan Pers Catat 25 Kasus Kekerasan Media:
Ketua Dewan Pers, Bagir Manan menjelaskan, kekerasan pada media terjadi karena adanya kesewenang-wenangan dalam kekuasan. Selain itu, ada faktor di mana masyarakat sendiri tidak ingin terusik kenyamanannya karena pemberitaan media.

“Kalau dilihat dari sudut jurnalistik, ini adalah konsekuensi dari kebebasan pers. Kebebasan pers menuntut wartawan menyampaikan informasi secara bebas, tetapi di sisi lain ada pihak yang tidak bisa menerima itu,” kata Bagir.

Sebagian, boleh jadi karena kelemahan para pekerja media itu sendiri. Karena kurang atau tidak profesional. Sebagaimana dikatakan Margiono, lembaga pers selalu berkonsentrasi untuk memperbaiki profesionalisme wartawan. Salah satu jalan yang ditempuh PWI adalah melalui jalur pendidikan untuk meningkatkan kemampuan para juru warta. Pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) di Palembang, 9 Februari 2010 lalu, Presiden SBY menyaksikan penandatanganan MOU antara Ketua Umum PWI, Margiono, Menteri Pendidikan Nasional M. Nuh, Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin, dan Direktur UNESCO tentang pendirian Sekolah Jurnalistik Indonesia (SJI). PWI akan membentuk sekolah jurnalistik di enam kota, yaitu Jakarta, Semarang, Makassar, Samarinda, Palembang, dan Riau dengan tujuan untuk menghasilkan para pekerja pers yang terdidik. Empat tahun ke depan diharapkan seluruh provinsi di Indonesia sudah memiliki sekolah jurnalistik.

Ini tentu sebuah langkah yang positif. Dengan dukungan pekerja pers yang berkualitas, tentu diharapkan mereka akan mampu mengelola media dengan lebih baik. Setidaknya, hal ini bisa menambah persentase media yang benar-benar sehat. Karena media adalah sebuah perusahaan, maka salah satu ukuran kesehatan sebuah media tentulah laba perusahaan.

Laba itu bermula dari konten, kandungan sebuah media. Jika konten sebuah media mampu memenuhi kebutuhan target marketnya, tentu itu adalah modal awal yang baik. Seberapa besar kebutuhan target market tersebut bisa dipenuhi media yang dimaksud? Makin besar pemenuhannya menunjukkan makin bisa diterima media yang bersangkutan di pasar. Atas dasar pemenuhan target market itulah tim komersial sebuah media meyakinkan calon pemasang iklan.

Sosok seperti apa yang menjadi target market sebuah media? Produk apa saja yang juga menyasar target market tersebut? Nah, produk yang menyasar target market yang sama inilah yang menjadi calon pemasang iklan di media tersebut. Misalnya, target market sebuah media adalah mahasiswa. Ini bisa dipertajam, mahasiswa yang seperti apa sesungguhnya target market media tersebut. Rumusannya bisa begini: mahasiswa yang berjenis kelamin perempuan, memiliki uang saku 100 ribu rupiah per hari, dan mengikuti trend.

Produk-produk yang juga menyasar kategori mahasiswa yang dimaksud tentu akan memilih media yang paling tepat untuk mengantarkan image produk tersebut. Media yang dipandang dan dipilih banyak produk sebagai media yang paling tepat untuk mengantarkan image produk, tentulah akan menikmati pendapatan iklan lebih banyak dibanding yang lain. Media yang seperti inilah yang diungkapkan Margiono dengan kata-kata, “Yang baik sekali yaitu yang mempekerjakan wartawan secara profesional dan meraih untung besar.”

Selain pendapatan dari para pemasang iklan, media (dalam hal ini media cetak) tentu saja juga meraih pendapatan dari para pelanggan media itu sendiri. Media cetak, khususnya surat kabar, dari tahun ke tahun makin menggantungkan pendapatannya dari pemasang iklan. Hasil penelitian Robert G Picard dalam Newspaper Research Journal, 2004, menegaskan hal tersebut. Meski penelitian itu dilakukan terhadap surat kabar di Amerika Serikat, kondisinya tak berbeda banyak dengan realitas surat kabar di Indonesia. Penelitian Picard yang dikutip Kompas, 28 Juni 2009, Krisis Surat Kabar: Pelajaran di Tengah Prahara, saya jadikan penutup catatan ini:

Pada tahun 1880 pendapatan bisnis surat kabar berasal dari pelanggan dan iklan dengan proporsi sama. Pada abad ke-20 industri surat kabar berupaya meraih jumlah pelanggan lebih besar dengan harga produk rendah, pendapatan iklan diupayakan meningkat.

Lambat-laun proporsi pendapatan dari iklan menggeser pendapatan surat kabar dari pelanggan. Penambahan modal industri surat kabar juga datang dari dana publik.

Memasuki abad ke-21, ketergantungan industri surat kabar menjadi kian besar pada industri periklanan. Proporsi ketergantungan terhadap pendapatan dari iklan mencapai lebih dari 80 persen.

Sumber


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: