Bulan: Maret 2011

Fakta tentang Pernikahan

Anda pasti pernah mendengar sebuah kalimat naif yang biasanya dipakai sebagai penutup dari dongeng percintaan klasik, “dan mereka pun hidup berbahagia selamanya.”
Selain gombal, pernyataan ini juga telah menyesatkan banyak pasangan kasmaran yang hendak atau telah memasuki dunia pernikahan.

Saat pacaran dulu, Anda mungkin berpikir bahwa romansa yang ada tak mungkin berakhir. Namun, kenyataannya adalah Anda akan menggigit jari saat menyaksikan betapa cepatnya hal tersebut berlalu. Ada 8 fakta tentang pernikahan yang tak banyak disinggung oleh mereka-mereka yang sudah lebih dulu menapaki altar. Meski tak terucapkan, namun gemanya memancar ke mana-mana.
(lebih…)

Iklan

Catatan untuk RUU Intelijen

Draf RUU Intelijen Negara masih dalam pembahasan. Namun draf tersebut dinilai belum sepenuhnya mengakomodasi sepenuhnya prinsip negara demokrasi. Ada 12 hal yang menjadi catatan penting dalam draf RUU ini.

Koalisi Advokasi RUU Intelijen dalam rilis yang diterima detikcom, Senin (28/3/2011) menyatakan, sejak awal secara penuh mendukung rencana pengaturan lembaga intelijen melalui UU Intelijen. Hanya saja, mereka menilai, draf itu belum sepenuhnya mengakomodasi prinsip negara demokrasi dan justru menimbulkan persoalan serius terhadap tata nilai kehidupan negara demokrasi.

Ada 12 catatan penting poin dalam RUU Intelijen yang belum sepenuhnya mengakomodasi sepenuhnya prinsip negara demokrasi, yaitu:
(lebih…)

Mengenal Imam Syafi’i

Abu Abdillah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i yang kemudian terkenal dengan nama Imam asy-Syafi’i adalah pendiri dan pemimpin Mazhab Syafi’i dan Imam ketiga dalam mazhab Ahlusunnah. Nasab beliau sampai kepada Hasyim bin Abdul Muthalib kemenakan dari Hasyim bin ‘Abdu Manaf yang dinisbatkan kepada kakeknya yang bernama Syafi’ bin Saib yang hidup sezaman dengan Rasulullah saw.

Kebanyakan ahli sejarah mencatat bahwa Imam Syafi’i dilahirkan di kota Gaza, Palestina, namun ada juga yang berpendapat bahwa beliau lahir di Asqalan. Ada juga yang mengatakan Imam Syafi’i lahir pada tahun 150 H di Yaman dimana pada tahun ini wafat pula seorang ulama besar Ahlusunnah yang bernama Imam Abu Hanifah.

Sejak kecil Syafi’i telah kehilangan ayahnya. Kala itu beliau diasuh dan dibesarkan oleh ibunya dalam kondisi yang sangat memprihatinkan dan serba kekurangan. Imam Syafi’i mempelajari fikih dan hadis ketika di Mekkah dan untuk beberapa waktu beliau juga belajar syair, sastra bahasa (lughat) dan nahwu di Yaman. Sampai pada suatu waktu atas saran Mus’ab bin Abdullah bin Zubair, beliau pergi ke Madinah untuk menekuni ilmu hadis dan fikih. Diusianya yang relatif muda (sekitar 20 tahunan), beliau telah belajar kepada Imam Malik bin Anas, pendiri Mazhab Maliki. (lebih…)

Wali Alah dalam Pandangan Maulana Rumi

Makam Maulana Rumi di Konya, Turki

Makam Maulana Rumi di Konya, Turki

Matsnawi-e Ma`nawi adalah sebuah kitab tentang para wali dan jalan hidup mereka. Segala seluk beluk tentang wali dijelaskan dalam kitab ini. Di antara kitab-kitab mistik (‘irfan), jarang ditemukan kitab seperti Matsnawi-e Ma`nawi yang mampu menerangkan ihwal dan rahasia para wali dengan penjabaran mendetil dan memukau.

Bisa dikatakan bahwa kitab ini jarang, kalau tak bisa dikatakan tidak, memiliki padanan di antara kitab-kitab irfan atau warisan-warisan mistis di dunia. Kitab agung ini ibarat samudera yang bergolak dan penuh dengan mutiara-mutiara hakikat ketuhanan. Semuanya dilantunkan dalam bingkai syair-syair indah Persia. Kami hanya akan membahas salah satu masalah irfan terpenting Rumi, yaitu ihwal wali Allah.

Dalam pandangan Rumi, kewalian (wilayah) adalah sebuah kehidupan kedua; mati dan keluar dari kehidupan materi, lalu hidup dengan kehidupan spiritual. Alquran juga menerangkan makna ini, Apakah orang yang mati, kemudian Kami hidupkan dan memberinya cahaya, yang dengannya ia berjalan di tengah manusia, sama seperti orang berada dalam kegelapan dan tak akan keluar darinya. (Al-An`am:122) (lebih…)

Perkembangan Pemikiran Agama berdasarkan Usia Agama

Setiap Agama besar di dunia mempunyai sejarahnya masing-masing. Terkadang karena jumlah umat yang begitu besar dan mempunyai kekuatan yang amat besar pula terhadap perubahan pada zamannya, agama bukan hanya bagian dari sejarah tapi ikut mewarnai sejarah itu sendiri. Dari masa sejak suatu agama lahir, secara alamiah mereka akan berkembang pula. Perkembangan ini tidak terjadi pada ranah tatanan
baku aturan nilai yang dibawa oleh agama, tapi lebih pada interprestasi dan aplikasi dari manusia yang menganut nilai-nilai dasar dalam agama tersebut.

Sebagai suatu proses yang alamiah, perkembangan agama berjalan segaris dengan usianya.  Selain itu, perubahan karakteristik dari sebuah agama juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan, budaya, perkembangan zaman, serta kualitas dari para pemuka-pemuka agama  yang mempunyai fungsi sebagai pengendali arah jalannya hidup beragama. Bila kita mencermati sejarah dari agama-agama besar di dunia, dapat kita tarik benang merah  adanya kesamaan proses dan karateristik dalam tahap-tahap usia tertentu. Tahap-tahap itu antara lain :

(lebih…)

Pergolakan Mesir dan Peran Media Komunikasi

Ini satu lagi laporan yang memperkuat pendapat bahwa Revolusi Mesir sangat bergantung pada teknologi, khususnya internet, ponsel, dan media sosial.

Menurut laporan terakhir dari State of the Mobile Web yang dikeluarkan oleh Opera Software, ternyata kunci sukses dari Revolusi Mesir adalah bagaimana masyarakat Mesir mampu berkomunikasi satu sama lain.

Opera yang turun langsung ke Lapangan Tahrir Kairo saat unjuk rasa besar-besaran dilakukan, sempat mewawancarai salah satu peserta unjuk rasa, seorang insinyur bernama Ayman Shokr.

“Kunci sukses dari revolusi ini adalah bagaimana kami bisa saling terhubung, apakah melalui Facebook dan jejaring sosial lain di Internet, hingga ke ponsel. Ini adalah revolusi yang berbasis komunikasi,” kata Shokr. (lebih…)

Politik Dinasti dan Demokrasi Semu

Percuma menggaungkan demokrasi ketika kepemimpinan negara pun masih diturunkan kepada keluarga ataupun orang dekat

Percuma menggaungkan demokrasi ketika kepemimpinan negara pun masih diturunkan kepada keluarga ataupun orang dekat

Setelah jatuhnya otoritarianisme Orde Baru, sebuah gejala baru muncul dalam kehidupan politik Indonesia, yakni menguatnya kekerabatan dalam politik (kinship politics) atau kerap disebut politik dinasti. Gejala ini banyak ditemukan dalam politik lokal, penandanya adalah posisi-posisi penting dalam institusi politik seperti pemerintahan dan legislatif diduduki oleh mereka yang berada dalam satu garis keturunan. Sejumlah studi menunjukkan bagaimana jaringan hubungan kekerabatan menjadi landasan penguasaan politik di tingkat lokal (lihat Vedi Hadiz (2010), Marcus Mietzner (2009), Michael Buehler dan Paige Tan (2007), Edward Aspinall dan Greg Fealy (2003).

Penggerusan Demokrasi

Politik kekerabatan atau politik dinasti telah lama muncul di alam demokrasi. Ia menyita perhatian dalam kaitannnya dengan ketidaksetaraan distribusi kekuasaan politik sebagai refleksi dari ketaksempurnaan sistem demokrasi representasi. Jika dirujuk ke belakang, filsuf Italia Gaetano Mosca, dalam karyanya The Rulling Class (1980) menyatakan bahwa “setiap kelas menunjukkan tendensi untuk membangun suatu tradisi turun-menurun di dalam kenyataan, jika tidak bisa di dalam aturan hukum”. Bahkan dalam organisasi demokratis sekalipun, jika sebuah kepemimpinan terpilih, ia akan membuat kekuasaannya sedemikian mapan agar sulit untuk digeser atau digantikan,
bahkan menggerus prinsip-prinsip demokrasi di lapangan permainan politiknya (Robert Michels, 1962). (lebih…)