Oleh: MAULA | Maret 10, 2011

Minyak Saudi dan Alat Politik Barat

Krisis politik yang terjadi di Libya telah membuat banyak aktivitas pengeboran minyak di negara ini menjadi terhenti. Hal itu semakin menjadi-jadi setelah rakyat revolusioner Libya menguasai kota-kota minyak Libya. Sebagai negara pemilik cadangan minyak terbesar di Afrika dan pengekspor minyak ketiga terbesar di dunia. Penurunan produksi dan terhentinya ekspor minyak Libya telah menciptakan kecemasan di pasar minyak dunia yang berujung pada melonjaknya harga minyak hingga 120 dolar.

Namun lebih menarik mencermati perilaku pemerintah Arab Saudi yang mencoba memainkan peran juru penyelamat bagi Barat. Menarik karena alih-alih menyesuaikan kebijakan minyaknya dengan negara-negara produsen minyak, Arab Saudi justeru mengikuti kebijakan Barat. Arab Saudi sebagai negara terbesar produsen minyak dunia mengumumkan akan menggenjot produksi minyaknya guna menekan lonjakan harga minyak. Para pejabat Arab Saudi akhir pekan lalu menyatakan akan meningkatkan produksi minyak negara ini lebih dari 9 juta barel perhari.

Seperti biasanya, dalam kondisi krisis yang demikian terjadi peningkatan besar-besaran pertemuan dan kunjungan antara para pejabat Barat dan Saudi. Kenyataan ini membuktikan pentingnya posisi spesial Arab Saudi dalam mempengaruhi pasar minyak dunia. Selain itu, fleksibilitas yang ditunjukkan para pejabat Arab Saudi dalam mengikuti kebijakan Barat, membuat mereka dengan gampang mencampuri kontrol harga minyak Riyadh.

Sementara negara-negara produsen minyak yang melihat minyak sebagai alat strategis dan menjadi satu-satunya sumber pemasukannya, akan memandangnya sebagai kesempatan untuk memenuhi kekosongan anggaran mereka. Sementara yang kita saksikan saat ini, Arab Saudi justeru berusaha untuk menyenangkan para pembeli utama energi. Apa yang dilakukan Arab Saudi ini bukan yang pertama kalinya. Karena para peristiwa Revolusi Islam di Iran dan sejumlah perang Teluk Persia memberikan kemungkinan harga minyak mencapai harga tertingginya. Tapi lagi-lagi Arab Saudi memainkan peran di sini dan menggenjot produksi minyaknya guna menekan harga.

Kebijakan sepihak yang diambil Arab Saudi ini jelas-jelas ditentang oleh mayoritas negara-negara produsen minyak (OPEC), termasuk Republik Islam Iran. Karena sudah seharusnya setiap kenaikan dan penurunan harga minyak harus dilakukan lewat kesepakatan atau koordinasi negara-negara anggota OPEC. Apa yang dilakukan Arab Saudi mencerminkan ketidakadilan dan melanggar mekanisme yang ada di dalam OPEC sendiri.

Faktor utama yang melandasi standar ganda Arab Saudi ini dapat ditelusuri dalam hubungan luas dan kompleks antara para pejabat Saudi dan Barat. Dalam politik yang dimainkan Arab Saudi, dari satu sisi Riyadh di pertemuan IMF dan bahkan G-8 berusaha memperkuat hubungannya dengan negara-negara Barat lewat investasi minyak di Barat, dan pada saat yang sama, dengan memanfaatkan pengaruhnya di OPEC, Saudi tidak mengindahkan kepentingan negara-negara anggota organisasi ini. Hal ini dilakukannya dengan mencegah melonjaknya harga minyak. Apa yang dilakukan Riyadh selama ini adalah menjamin kepuasan negara-negara konsumen enegi, dan bukannya kerjasama adil di OPEC.

Arab Saudi memang benar telah berkorban demi Barat, khususnya Amerika. Tapi yang lebih penting lagi, para pejabat Saudi harus mengkaji apa yang dipikirkan Amerika tentang mereka.

Sumber


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: