Oleh: MAULA | Maret 13, 2011

Wikileaks versus SBY

Dua harian Australia, The Age dan Sydney Morning Herald, Jumat (11/3), memuat berita utama tentang penyalahgunaan kekuasaan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan istrinya, Ny Ani Yudhoyono. Laporan harian itu berdasarkan kawat-kawat diplomatik rahasia Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat (AS) di Jakarta yang bocor ke situs WikiLeaks.

Kawat-kawat diplomatik tersebut, yang diberikan oleh WikiLeaks, menyebutkan, SBY secara pribadi telah campur tangan untuk memengaruhi jaksa dan hakim demi melindungi tokoh-tokoh politik korup. SBY juga disebutkan menekan musuh-musuhnya serta menggunakan badan intelijen negara demi memata-matai saingan politik.

WikiLeaks adalah organisasi internasional yang bermarkas di Swedia. Situs Wikileaks.com  menerbitkan dokumen-dokumen rahasia sambil menjaga kerahasiaan sumber-sumbernya. Situs tersebut diluncurkan pada tahun 2006.

Sejumlah nama tokoh penting ikut diseut-sebut dalam laporan tersebut termasuk perannya seperti Taufik Kiemas, Handarman Supandji, Yusril Ihza Mahendra, TB Silalahi, Tomy Winata, Muhammad Luthfi, Sudi Silalahi, dan beberapa lainnya.

Laporan The Age itu muncul saat Wakil Presiden Boediono mengunjungi Canberra, Australia,  untuk berbicara dengan Wayne Swan yang bertindak sebagai Perdana Menteri Australia, dan berdiskusi dengan para pejabat negara itu tentang perubahan administratif untuk mereformasi birokrasi di Indonesia.

Laporan-laporan diplomatik AS tersebut mengatakan, segera setelah menjadi presiden pada tahun 2004, SBY mengintervensi kasus Taufik Kiemas, suami mantan Presiden Megawati Soekarnoputri. SBY dilaporkan telah meminta Hendarman Supandji, waktu itu Jaksa Agung Tindak Pidana Khusus Kejagung RI, menghentikan upaya penuntutan terhadap Taufik Kiemas untuk apa yang para diplomat AS gambarkan sebagai “korupsi selama masa jabatan istrinya”.

Namun, Sudi Silalahi, salah seorang kepercayaan SBY di bidang politik, mengatakan kepada kedutaan AS bahwa SBY secara pribadi telah memerintahkan Hendarman untuk tidak melanjutkan kasus Taufik. Tidak ada proses hukum yang diajukan terhadap Taufik, seorang tokoh politik berpengaruh yang kini menjadi Ketua MPR RI.

Bocoran kawat-kawat itu, mengungkapkan bahwa dalam sebuah pertemuan tahun 2006 dengan Ketua Umum Partai Demokrat, SBY meratapi kegagalannya sendiri sejauh ini dalam urusan bisnis. Ia tampaknya merasa “harus mengejar ketinggalan (dan) ingin memastikan bahwa ia meninggalkan warisan yang cukup besar bagi anak-anaknya.”

Tomy Winata

Dalam rangka menyelidiki kepentingan pribadi, politik, dan bisnis SBY, para diplomat Amerika mencatat dugaan hubungan antara SBY dan pengusaha Indonesia keturunan Tionghoa, terutama Tomy Winata, yang diduga anggota “Geng Sembilan” atau  “Sembilan Naga”.

Berdasarkan kawat-kawat itu, tahun 2006, Agung Laksono, sekarang Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, mengatakan kepada pejabat Kedutaan AS bahwa TB Silalahi, penasihat  presiden di bidang politik, “berfungsi sebagai perantara, yang menyalurkan dana dari Tomy Winata ke Yudhoyono, (dan) melindungi SBY dari potensi kewajiban yang bisa muncul bila Yudhoyono berurusan langsung dengan Tomy.”

Tomy Winata dilaporkan juga menggunakan pengusaha terkemuka Muhammad Lutfi sebagai channel dana untuk Yudhoyono. Yudhoyono menunjuk Lutfi sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanam Modal (BKPM).

Dalam kawat-kawat itu, pejabat senior Badan Intelijen Negara (BIN), Asagaf Yahya, juga mengatakan kepada kedutaan AS bahwa Tomy Winata sedang berusaha untuk mengembangkan pengaruh dengan menggunakan pembatu senior presiden sebagai chanel-nya ke Ibu Ani.

Ibu Ani dan kerabatnya muncul dalam laporan politik kedutaan AS. Para diplomat AS menyoroti upaya keluarga SBY, “terutama Kristiani Herawati (Ibu Ani) … untuk mendapatkan keuntungan finansial dari posisi politik.”

Pada Juni 2006, salah seorang staf kepresidenan mengatakan kepada para pejabat kedutaan AS bahwa anggota keluarga Ibu Ani “secara khusus menyasar peluang keuangan yang terkait dengan perusahaan milik negara.”Staf itu menggambarkan Presiden, “dengan sengaja melakukan itu, yang dijalankan operator terdekatnya (seperti Sudi Silalahi), sedangkan Yudhoyono sendiri menjaga jarak sehingga ia tidak dapat terlibat.”

Kedutaan AS menggambarkan diri Ibu Negara, yang sangat berpengaruh di belakang layar, sebagai “salah seorang anggota kabinet” dan “penasihat top presiden yang tak terbantahkan”. Kedutaan AS melaporkan, “Sebagaimana penasihat presiden TB Silalahi katakan (kepada pejabat AS), anggota staf Presiden merasa terpinggirkan dan tak berdaya untuk memberikan nasihat kepada Presiden.” Yahya Asagaf dari Badan Intelijen Negara menyatakan secara pribadi bahwa opini Kristinai menjadi “satu-satunya yang penting.”

Kontak-kontak Kedutaan AS mengidentifikasi Ibu Ani sebagai pemberi pengaruh utama di balik keputusan SBY untuk melepas Jusuf Kalla sebagai pasangan wakil presiden dalam pemilihan presiden tahun 2009.

Ani Menangis

Membaca tulisan yang dilansir media Australia itu, Ibu Ani menangis. “Ibu negara menangis,” kata Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi usai Salat Jumat di Istana, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, kemarin.

Menurut Sudi, perasaan Ibu Ani sangat terpukul karena pemberitaan tersebut. “Perasaan Ibu Negara sangat terpukul karena benar-benar berita itu tidak ada. Selama ini transparan kegiatan beliau,” kata Sudi. Dia menyatakan, pihak istana menyangkal keras pemberitaan tersebut.

Akibat berita tersebut, hubunan diplomatik Indonesia-AS agak tegang. Sudi bahkan menuntut pihak AS meminta maaf atas bocoran kawat data itu. “Kedutaan Besar AS harus minta maaf,” kata Sudi dalam jumpa pers di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, kemarin.

Sudi menjelaskan, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri akan meminta klarifikasi Kedubes AS. “Dan Menlu sudah memanggil Dubes AS untuk mengklarifikasi hal itu,” imbuhnya.

Sumber


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: