Oleh: MAULA | Maret 21, 2011

“Demokrasi” yang tak Beradab

Dan untuk menjaga kebebasan dari kekerasan dan manipulasi, diperlukan perangkat hukum yang kuat. Hanya dengan hukum dan penegakan yang kuat akan secara tegas dan adil terwujud kebebasan dalam segenap bidang dan cara hidup sosial-politik secara logis, insani dan bijaksana.
DEMOKRASI harus dikelola secara cerdas sehingga tidak menuai kemunduran, bahkan kehancuran. Cerdas saja tidak cukup. Demokrasi mesti pula diselimuti kedamaian, bukan malah memicu konflik.
Konflik itulah yang potensial mewarnai tahun ini, tahun pemilihan umum kepala daerah. Disebut tahun pemilu kepala daerah karena pada 2010 ini diselenggarakan 244 pemilihan kepala daerah di seluruh Idonesia yang meliputi pemilihan tujuh gubernur, 35 pemilihan wali kota, dan 202 pemilihan bupati. Penggalan Editorial Media Indonesia dibawah judul: Hancurnya Demokrasi, Jumat, 28 Mei 2010.
Des…. hal muhim yang harus dimainkan dalam kompetisi dan pesta demokrasi ialah menjunjung kedamaian, lapang dada dan menghindari upaya-upaya kekerasan serta manipulasi dalam bentuk apapun, secara terbuka ataupun terahasiakan. Para pelaku politik dan kontestan, sepatutnya lebih mengandalkan akseptabilitas kehadirannya di kancah.
Disinilah, propaganda, diplomasi, retorika, dan opini publik menjadi instrumen yang paling handal dan ampuh, yang diperumit dengan kecanggihan teknologi komunikasi dan informasi. Para kontestan dan elit politik, akan mengejar target-target, sampai ke ruang-ruang yang paling privat dan sempit. Dan, suatu retorika akan unggul, karena kompetisi dan kesanggupannya memenuhi tuntutan mereka.
Dan terpenting yang harus ditanamkan dalam kompetisi dan pesta demokrasi ialah bahwa pesta kita itu sepatutnya mencerminkan kebebasan. Menolak kekerasan berarti menolak pemaksaan dan tindakan anarkis politik. Jika kekerasan adalah cara primitif dalam kompetisi politis maka, kekerasan adalah bentuk kasar dari usaha mengubur kebebasan karuniawi setiap manusia. Dan akan menjadi sial lagi tatkala kebebasan itu dimanipulasi. Dan akan lebih jahat lagi ketika dua cara itu dipakai, persis rasionalitas ” Either with us or with the terrorist”. Cara-cara primitif yang kasar disandingkan dengan kegemulaian retorika dan komat-kamit diplomasi. Persis apa yang terjadi pada konflik horizontal saat ini. Kerusuhan yang mewarnai di setiap Pilkada, dan beberapa konflik yang terjadi hanyalah salah satu contoh buruk peringai elit politik yang menanggalkan kultur demokrasi yang beradab!
Dan untuk menjaga kebebasan dari kekerasan dan manipulasi, diperlukan perangkat hukum yang kuat. Hanya dengan hukum dan penegakan yang kuat akan secara tegas dan adil terwujud kebebasan dalam segenap bidang dan cara hidup sosial-politik secara logis, insani dan bijaksana. Untuk itu, diperlukan rencana-rencana pendidikan dan pembelajaran politik serta hukum dari sejak tingkat dini secara lebih terfokus dan serius, dalam hal ini adalah tugas partai politik. Kendati pola ini akan menyedot anggaran dan pembiayaan banyak. Namun dengan itu diharapkan anak-anak bangsa yang besar ini mendapatkan keterbukaan dan kecerdasan yang seluas-luasnya dalam berfikir, berwawasan, berdialog dan menyampaikan gagasan. Mereka akan dengan lugas menyadari arti sebuah tanggung jawab dan jiwa besar, di hadapan publik sekaligus di tengah adu kepentingan, mereka akan lebih siap menerima resiko dan hasil berdasarkan penegakan hukum yang adil. Dengan demikian, bisa diharapkan bahwa masa depan kita adalah masa depan manusia-manusia yang komit berdasarkan hukum dan kerterbatasan kebebasan yang logis dan insani.
Elite lokal sesungguhnya tidak siap berdemokrasi. Fakta memperlihatkan, hampir separuh dari 486 pemilu kepala daerah yang berlangsung 2005-2008 bermasalah dan berujung di meja hijau. Tahun ini saja sudah 23 perkara pemilu kepala daerah antre di Mahkamah Konstitusi. Hal itu memperlihatkan betapa sulitnya para elite menjalankan pemilu yang fair dan bersih, dan karena itu, sulit menerima kekalahan dengan lapang dada, apalagi mengucapkan selamat kepada pemenang. Sebuah analisis yang bernas, betapa partai-partai politik telah gagal dalam mencetak kader-kader pemimpin bangsa yang cerdas, berwawasan, berwibawa dan bertanggungjawab!
Dan membiarkan semua itu terjadi, jelas merupakan kemunduran, bahkan kehancuran demokrasi. Lebih dari itu, akan menyeret masyarakat ke dalam jurang pertikaian dan hancurnya keberadaban!.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: