Oleh: MAULA | April 13, 2011

Kenanglah Fathimah Zahra

Fathimah Zahra

Fathimah Zahra

Fathimah Zahra adalah putri tercinta Rasulullah saww, buah hati, cahaya mata, pelita hidup dan belahan jiwanya. Sejarah mencatat dengan tinta emas betapa berartinya Fathimah dalam hidup Rasulullah saww, Sang Putri yang digelari Ummu Abiha – ibu dari ayahnya, karena semenjak wafatnya Sayyidah Khadijah, Zahra-lah yang merawat Sang Ayah dalam menunaikan tugas ilahiyah, menghibur di kala duka, menemani saat sepi, dan menjadi obat bagi kerinduan Muhammad saww pada cinta pertamanya, Khadijah.

Saat budaya jahiliyah menghinakan anak perempuan, Muhammad mendobrak, bangga ia dengan Zahra. Ia berkata, “Fathimah dariku dan aku darinya. Siapapun yang menyakitinya maka menyakitiku.”
Fathimah lahir di dalam rumah wahyu, dibesarkan dengan penuh cinta kasih oleh pasangan mulia; Muhammad Sang Utusan dan Khadijah Sang Putri Makkah. Sang ayah mengajarkan wahyu, sementara sang ibu mengajarkan cinta dan peran perempuan dalam syi’ar menegakkan tauhid.
Tuhan berkehendak lain, tak lama Zahra merasakan cinta kasih ibu, tugas Sang Ibu telah usai. Tuhan ingin Zahra menggantikan peran bunda. Tuhan ingin umat menyaksikan peran Zahra, Tuhan ingin umat mencatat dalam kitab-kitab sejarah tentang kisah Zahra, Tuhan ingin umat selalu menyimpan Zahra di hatinya, Tuhan ingin menguji umat melalui kecintaan terhadap Zahra sebagai kecintaan terhadap Allah Swt. Sebab kecintaan terhadap Zahra sama dengan mencintai Rasulullah saww, dan mencintai beliau saww sama dengan mencintai Allah Swt.
Mustahil kita mampu mencintai Allah Swt tanpa terlebih dahulu mencintai Rasulullah saww, dan mustahil kita mencintai Rasulullah saww tanpa terlebih dulu mencintai sosok yang sangat dicintai oleh Muhammad saww; Fathimah Zahra.
Tak pernah beliau saww lupa pada Zahra, manusia yang paling dicintainya. Sehingga setiap muslim yang menjadikan Muhammad saww sebagai anutannya, wajib mencintai Zahra karena Rasul saww pun mencintai dan mencontohkannya. Allah Swt berfirman bahwa tak pernah sekalipun Muhammad saww bertindak kecuali perintah Tuhan.
Tak pernah Nabi saww memberikan Fathimah kecuali yang terbaik. Tasbih Zahra adalah salah satu hadiah agung yang diberikan pada Zahra, yang hingga kini menjadi amaliah yang biasa dilaksanakan oleh kaum muslim di seluruh penjuru dunia. Saat dewasa, beliau memberikan yang terbaik padanya. Menikahkan Zahra dengan pahlawan Islam, Ali bin Abi Thalib, pasangan Zahra di langit.
Allah Swt juga memberikan hadiah bagi pasangan mulia ini; pemimpin pemuda ahli surga – Al Hasan dan Al Husein. Belum cukup dengan itu, Allah Swt mensucikan keluarga kenabian itu dan mencatatkannya di dalam Al Quran Suci surat Al Ahzab [33]: 33. Kebahagiaan pun terpancar dari rumah tangga pelita hati Rasulullah saww ini.
Setiap bepergian, rumah yang terakhir kali disambangi Nabi saww pasti rumah Fathimah. Pulang dari perjalanan, pasti rumah Fathimah yang pertama kali dikunjungi. Itu dilakukan karena cinta beliau pada putri kinasihnya.
Tak lama Fathimah merasakan bahagia, setelah Fathul Makkah, ia harus kehilangan sosok yang sangat dicintai, Sang Ayah meninggalkannya. Airmata mengalir di pipi yang selalu dicium Rasul, Zahra merintih;
Katakan kepada dia yang terbaring
di bawah tumpukan debu,
jika kau dengar jeritan dan tangisku,
telah menimpa daku musibah.
Sekiranya menimpa siang, ia berubah gulita.
Dahulu aku berlindung dalam naungan
Muhammad,
tak ku takutkan bencana apapun.
Hari ini, di bawah kuasa si hina,
aku menolak orang yang menzhalimiku
dengan selendangku.
Pelita cinta Muhammad itu perlahan redup dan padam. Tak tampak lagi senyum yang membahagiakan Sang Junjungan. Zahra pergi menepati janji ayahnya.
Ummu Abiha pergi membawa nestapa dan kepedihan. Sedih Zahra memikirkan tabiat umat ayahnya, tersiksa batinnya membayangkan apa yang akan terjadi pada suami dan anak-anaknya.
Al Batul dimakamkan tanpa saksi. Jasad sucinya kini menyatu dengan bumi, bahkan bumi pun seolah tak mau memberitahukan pada manusia.
Semoga Zahra berkenan pada kita semua. Amiin.
Duhai Bunda,
inilah persembahan untukmu
di hari syahadahmu,
Izinkan kami mencintaimu
dan memohonkan syafa’atmu.
Duhai Bunda,
sampaikan salam pada Baginda,
terimalah kami bersamanya,
Sampaikan bahwa kami cinta pada Zahra.
Muhyiddin Fathani,

Responses

  1. saya selalu mengaguminya. dan berharap semua anak perempuan saya menikuti jejaknya.

  2. Ya Allah muda2han bisa meneruskan teladan sprti Fatimah Zahrah,amin..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: