Oleh: MAULA | April 23, 2011

Jejak Rosihan Anwar

Jeffrie Geovanie,

ANGGOTA KOMISI I DPR RI

Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia wafat meninggalkan nama, dan Rosihan Anwar mangkat meninggalkan jejak. Wartawan multizaman yang lahir di Kubang Nan Dua, Sumatera Barat, 10 Mei 1922, itu menghadap Sang Khalik pada Kamis (14 April) pukul 08.15 di Rumah Sakit Metropolitan Medical Center, Jakarta.

Jejak apa saja yang ditinggalkan Rosihan Anwar untuk negeri ini? Yang paling menonjol, pertama, kritisisme seorang jurnalis. Tulisan-tulisan suami dari Siti Zuraida binti Moh. Sanawi ini pada umumnya memang terkesan lembut dan datar-datar saja. Tapi, pada momen-momen tertentu, ia bisa sangat kritis. Sebagai orang Minang, ia tak pernah sungkan untuk mengkritik siapa pun dan dalam kondisi apa pun. Ciri tulisannya khas dengan bahasa yang sangat lugas, logis, dan konsisten dengan kaidah yang baik dan benar.

Kritisisme Rosihan bukan tanpa risiko. Sejak awal kariernya sebagai wartawan, yakni pada masa perjuangan melawan penjajah, ia sudah harus berhadapan dengan rezim hingga dibui oleh Belanda di Penjara Bukit Duri, Jatinegara, Jakarta, yang waktu itu masih bernama Batavia. Pasca-kemerdekaan, salah satu pemimpin yang ia hormati pun, Sukarno, tak luput dari kritik pedasnya sehingga pada 1961 surat kabar yang didirikan dan dipimpinnya, Pedoman, dibredel.

Pada awal-awal Orde Baru berdiri, karena jasa-jasanya sebagai jurnalis yang dianggap punya andil besar mengobarkan revolusi dan ikut berperan pula dalam menenggelamkan rezim Orde Lama, Rosihan mendapat anugerah Bintang Mahaputera III. Tapi itu tak membuatnya kehilangan daya kritis. Sehingga, belum genap satu tahun setelah mendapatkan anugerah itu, koran yang dipimpinnya, Pedoman, dibredel kembali pada 1974.

Selain kritisisme, jejak Rosihan yang punya andil besar dalam menegakkan pilar-pilar kebebasan pers adalah sikap dan pandangannya yang obyektif dalam melihat berbagai peristiwa. Pers, kata Rosihan, tidak mempunyai kekuasaan untuk memaksakan kehendak, karena pers hanya mencari informasi dan akses untuk menyiarkannya kepada masyarakat.

Di tengah kondisi pers nasional seperti sekarang, yang bebas namun masih miskin obyektivitas, jejak Rosihan ini terasa begitu urgen untuk tetap dihidupkan dalam setiap lubuk hati dan jiwa setiap jurnalis. Pada saat umumnya media berada dalam genggaman para politikus, obyektivitas menjadi barang mahal yang tidak mudah dibangun. Sepanjang kariernya selama kurang-lebih 70 tahun menjadi wartawan, dalam menulis, Rosihan tak pernah sejengkal pun beranjak dari kode etik jurnalistik. Ia selalu menjaga jarak dengan kekuasaan. Ia selalu obyektif pada saat mengapresiasi atau menyikapi dengan kritis rezim yang tengah berkuasa.

Kesetiaan

Selain kritisisme dan obyektivitas, jejak lain yang patut diteladani, terutama oleh segenap jurnalis, adalah kesetiaannya kepada profesi. Tiga perempat dari hidupnya ia habiskan dalam dunia jurnalistik. Rosihan memulai karier jurnalistiknya sejak beberapa saat setelah lulus dari AMS (Algemene Middelbare School)–setara SMA–di Yogyakarta pada 1942 dengan menjadi reporter Asia Raya (1943-1945).

Pada awal-awal kemerdekaan, ia menjadi redaktur harian Merdeka (1945-1946), pendiri dan Pemimpin Redaksi Majalah Siasat (1947-1957). Pada 1948, ia mendirikan dan memimpin harian Pedoman hingga ditutup Sukarno (1961). Dan pada era Orde Baru, ia memimpin (kembali) Pedoman hingga ditutup (kembali), kali ini oleh Soeharto pada 1974.

Selain berkarier di media nasional, Rosihan sempat menjadi koresponden beberapa media asing, seperti harian yang baru-baru ini meramaikan jagat politik Indonesia, The Age, yang bermarkas di Melbourne, Australia. Ia juga menjadi kontributor harian Hindustan Times di New Delhi, India, Kantor Berita World Forum Feature di London, Inggris, mingguan Asian yang terbit di Hong Kong (1967-1971), The Straits di Singapura, dan New Straits Times di Kuala Lumpur, Malaysia (1976-1985).

Sebagai jurnalis, Rosihan juga tergolong sangat aktif dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Ia sempat menjadi Ketua Umum PWI Pusat (1970-1973), Ketua Pembina PWI Pusat (1973-1978), dan Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat dari tahun 1983 sampai akhir hayat.

Dalil “an old journalist never dies, neither fades out” tampaknya benar-benar melekat pada diri Rosihan. Ia adalah jurnalis gaek yang tak pernah mati ataupun basi. Sampai ajal menjemput, ia tetap setia sebagai wartawan yang produktif menulis.

Buku

Produktivitas Rosihan sebagai wartawan bisa dilihat dari banyaknya buku yang dilahirkan. Lebih dari 20 buku telah ditulisnya. Tema-temanya amat beragam, dari soal politik, ekonomi, sosial, budaya, agama, hingga yang paling banyak menyangkut kisah perjalanan serta kisah hidup orang-orang yang pernah dikenal atau dikaguminya. Hampir setiap ada tokoh yang wafat, Rosihan menulis memori (obituari) untuk mengenang masa-masa hidupnya. ”Saya ini wartawan spesialis menulis obituari teman-teman saya yang meninggal… ha-ha-ha,” selorohnya suatu ketika.

Di antara buku-bukunya: India dari Dekat (1954); Dapat Panggilan Nabi Ibrahim (1959); Islam dan Anda (1962); novel Raja Kecil (1967); Ihwal Jurnalistik (1974); Kisah-kisah Zaman Revolusi (1975); Profil Wartawan Indonesia (1977); Kisah-kisah Jakarta Setelah Proklamasi (1977); Jakarta Menjelang Clash ke-I (1978); Menulis Dalam Air, Sebuah Autobiografi (1983); Musim Berganti (1985); Perkisahan Nusa (1986); dan masih banyak lagi.

Karya Rosihan yang paling monumental adalah Sejarah Kecil (Petite Histoire) Indonesia dari jilid I hingga IV. Dalam buku ini, nyaris tak ada satu pun peristiwa penting di Tanah Air yang terlewat dari catatan Rosihan, bahkan hingga kejadian-kejadian yang remeh-temeh tapi mengesankan dan mengandung pelajaran bagi siapa pun yang membacanya. Dari jejak-jejaknya yang kita cermati di atas, kiranya tak salah jika tokoh pers dan ahli hukum senior S. Tasrif, SH, menjuluki Rosihan Anwar sebagai “A Footnote of History” (sebuah catatan kaki dalam sejarah). Selamat jalan, Pak Cian….

Sumber

Berikut juga kami lampirkan salah satu puisi karya Alm Rosihan Anwar, berjudul Aku Tidak Malu jadi Orang Indonesia

Aku Tidak Malu Jadi Orang Indonesia
H. Rosihan Anwar

Aku tidak malu jadi orang Indonesia..
Biar orang bilang apa saja, biar, biar.
Indonesia negara paling korup di dunia
Indonesia negara gagal
Indonesia negara lemah
Indonesia melanggar HAM
Elite Indonesia serakah harta dan kekuasaan
Presiden-presiden Indonesia dilecehkan humoris

Dengarlah, Bung Karno dimanfaatkan komunis
Pak Harto dimanfaatkan putra-putrinya
Habibie dimanfaatkan konco-konconya
Gus Dur dimanfaatkan tukang pijitnya
Megawati dimanfaatkan suaminya

Catatlah, Bung Karno menciptakan keamanan dan persatuan bangsa
Pak Harto menciptakan kemakmuran bangsa dan keluarganya
Habibie menciptakan demonstrasi
Gus Dur menciptakan partai kebangkitan bangsa
Megawati menciptakan kenaikan-kenaikan harga

Alah mak, Bung Karno turun dari presiden karena Supersemar
Pak Harto turun dari presiden karena superdemo
Habibie turun dari presiden karena supertransisi
Gus Dur turun dari presiden karena superskandal
Megawati turun-temurun jadi presiden

Maka Anda tahu sekarang kenapa Aku tidak malu jadi orang Indonesia
Indonesia punya istilah-istilah khas di dunia korupsi
Ada ahli gizi yang Nurcholis Madjid tidak mampu penuhi
Ada istilah angpao untuk uang atensi
Ada amplop untuk bikin kocek tebal berisi
Ada saweran duit untuk membayar pengacara hitam danmenyuap aparat hukum
Ada prosedur untuk menilep uang rakyat dan institusi dilakukan beramai-ramai oleh gubernur, bupati, walikota, anggota DPRD dan DPR
Ada tren yang kuat menguasai kaum koruptor

Simaklah sejarah bangsa dan Tanah Air
Semenjak dulu zaman kompeni
Pegawai VOC kirim laporan Kepada Heren Zeventien diTanah Wolanda
Elke Regent Heeft zijn Chinees
Tiap Bupati punya orang Cinanya
Maknanya jelas pejabat feodal dihidupi pedagang Cina

Syahdan, Susuhunan Amangkurat II dari Mataram
Mengutus misi sembilan duta ke Batavia
Minta kepada Bapak Kompeni
Agar dikirimi cinderamata
Mulai dari ayam Belanda, kuda Persia hingga gadis Makassar
Jangan lupa putri Cina untuk jadi selir Raja

Kraton Kartasura menebar bau korupsi, seks dan duit
Ditambah intrik-intrik kalangan pangeran
Bagaimana kerajaan tidak akan binasa?

Itulah warisan sejarah dari generasi ke generasi
Sehingga yang tampak kini di bumi persada
Pertiwi Adalah kiriman genetik kepada kita semua

Anda dan aku tidak terlepas dari hukumnya
Maka Anda tahu sekarang kenapa
Aku tidak malu jadi orang Indonesia
Sebab memang begitulah nasibku

Kismet, kata orang bijak-bestari
Korupsi adalah sejenis vampir
Makhluk halus bangkit kembali dari kubur
Kemudian keluar pada malam hari
Dan mengisap darah manusia yang sedang tidur
Di layar film Hollywood wujudnya adalah Count Dracula yang bertaring
Diperankan aktor Bela Lugosi

Vampir yang hilang kesaktiannya bila terkena sinar matahari
Akan tetapi drakula-drakula Indonesia tetap perkasa
Beroperasi 24 jam, ya malam ya siang mencari korban
Sehingga sia-sialah aksi melawan korupsi membasmi drakula
Yang telah merasuki rongga dan jiwa aparat negara
Yang membuat media memberitakan
Akibat bisnis keluarga pejabat, Tutut-Tutut baru bermunculan.

Aku orang terpasung dalam terungku kaum penjarah harta negara
Akan aneh bila berkata aku malu jadi orang Indonesia
Sorry ya, Aku tidak malu jadi orang Indonesia
Kuhibur diri dengan sajakku magnus opus karya sang Empu

Sajak pendek yang berbunyi:
Katakan beta
Manatah batas
Antar gila
Dengan waras

Sorry ya, inilah puisiku melawan korupsi
Siapa takut?

Sumber


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: