Bulan: Mei 2011

Lahirnya Pancasila

Tanggal 1 Juni disebut sebagai Hari Kelahiran Pancasila. Menjelang hari penting tersebut, Cakrawala Indonesia hari ini akan mengutip pidato utuh Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno yang menjelaskan prinsip-prinsip dasar Pancasila dengan apik. Pidato Soekarno patut menjadi renungan bagi generasi saat ini dan mendatang yang merasa sebagai warga Indoensia. Inilah pidato Bung Karno;

Pendahuluan
Paduka tuan Ketua yang mulia!

Sesudah tiga hari berturut-turut anggota-anggota Dokuritu Zyunbi Tyoosakai mengeluarkan pendapat-pendapatnya, maka sekarang saya mendapat kehormatan dari Paduka tuan Ketua yang mulia untuk mengemukakan pula pendapat saya. (lebih…)

Iklan

Perempuan-perempuan Istri Arjuna

Karya sastra Jawa klasik, Serat Candrarini berbentuk puisi tembang macapat berbahasa Jawa baru. Ditulis pada hari kamis, 7 Jumadilakir tahun be 1792 Jawa oleh Raden Mas Ranggawarsita, atas perintah Paku Buwana IX di Surakarta. Tokoh-tokoh yang ditampilkan adalah para istri Arjuna, yakni : 1. Sumbadra 2. Dewi Ulupi 3. Ratna Gandawati 4. Dewi Manohara dan 5. Srikandi. Tokoh yang ditampilkan berperangi positif, sebab para istri arjuna tersebut mempunyai karakter yang berlainan. Dilihat dari segi isinya merupakan ajaran yang ditujukan kepada kaum wanita, khususnya wanita jaman dulu yang mengabdikan hidup pada perkawinan poligami.

Didalamnya termuat contoh-contoh sifat dan tingkah laku yang dimiliki oleh kelima orang wanita ( istri ) Arjuna. Dari kelima istri Arjuna itu, yang tiga orang merupakan anak seorang raja, yang berarti mempunyai pengaruh positif kepada pemerintahan dan kehidupan duniawi. Yang dua orang istri lainnya merupakan anak pendeta atau biksu yang berarti memiliki karakter dan pribadi yang luhur. Selain memiliki karakter yang berbeda, kelima istri tersebut selalu menghargai kepada temen-temen selir, dan menganggapnya sebagai saudara sendiri yang saling hidup berdampingan dengan rukun dan damai sebagai wanita yang dikatakan berhasil dalam perkawinan, mereka memiliki sifat sabar “ rela “ dan narima “ menerima dengan bersyukur. (lebih…)

Biarkan Mereka Berjuang

Dari pergerakan Kebangkitan-kebangkitan yang muncul dengan bergeraknya jaman muncullah kelahiran gerakan baru di sekitar tahun tujuh puluhan. Salah satunya adalah Pergerakan wanita yang lebih di kenal dengan gerakan feminisme.
——- Feminisme lahir dalam berbagai macam pandangan seperti adanya kezaliman terhadap wanita (dalam segala bidang) yang biasa dijadikan sebagai tolok ukur bangkitnya gerakan feminisme. Namun penjelasan mereka tentang sebab terjadinya kezaliman dan langkah-langkah solusi, serta ide-ide yang mereka kemukakan berbeda-beda.—— (Oleh: Khairi Fitrian Jamalullail, – Hak-Hak Perempuan dalam Perspektif Imam Khomeyni (ra) ) (lebih…)

Kebangkitan Nasional Indonesia; Bangkit Untuk Indonesia

BAGIAN I

DASAR  PEMIKIRAN

  1. 1. Penalaran

Dalam bagian ini dikemukakan pentingnya memperingati Satu Abad Kebangkitan Nasional bangsa Indonesia secara khusus dikaitkan dengan masalah wawasan kebangsaan. Masyarakat dunia dewasa ini cenderung kurang peduli terhadap wawasan kebangsaan. Bangsa Indonesia tidak terkecuali menunjukkan kurangnya perhatian dalam memelihara, menjaga dan mengembangkan wawasan kebangsaannya. Hal ini sangat mungkin dipicu oleh perkembangan kehidupan masyarakat yang lebih mengarah pada kehidupan yang individualistik, sehingga kepedulian rakyat terhadap kebersamaan dan peran negara terabaikan. Kondisi tersebut mengakibatkan memudarnya wawasan kebangsaan. Dengan memanfaatkan momentum peringatan satu abad kebangkitan bangsa Indonesia, wawasan kebangsaan sangat relevan untuk dimantapkan oleh seluruh komponen bangsa Indonesia. (lebih…)

Kenangan Tragedi Mei 1998 dan Sikap Warga Tionghoa

Masyarakat etnis Tionghoa mendesak Wiranto dan Prabowo yang menjadi cawapres pada Pemilu Presiden 2009 mengklarifikasi tragedi berdarah pada Mei 1998.

Anggota Dewan Kehormatan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Provinsi Kepulauan Riau, Rudy Chua, Rabu (27/5) di Tanjungpinang, meminta kedua cawapres yang berpasangan dengan Jusuf Kalla dan Megawati itu menjelaskan kepada publik peristiwa yang melukai bangsa Indonesia, dan menimbulkan trauma berkepanjangan terhadap etnis Tionghoa. (lebih…)

Menggagas Reformasi Birokrasi yang Efektif dan Efisien

Kita sudah banyak mendengar program-program refomasi birokrasi diterapkan di lingkungan instansi pemerintahan, namun belum juga membawa hasil bila tidak disebut stagnan. Padahal reformasi birokrasi bermuara pada peningkatan kualitas pelayanan publik adalah harapan rakyat. Dengan kata lain refomasi di negara ini menjadi tidak bermakna bagi rakyat selama pelayanan publik tetap mengecewakan.

Malahan, sebagaimana demokrasi yang tak kunjung memberi kesejahteraan sosial pada rakyat dan reformasi birokrasi yang tak kunjung meningkatkan kualitas pelayanan publik akan membuat pemerintahan kehilangan kredibilitasnya. Rakyat akan sinis dengan program reformasi birokrasi karena tidak memberi nilai tambah pada kehidupan. (lebih…)

Bercinta

Haruskah menyembunyikan rasa cinta (kecuali kepada kekasih)? Tidak bolehkah mengekspresikan cinta? Mengapa? Bagaimanakah ekspresi cinta yang islami? Berikut uraian dari M. Quraish Shihab, Perempuan (Jakarta: Lentera Hati, 2006), hlm. 87, 91-94:

Boleh jadi, ada orang yang malu bila bercinta sehingga menyembunyikan cintanya kecuali kepada kekasih. Ini bukanlah pada tempatnya, tidak juga dianjurkan agama. Silakan bercinta dan luapkanlah cinta kepada kekasih selama tidak melanggar agama dan norma budaya.

Cinta [pada] masa lalu adalah emosi yang meluap-luap, tetapi penuh kesucian dan kehormatan. Karena itu, betapapun hangatnya cinta, kehormatan selalu saja mengarahkan cinta ke arah yang wajar karena kehormatan lebih kuat daripada cinta. Ini pulalah yang menjadikan para pencinta saling menjaga kehormatannya dan mengindahkan nilai-nilai budaya yang berlaku. Ketika itulah dikenal cinta demi cinta dan pengorbanan demi cinta. Perempuan dengan cinta seperti ini, tidak dipandang hanya dari sisi kecantikan lahiriahnya, tetapi lebih-lebih kepada kecantikan jiwanya. Ini pulalah yang menjadikan cinta pada masa lalu bertahan sangat lama –kalau enggan berkata langgeng– dan cinta seperti itulah yang dikehendaki agama, yakni memandang lawan jenis sebagai manusia dwi-dimensi –ruh dan jasad– yang menyandang keindahan ruhani dan jasmani. (lebih…)