Oleh: MAULA | Mei 10, 2011

Menggagas Reformasi Birokrasi yang Efektif dan Efisien

Kita sudah banyak mendengar program-program refomasi birokrasi diterapkan di lingkungan instansi pemerintahan, namun belum juga membawa hasil bila tidak disebut stagnan. Padahal reformasi birokrasi bermuara pada peningkatan kualitas pelayanan publik adalah harapan rakyat. Dengan kata lain refomasi di negara ini menjadi tidak bermakna bagi rakyat selama pelayanan publik tetap mengecewakan.

Malahan, sebagaimana demokrasi yang tak kunjung memberi kesejahteraan sosial pada rakyat dan reformasi birokrasi yang tak kunjung meningkatkan kualitas pelayanan publik akan membuat pemerintahan kehilangan kredibilitasnya. Rakyat akan sinis dengan program reformasi birokrasi karena tidak memberi nilai tambah pada kehidupan.

Pemerintah dan para politisi di DPR juga para pengamat tentu bukan tidak peduli dengan reformasi birokrasi, namun mereka hanya menyentuh isu-isu yang sudah terlanjur populer dan sudah banyak ”ditangani” seperti netralitas birokrat terhadap pengaruh parpol (sesuatu sesungguhnya tidak relevan lagi sepanjang kita punya UU anti Diskriminasi) dan korupsi, tetapi mereka tidak membicarakan kemampuan profesional birokrat dalam mengikuti perubahan sistem sesuai dengan semangat reformasi.

Memang setinggi apapun komitmen pimpinan terhadap peningkatan kemampuan profesional para PNS di bawahnya dan seberapa baiknya program yang dibuat untuk meningkatkan kemampuan profesional para PNS akhirnya mandeg di tingkat implementasi. Mengapa? Karena ternyata para PNS tidak siap. Mengapa? Untuk menerangkan fenomena mandegnya program reformasi ini penulis menggunakan penjelasan yang penulis sebut dengan “teori software-komputer.”

Dalam teori ini penulis membandingkan atau menyamakan program reformasi birokrasi dengan software yang akan diinstall di sebuah komputer yang mana komputer ini diumpamakan sebagai sebuah departemen. Jika sebuah software yang ingin diinstal mempersyaratkan processor pentium core 2 duo 2000 Mhz dengan memori (RAM) 512 MB, maka dapat dibayangkan jika software tersebut diinstal di sebuah komputer dengan processor di bawah yang dipersyaratkan, maka jalannya software akan lambat sekali. Bahkan akan mengganggu jalannya komputer secara keseluruhan. Dan, biasanya, karena tidak berjalan dengan baik maka software ini akan diabaikan saja bahkan bila sudah mengganggu operasi aplikasi lain yang standar, seperti words, maka software ini di-uninstall dari komputer tersebut. Processor dalam teori tersebut adalah simbol atau fungsi dari kompetensi, kapabilitas atau intelektualitas birokrat sedangkan memori (RAM) adalah simbol atau fungsi dari mental birokrat.

Tesis Rezim Karir PNS: Pengalaman adalah Kekuatan

Berdasarkan teori software- komputer, reformasi birokrasi akan berjalan efektif bila aktor-aktor birokrasi memiliki kompentensi, kapabilitas, atau intelektualitas dan mental yang mendukung. Namun sayangnya, tuntutan ini diterjemahkan dengan mengupdate para birokrat “senior” yang mindsetnya sudah berakar puluhan tahun karena adanya keyakinan pandangan bahwa menjadi birokrat itu tidak perlu “pintar” karena masa kerjalah yang lebih menentukan karir mereka.

Mindset ini memang berlaku karena didukung oleh rezim kepangkatan dan jabatan di lingkungan birokrat yang praktis mendewakan masa kerja bukannya prestasi kerja. Padahal dinyatakan dalam Pasal 12 ayat (2) UU Pokok-pokok Kepegawaian bahwa untuk mewujudkan penyelenggaraan tugas pemerintahan dan pembangunan diperlukan Pegawai Negeri Sipil yang profesional, bertanggungjawab, jujur, dan adil melalui pembinaan yang dilaksanakan berdasarkan sistem prestasi kerja dan sistem karier yang dititikberatkan pada sistem prestasi kerja. Disebutkan juga bahwa pengangkatan pegawai negeri sipil dalam suatu jabatan dilaksanakan berdasarkan jenjang kepangkatan yang ditetapkan untuk jabatan itu.

Sayangnya dalam aturan pelaksanaannya, sistem kepangkatan (rank) tidak dijabarkan dalam sistem penilaian prestasi kerja atau sistem penilaian bakat atau potensi sehingga pangkat tidak menjadi fungsi dari akumulasi prestasi kerja, kecakapan, dan potensi intelektual melainkan dalam prakteknya adalah sekedar masa kerja. Memang dimungkinkan adanya kenaikan pangkat pilihan, namun syarat-syaratnya tidak realistis- kontekstual, sehingga praktis yang berlaku adalah kenaikan pangkat reguler yang bersiklus 4 (empat) tahunan.

Rezim kepangkatan mendewakan masa kerja dengan teori bahwa tidak ada faktor yang paling determinan mengukur kecakapan sebagai fungsi dari prestasi kerja seseorang kecuali pengalamannya. Jadi tesis rezim kepangkatan yang berlaku saat ini kecakapan atau kompetensi seseorang hanya ditentukan oleh pengalaman.

Karena itu di lingkungan birokrasi praktis adagium yang berlaku adalah “pengalaman adalah kekuatan” padahal Sir Francis Bacon (1597) mengatakan knowledge is power bukan experience is power dan Peter Drucker (1994) juga menyebut kekuatan organisasi itu ada pada seberapa banyak knowledge worker di dalamnya.

Sebagian besar memahami pengalaman secara keliru bahwa seolah-olah pengalaman itu dapat otomatis menjadi pengetahuan, sehingga mereka yang masa kerjanya lama memiliki pengalaman yang panjang otomatis memiliki pengetahuan yang luas. Pengalaman yang diukur dari masa kerja dianggap berbanding lurus dengan pengetahuan seseorang tanpa melihat kemampuan kognitifnya. Ini tesis yang praktis berlaku dalam implementasi kebijakan pengembangan kepangkatan dan jabatan di birokrasi saat ini. Dengan tesis seperti ini sulit bagi para PNS yang meskipun berbakat dan kematangannya teruji untuk menempati posisi penting yang dibutuhkan dalam program reformasi birokrasi apabila dia masih muda atau masa kerjanya masih sedikit.

Pengalaman adalah Kekuatan?

Sesungguhnya kemampuan seseorang untuk meng- konversi pengalaman menjadi pengetahuan berbeda-beda tergantung dari apa yang dalam cognitive psychology disebut cognitive learning: a change in the way in which information is processed as a result of some experience a person or animal has had, (Morgan, King, and Robinson, 1979). Sedangkan kognisi itu sendiri sebagai the processes through which information coming from the senses is “transformed, reduced, elaborated, recovered, and used (Neisser 1967). Koginitif adalah suatu proses mental yang dilibatkan manakala kita ingin mengetahui semua hal di sekitar kita. Proses ini sangat penting dalam membentuk persepsi, atensi, berpikir, memecahkan masalah, dan ingatan.

Dari ranah cognitive psychology kita dapat mengetahui bahwa kemampuan memori manusia itu berbeda- beda oleh karena sensor informasi dari pengalaman kita, yang disebut rehearsal buffer, bekerja sesuai dengan minat, sistem nilai, dan kecenderungan kita. Informasi yang tidak menarik minat kita akan ditaruh di short- term store karena dianggap tidak bernilai sedangkan informasi yang dianggap bernilai akan disimpan di long-term store. Yang terakhir inilah yang disebut memori yang membantu setiap manusia berpikir, mengolah pengalaman menjadi pengetahuan.

Kemampuan kognitif seseorang dapat berkembang sesuai dengan akumulasi pengetahuan yang terstruktur dan bernilai sesuai dengan tingkat intelengensianya (IQ). Mereka yang memiliki kemampuan kognitif yang tinggi akan mudah menjadikan setiap pengalamannya menjadi pengetahuan. Mereka yang memiliki kemampuan kognitif tinggi akan dapat mengubah akumulasi pengetahuannya menjadi ilmu. Jadi mereka yang memiliki kemampuan kognitif yang tinggi akan dengan mudah mengolah pengalaman menjadi pengetahuan dan pengetahuan menjadi ilmu. Mereka yang berilmu dapat ditandai dengan kemampuannya memahami tesis atau teori yang berlaku atau dipilih dalam suatu fenomena yang diamatinya dengan lebih cepat dari kebanyakan orang (A.F. Chalmers, 1976).

Tentu saja mereka yang berpengetahuan dan berilmu akan lebih cepat memahami persoalan dan menemukan solusinya. Mereka adalah knowledge worker, sayap intelektual di dalam birokrasi yang harus dijadikan aktor utama perubahan untuk perbaikan. Sayangnya bila ada generasi muda di birokrasi yang memiliki kualitas seperti ini mereka tidak dapat dipilih untuk memainkan peranan penting karena “kalah senior” dari segi masa kerja di lingkungan birokrasi.

Knowledge Worker Aktor Utama Reformasi Birokrasi Bukan birokrat dengan masa kerja lama dengan miskin pengetahuan dan rendah intelektualitas yang dapat menjadi bagian organisasi yang disebut Alvin Toffer (1992) adaptif atau smart organization, sehingga mampu menjalankan reformasi secara efektif, tetapi mereka yang unggul dalam ilmu dan pengetahuan serta memiliki mentalitas passion for excellent, visi, dan need for achievement serta leadership yang akan membuat perbaikan-perbaikan. Mereka itulah knowledge worker. Knowledge worker dalam teori software-komputer di atas disimbolkan dengan processor dalam sebuah komputer.

Knowlegde worker memiliki kemampuan berpikir yang tinggi ibarat processor dengan tingkat kecerdasan yang tinggi. Namun karena sebuah komputer untuk dapat melaksanakan program dengan cepat juga memerlukan memori kapasitas besar. Dalam hal ini kapasitas memori diibaratkan sebagai mental dan moral bekerja yang tinggi, yakni yang di dalamnya terdapat passion for excellent, visi, dan need for achievement serta leadership.

Keinginan menjadikan lingkungan birokrasi habitat bagi knowledge worker dihambat oleh rezim kepangkatan yang berlaku sekarang ini karena tidak memungkinkan adanya kompetisi kecakapan (dan kematangan) antar birokrat dengan masa kerja yang berbeda.

Bagaimanakah kiranya mereka yang cakap secara intelektual, mental dan emosional yang mustinya bisa menjadi pemimpin perubahan dapat diketahui dan diperoleh? Keunggulan seorang intelektual untuk menjadi pemimpin yang efektif adalah pada keluasan wawasan dan kontekstual gagasan kreatifnya dan keberaniannya memperjuangkan dan meyakini gagasannya. Hal ini dapat dilihat dari prestasi kerja riilnya atau dengan menguji buah pikirannya yang sekaligus menilai potensi intelektualitasnya. Menguji dan menilai potensi intelektual dan mentalitas dapat dilakukan dengan assesment.

Sistem kepangkatan dan jabatan perlu diubah dengan menjadikan kecakapan dan prestasi kerja di atas masa kerja sehingga mendorong munculnya birokrat yang penuh intelektual, kapabel dan kompeten sebagai aktor perubahan. Dengan sistem kepangkatan dan jabatan seperti ini maka seorang Menteri yang menginstal program reformasi di kementeriannya akan lebih efektif dibanding bila sistem kepangkatan dan jabatan yang berdasarkan perhitungan masa kerja.

Sebagai penutup tulisan ini berikut adalah kutipan yang diambil dari buku Reinventing Government David Osborne dan Ted Gaebler (1992) untuk direnungkan bersama:

We believe that the people who work in government are not the problem; the systems in which they work are the problem… We have known thousands of civil servants through the years, and most – although certainly not all-have been responsible, talented, dedicated people, trapped in archaic systems that frustrate their creativity and sap their energy. We believe these systems can be changed, to liberate the enormous energies of public servants -and to heighten their ability to serve the public.

Kebijakan pengembangan kepangkatan dan jabatan di birokrasi sudah tidak kontekstual lagi. Keadaan tahun 70an atau 60an saat undang-undang kepegawaian pertamakalinya dibuat (1961) di mana masih sangat jarang PNS berpendidikan tinggi dan memiliki keterbatasan akses informasi dan sumber- sumber ilmu dan pengetahuan. Berbeda dengan masa sekarang di mana telah banyak PNS lulusan perguruan tinggi dan mudahnya mengakselerasi kemampuan intelektualnya dengan memanfaatkan sumber-sumber informasi, ilmu dan pengetahuan.

Bila di dalam sistem karir PNS tidak secara sungguh- sungguh dilakukan dengan sistem penilaian pretasi kerja dan sistem penilaian bakat atau potensi pegawai atau dengan kata lain sistem karir PNS hanya tetap berdasarkan masa kerja maka akan sulit melakukan percepatan regenerasi demi efektiftas program reformasi birokrasi.

(Endnotes)

1 Hadi Buana, Doktor Ilmu Pemerintah Universitas Padjadjaran Bandung

Sumber


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: