Bulan: Agustus 2011

Aplikasi Hukum Gravitasi Newton dalam Kehidupan

Hukum gravitasi newton menyatakan bahwa gaya tarik menarik antar benda sebanding dengan hasil kali masa kedua benda dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak keduanya F=G(m1*m2)/r^2

Dari persamaan di atas bila diterapkan dalam hubungan antar manusia dapat dijabarkan sebagai berikut.
m1, merupakan bobot kepedulian pihak1
m2, merupakan bobot kepedulian pihak2
r, merupakan jarak batin hubungan antara pihak1 dan pihak2
G, merupakan ketetapan yang telah disepakati kedua belah pihak
F, merupakan gaya tarik menarik (intimitas) hubungan manusia (lebih…)

Iklan

Tanda-tanda

1. Tanda Tanya

Pada awalnya, dalam bahasa latin, untuk mengindikasikan pertanyaan, orang harus menuliskan kata “Questio” di akhir kalimat untuk menandakan bahwa kalimat tersebut adalah kalimat tanya.

Maka untuk menghemat tempat, kata tersebut akhirnya disingkat menjadi qo, yang kemudian dimampatkan lagi menjadi huruf q kecil di atas huruf o, yang akhirnya makin lama makin habis menjadi titik dan garis mirip cacing, persis seperti tanda tanya kita sekarang.
(lebih…)

Simbol dan Simbolisme dalam Ekspresi Keagamaan

OLEH NURCHOLIS MADJID

Ketika Kyai Ahmad Dahlan mulai menapak jalan menuju  cita-cita reformasi   Islam  di  Indonesia,  beliau memperkenalkan  dan mempropagandakan sebuah surat pendek al-Qur’an dari Juz ‘Amma, yaitu  surat  al-Ma’un  (QS 107).  Surat  itu  sendiri  sudah merupakan bagian dari hafalan baku para santri, khususnya para imam shalat, dan termasuk yang sering dibaca dalam shalat itu. Tetapi,   sampai   dengan   tampilnya   Kyai   Dahlan dengan Muhammadiyahnya,  kaum  muslim  Indonesia seperti tidak pernah tersentuh oleh makna dan semangat firman Allah itu, dan  tidak pula  menyadari  betapa surat pendek itu dapat menjadi pangkal gerakan  kemanusiaan   yang   besar   dan   mendalam   seperti Muhammadiyah dengan amal-amal sosialnya.
Seperti kita ketahui, surat al-Ma’un itu terjemahnya, kurang lebih adalah:
Pernahkah engkau lihat (hai Muhammad), orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak berjuang untuk memberi makan orang miskin. Maka celakalah untuk orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang akan shalat tetapi lalai, yaitu mereka yang suka pamrih kepada sesama, dan yang enggan memberi pertolongan. [1] (lebih…)

Tarawih dalam Pandangan KH. Ali Mustafa Yaqub

Tulisan tentang tarawih ini hanya menggunakan sudut pandang hadis, yang disarikan dari buku Hadis-Hadis Palsu Seputar Ramadhan karya Prof. Dr KH Ali Mustafa Yaqub alias Kyai Duladi, guru saya di Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah, anggota komisi fatwa MUI, Imam Besar Masjid Istiqlal, Guru Besar Ilmu Hadis Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta (semoga Allah selalu menjaganya)…

Tidak Ada Istilah “Tarawih”

Kata “tarawih” adalah bentuk plural dari kata “tarwihah”, yang secara kebahasaan memiliki arti “ mengistirahatkan” atau “duduk istirahat”. Maka dari sudut bahasa, salat tarawih adalah salat yang banyak istirahatnya. Kemudian, tarawih dalam nomenklatur Islam digunakan untuk menyebut salat sunah malam hari yang yang dilakukan hanya pada bulan Ramadan.

Pada masa Rasul tidak ada istilah “salat tarawih”. Dalam hadis-hadisnya, Rasul tidak pernah menyebut kata itu. Dan kata yang digunakan adalah “qiyam ramadhan”. Tampaknya istilah “tarawih” muncul dari penuturan Aisyah, isteri Rasul. Seperti diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, Aisyah mengatakan, (lebih…)

Asal-usul Lebaran

Dalam bahasa Indonesia yang baku (EYD), huruf L dalam kata “Lebaran” harus menggunakan huruf kapital (huruf besar). Secara baku, kata “Lebaran” memang harus diawali dengan huruf kapital, seperti pada kata “Natal” atau “Paskah”.

Mengapa kita memakai kata “Lebaran? Dari mana asal-usul kata ini pertama kali digunakan di Indonesia? Ini menyangkut etimologi. Kata “kantor” berasal dari bahasa Belanda, “kantoor”. Kata “kelar” berasal dari bahasa Belanda pula, yaitu “klaar”. Hal ini wajar saja, karena kita dulu pernah dijajah Belanda. Lalu bagaimana dengan kata “Lebaran”? (lebih…)

Idul Fitri; Antara Hari Raya dan Pesta Pora

Oleh Azhari Akmal Tarigan

Dalam perspektif sosial, ‘Idul Fitri merupakan puncak keberagamaan umat Islam Indonesia. Dikatakan secara spesifik Indonesia, karena memang apa yang terjadi di negeri ini tidak terlihat di negara Islam lainnya. Bahkan beberapa referensi yang pernah penulis baca menunjukkan, ‘idul fitri bagi orang Arab adalah momentum untuk berlibur. Mereka umumnya pergi keberbagai tempat rekreasi, bahkan sampai ke luar negeri. Sedangkan silaturrahim yang lazim kita isi dengan saling berkunjung, telah mereka tuntaskan sewaktu bulan Ramadhan. Artinya pada bulan Ramadhanlah mereka merajut tali silaturrahim antar keluarga dan tetangga. Pendek kata bagi masyarakat Arab, Syawal bukan bulan untuk saling berkunjung dan bersilaturrahim. Syawal bagi mereka adalah waktu untuk berlibur. (lebih…)

Jejak Islam di Sulawesi Selatan; Menemukan Jejak Jamaluddin al Husaini

Oleh: Mubarak Idrus*

Makam Sayyid Jamaluddin Al Akbar Al Husaini di Wajo. Sayang, makam ini kini tak terawat sama sekali, padahal beliau adalah salah satu penyebar Islam yang paling awal di Sulawesi Selatan

Makam Sayyid Jamaluddin Al Akbar Al Husaini di Wajo. Sayang, makam ini kini tak terawat sama sekali, padahal beliau adalah salah satu penyebar Islam yang paling awal di Sulawesi Selatan

Sejarah masuknya Islam di Sulawesi Selatan hampir pasti selalu dikaitkan dengan datangnya tiga ulama dari Minangkabau; Datuk ri Bandang, Datuk ri Tiro dan Datuk ri Patimang. Ini dapat dimaklumi karena titik pijaknya adalah ketika Islam secara resmi diakui sebagai agama negara oleh kerajaan Gowa. Kalau ini dijadikan dasar pijakan, maka Islam datang ke Sulawesi Selatan pada tahun 1605 setelah kedatangan tiga orang ulama tersebut.

Tetapi kalau titik pijaknya adalah kedatangan para sayyid atau cucu turunan dari nabi maka jejak-jejak keislaman di Sulawesi Selatan sudah ada jauh sebelum itu yaitu pada tahun 1320 dengan kedatangan sayyid pertama di Sulawesi Selatan yakni Sayyid Jamaluddin al-Akbar Al-Husaini. (lebih…)