Oleh: MAULA | Agustus 3, 2011

Kami Peduli Papua

Penembakan di Nafri yang menewaskan 4 orang dan 9 lainnya terluka menuai banyak komentar miring. Sesungguhnya siapa yang sedang bermain di belakang kasus ini?

Tanggal 5-7 Juli 2011 lalu, di Papua baru saja dilaksanakan Konferensi Damai Tanah Papua yang digagas oleh Jaringan Damai Papua. Konferensi yang dihadiri oleh 500 perwakilan dari berbagai daerah di Papua, yang menghadirkan Menkopolhukan Djoko Suyanto sebagai salah satu pembicara utama selain Gubernur Papua, Kapolda Papua, Pangdam XVII/Cenderawasih yang diwakili Kasdam, Uskup Jayapura, Majelis Muslim Papua, Ketua PGBP (Persekutuan Gereja-Gereja Baptis papua) dan DAP (Dewan Aadat Papua) ini sendiri menyepakati supaya dialog Jakarta-Papua menjadi cara paling bermartabat untuk menyelesaikan persoalan Papua.

Selanjutnya tanggal 2 Agustus hari ini. Demo (damai) besar-besaran rencananya akan di lakukan di seluruh Papua. Hal ini sudah diumumkan jauh-jauh hari oleh KNPB sebagai kordinaotr aksi dalam negeri. Mako Tabuni selaku Ketua I Komite Nasional Papua Barat (KNPB), memastikan bahwa pada 2 Agustus ini, pihaknya akan menggelar aksi demo  damai sebagaimana demo-demo sebelumnya (http://bintangpapua.com/headline/13182-pepera-tak-bisa-diganggu-gugat). Demo ini sendiri dalam rangka mendukung ILWP yang hari ini melaksanakan konferensi di Inggris, yang akan menguji kembali keabsahan PEPERA 1969 ke Mahkama Hukum Internasional.

ILWP bukan tanpa pro dan kontra. Ada yang benar-benar yakin bahwa konferensi akan dibuat oleh ILWP di Inggris hari ini akan membawa angin segar untuk keinginan referendum di Tanah Papua, tetapi ada juga yang berpendapat bahwa ini hanyalah ulah para petualang politik di luar negeri untuk menggalang dukungan dana.

Lalu adakah hubungan antara pembunuhan di 01 Agustus ini dengan rangkaian moment-moment penting yang sedang terjadi di Papua? Apakah benar ini dilakukan oleh kelompok OPM/TPN atau sekedar rekayasa kelompok tertentu untuk melemahkan kekuatan dari dua agenda berbeda dan penting yang sedang diperjuangkan yaitu dialog damai Jakarta-Papua dan perjuangan ILWP di Inggris? atau adakah motif lain lagi di balik kejadian ini?

Kejadian penembakan ini sendiri terjadi pada senin (01/08) pukul 03:30 di Nafri Distrik Abepura Kota Jayapura Papua dengan korban adalah sebagai berikut: korban meninggal Pratu Dominikus Don Keraf (25), Wisman (38), Titin (32), Sardi (30), dan 9 lainnya luka-luka, yaitu Siti Aminah (42), Sarmuji (47), Beno Bonay (39), Budiono (22), Jamaludin (61), Ahmad Salun (28), Mustam (89), Suyono (37), dan Yulianto (21)

Selanjutnya polisi menemukan barang bukti di TKP berupa: bendera bintang kejora ukuran 1 x 2 m, parang 1 buah, tulang kasuari 1 buah, tombak kayu 2 buah, anak panah 3 buah, selongsong Doeble lopp sebanyak 4 butir. (Sumber: Cenderawasih Pos (02/08))

Mari melihat dengan baik kejadian ini:

Pertama, mengenai tempat kejadian. Kejadian serupa juga pernah terjadi akhir tahun 2010 silam, dimana ketika itu peristiwanya sekitar pukul 10.00 WIT, juga menelan korban 1 orang warga sipil, yang hingga kini pelaku dari penembakan akhir tahun itu juga belum terungkap secara terang benderang oleh polisi.

Kedua, letak/posisi Kampung Nafri. Nafri sendiri masih termasuk dalam wilayah kota Jayapura Distrik Abepura. Kota dengan aparat keamanan yang sangat banyak. Intelejen pun demikian. Untuk menuju Wutung (poros utama perbatasan Indonesia-PNG) dan Kabupaten Keerom (salah satu Kabupaten Perbatasan) dengan menggunakan jalan darat, kita pasti akan melewati kampung ini.

Mengingat wilayah setelah kampung ini merupakan wilayah perbatasan, ada banya pos tentara maupun kopasuss di sepanjang jalan setelah Nafri menuju perbatasan. Di kampung-kampung perbatasan di Kabupaten Keerom pun demikian, pos-pos tentara dan kopassus juga ada. Kelompok OPM/TPN yang paling dekat dari tempat ini adalah kelompok OPM/TPN di bawah pimpinan Lambert Pekikir, yang markasnya jauh di pedalaman hutan Keerom. Jadi bagaimana bisa kelompok OPM/TPN bisa menembusi penjagaan yang berlapis-lapis ini dan tiba-tiba saja muncul di Nafri?

Ketiga, dengan melihat nama-nama korban yang kebanyakan pendatang. Ini tentu akan dengan mudah menunjukkan bahwa pelaku adalah kelompok orang yang sakit hati dengan kehadiran pendatang di Papua. Tetapi benarkah demikian?

Keempat, dari barang bukti yang ditemukan tentu bisa dipastikan ini memang kelompok OPM/TPN. Bendera, tulang kasuari, panah, parang, dll adalah atribut-atribut yang sangat identik dengan perjuangan OPM/TPN. Tapi benarkah itu mereka. Semudah itukah mereka meninggalkan jejak di tempat yang masih termasuk wilayah dalam kota ini?

Lambert Pekikir, panglima OPM/TPN wilayah Keerom yang paling dekat dengan kampung Nafri dalam wawancara via telpon menolak bertanggung jawab untuk kejadian ini. “anggota TPN-OPM telah diperintahkan untuk menurunkan senjata demi memberi dukungan moral kepada rencana International Lawyer for West Papua (ILWP) yang mengadakan konferensi pada Selasa (2/8/2011) di London “ Ujarnya.

Selain itu, menarik juga untuk menyimak komentar dari tokoh-tokoh berikut ini.

01 Agustus pagi, Kapolres Kota Jayapura, AKBP Imam Setiawan kepada wartawan mengatakan, pelaku di duga kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) (http://www.suarapembaruan.com/home/pelaku-penembakan-di-abepura-diduga-opm/9633)

Sorenya seusai melakukan konferensi pers di Prima Garden, Abepura, Pendeta Socrates Sofyan Yoman pun memberi komentar “Terlalu rendah dia omong begitu. Ada kasus kekerasan dan langsung menuduh OPM/TPN sebagai pelaku” Ketua komnas HAM Papua Matius Murib pun lanjut berkomentar “Ini negara hukum, bukan negara tuduh menuduh. Atas dasar apa kapolres memberikan pernyataan seperti itu?”

Pendeta Socrates dalam pembicaraan singkat dengan SuaraPembaruan, Selasa (1/8) pagi via telepon menyatakan “Cara-cara yang tidak manusiawi seperti itu dan itu bukan cara-cara orang asli Papua. OPM itu dipelihara oleh kelompok tertentu, entah siapa” (http://www.suarapembaruan.com/home/pelaku-pembunuhan-di-nafri-opm-jadi-jadian/9699).

Kelompok mana pun yang berperan di balik kasus ini, kita semua tentu berharap agar kejadian ini segera mendapat kejelasan tidak seperti nasib kasus sebelumnya yang tidak jelas ujungnya. Memperjuangkan kepentingan di tanah Papua dengan mengorbankan nyawa orang, entah itu masyarakat sipil atau pun militer tentu merupakan pelanggaran HAM berat dan sangat tidak bermartabat.

Sumber


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: